Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 19
Tangga menuju bunker bawah tanah Castello di Pietra terasa tak berujung. Dinding-dinding batu tebal yang biasanya lembap kini telah dilapisi panel kayu ek dan lampu-lampu LED hangat hasil renovasi kilat yang dipaksakan Alicia minggu lalu karena ia menolak bersembunyi di tempat yang "terlihat seperti set film horor."
Setiap kali dentuman meriam dari luar menghantam lereng bukit, getarannya terasa hingga ke ulu hati. Alicia hampir tersandung gaun tidurnya sendiri, namun lengan kokoh Dante selalu ada di sana, menopangnya dengan kekuatan yang tak tergoyahkan.
"Pelan-pelan, Alicia. Kita sudah sampai," ucap Dante, suaranya tetap tenang meski ia bisa mendengar suara rentetan tembakan otomatis dari arah gerbang utama melalui interkom di telinganya.
Pintu bunker baja setebal tiga puluh sentimeter terbuka dengan desisan hidrolik. Di dalamnya bukan ruangan beton yang suram, melainkan suite mewah darurat lengkap dengan tempat tidur ukuran king, kulkas penuh camilan, dan deretan layar monitor yang menampilkan setiap sudut benteng.
"Dante, kau tidak akan meninggalkanku di sini sendirian, kan?" Alicia bertanya, suaranya gemetar saat ia duduk di tepi tempat tidur, masih memegang piring mangga mudanya yang kini tampak kurang menggugah selera dibanding sebelumnya.
Dante meletakkan pistol cadangan di atas meja samping tempat tidur dan berlutut di depan Alicia. "Aku harus memantau koordinasi dari pusat komando di ruang sebelah, Alicia. Marcello dan Bambang sedang menahan mereka di gerbang bawah, tapi aku yang memegang kendali sistem pertahanan udara."
"Tapi baunya, Dante!" Alicia tiba-tiba merengek, menutupi hidungnya. "Bau oli dari pintu baja itu membuat mualku datang lagi! Dan kenapa tidak ada aroma terapi di sini? Aku bisa pingsan bukan karena bom, tapi karena bau logam ini!"
Dante menarik napas panjang, mencoba menekan rasa frustrasinya. "Alicia, ada tentara bayaran di luar sana yang mencoba meledakkan kita, dan kau meributkan bau oli?"
"Anakmu yang meributkannya, Dante! Dia punya selera yang tinggi!" Alicia mulai menangis, sebuah tangisan manja yang bercampur dengan rasa takut yang nyata. "Kau ingin aku muntah-muntah di tengah serangan? Kau ingin aku stres lalu bayinya kenapa-kenapa?"
Dante menutup matanya sejenak, lalu menekan interkom. "Marcello, abaikan laporan amunisi sejenak. Kirimkan satu pelayan ke bunker bawah dengan lilin aroma terapi melati dan pengharum ruangan otomatis. Sekarang!"
Di permukaan, Castello di Pietra telah berubah menjadi neraka. Bambang merayap di sela-sela parit pertahanan, senapan runduknya memuntahkan peluru ke arah kendaraan lapis baja Moretti yang mencoba merangsek naik.
"Mereka menggunakan taktik gerilya, Marcello!" teriak Bambang melalui radio. "Faksi pemerintahmu benar-benar memberikan mereka peta koordinat titik buta benteng ini!"
"Tahan posisi, Bambang!" balas Marcello dari menara pengawas. "Sistem pertahanan otomatis Dante akan segera aktif!"
Tiba-tiba, dari puncak benteng, deretan peluncur roket tersembunyi muncul dari balik balkon-balkon indah yang biasanya digunakan Alicia untuk berjemur. Dengan presisi mematikan, roket-roket itu meluncur, mengubah kendaraan penyerang menjadi bola api di lereng bukit.
Di dalam bunker, Alicia sedang duduk dengan kaki ditekuk di atas kursi beludru, menghirup aroma melati yang baru saja dipasang, sementara layar monitor di depannya menunjukkan api yang membara di luar. Dante duduk di meja komando, jarinya menari di atas keyboard komputer militer.
