Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Arga sudah memetakan seluruh situasi dengan jelas. Dia bahkan sempat turun langsung ke kantor polisi dan pengadilan untuk menelusuri berkas.
Setelah dianalisis, fakta yang terungkap sangat menyakitkan. Laras dan Tania memang salah besar menuduh Bimo motret sembarangan. Pasca mediasi, mereka sama sekali gak menunjukkan penyesalan. Permintaan maafnya cuma basa-basi, ngomong ke angin, bahkan dengan santai tantang Bimo buat gugat mereka ke pengadilan.
Anehnya, CCTV di dalam kereta saat kejadian itu error. Semua rekaman lain aman, tapi bagian di mana Bimo dan kedua cewek itu berada, videonya hilang begitu saja.
Belum selesai di situ, Laras dan Tania malah bikin video di medsos mengaku jadi korban pelecehan. Alhasil, gerombolan netizen yang gak tahu fakta langsung menyerang Bimo habis-habisan. Ribuan akun hater berbondong-bondong nyerang, sampai mereka berdua sok-sokan mengaku depresi berat.
Di putusan pertama, hakim beranggapan karena mereka sudah "minta maaf", maka masalah selesai. Padahal catatan polisi aja mencatat kalau permintaan maaf itu cuma formalitas doang.
Bimo juga sempat bikin video klarifikasi, tapi malah diputar balik fakta. Hakim bilang Bimo yang "memperkeruh suasana", makanya dia gak berhak dapat ganti rugi. Sebaliknya, karena Laras dan Tania jadi korban bullying usai video klarifikasi Bimo keluar, hakim malah memvonis Bimo harus bayar biaya pengobatan dan kompensasi buat mereka!
Padahal kasusnya simpel banget. Intinya cuma satu: Hakimnya berat sebelah.
Nama hakim yang menangani kasus ini adalah Hj. Yuliana.
Hakim Yuliana ini terkenal punya bias yang sangat kuat memihak pihak wanita.
"Oke, kalau gitu caranya..." gumam Arga dingin.
Dia langsung mengaktifkan sistem untuk menganalisis seluruh kasus!
[Mencari data... Ekstraksi bukti dimulai!]
[Bukti 1: Video rekaman saat Laras dan Tania "minta maaf" dengan wajah jutek dan nada mengejek.]
[Bukti 2: Bukti pengacara sepupu mereka, Rina, yang mengarang surat keterangan depresi palsu.]
[Bukti 3: Bukti Laras dan Tania pakai banyak akun palsu buat nyerang dan fitnah Bimo di internet.]
[Bukti 4: Chat history mereka berdua yang ternyata hobi nuduh orang lain seenaknya di MRT.]
[Bukti 5: Bukti transferan suap ke Hakim Yuliana.]
[Bukti 6: Data 20 kasus dalam 3 tahun terakhir yang selalu dimenangkan pihak wanita oleh Hakim Yuliana, meski bukti lemah.]
[Bukti 7: Bukti pihak pengelola MRT yang sengaja menghapus rekaman CCTV hari itu.]
Bukti-bukti ini sangat meledak! Karena batas sistem cuma bisa ambil 3 bukti per hari, Arga langsung pilih yang paling krusial: Video permintaan maaf, bukti rekayasa depresi, dan bukti mereka cyberbullying pakai akun ganda.
Begitu bukti terbuka, Arga terkekeh pelan.
Di video itu terlihat jelas wajah mereka yang arogan, minta maaf tapi mukanya ketus, bahkan sempat ketawa-ketiwi. Belum lagi bukti chat dan akun medsos mereka yang ternyata sibuk nyerang Bimo dari berbagai akun, sampai nyebar fitnah sampai ke lingkungan sekolah Bimo!
Tiga hari berlalu, semua bukti sudah terkumpul sempurna di tangan Arga.
Dengan bukti sekuat ini... tuntutan minta maaf dan ganti rugi itu terlalu murah!
Arga tidak cuma mau mereka minta maaf. Dia mau Laras, Tania, sampai pengacara mereka masuk bui!
Bahkan Hakim Yuliana yang curang itu pun, Arga pastikan bakal ikut terseret dan berurusan dengan KPK!
"Permainan baru saja dimulai," bisik Arga.
Dia langsung menyusun gugatan baru. Bukan banding, tapi mengajukan gugatan ulang dengan pasal yang jauh lebih berat!
Di dunia ini, pengajuan gugatan memang prosesnya cepat. Biasanya orang cuma bisa banding, tapi Arga memilih jalan lain: Menggugat balik dengan tuduhan Pidana!
Pengadilan langsung menerima berkasnya dan menetapkan sidang akan digelar tiga hari lagi!
Sementara itu di dunia maya, warganet masih panas dingin. Banyak yang dukung Bimo, tapi banyak juga yang nyinyir.
[Sialan, kapan nih Bimo banding? Kasian banget nasibnya.]
[Emang boleh ya orang seenaknya nuduh? Gak dapat bukti malah sok depresi minta duit?]
[Putusan ini gak masuk akal banget, gue gak terima!]
[Kabarnya gak ada pengacara yang mau tangani kasus ini, mustahil menang kalau gak ada bukti CCTV.]
[Iya lah, kan CCTV-nya rusak pas kejadian. Kebetulan banget ya?]
[Bimo: Gue dituduh mesum, eh gue yang disuruh bayar duit. Hidup memang kejam wkwk.]
[Tolong dong ada pengacara baik hati yang bantu dia! Kita butuh keadilan!]
[Bapak Aing tolongin Bimo dong!!!]
Tapi tak sedikit pula komentar yang membela si "Selebtoktok".
[Udah putusan mahkamah kok masih ngeyel? Dasar cowok toxic.]
[Wajahnya emang kelihatan mesum sih. Kali ini gak ketangkep, belum tentu dia gak melakukannya lain waktu.]
[Banding juga percuma, gak bakal menang.]
Banyak pengacara senior juga pada komentar di media, bilang kasus ini sudah mati. Mustahil menang karena gak ada bukti baru dan putusan pertama sudah jatuh.
"Kasus ini dead end. Gak ada yang bisa menangin gugatan model begini."
"Tanpa bukti kuat, Bimo cuma bisa menelan pil pahit."
Baru saja para ahli hukum itu meramal nasib suram bagi Bimo...
Tiba-tiba sebuah berita breaking news muncul!
[TEMPOX: Kasus Tuduhan Palsu MRT! Ada Pengacara Berani Tangani Kasus Ini! Sidang Akan Digelar 3 Hari Lagi!]
Dan yang bikin seluruh dunia hukum geger...
Ini BUKAN sidang banding, tapi PENGAJUAN GUGATAN BARU DENGAN PASAL PIDANA!
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