"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. Sisi Lain
Malam itu, hujan turun dengan ritme yang monoton, membasahi kaca jendela kamar Alea dan menciptakan suasana yang semakin mencekam.
Di dalam kamar yang luas itu, Alea meringkuk di pojok tempat tidurnya yang besar, memeluk lututnya erat-halis. Lampu kamar sengaja ia matikan, menyisakan hanya cahaya remang dari lampu meja yang memantulkan bayangan suram di dinding.
Bibirnya masih terasa berdenyut. Setiap kali ia tanpa sengaja menyentuh luka kecil di sudut bibirnya dengan lidah, rasa anyir darah dan perih itu kembali mengingatkannya pada kejadian sore tadi.
Air matanya sudah mengering, menyisakan jejak asin di pipinya yang memucat. Ia merasa hancur, bukan hanya karena kekerasan fisik yang diterimanya, tapi karena bayangan masa kecilnya tentang "Uncle Bima" yang sempurna telah lumat berkeping-keping.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan itu pelan, hampir ragu-ragu. Alea menegang. Ia tahu itu bukan ketukan pelayan yang biasanya terdengar lebih formal dan terburu-buru.
"Alea... ini aku."
Suara Bima terdengar dari balik pintu. Tidak ada lagi nada memerintah yang dingin atau geraman posesif yang menakutkan.
Suara itu terdengar parau, rendah, dan membawa beban penyesalan yang sangat berat.
Alea tidak menjawab. Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di antara lutut, berusaha menulikan telinga. Ia takut jika ia bicara, suaranya yang bergetar akan menunjukkan betapa ia masih sangat terluka.
"Aku membawakan nampan makanan. Kau tidak makan sejak siang tadi, little bird. Setidaknya minumlah susumu."
Mendengar panggilan kesayangan itu, dada Alea sesak. Rasanya menyakitkan mendengar kata-kata manis itu keluar dari mulut pria yang beberapa jam lalu menyeretnya seperti binatang.
"Pergi, Bima! Aku benci kau! Pergi!" teriak Alea dengan suara pecah.
Hening sejenak. Alea mengira pria itu akan pergi, atau mungkin akan kembali meledak marah. Namun, yang terdengar justru suara kunci cadangan yang diputar perlahan. Alea tersentak berdiri, matanya membelalak menatap pintu yang terbuka.
Bima masuk dengan langkah yang sangat pelan, seolah takut suaranya akan membuat Alea terbang menjauh. Ia tidak lagi mengenakan jas rapi; kemeja hitamnya sudah berantakan, dua kancing atasnya terbuka, dan lengan bajunya digulung hingga siku.
Wajahnya tampak kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menunjukkan bahwa ia pun tidak merasa tenang.
Di tangannya, ia membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat, segelas susu cokelat dengan uap yang masih mengepul, dan sebuah kotak kecil berisi salep medis.
Bima tidak mendekati tempat tidur. Ia meletakkan nampan itu di meja belajar Alea yang berada agak jauh, lalu berdiri mematung di sana.
Mata gelap Bima tertuju pada wajah Alea. Saat pandangannya mendarat di bibir Alea yang membiru dan bengkak, Alea bisa melihat rahang pria itu mengeras.
Ada kilatan penderitaan di mata Bima—sebuah penyesalan murni yang belum pernah Alea lihat sebelumnya.
"Aku tidak datang untuk menyakitimu lagi," ujar Bima lembut, suaranya bergetar. "Aku... aku tidak tahu apa yang merasukiku sore tadi."
Alea tertawa sinis di sela isakannya.
"Kau monster, Bima. Kau selalu bilang ingin menjagaku, tapi kau sendiri yang membuatku berdarah."
Mendengar itu, Bima perlahan menurunkan tubuhnya. Pria yang biasanya berdiri tegak dengan keangkuhan yang luar biasa itu kini berlutut di atas karpet, sekitar satu meter dari tempat Alea berada.
Ia merendahkan dirinya, menundukkan kepala di hadapan gadis yang seharusnya ia lindungi.
"Kau benar," bisik Bima, suaranya serak karena emosi.
"Aku monster. Sepuluh tahun di luar sana, aku hidup di lingkungan yang tidak mengenal belas kasihan. Aku terbiasa mendapatkan apa yang kuinginkan dengan kekuatan. Aku lupa bahwa kau bukan mereka. Aku lupa bahwa kau adalah separuh jiwaku yang tertinggal di sini."
Bima mendongak, matanya yang tajam kini tampak berkaca-kaca di bawah cahaya lampu yang temaram.
