"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Malam pertama kembali di kamar kos terasa seperti pulang ke pelukan lama. Kamar ini berlokasi sangat strategis, hanya beberapa menit dari kantor Mas Dika dan toko tempatku bekerja dulu. Di ruangan 3x4 inilah kami dulu merajut mimpi, tanpa tahu bahwa kenyataan akan membawa kami kembali ke sini sebagai pengungsi.
Mas Dika bergerak gesit membersihkan debu tipis yang menempel di meja kayu. Ia menyalakan kipas angin yang suaranya menderu akrab, mencoba mengusir hawa pengap.
"Maaf ya, Ra. Kita harus balik ke sini lagi," ucap Mas Dika sembari menyeka keringat. Ia duduk di lantai, bersandar pada dipan kasur tempatku berbaring. "Harusnya kamu dapet fasilitas bagus di rumah itu, tapi ternyata rumah itu malah bikin kamu tersiksa."
Aku menggeleng pelan, meraih jemarinya. "Nggak apa-apa, Mas. Di sini jauh lebih baik. Aku ngerasa berdaya lagi kalau di sini."
Mas Dika tersenyum tipis, mengecup tanganku lama. Namun, ketenangan itu terusik saat ponselnya bergetar. Nama "Bapak" (mertuaku) muncul di layar.
"Iya, Pak... Kami sudah di kosan... Dika sudah perpanjang sewanya... Enggak usah dikirim uang, Pak, tabungan Dika masih cukup. Makasih ya, Pak, sudah bela Aira tadi."
Setelah menutup telepon, Mas Dika menatapku. "Bapak bilang, Ibu sama Mbak Diana tadi dimarahin habis-habisan. Bapak marah besar sampai bilang kalau Mbak Diana nggak berubah sikap, dia nggak boleh lagi campur urusan rumah tangga kita dan dilarang datang ke rumah kalau cuma mau bikin keributan. Bapak bener-bener pasang badan buat kita, Ra."
Aku terdiam. Ada rasa lega karena Bapak Mertua membela, tapi hatiku tetap saja perih.
Aku kemudian meraih ponselku yang masih mati. Begitu kunyalakan, notifikasi dari grup toko dan Ali kembali muncul. Namun, mataku terpaku pada satu pesan SMS dari nomor rumah yang sangat kukenal. Pesan dari Ibuku.
(Ra, ini Ibu.Kamu sehat nak?besok kalau Mas Dika pulang kerja main kerumah ya nak,Ibu masakin makanan favorit kamu, pulanglah nak rumah Ibu dan Bapak selalu terbuka untukmu dan Mas Dika)
Air mataku jatuh tanpa permisi. Di saat Ibu mertuaku menganggapku racun, ibuku justru masih ingin menyuapiku dengan makanan kesukaanku. Di kamar kos ini, aku menyadari bahwa meskipun statusku di rumah megah itu hanya seorang benalu, di mata orang tuaku, aku tetaplah anak yang mereka tunggu kepulangannya.
Aku memeluk ponsel itu di dadaku, terisak dalam diam. Mas Dika yang melihatku menangis langsung beranjak dari lantai dan duduk di tepi ranjang. Ia merangkul bahuku, menarikku ke dalam dekapannya yang hangat.
"Kenapa, Ra? Ada apa?" tanyanya lembut sembari mengusap punggungku.
Aku menyodorkan ponselku padanya. Mas Dika membaca pesan dari Ibu dengan saksama. Aku bisa merasakan napasnya yang berat, seolah ia pun ikut merasakan kehangatan yang luar biasa dari kalimat sederhana itu. Ia mengecup keningku lama, seolah sedang meminta maaf untuk kesekian kalinya karena tidak bisa memberiku perlakuan yang sama di keluarganya.
"Besok sore, setelah Mas pulang kantor, kita ke rumah Ibu ya. Mas juga kangen sama masakan mertua," ucapnya mencoba menghiburku dengan nada bercanda.
Aku hanya bisa mengangguk pelan. Malam itu, di bawah temaram lampu kosan yang kusam, rasa nyeri di perutku berangsur hilang. Ternyata, obat terbaik untuk luka batin bukanlah kemewahan, melainkan penerimaan. Kami tertidur dalam posisi saling mendekap, ditemani suara kipas angin yang seolah berbisik bahwa segalanya akan baik-baik saja selama kami bersama.
Keesokan paginya, aku terbangun saat matahari sudah mulai tinggi. Mas Dika sudah berangkat sejak subuh tadi; ia meninggalkan secarik kertas di atas meja kecil berisi pesan bahwa ia sudah membelikan sarapan dan akan pulang lebih awal sore nanti.
Aku memutuskan untuk bersih-bersih kamar seadanya.
