(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.
Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menelan Sang Tiran
Langit di atas kawah karang Pelabuhan Besi Berdarah telah bersih dari awan maupun kapal terbang. Satu-satunya hal yang tersisa di udara adalah abu dari ribuan kultivator Klan Hiu Hitam yang perlahan turun bagaikan salju kelabu, menaburi permukaan air laut yang menghitam.
Di tengah hujan abu tersebut, Xie Cang, penguasa mutlak wilayah laut selatan dan seorang Raja Fana Tahap Menengah, melayang dengan tubuh yang bergetar tak terkendali.
Wajahnya yang keras dan bengis kini pias, kehilangan seluruh rona darah. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kosong—tombak pusakanya telah hancur menjadi debu kristal. Ia menatap ke bawah, barisan kapalnya telah ditelan ketiadaan.
Kemudian, matanya dengan ngeri terkunci pada pemuda berjubah abu-abu di depannya. Separuh tubuh pemuda itu dilapisi sisik hitam legam yang memancarkan kedinginan purba, dan di dadanya, sebuah sisik terbalik berdenyut dengan irama yang meremukkan jantung siapa pun yang mendengarnya.
"K-Kau..." Suara Xie Cang terdengar parau, pita suaranya seolah tercekik oleh ketakutan. "Makhluk buas macam apa kau sebenarnya? Inti Emas tidak mungkin bisa menelan seratus kapal perang... Bahkan Penyatuan Langit pun tidak bisa melakukannya tanpa persiapan!"
Chu Chen melayang perlahan mendekati Xie Cang. Setiap incinya memancarkan penindasan mutlak.
"Kau terlalu banyak bertanya untuk ukuran sebuah hidangan," jawab Chu Chen tenang.
Melihat Chu Chen mendekat, sisa-sisa naluri bertahan hidup Xie Cang akhirnya meledak, menembus dinding keputusasaannya. Ia tahu ia tidak bisa menang, dan ia tahu pemuda ini tidak akan melepaskannya. Jika ia harus mati, ia akan memastikan iblis ini mati bersamanya!
"Jangan meremehkanku, Iblis! Aku adalah Raja Fana! Jika aku mati, aku akan menyeretmu ke neraka bersamaku!"
Xie Cang meraung histeris. Ia tidak membentuk segel serangan, melainkan memukul dadanya sendiri dengan keras.
BUM!
Seketika, tubuh raksasa Xie Cang membengkak. Darah menyembur dari pori-porinya, bercahaya merah menyilaukan. Ia membakar Inti Raja Fananya secara langsung! Gejolak energi yang sangat kacau dan merusak meledak di sekitarnya. Udara berderak, ruang di sekelilingnya melengkung parah.
"Dia meledakkan Dantiannya!" jerit Meng Fan dari balik gua di bawah sana, langsung memeluk kepalanya ke tanah. Ledakan bunuh diri dari seorang Raja Fana Tahap Menengah cukup untuk menenggelamkan seluruh Pelabuhan Besi Berdarah dan menghapus jangkauan seratus mil dari peta!
"Mati kauuuuu!" Xie Cang melesat maju seperti guntur yang siap meledak, mencoba memeluk tubuh Chu Chen.
Namun, di mata emas vertikal Chu Chen, kepanikan fana itu hanyalah sebuah gerakan lambat yang menggelikan.
"Meledak di hadapanku?" Chu Chen mendengus dingin. "Aku belum memberimu izin."
Chu Chen tidak mundur. Ia mengangkat tangan kanannya, menyalurkan setetes Qi perak murni dari Niat Pedang Purba langsung ke ujung telunjuk dan jari tengahnya. Ia tidak menebas, melainkan menusuk lurus ke depan, menyongsong tubuh Xie Cang yang sedang membengkak.
SRAAAAAT!
Tidak ada ledakan. Hanya ada suara robekan yang sangat halus.
Dua jari Chu Chen menembus ruang, membelah hukum energi yang sedang mengamuk, dan menancap tepat di Dantian Xie Cang—pusat dari Inti Raja Fana yang sedang bersiap meledak.
Niat Pedang Purba: Pemutus Nadi Kehidupan!
Ketajaman mutlak dari Niat Pedang memotong simpul energi di dalam Dantian Xie Cang sebelum ledakan itu mencapai titik puncaknya. Tubuh Xie Cang yang membengkak mendadak kempis seperti kantung udara yang ditusuk jarum.
Cahaya merah yang menyilaukan itu padam seketika.
"Ugh—" Xie Cang memuntahkan darah hitam dalam jumlah besar. Matanya membelalak lebar, menatap jari Chu Chen yang tertanam di perutnya dengan ketidakpercayaan yang membekukan jiwa. Proses bunuh dirinya... dibatalkan secara paksa?!
"Sudah kubilang," bisik Chu Chen, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Xie Cang. "Kau tidak punya hak untuk menghancurkan makananku."
Chu Chen membuka telapak tangannya yang masih tertanam di perut sang Raja Fana.
Seni Kaisar Naga: Pusaran Ketiadaan!
Daya hisap gelap gulita meledak langsung dari dalam tubuh Xie Cang. Jeritan menyayat hati yang tidak terdengar oleh telinga fana merobek udara. Xie Cang menggelepar hebat, mencoba melepaskan diri, namun tangannya memukul-mukul udara kosong saat saripati kehidupan, darah murni, dan fondasi Raja Fananya ditarik layaknya pusaran air raksasa menelan kapal karam.
Bersamaan dengan itu, Chu Chen tidak hanya menyedot kekuatan fisiknya. Ia menyedot Niat Spiritual Xie Cang—menggali langsung ke dalam lautan ingatan sang penguasa kota.
