NovelToon NovelToon
Malam Jum'At Keliwon

Malam Jum'At Keliwon

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.

Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

"Kami tahu tempat ini suci, Kawan. Dan kami tahu apa yang dilakukan tuanku padamu itu salah besar," jawab Raga tegas. "Sang Adipati Kala bukanlah pemilik tempat ini. Dia perusak keseimbangan. Dia sudah merusak Segel Api, dan sekarang dia mencoba merusak Segel Tanah ini demi ambisi jahatnya. Kami datang ke sini bukan untuk berperang, tapi untuk menyelamatkan tempat ini dan menyelamatkan dunia dari kehancuran."

Si Kepala Tanah tertawa, suara tawanya terdengar seperti benturan batu besar yang saling menghantam. Ia menghantamkan gagang gadanya ke tanah, menciptakan gempa kecil dan retakan memanjang sampai ke dekat kaki Raga.

"Menyelamatkan? Hah! Kata-kata manis anak kecil! Apa yang kalian tahu tentang keseimbangan? Apa yang kalian tahu tentang kekuatan? Sang Adipati Kala adalah kekuatan mutlak! Dia berjanji akan memberi kami keabadian dan kekuasaan selamanya, sesuatu yang tidak pernah diberikan oleh para penjaga tua yang lemah dan kaku itu!"

Ia menunjuk ke arah gerbang besar di belakangnya.

"Segel Tanah sudah kami ubah fungsinya. Sekarang tidak lagi berfungsi menyeimbangkan dunia, tapi sudah menjadi pengumpul energi gelap. Semakin banyak orang berdoa, semakin banyak makhluk hidup, semakin banyak alam bekerja... energi itu akan kami hisap semuanya untuk tuanku. Dan saat energi itu penuh... dunia ini akan menjadi milik kami sepenuhnya!"

Nyi Blorong maju selangkah, wajahnya marah mendengar itu. Ia bisa merasakan aliran energi tanah yang tadinya mengalir tenang ke seluruh penjuru dunia, sekarang justru ditarik paksa, diputarbalikkan, dan disedot habis ke satu titik.

"Kalian gila! Kalian menjual nyawa seluruh dunia demi janji palsu?! Kalian makhluk tanah, yang paling tahu arti kekokohan dan keabadian... malah menjadi pengkhianat terbesar hukum alam!" bentak Nyi Blorong tajam.

Si Kepala Tanah tidak tersinggung, malah makin tertawa puas. "Pengkhianat? Tidak. Kami hanya memilih pihak yang lebih kuat. Di dunia ini, yang kuat berkuasa, yang lemah hancur. Itu hukum yang sesungguhnya. Dan kalian... kalian sudah masuk ke kandang macan. Tidak akan kubiarkan kalian keluar dari sini hidup-hidup untuk mengganggu rencana besar tuanku!"

Kanjeng Raden yang sedari tadi diam dan menahan amarahnya, akhirnya melangkah maju. Tubuhnya membesar seketika, aura emasnya berkobar kuat menyaingi aura abu-abu di tempat itu.

"Kau bicara soal kekuatan, makhluk batu? Kau kira cuma kau yang keras? Kau kira cuma kau yang kokoh?!" bentak Kanjeng Raden menggelegar, matanya merah menyala menatap lurus ke mata kristal Si Kepala Tanah. "Dengar baik-baik! Kekuatan bukan cuma soal seberapa keras kulitmu atau seberapa berat senjatamu. Kekuatan sejati ada pada kebenaran yang kau pegang! Dan kalian... kalian memegang kejahatan. Dan kejahatan itu... sekeras apa pun kau balut dengan batu, pada akhirnya akan retak dan hancur juga!"

Si Kepala Tanah mendengus kasar. Ia mengangkat gadanya tinggi-tinggi, siap menyerang kapan saja.

"Omong kosong! Di sini, di tanahku, akulah yang paling kuat! Di sini, segala benda lunak akan hancur! Di sini, segala yang lemah akan jadi debu! Kalian mau selamat? Bersujud lah sekarang dan serahkan nyawa serta kekuatan kalian pada Tuanku Adipati Kala! Kalian mau melawan? Bersiaplah untuk jadi tumpukan daging hancur di kakiku!"

Suasana makin menegang. Pasukan batu di belakang Si Kepala Tanah mengangkat senjata mereka serentak, siap menyerang atas perintah sekecil apa pun dari pemimpin mereka.

Raga menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia merasakan energi Bara Inti Semesta yang ia dapat dari Raja Api Purba berdenyut hangat di dalam dadanya. Ia merasakan kekuatan yang menyatu dari sisi terang dan sisi gelap dirinya. Ia tahu, musuh di depan ini jauh lebih sulit dikalahkan dibandingkan musuh-musuh sebelumnya. Tubuh mereka keras, tahan banting, dan mereka bertempur dengan disiplin tinggi.

"Kita tidak bisa bernegosiasi lagi," bisik Raga pelan ke arah teman-temannya. "Mereka sudah buta oleh janji manis Adipati Kala. Mereka percaya bahwa kekuatan fisik adalah segalanya. Kita harus membuktikan pada mereka... bahwa ada kekuatan yang jauh lebih keras dan jauh lebih kokoh daripada batu sekalipun."

Raga mengangkat tangannya perlahan. Di jari manisnya, Cincin Pelindung Api bersinar merah keemasan. Di dadanya, Kitab Lontar berdenyut kencang. Dan di dalam dirinya, kekuatan elemen tanah yang mulai ia pelajari dari lingkungan sekitar perlahan bangkit merespons panggilannya.

"Kanjeng... Nyi... Ingat pelajaran kita saat melawan bayangan diri sendiri. Dia keras, dia kuat, dia tidak bisa dihancurkan dengan paksa. Kita harus menaklukkan kekerasan dengan keteguhan hati yang lebih besar lagi," pesan Raga tegas.

Kanjeng Raden mengangguk mantap, siap menumpahkan segala kekuatannya. Nyi Blorong mengubah wujud ekor bawahannya menjadi ekor ular raksasa yang berotot kuat, siap melilit dan menahan gerak musuh.

Si Kepala Tanah tidak mau menunggu lagi. Ia mengaum panjang menggetarkan langit, lalu menghantamkan gadanya ke tanah sekuat tenaga.

"SERAAAAANG!! HANCURKAN MEREKA SAMPAI JADI ABU!"

Seketika, pasukan batu ratusan itu berlari mendatangi mereka dengan langkah berat yang serempak, menciptakan gemuruh tanah seolah ada longsoran gunung yang bergerak. Debu tebal mengepul tinggi menutupi pandangan.

Dan di depan sana, Si Kepala Tanah sendiri melompat tinggi ke udara, bayangannya menutupi tubuh Raga, menghantamkan gada raksasanya ke bawah dengan kekuatan yang cukup untuk meratakan bukit!

"SIAPKAN DIRI! INI BARU AWAL PERTEMPURAN YANG PALING BERAT!" teriak Raga. Ia melesat maju bukan mundur, menyambut serangan raksasa itu dengan hati penuh keyakinan dan kekuatan baru yang luar biasa!

Pertempuran di tanah keras Tulang Bumi pun pecah hebat! Di sini, tidak ada tempat untuk lemah. Di sini, yang bertahan paling lama... dialah pemenangnya!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!