Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Perdebatan
Seorang pria muda tergesa-gesa keluar dari lift. Langkahnya diikuti oleh 10 orang pria berjas hitam. Pria muda berwajah rupawan ini bergegas memasuki ruang direksi.
Seorang sekretaris yang duduk tak jauh dari sana tak bisa mencegahnya karena pria berwajah asia itu adalah anak dari sang pemilik perusahaan. Para pria yang mengikutinya serempak menunggu di luar.
"Dad!"
Seorang pria bule paruh baya yang tengah duduk di sebuah kursi direksi, hanya mengangkat sedikit kepalanya dan menatap sang anak yang berdiri di ambang pintu. "Apa?"
"Tolong, kurangi bodyguard-nya. Aku tak nyaman ...," pinta Collins yang mendatangi meja sang ayah. Ia tampak kesal.
Pria paruh baya itu meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Bukankah kamu sudah terbiasa dengan sepuluh orang bodyguard itu?"
"Kau menggantinya, kan? Aku tak mengenal mereka!"
"Itu salahmu. Kenapa tiba-tiba kau mencoba kabur lagi setelah lima tahun?" Hardyn mengucapkannya dengan acuh. Pria ini ayah kandung Collins, hanya bedanya, gen ibu Collins yang keturunan Indonesia-Jepang lebih kuat sehingga Collins berwajah Asia. Collins adalah satu-satunya anak dari istrinya yang terdahulu.
Eksekutif muda itu menggaruk-garuk kepalanya karena kali ini sang ayah mengganti bodyguard-nya dengan yang lebih berpengalaman. Mereka memantau gerak-gerik Collins dan membatasi ruang geraknya. Untuk pergi ke mana pun, mereka selalu ada di sekitar dan menyebar. Sepertinya bodyguard ayahnya yang disewa kali ini benar-benar profesional.
"Dad!" Collins yang datang menghela napas kasar dan menghempas bokongnya pada kursi di depannya.
Ia terdiam sejenak mengalihkan pikiran. "Bisakah aku tinggal di apartemen?" Collins mengajukan pilihan.
Pria bule itu menautkan alis pada permintaan anak dari almarhum istri tercintanya itu. "Untuk apa? Kau mau kabur lagi!? Apa sih yang ada di pikiranmu!? Apa yang salah dengan Miranda sampai kamu tak bisa sedikit pun akrab dengannya!?"
'Akrab? Heh! Jangan harap!' Collins menepis rambutnya yang sedikit gondrong ke samping. Rambutnya yang sedikit berombak, satu-satunya yang mirip dengan sang ayah, hanya Hardyn berambut sedikit coklat.
Satu hal yang tak pernah ayahnya tahu bahwa saat pertama kali Miranda bekerja sebagai sekretaris tujuh tahun lalu, wanita itu pernah menggoda Collins. Collins yang saat itu masih SMA, jelas menolaknya.
Sejak Miranda jadi ibu tiri, wanita itu sudah membunyikan genderang perang untuknya. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu, tapi Miranda selalu sok kuasa. Collins yang dari awal memang tak suka, semakin terpojok karena sang ayah melindungi wanita ini, dan sialnya, Miranda selalu bersikap manis di depan Hardyn.
"Dad, tolong. Aku sudah dewasa, aku butuh privasi." Collins berusaha mencari cara agar bisa terhindar dari konflik. Bertemu Miranda berarti konflik.
Hardyn mencondongkan tubuhnya ke depan. Hanya dengan sorot mata elangnya, orang akan merasakan aura penguasa yang kuat. Aura seorang miliarder yang tak terbantahkan. "Kenapa harus apartemen? Kau punya keluarga dan punya ibu yang menunggumu di rumah. Kau bahkan tak peduli pada adikmu, Nero. Kenapa? Kenapa kau berubah, Collins?" Rahangnya yang terbalut rambut halus, terlihat tegas.
Collins merapatkan geraham kuat-kuat. Ya, kepergiannya ke Inggris bukanlah keinginannya. Itu karena sang ayah membuangnya ke sana. Begitulah yang ia ingat tentang kejadian lima tahun yang lalu. Saat sang ibu, Aiko Aibara, meninggal akibat sakit parah, beberapa bulan kemudian sang ayah menikah lagi dengan Miranda hanya karena wanita itu terlanjur hamil.
Collins yang kecewa, pergi mabuk-mabukan di sebuah bar. Fatalnya, ia memaksa pulang dengan mengendarai mobil sendiri. Kecelakaan itu tak terhindarkan dan memakan korban, sehingga Collins diungsikan ke Inggris demi menghindari berita yang sudah santer di media dan dinginnya penjara. Namun Collins menanggapi lain. Ia menganggap sang ayah lebih memilih ibu tirinya dibanding dirinya.