Selesai menyapu dan merapikan baju, aku bergegas mengambil handuk. Namun, saat memeriksa botol di kamar mandi, shampoku benar-benar habis. Aku mendesah pelan, menatap cermin sebentar. Sebenarnya aku ragu untuk keluar, tapi rambutku sudah terasa sangat lepek dan tidak nyaman.
Dengan mengenakan daster longgar dan jaket untuk menyamarkan perutku, aku membuka pintu kamar. Baru beberapa langkah, aku sudah berpapasan dengan Ibu Kos yang sedang menyiram tanaman di depan.
"Eh, Mbak Aira! Sudah balik lagi ke sini ya? Pantesan tadi pagi saya lihat motor Mas Dika," sapa Ibu Kos dengan senyum lebar yang tulus. Tidak ada selidik di matanya, tidak ada sinis dalam nadanya.
"Iya, Bu. Balik lagi," jawabku canggung sembari membalas senyumnya.
Di lorong menuju gerbang, aku juga berpapasan dengan Mbak Sari, tetangga kamar sebelah yang sedang menyuapi anaknya. "Mbak Aira, apa kabar? Sehat ya? Kelihatan lebih segar sekarang," sapanya ramah. Beberapa tetangga lain yang sedang menjemur pakaian pun hanya mengangguk dan tersenyum menenangkan.
Langkahku terasa jauh lebih ringan. Di lingkungan kos yang sederhana ini, orang-orang justru memperlakukanku dengan manusiawi. Tidak ada bisikan tentang aib, tidak ada tatapan yang seolah ingin menelanjangi rahasiaku. Mereka hanya mengenalku sebagai Aira, penghuni lama yang kembali pulang.
Aku berjalan menuju toko kelontong di depan gang dengan perasaan yang jauh lebih damai. Namun, saat aku baru saja menerima botol shampo dari penjual dan hendak berbalik, jantungku nyaris berhenti berdetak.
Seorang laki-laki berdiri mematung di pinggir jalan, tepat di samping motornya. Ia masih mengenakan rompi seragam toko yang sangat kukenal. Matanya membelalak, menatapku dari ujung kepala hingga berhenti tepat di perutku yang menyembul di balik jaket yang terbuka tertiup angin.
"Aira?"
Suara itu serak dan bergetar. Itu Ali. Dunia seolah berhenti berputar saat mata kami bertemu. Rahasia yang selama ini aku jaga rapat-rapat dari teman-temanku, kini hancur berkeping-keping di depan mata Ali hanya karena sebotol shampo.
Ali melangkah maju. Setiap pijakannya di aspal terasa lambat dan berat, seolah ia sedang menyeret beban yang amat besar. Matanya tidak lepas dari perutku, sorot matanya yang biasanya jenaka kini dipenuhi oleh keterkejutan yang begitu dalam, bercampur dengan luka yang nyata.
"Ra... kamu?" suara Ali tertahan di tenggorokan. Ia berhenti tepat satu meter di depanku. Tangannya yang memegang kunci motor gemetar hebat. "Ini alasan kamu menghilang? Ini alasan kamu keluar dari grup?"
Aku mematung. Lidahku kelu, dan tanganku yang memegang botol shampo terasa licin karena keringat dingin. Aku ingin lari, tapi kakiku seolah terpaku ke bumi. Rahasia yang selama ini kusembunyikan di bawah jaket longgar ini akhirnya pecah di hadapannya.
"Al, aku..." Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, suara knalpot motor lain mendekat dan berhenti tepat di belakang motor Ali.
"Al! Cepetan, nanti Mbak Selfi marah kalau kita telat balik serah terima!" seru sebuah suara melengking yang sangat kukenal. Alina.
Alina turun dari motor, masih sibuk merapikan helmnya tanpa melihat ke arahku. "Kamu kenapa sih malah bengong di toko kelontong—"
Kalimat Alina terputus. Ia mendongak dan seketika membeku. Matanya membulat sempurna saat melihatku berdiri di sana. Pandangannya mengikuti arah mata Ali, turun perlahan ke arah pinggangku, ke arah nyawa yang tumbuh di dalam rahimku yang kini tak lagi bisa kupungkiri.
"Aira?" bisik Alina, suaranya nyaris hilang. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya. Keheningan yang menyiksa mendadak menyelimuti kami di pinggir jalan itu. Toko kelontong yang tadinya tenang, kini terasa seperti medan pengadilan di mana aku adalah terdakwanya.
Ali menatapku lagi, kali ini dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Jadi benar... omongan orang-orang selama ini benar, Ra? Kamu hamil?" tanya Ali dengan nada yang begitu patah hati, sebuah pertanyaan yang meruntuhkan sisa-sisa pertahananku di depan teman-teman yang paling mempercayaiku.