Ratusan tahun ingatan Xie Cang membanjiri benak Chu Chen. Ia melihat pembantaian, perdagangan pasar gelap, penyiksaan budak dari benua bawah... dan akhirnya, ia menemukan apa yang ia cari.
Sebuah peta dunia yang jauh lebih luas.
Kota Kuno Bintang Jatuh. Chu Chen melihat sebuah nama berkedip dalam ingatan Xie Cang. Itu adalah kota raksasa yang terletak satu bulan perjalanan ke arah utara dari Pelabuhan Besi Berdarah. Kota itu bukan hanya pusat perdagangan lintas benua, tetapi memiliki Gerbang Pemindah Dimensi Raksasa yang bisa langsung memindahkan seseorang seketika melintasi puluhan juta mil, langsung ke jantung Wilayah Suci Primordial—tempat berkuasanya Klan Dewa dan Kekaisaran Kuno.
"Menarik," gumam Chu Chen.
Dalam dua puluh tarikan napas, tubuh raksasa Xie Cang mengering menjadi sekam, lalu menjadi debu yang berjatuhan ke laut hitam di bawahnya.
Chu Chen menarik tangannya, menangkap Cincin Penyimpanan berwarna emas biru milik Xie Cang di udara. Cincin itu adalah perbendaharaan berjalan yang berisi kekayaan puluhan tahun dari penindasan Klan Hiu Hitam.
Di dalam Dantiannya, Chu Chen merasakan Inti Emas Naga Hitamnya berdenyut kuat, memancarkan cahaya yang semakin padat dan gelap. Energi seorang Raja Fana Tahap Menengah telah mendorongnya menembus dinding penghalang terakhir menuju Puncak Tahap Menengah, hampir menyentuh batas Tahap Akhir.
"Ranah ini seperti jurang tak berdasar," Chu Chen menghela napas pelan. "Satu Raja Fana lagi, dan aku mungkin bisa menembus Tahap Akhir."
Ia menurunkan pandangannya, sisik hitam legam di tubuhnya perlahan-lahan menyurut kembali ke bawah kulitnya, meninggalkan tubuh pemuda yang tampak seperti fana biasa. Hanya sepasang matanya yang masih menyisakan ketajaman pemangsa purba.
Chu Chen melayang turun, mendarat dengan ringan di depan gua karang tempat Bai dan Meng Fan masih bersembunyi.
Keduanya menatap Chu Chen seolah ia adalah hantu.
"Kau... kau membunuhnya," gumam Meng Fan, kakinya masih lemas. "Kau membunuh seorang Raja Fana... dan menghancurkan sebuah pasukan. Kita... kita akan jadi buronan paling dicari di seluruh perbatasan ini."
"Hanya jika ada yang hidup untuk melapor," jawab Chu Chen datar. "Seluruh barisan kapal Klan Hiu Hitam telah menjadi abu. Kota di belakang kita sekarang tidak memiliki pemimpin."
Chu Chen melemparkan sebuah kantong kecil yang berisi ratusan Batu Roh Tingkat Menengah hasil rampasannya kepada Meng Fan. "Kembali ke Kapal Tulang Hitam. Bersiaplah untuk berangkat."
Bai melangkah maju, wajahnya yang tertutup kerudung menatap tajam ke arah Chu Chen. "Berangkat ke mana? Klan Hiu Hitam mungkin lumpuh di sini, tapi mereka memiliki jaringan dengan kelompok-kelompok di pedalaman. Tetap di sekitar pelabuhan ini sama saja menunggu bala bantuan mereka datang."
Chu Chen tersenyum tipis. "Kita tidak akan tinggal di pelabuhan kumuh ini. Xie Cang meninggalkan kenang-kenangan yang bagus di kepalanya."
Chu Chen berbalik menatap ke arah laut yang gelap. "Kita menuju ke utara. Kota Kuno Bintang Jatuh."
Mendengar nama itu, Bai tersentak pelan. "Kota Bintang Jatuh? Itu adalah titik kumpul utama bagi para bangsawan benua tengah! Di sana, Raja Fana bukanlah penguasa, melainkan hanya prajurit pilihan. Dan Gerbang Pemindah Dimensi di sana dijaga oleh ahli Penyatuan Langit! Mengapa kita harus pergi ke sarang harimau?!"
"Karena harimau di sana memiliki daging yang lebih manis," jawab Chu Chen tanpa menoleh. "Lagipula, untuk apa menyelinap di lumpur jika aku bisa langsung membongkar gerbang utama mereka?"
Chu Chen melangkah di atas air laut hitam yang membeku akibat sisa-sisa tekanan Qi-nya, berjalan santai menuju Kapal Tulang Hitam yang berlabuh tak jauh dari sana.
Bai menggertakkan giginya. Ia adalah mantan Penatua Istana Jiwa, namun di hadapan pemuda ini, ia merasa seperti daun kering yang terseret badai. Ambisi Chu Chen tidak mengenal batas maupun kewarasan. Memasuki Kota Kuno Bintang Jatuh berarti masuk ke dalam jangkauan pengawasan kelompok-kelompok terkuat di Wilayah Suci Primordial.
Malam itu, Kapal Tulang Hitam diam-diam melepaskan jangkar, meninggalkan perairan Pelabuhan Besi Berdarah yang kini menjadi kuburan massal tanpa nisan.
Di belakang mereka, sisa-sisa tiran lokal telah terhapus dari sejarah. Di depan mereka, panggung yang sesungguhnya dari dunia persilatan—tempat di mana para dewa dan kaisar berkuasa—telah menanti kedatangan Sang Naga Pemakan Langit.