Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Clara meletakkan ponselnya, berjalan turun, dan memberi tahu nenek Keluarga Anggasta bahwa Edward sudah ada rencana makan malam.
Edward tidak pulang malam itu.
Ketika terbangun keesokan harinya, nenek Keluarga Anggasta lantas agak marah saat mengetahui Edward tidak pulang tadi malafn, "Dasar anak itu, sesibuk apa dia di kantor, sampai tidak bisa pulang?"
Setelah mendengar itu, Clara hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.
Tidak peduli seberapa sibuknya Edward, dia pasti akan tetap pulang.
Lagi pula, dia juga butuh istirahat.
Tapi dia teringat suara Vanessa di telepon tadi malam.
Dia sontak mengerti itulah alasan mengapa Edward tidak pulang.
Pasti ada tempat yang lebih baik.
Proyek utama Morti Group untuk dua tahun ke depan telah diputuskan dalam dua hari terakhir.
Namun, Dylan tetap mengintegrasikan ide-ide mereka dan mengirimkannya ke Prof Nian, berharap dia dapat memberi beberapa saran pada mereka.
Dosen mereka itu biasanya sangat sibuk, keberadaannya juga tidak pasti, jadi Clara dan Dylan mengira bahwa dia akan membalas pesan mereka setelah beberapa hari atau bahkan setengah bulan.
Tanpa diduga, dia langsung menelepon sore itu.
"Idenya lumayan juga."
Dengan komentar positif dari Prof Nian, mereka berdua menjadi lebih percaya diri terhadap proyek yang mereka rencanakan.
Karena perlu diketahui, dosen mereka itu punya standar yang sangat tinggi.
Komentar "lumayan" saja sudah merupakan evaluasi yang tinggi.
Prof Nian menambahkan: "Dari konten yang kalian kirim, kalian tidak melewatkan satu pun fondasi yang lalu, bahkan menambah beberapa perkembangan baru di bidang kecerdasan buatan. Itu cukup bagus."
Kata-kata ini jelas ditujukan pada Clara.
Hidung Clara terasa gatal, tetapi sebelum dia bisa mengatakan apa pun, Prof Nian lanjut lagi dengan dingin, Tapi kamu masih terlalu malas. Kamu harus banyak belajar, kalau nggak kamu akan mengalami kemunduran. Sebenarnya, kamu masih dalam kemunduran."
Clara berkata dengan tergesa-gesa, Baik, Prof. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menebus waktu yang telah saya sia-siakan selama bertahun -tahun ini."
"En."
Pengajaran dosennya itu selalu tepat sasaran.
Setelah mengatakan itu, mereka berhenti.
Melihat dosennya tampak ada waktu luang hari ini, Clara tidak tahan dan berkata, "Prof, apa Anda ada waktu malam ini? Saya mau undang Anda makan malam."
Jangankan Clara, bahkan Dylan pun sudah lama tidak makan malam bersama dosennya.
Mendengar perkataan Clara, Dylan mengangguk cepat. "Benar. Prof, apa Anda ada waktu?"
Prof Nian berkata dengan tenang, Saya punya janji lain, nggak ada waktu.
"Oh... " Dylan merasa kecewa.
Begitu juga Clara.
Baru saja dia hendak bertanya pada dosennya kapan dia ada waktu senggang, sehingga dia bisa membuat janji untuk bertemu lain kali.
Namun sebelum dia bisa mengatakan apa-apa, dia mendengar Prof Nian melanjutkan, "Orang yang ajak aku makan adalah Edward."
Clara tertegun.
Dylan juga terdiám. Dia melirik Clara dan bertanya pelan, "Prof, kenapa Edward undang Anda? Apa Prof bisa beri tahu kami?"
"Dia bilang mau kenalkan seseorang."
Setelah itu, Prof Nian tidak mengatakan apa-apa lagi dan menutup telepon.
Dylan menatap Clara dan berkata, " Jangan-jangan orang yang mau dikenalkan suamimu itu Vanessa?"
Terakhir kali dia berhubungan dengan Keluarga Gori, dia mengetahui bahwa mereka juga memiliki perusahaan teknologinya sendiri.
Alasan mengapa Vanessa ingin bekerja di perusahaannya adalah karena bahasa pemrograman perusahaan mereka, CUAP.
Dunia luar mengira bahwa CUAP dikembangkan oleh dosen mereka, Prof Nian.
Sekarang Vanessa tidak bisa bergabung di perusahaannya, jadi ada kemungkinan dia akan mencari dosen mereka untuk belajar CUAP.
Terlebih lagi, Vanessa juga ingin menjadi muridnya.
Memikirkan semua hal itu, Dylan tiba-tiba mengumpat, "Sialan!"