Kali ini ia merasa dituduh. Bukankah ayahnya yang selama ini berubah, bukan dirinya? Sang ayah sudah mengkhianati ibunya, dan kini Hardyn menganggapnya berubah? Ya, anggap saja begitu. Collins sudah tak lagi mempercayai ayahnya seperti dulu lagi. "Dad, kalau aku sudah berbeda, kenapa ...."
"Daddy tidak ingin mendengarkan alasanmu!" ucap ayah Collins dingin. "Kau tidak diizinkan tinggal di luar!" Telunjuk pria itu mengarah ke sang anak. "Beradaptasilah dengan Miranda dan kenali adikmu, Nero." Percakapan itu selesai. Pria itu menyelesaikannya dengan tanpa negosiasi. Tak ada lagi yang bisa Collins bicarakan. Pria itu kembali menekuni berkas-berkas yang ada di atas meja tanpa mempedulikan keberadaan Collins di sana. Begitulah cara ia menyelesaikan perdebatannya dengan Collins seperti yang sudah-sudah.
"Dad ...." Collins merajuk. Kepalanya selalu pusing bila harus pulang ke rumah. Namun bila sang ayah sudah bicara demikian, itu artinya sudah tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Ia harus kembali ke tempat kerja karena segala sesuatunya telah diputuskan.
Sengaja Collins berdiri dengan cepat sehingga kursinya sedikit bergeser, meninggalkan suara derit yang mengganggu.
Hardyn bisa merasakan Collins tengah menahan amarah. Ia juga tengah bertahan untuk tidak menoleh hingga Collins keluar dari ruangan itu.
"Hufh ...." Hardyn membebaskan diri dengan menegakkan tubuhnya. Sebentar ia menggerakkan kursi sedikit berputar dan pandangan mengarah ke jendela besar di sampingnya. Bahkan langit biru yang terlihat tenang tak lagi bisa membuat pikirannya berangsur membaik.
Betapa sulitnya posisi dirinya setiap kali berhadapan dengan masalah ini. Bukan keinginannya menikahi Miranda tapi wanita itu ada saat ia mabuk. Saat ia rapuh kehilangan istri tercintanya dan ia berusaha menembusnya dengan menikahi sekretaris itu. Apakah tindakannya salah? Padahal tak ada cinta di antara mereka. Ia hanya kasihan pada Miranda.
"Hah ...." Pria itu menyandarkan punggung dan mengusap rambutnya ke belakang. Ia bertindak seperti itu juga agar Collins punya ibu dan betah di rumah, tapi ternyata perkiraannya salah.
****
"Mencoba kabur lagi ya."
Terdengar tawa cekikikan saat Collins baru masuk ke dalam rumahnya sendiri. Ia melirik wanita yang duduk manis di samping meja makan. Wanita cantik itu nampak sinis sambil menikmati makan malamnya. Entah kenapa wanita itu selalu mengganggunya setiap kali ia ada di rumah.
"Maaf, urus saja urusanmu sendiri," sahut Collins dengan suara ketus. Ia bergerak ke arah kamar dan bertemu adiknya Nero, seorang bocah laki-laki yang tengah bermain sepeda roda tiga. Dengan kedua tangan terangkat dan jari melengkung, ia menakut-nakuti adiknya dengan memamerkan gigi putihnya yang berkilau dengan mimik menyeramkan. "Heh!"
Nero kaget dan ketakutan. Bocah tiga tahun itu segera berdiri dan berlari panik meninggalkan sepedanya. "Mama!!"
Collins puas. Ia telah melampiaskan rasa kesalnya pada sang adik hingga bisa melangkah santai ke arah kamar.
Baru saja ia masuk, seseorang datang menghampiri dengan tanpa basa-basi, melayangkan sebuah tamparan keras ke arah rahangnya! Terasa panas dan nyeri. Ia tahu siapa pelakunya.
"Kau pikir kau siapa!? Raja di sini, hah!? Aku ibumu di sini, tolong hargai aku!" Mata Miranda nyalang menatap ke arahnya sambil menggendong Nero yang ketakutan dalam pelukan.
Collins menelan ludah dengan raut nanar menatap wanita ini. Ia tidak terkejut karena memang mereka selalu saling serang saat sang ayah tiada. Ia belum lama kembali dari Inggris dan harus mengalami ini lagi, bagaimana ia tidak merasa gila? Ke mana ia harus pulang sebenarnya? Adakah tempat di mana ia bisa beristirahat dengan tenang? Mengadu pun sang ayah takkan mungkin akan percaya.
Bersambung ....