"Melihatmu tertawa dengan pria itu... sesuatu di dalam diriku patah. Aku ketakutan, Alea. Aku takut jika aku tidak segera mengklaimmu, kau akan benar-benar lupa padaku. Aku bodoh karena mengira rasa takut bisa membuatmu tetap di sampingku."
Alea terdiam. Ia melihat bahu Bima yang lebar itu sedikit berguncang. Ini adalah pertama kalinya ia melihat pria itu menunjukkan kerapuhan yang begitu nyata.
"Maafkan aku," ucap Bima lagi, kali ini lebih seperti rintihan.
"Kata-katamu tadi sore... tentang aku yang menghancurkanmu... itu lebih menyakitkan daripada luka apa pun yang pernah kuterima selama sepuluh tahun ini. Aku tidak ingin menghancurkanmu. Aku ingin menjadi satu-satunya tempatmu pulang."
Bima mengambil kotak salep dari meja, lalu menyodorkannya dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Boleh aku mengobatimu? Hanya itu. Setelah itu aku akan keluar dan tidak akan mengganggumu sampai kau siap bicara lagi."
Alea menatap tangan Bima yang penuh tato, lalu beralih ke wajah pria itu yang tampak sangat memohon.
Kelembutan yang ia rindukan sepuluh tahun lalu, sisi "Uncle Bima" yang manis dan hangat, seolah sedang memanggilnya dari balik sosok pria asing ini.
Dengan keraguan yang masih menyelimuti hatinya, Alea perlahan turun dari tempat tidur. Ia berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur, tepat di depan Bima yang masih berlutut.
Jarak mereka kini sangat dekat, namun kali ini tidak ada aura intimidasi. Yang ada hanyalah kesedihan yang pekat di antara mereka.
Bima menarik napas panjang, mencoba menenangkan tangannya yang gemetar. Ia membuka kotak salep itu, mengambil sedikit krim dengan ujung jarinya yang panjang.
Dengan gerakan yang sangat telaten—seolah-olah ia sedang menyentuh sayap kupu-kupu yang sangat rapuh—ia menyentuh dagu Alea, mengangkat wajah gadis itu agar mata mereka bertemu.
Jari Bima yang hangat menyentuh sudut bibir Alea. Ia mengoleskan salep dingin itu dengan kelembutan yang luar biasa. Napas hangatnya yang berbau kopi dan tembakau menerpa wajah Alea, namun kali ini terasa menenangkan, bukan mengancam.
"Sakit?" bisik Bima pelan saat Alea sedikit meringis.
Alea menggeleng kecil, namun air matanya kembali jatuh membasahi pipi.
"Kenapa kau harus sekasar itu, Uncle? Aku merindukanmu selama sepuluh tahun... tapi kenapa kau kembali sebagai orang asing?"
Bima berhenti mengoleskan salep. Ia menatap Alea dengan tatapan yang penuh duka. Ia membiarkan jarinya tetap berada di dagu Alea, mengusap air mata gadis itu dengan ibu jarinya.
"Karena aku mencintaimu dengan cara yang salah, Alea," gumam Bima parau.
"Aku mencintaimu begitu besar hingga aku tidak tahu cara menyalurkannya tanpa menyakitimu. Aku terobsesi menjagamu sampai aku justru menjadi orang yang paling melukaimu."
Bima kemudian melakukan sesuatu yang sama sekali tidak Alea duga.
Pria itu meraih tangan Alea, lalu mengecup buku-buku jari gadis itu dengan sangat khidmat, lama sekali. Ia memejamkan matanya, seolah sedang berdoa atau bersumpah pada sesuatu yang suci.
"Beri aku kesempatan, little bird," bisik Bima di atas punggung tangan Alea.
"Beri aku kesempatan untuk menjadi Bima yang kau rindukan. Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku akan belajar menjagamu dengan benar."
Malam itu, badai di dalam rumah tersebut seolah mereda. Bima tidak lagi menjadi serigala yang lapar; ia menjadi pelindung yang sedang mencoba mencari jalan pulang ke hati pemiliknya.
Alea menatap puncak kepala Bima yang masih tertunduk di depan lututnya, merasa bimbang antara luka yang masih basah dan rasa sayang yang mulai tumbuh kembali.
Bima berdiri perlahan setelah memastikan nampan makanan berada dalam jangkauan Alea. Ia memberikan satu tatapan terakhir yang penuh janji sebelum melangkah mundur menuju pintu.
"Makanlah. Dan tidurlah yang nyenyak. Aku akan menjagamu dari balik pintu ini sepanjang malam," ujar Bima lembut sebelum akhirnya menutup pintu kamar, meninggalkan Alea dalam keheningan yang kini terasa sedikit lebih hangat.