Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Menantang Tirani Alam Atas
Tekanan yang memancar dari retakan dimensi di langit Puncak Darah tidak bisa dijelaskan dengan hukum fisika mana pun yang dikenal di bumi. Udara tidak hanya menjadi padat, melainkan membeku menjadi belenggu tak kasat mata. Batuan obsidian sisa altar pengorbanan mulai melayang ke udara akibat anomali gravitasi ekstrem, lalu hancur menjadi debu bahkan sebelum menyentuh tangan raksasa bersisik emas tua yang merobek langit tersebut.
"Seekor semut fana..." Suara itu tidak merambat melalui udara, melainkan beresonansi langsung di dalam tengkorak Arya. Setiap suku katanya membawa tekanan psikologis yang setara dengan dijatuhi ribuan ton baja.
"Kau menghancurkan jangkarku di alam bawah. Namun... di jarimu... aku mencium aroma busuk dari ras yang seharusnya sudah punah. Cincin Naga Leluhur. Serahkan artefak itu, dan aku akan membiarkan jiwamu menjadi budak abadi di kerajaanku!"
Dewa Naga Darah. Entitas kosmik yang menjadikan penderitaan fana sebagai bahan bakar eksistensinya.
Arya Permana berdiri di tengah pusaran badai spiritual tersebut. Jaket dan kemejanya robek di beberapa bagian akibat tekanan tajam di udara, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang proporsional dan padat. Kulitnya mulai mengeluarkan titik-titik darah halus karena kapiler di bawah kulitnya tidak mampu menahan tekanan dari dimensi yang lebih tinggi.
Namun, posturnya tetap tegak lurus. Tulang punggungnya menolak untuk membungkuk meski dihadapkan pada entitas ilahi.
"Berdasarkan hukum termodinamika dimensi," ucap Arya dengan suara yang sangat tenang dan rasional, matanya menatap tajam ke arah tangan raksasa di langit. "Untuk memproyeksikan entitas fisik sebesar itu melintasi tabir Alam Atas menuju ranah yang lebih rendah, kau harus menghabiskan lebih dari tujuh puluh persen energi murnimu hanya untuk menjaga agar retakan itu tidak runtuh."
Tangan raksasa bersisik emas itu terhenti sejenak, seolah terkejut bahwa seekor "semut" bisa membaca batas kekuatannya.
"Kau tidak datang untuk menaklukkan," Arya menyeringai dingin, sebuah senyum yang meremehkan esensi dewa itu. "Kau datang dengan putus asa karena sumber makananmu di Kunlun baru saja kuhancurkan. Kau sedang kelaparan."
"LANCANG!" Raungan entitas itu membuat langit Kunlun retak seperti kaca. Tangan raksasa itu meluncur turun ke arah Arya dengan kecepatan meteor. Lima cakarnya yang memancarkan energi merah korosif siap meremukkan Arya beserta seluruh Puncak Darah menjadi ketiadaan.
Udara di sekitar Arya terbakar. Tekanan dari cakar itu mengunci setiap inci pergerakannya.
[Peringatan Kritis! Tekanan Eksternal Mencapai Titik Kehancuran Fisik!]
[Integritas Selular: Menurun 40%... 60%...]
[Kondisi Terpenuhi. Protokol Pertahanan Absolut Diaktifkan.]
[Membuka Segel: Mode Fisik Naga Leluhur Tahap 1 (100%).]
Cincin hitam di jari Arya tiba-tiba meledak dengan cahaya keemasan murni—bukan emas tua yang kotor seperti milik Dewa Naga Darah, melainkan emas suci yang memancarkan keagungan absolut penciptaan alam semesta.
Seketika itu juga, titik-titik darah di kulit Arya terserap kembali. Luka-lukanya sembuh dalam skala subatomik. Dantiannya yang berada di Puncak Kesempurnaan Pembentuk Fondasi bergemuruh hebat, berputar dengan kecepatan cahaya, lalu memadat dengan ekstrem.
KRAK!
Suara retakan terdengar dari dalam tubuh Arya. Itu bukan suara tulang yang patah, melainkan suara belenggu dimensi fana yang hancur. Lautan Qi di dalam Dantiannya memadat, mengkristal, dan berubah menjadi sebuah inti bulat sempurna berwarna keemasan yang memancarkan energi tak terbatas.
[Ding! Terobosan Dimensi Selesai!]
[Status: Ranah Inti Emas (Tahap Awal - Fondasi Naga Leluhur).]
[Tingkat Kepadatan Qi: 10.000% lebih tinggi dari standar alam semesta.]
"Jadi, ini perhitungan matematika dari sebuah Inti Emas murni," Arya menengadah. Matanya kini sepenuhnya berwarna emas menyala, dengan pupil vertikal layaknya naga sejati.
Saat cakar raksasa itu berjarak kurang dari sepuluh meter dari kepalanya, Arya mengambil kuda-kuda. Ia menarik lengan kanannya ke belakang, memusatkan seluruh Qi Inti Emas barunya ke dalam satu titik Singularitas di buku jarinya.
Ruang di sekitar kepalan tangan Arya menjadi hitam pekat, melengkung ke dalam karena saking padatnya massa energi di sana.
"Mari kita uji, seberapa tebal sisik dewamu," bisik Arya.
