Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Pagi itu, sinar matahari Los Angeles yang biasanya hangat terasa seperti lampu sorot yang menusuk mata Briella Zamora.
Klinik Zamora Beautiful biasanya adalah tempat perlindungannya—sebuah bangunan dengan desain minimalis serba putih yang melambangkan presisi dan keindahan.
Namun hari ini, setiap sudut kliniknya terasa mencekik. Ia tahu badai akaN datang, tapi ia tidak menyangka badai itu datang dalam bentuk setelan jas Italia yang dijahit sempurna dan aura dingin yang mampu membekukan ruangan.
Briella menelan ludah. Kecerobohannya kali ini benar-benar telah menyeretnya ke dalam sarang singa. Dan singa ini, sepertinya tidak punya niat untuk melepaskannya begitu saja.
Lexington Valerio berdiri di tengah ruang kerja Briella. Ia tampak seperti dewa otomotif yang turun dari singgasana, menatap deretan piala dan sertifikat medis milik Briella dengan pandangan meremehkan.
"Keluar, Hadiyan," perintah Lexington tanpa menoleh. Asistennya itu mengangguk, menutup pintu kayu ek yang berat itu dengan bunyi klik yang membuat jantung Briella mencelos.
Begitu mereka berdua saja, keheningan di antara mereka terasa berat, sarat dengan sejarah pahit yang belum tuntas.
Lexington berbalik, menatap Briella yang berdiri kaku di balik meja kerjanya.
"Kau menulis narasi yang sangat kreatif di media sosial, Briella," suara Lexington rendah, bergetar dengan kemarahan yang ditekan.
"Sebuah mesin mahal yang macet? Tidak berdaya?"
Lexington melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Briella bisa mencium aroma kayu cendana dan keberhasilan yang selalu melekat pada pria itu.
"Kau sendiri sudah merasakannya lima tahun lalu," Lexington berbisik, namun setiap katanya tajam seperti pisau bedah.
"Lalu bagaimana mungkin kau mengatakannya tidak bisa berdiri... kau lupa? Kau bahkan pernah mengeluh tidak bisa berjalan selama dua hari penuh karena aku. Haruskah aku menyegarkan ingatanmu tentang betapa 'berdayanya' aku?"
Wajah Briella memanas, antara malu dan murka. Memori itu terlintas tanpa diundang—malam terakhir mereka, di mana gairah terasa seperti perpisahan yang putus asa, sebelum segalanya hancur berkeping-keping di pagi hari.
"Berhenti membahas masa lalu!" teriak Briella, suaranya gemetar. Ia mencengkeram pinggiran mejanya agar tidak jatuh.
"Dan keluar dari sini. Aku sudah bilang, aku akan meminta maaf secara resmi. Aku sudah menarik komentarku. Kenapa kau masih di sini? Untuk memamerkan egomu?"
Lexington tidak bergeming. Ia justru menatap Briella dengan tatapan yang sangat dikenal gadis itu—tatapan dingin seorang kritikus yang sedang menilai produk gagal.
"Aku di sini karena kau baru saja mencoba menghancurkan reputasiku dengan kebohongan medis," ujar Lexington.
Tiba-tiba, ia tertawa sinis. "Tapi setelah kupikir lagi, aku tidak terkejut. Itulah kenapa aku tidak ingin kau hamil anakku saat itu. Kau ceroboh, kau lambat dalam berpikir, dan kau sama sekali tidak cocok jadi ibu dari anak-anakku."
Deg.
Dunia Briella seolah berhenti berputar. Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada skandal mana pun. Rasa sakit yang ia pendam selama lima tahun meledak seketika.
"Kalo kau memang tidak ingin memiliki anak dariku, kenapa kau tidak memakai pengaman selama bersamaku, brengsek?!" Briella berteriak, air mata mulai menggenang namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh.
"Kau yang memegang kendali malam-malam itu! Kau yang bilang kau mencintaiku! Keluar dari ruanganku sekarang juga!"
Lexington terkekeh, suara yang seharusnya merdu itu kini terdengar seperti racun. Ia menyandarkan tubuhnya di meja Briella, tampak sangat santai di atas penderitaan mantan kekasihnya.
"Masa remaja adalah masa penuh penasaran, Briella. Dan rasa penasaran itu sudah selesai. Aku tidak ingin memiliki hubungan serius dengan perempuan ceroboh yang bahkan tidak bisa menjaga langkahnya sendiri."
