NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Action
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat Darah Para Jenderal

Siang itu, awan mendung berwarna kelabu pekat menggantung sangat rendah menutupi langit ibu kota Aethelgard. Hawa dingin yang tidak wajar menyusup masuk melalui celah-celah pilar marmer di ruang pertemuan utama Istana Draken.

Ruangan melingkar yang luas itu dipenuhi oleh meja kayu oak raksasa yang diukir dengan lambang naga hitam. Di sekeliling meja tersebut, duduklah dua belas jenderal perang tertinggi yang selama ini menjadi pilar militer keluarga.

Wajah para jenderal veteran itu dipenuhi oleh bekas luka pertempuran dan keangkuhan yang sangat kental. Mereka berbisik-bisik dengan nada penuh ketidakpuasan, mempertanyakan otoritas pangeran buangan yang tiba-tiba mengambil alih istana ini.

Jenderal Vargos, seorang pria tua bermata satu dengan janggut putih panjang, menggebrak meja dengan kepalan tangan bajanya. Amarah yang meletup-letup membuat urat-urat di dahi tuanya menonjol keluar seperti cacing yang meronta.

"Ini adalah sebuah penghinaan besar bagi harga diri militer kita!" raung Vargos dengan suara parau yang menggelegar. "Kita tidak bisa tunduk begitu saja pada bocah ingusan yang bahkan belum pernah memimpin ribuan pasukan di medan perang!"

Beberapa jenderal lain mengangguk setuju, raut wajah mereka memancarkan rasa tidak hormat yang sangat terang-terangan. Mereka masih menganggap Valerius sebagai pangeran kedua yang lemah, naif, dan tidak pantas duduk di kursi kekuasaan tertinggi.

Tiba-tiba, kedua daun pintu kayu raksasa di ujung ruangan terbuka dengan sangat pelan tanpa menimbulkan suara derit sedikit pun. Udara di dalam ruang pertemuan itu seketika membeku, seolah seluruh pasokan oksigen baru saja disedot habis oleh kekuatan tak kasatmata.

Valerius melangkah masuk dengan langkah kaki yang terukur, jubah hitamnya menyapu lantai marmer dengan keanggunan yang mematikan. Di atas kepalanya, Mahkota Tiran Berdarah bertengger angkuh, memancarkan aura kegelapan pekat yang langsung mencekik tenggorokan semua orang.

Nyonya Karat dan Baron Kaelos berjalan mengekor di belakangnya bagaikan dua anjing peliharaan yang sangat patuh. Postur tubuh mereka yang merunduk ketakutan memberikan kontras luar biasa terhadap arogansi Valerius yang menyala-nyala.

Dua belas jenderal itu seketika terdiam membisu, mulut mereka terkunci rapat oleh teror murni yang tiba-tiba menyergap dada. Mata hitam kelam Valerius menyapu seluruh ruangan, memindai setiap wajah yang tadi berani mencemoohnya di belakang punggung.

"Lanjutkan keluhan kalian, Tuan-tuan yang terhormat," ucap Valerius pelan sambil melangkah menuju kursi utama di ujung meja. Suaranya terdengar sangat lembut, namun hal itu justru membuat bulu kuduk para jenderal veteran itu berdiri serempak.

Valerius duduk dengan santai, menyilangkan kakinya dan menopang dagunya menggunakan tangan kiri yang terbalut sarung tangan kulit hitam. "Aku sangat menyukai diskusi terbuka yang dipenuhi oleh kejujuran dan keberanian."

Jenderal Vargos menelan ludah dengan susah payah, berusaha keras menekan rasa takut gaib yang menggerogoti kewarasannya. Ia memaksakan diri untuk berdiri tegak, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga diri militer yang telah ia bangun selama puluhan tahun.

"Pangeran Valerius, kami menuntut penjelasan atas pengambilalihan kekuasaan yang sangat mendadak dan tidak berdasar ini!" protes Vargos dengan nada bergetar. "Keluarga Draken membutuhkan pemimpin yang diakui oleh Dewan Bangsawan dan teruji di medan perang, bukan seorang tiran dadakan!"

Valerius tidak segera menjawab, ia hanya menatap mata Vargos dengan pandangan kosong yang menyerap seluruh cahaya di ruangan itu. Ia mengaktifkan skill 'Mata Penilai Iblis' untuk melihat aura arogansi merah tua yang masih tersisa di tubuh jenderal tua tersebut.

"Pengakuan dari para bangsawan gemuk di dewan itu hanyalah ilusi kertas yang bisa dibakar kapan saja," jawab Valerius dingin. "Satu-satunya pengakuan yang kubutuhkan di dunia ini adalah ketakutan absolut yang terpancar dari mata musuh-musuhku."

Valerius perlahan bangkit dari kursinya, mencabut Belati Penyedot Jiwa dari balik jubahnya dengan gerakan yang sangat lambat. Bilah obsidian itu langsung berdengung pelan, memancarkan rasa lapar yang luar biasa buas akan nyawa manusia.

Ia berjalan mendekati Jenderal Vargos, sementara sebelas jenderal lainnya menahan napas dengan wajah sepucat mayat. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mencabut pedang untuk melindungi rekan seperjuangan mereka tersebut.

"Kau mempertanyakan pengalamanku di medan perang, Vargos?" bisik Valerius tepat di samping telinga sang jenderal tua. "Medan perang kalian hanyalah taman bermain anak-anak jika dibandingkan dengan neraka yang pernah kuciptakan di masa laluku."

Tanpa memberikan peringatan sedikit pun, Valerius menancapkan belati iblis itu tepat menembus punggung tangan kanan Vargos yang menempel di atas meja. Bilah tajam itu menembus daging, tulang, hingga menancap dalam pada kayu oak raksasa tersebut.

Jenderal Vargos menjerit histeris, rasa sakit dari Kutukan Agoni langsung mencabik-cabik esensi jiwanya tanpa ampun. Urat-urat di wajahnya menonjol parah, sementara air mata penderitaan mengalir deras dari satu-satunya mata yang ia miliki.

"Kematian adalah sebuah hak istimewa yang tidak pantas didapatkan oleh seorang pengkhianat," ucap Valerius sambil memutar bilah belatinya perlahan. Darah segar menyembur keluar, menodai ukiran lambang naga hitam di atas meja oak tersebut menjadi merah pekat.

Sebelas jenderal lainnya gemetar hebat, beberapa dari mereka bahkan jatuh berlutut dari kursi karena kaki mereka lemas. Arogansi militer yang mereka banggakan hancur berkeping-keping melihat komandan terkuat mereka disiksa layaknya babi malang.

1
Ysya Jeje
roman
Lucy Sandy
seru caritaanya romantis bantaiii
Roy Kkk
bantaiiiiii
King Salman
seru banget
Sarndi Kurma
menarik
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!