Arya melontarkan pukulan lurus ke atas.
"Pemutusan Resonansi Dimensi!"
BUMMMMMMMMMM!
Ledakan yang tercipta dari benturan pukulan Arya dan cakar raksasa Dewa Naga Darah itu menghapus semua suara di Kunlun. Dunia menjadi hening sejenak dalam pendaran cahaya putih absolut. Gelombang kejutnya menyapu awan di seluruh langit Kunlun, menciptakan cincin hampa udara raksasa yang membentang hingga ribuan kilometer.
Di titik benturan, logika Alam Atas dihancurkan oleh kepadatan murni Naga Leluhur.
"AARRRGGGHHH!" Jeritan kosmik yang penuh penderitaan membelah langit. Sisik emas tua pada cakar raksasa itu retak, hancur, dan terkelupas. Darah berwarna emas kehitaman menyembur keluar seperti hujan badai, membakar tanah vulkanik Puncak Darah saat menyentuh permukaan. Pukulan Arya tidak hanya menghentikan cakar itu, tetapi menembus menaiki lengannya, menciptakan gelombang kehancuran yang memaksa entitas itu menarik tangannya kembali ke dalam retakan secara brutal.
"Naga Leluhur... KAU TIDAK AKAN BISA BERSEMBUNYI! ALAM ATAS AKAN MEMBURUMU!" Suara Dewa Naga Darah memudar penuh kebencian dan ketakutan seiring dengan retakan dimensi yang mulai runtuh dengan sendirinya, tidak lagi mampu ditopang oleh entitas yang terluka parah itu.
Dalam hitungan detik, langit kembali tertutup. Badai mereda. Kegelapan dan tekanan yang mencekam lenyap tak berbekas, menyisakan langit sore Kunlun yang tenang dengan dua bulan kembar yang mengintip dari balik awan.
Arya berdiri perlahan, menurunkan tangannya. Asap putih mengepul dari buku-buku jarinya, namun kulitnya tidak tergores sedikit pun. Ia mengepalkan tangannya sekali lagi, merasakan aliran Inti Emas yang stabil dan abadi di dalam tubuhnya.
Ia telah menang. Dengan perhitungan absolut dan ketenangan yang mematikan, ia memukul mundur dewa dari Alam Atas.
Arya mengalihkan pandangannya ke tepi kawah. Ia melesat dengan kecepatan bayangan dan mendarat di samping Elena. Wanita pembunuh bayaran itu terkapar tak sadarkan diri, organ dalamnya mengalami pendarahan ringan akibat tekanan sebelumnya.
Arya menyuntikkan seberkas Qi emas murni ke titik meridian dada Elena. Dalam beberapa tarikan napas, wajah pucat Elena kembali merona. Ia terbatuk dan perlahan membuka matanya.
"T-Tuan..." Elena tergagap, ingatannya tentang tangan raksasa di langit membuatnya gemetar. "A-Apa yang terjadi? Langit... dewa itu..."
"Fenomena anomali cuaca yang telah dinetralkan," jawab Arya datar, menyembunyikan kebenaran kosmik untuk menjaga stabilitas mental bawahannya. "Berdiri. Pekerjaan kita di Puncak Darah sudah selesai."
Elena dibantu berdiri oleh sisa-sisa energi Qi di udara. Ia menatap sekeliling Puncak Darah yang kini telah rata dengan tanah. Altar pengorbanan hancur, dan ribuan mayat Kuil Kegelapan telah menjadi debu di bawah benturan kekuatan tadi.
"Kita menang..." bisik Elena tak percaya. Faksi paling menakutkan di Kunlun musnah hanya dalam setengah hari.
Arya berjalan menuju tepi tebing Puncak Darah, menatap luasnya Domain Dalam Kunlun yang membentang di bawahnya. Pegunungan melayang, lautan energi spiritual, dan sekte-sekte yang bersembunyi di balik kabut—semuanya kini terlihat seperti anak tangga kecil yang menunggunya untuk dipijak.
Ia menyentuh Cincin Naga di jarinya. Esensi jiwa kedua orang tuanya kini aman. Pembalasan dendamnya untuk tragedi Penerbangan 777 telah lunas secara tuntas.
Namun, ancaman dari Dewa Naga Darah memberikan variabel baru. Bumi dan Kunlun kini hanyalah zona awal. Jika ia berhenti berkuasa di sini, musuh dari dimensi yang lebih tinggi akan turun dan menghancurkan semua yang telah ia bangun.
"Elena," panggil Arya tanpa menoleh. "Hubungi Nona Feng dan Thomas di bumi. Beri tahu mereka untuk mempercepat laju akuisisi. Aku ingin seluruh Domain Dalam dan Luar Kunlun disatukan di bawah sistem Dragon Global Corp dalam waktu tiga bulan."
Arya menyeringai, sebuah senyum ambisius yang menjanjikan penaklukan mutlak.
"Kita akan mengumpulkan setiap butir Batu Spiritual, setiap senjata magis, dan setiap ahli bela diri di dunia ini. Jika Alam Atas berpikir mereka bisa memburuku... aku akan memastikan bahwa saat mereka turun, mereka berhadapan dengan mesin perang monopoli yang akan merampas tahta mereka.