Briella tersenyum pahit, sebuah senyuman yang penuh dengan luka lama yang menganga kembali. Dialog ini. Kata-kata ini. Semuanya persis seperti lima tahun yang lalu.
Pikirannya melayang kembali ke apartemen Lexington di New York. Saat itu, ia hanya seorang mahasiswi kedokteran yang jatuh cinta setengah mati pada jenius teknik yang ambisius.
Flashback
Briella, yang baru saja menyelesaikan ujian anatomi berat di fakultas kedokteran, ingin merayakan keberhasilan Lexington memenangkan tender rancangan mesin prototipe terbaru.
Ia mengenakan gaun sutra tipis, membawa segelas anggur, dan mendekati meja kerja Lexington di mana sebuah maket mesin otomotif senilai jutaan dolar berdiri dengan angkuh.
"Lex, berhenti bekerja sebentar. Kau sudah menang," bisik Briella lembut, tangannya melingkar di bahu Lexington.
"Presisi, Bri. Menang bukan berarti selesai," jawab Lexington tanpa menoleh, matanya terpaku pada detail kecil di atas meja.
Briella tertawa kecil, mencoba menarik perhatian kekasihnya. Namun, saat ia sedikit condong untuk mencium pipi pria itu, ujung gaunnya menyangkut pada pengait maket.
Dalam hitungan detik, karena gerakan yang terburu-buru, Briella kehilangan keseimbangan. Lengannya menyenggol struktur utama maket yang rapuh itu hingga jatuh ke lantai.
BRAKK.
Suara kehancuran itu memutus napas di ruangan. Maket yang dikerjakan Lexington selama berbulan-bulan kini menjadi tumpukan plastik dan logam yang tak berbentuk.
Keheningan yang mengikuti suara itu jauh lebih mengerikan daripada teriakan mana pun. Lexington tidak bergerak. Ia menatap puing-puing itu dengan mata yang perlahan mendingin.
"Aku... aku minta maaf, Lex. Aku tidak sengaja. Aku akan membantumu merakitnya kembali," suara Briella bergetar, ia segera berlutut untuk memungut pecahan itu.
"Jangan sentuh," suara Lexington datar, hampir seperti bisikan mesin.
"Lex?"
Lexington berdiri, menatap Briella seolah gadis itu adalah orang asing yang baru saja merusak mahakaryanya.
"Kau ceroboh, Briella. Selalu seperti ini. Kau lambat dalam melangkah, kau tidak berhati-hati, dan kau merusak hal-hal yang membutuhkan presisi. Kau adalah gangguan dalam sistem yang sedang kucoba bangun dengan sempurna." ucap Lexington dingin malam itu.
Obsesi Lexington pada kesempurnaan dan nilai-nilai teknis tidak memberikan ruang bagi kesalahan manusiawi Briella. Baginya, kesalahan adalah kegagalan sistem. Dan Briella adalah sistem yang gagal.
Kembali ke masa kini, Briella menatap pria di depannya. Pria yang sama yang mencampakkannya, hanya karena sebuah kecerobohan kecil.
"Ternyata lima tahun tidak mengubahmu, Lex," suara Briella kini terdengar tenang, ketenangan yang menakutkan.
"Kau masih pria yang sama yang lebih mencintai mesin dan angka daripada manusia. Kau menyebutku ceroboh? Mungkin benar. Kecerobohan terbesarku adalah menganggap pria sepertimu memiliki hati."
Briella menegakkan punggungnya, membalas tatapan Lexington. "Sekarang, silakan bawa pengacaramu. Aku siap menghadapi tuntutanmu. Tapi jangan pernah sekali lagi kau menginjakkan kaki di klinikku atau menghina kemampuanku. Karena tidak seperti maketmu yang hancur dulu... aku sudah membangun kembali hidupku sendiri tanpa bantuan 'mekanik' sepertimu."
Lexington terdiam sejenak, matanya sedikit menyipit melihat ketegasan di wajah Briella yang selama ini ia anggap lemah. Namun, sebelum ia sempat membalas, Briella sudah menunjuk pintu dengan jari yang mantap.
"Keluar, Lexington Valerio. Sebelum aku memanggil keamanan untuk mengusir 'mesin sempurna' yang sedang mengganggu ketenangan kerjaku." Bisik Briella, kini dengan air mata yang mulai jatuh. "Kau sudah menang lima tahun lalu. Jangan hancurkan apa yang tersisa dari hidupku sekarang."
emosinya kaya nyata dapet banget.
sehat selalu yaaa, semoga hari kamu baik terus
Tuhan memberkati 😇😇😇