Tiba-tiba, salah satu layar berkedip, menampilkan panggilan masuk terenkripsi. Dante menekan tombol terima.
Wajah Surya Atmadja muncul di layar. Ia tampak berada di dalam sebuah kantor yang gelap, matanya merah karena kurang tidur.
"Dante! Hentikan kegilaan ini!" teriak Surya. "Pihak di sini sudah kehilangan kesabaran. Mereka akan mengirimkan serangan udara jika kau tidak menyerahkan kode logistik itu sekarang juga!"
Dante menyeringai dingin. "Surya, kau bicara padaku saat anak buah mereka mencoba membunuh putrimu yang sedang hamil? Kau ayah yang hebat, ya?"
Surya tersentak, matanya beralih ke arah Alicia yang duduk di belakang Dante. "Alicia... sayang, kau baik-baik saja?"
Alicia berdiri, berjalan mendekat ke kamera dengan wajah merengut. "Ayah! Aku benci tempat ini! Makanannya aneh, baunya bau oli, dan orang-orang kiriman rekan kerjamu itu berisik sekali dengan bom mereka! Suruh mereka pulang sekarang atau aku akan menghapus semua kontak Ayah dari ponselku selamanya!"
Surya tertegun. Di tengah ancaman serangan udara nasional, putrinya masih memedulikan kontak ponsel dan kenyamanan tempat tidur. "Alicia, Ayah sedang berusaha menyelamatkanmu."
"Menyelamatkanku dengan bom? Ayah gila!" Alicia memotong. "Dante sudah memberiku mangga muda dan bantal empuk. Apa yang Ayah berikan? Tunangan psikopat dan ledakan? Nyatanya Aku tetap di sini!"
Surya terdiam, pundaknya merosot. Ia melihat betapa keras kepalanya Alicia, sebuah sifat yang persis menurun darinya. "Dante... beri aku waktu dua jam. Aku akan mencoba membungkam faksi itu dari dalam. Tapi kau harus berjanji, jika keadaan memburuk, bawa Alicia ke titik koordinat yang aku kirimkan."
"Dua jam, Surya," ucap Dante sebelum memutus sambungan.
Dua jam berlalu dengan ketegangan yang menyesakkan. Suara dentuman di luar mereda, namun digantikan oleh keheningan yang lebih menakutkan. Dante terus menatap radar.
"Mereka berhenti menembak," bisik Dante.
"Mungkin mereka sudah pulang karena takut padaku?" ucap Alicia, mencoba kembali ke mode manjanya untuk menutupi ketakutan.
Tiba-tiba, alarm bunker berbunyi. Sensor getaran mendeteksi sesuatu yang besar mendekat dari udara.
"Itu bukan Moretti," Dante berdiri, meraih senjatanya. "Itu jet tempur."
Dante segera menarik Alicia masuk ke dalam ruang perlindungan terkecil di dalam bunker sebuah kotak baja yang dirancang untuk menahan runtuhan gedung. "Alicia, tetap di sini. Jangan keluar apa pun yang terjadi."
"Dante! Kau mau ke mana?" Alicia mencengkeram tangan Dante.
"Aku harus mengaktifkan protokol 'Scorched Earth'. Jika mereka menjatuhkan bom, aku harus memastikan mereka juga tidak akan mendapatkan apa pun dari pelabuhan kita," Dante mencium bibir Alicia dengan keras. "Aku akan kembali. Aku akan selalu kembali padamu."
Dante keluar, meninggalkan Alicia dalam kesunyian yang mencekik. Alicia duduk di sana, di dalam kotak baja gelap yang hanya diterangi lampu darurat merah. Ia tidak lagi mengeluh tentang bau atau rasa makanan. Ia hanya memeluk perutnya, berbisik pada janinnya.
"Jangan takut, Nak... Ayahmu adalah monster paling tampan yang pernah ada. Dia akan mengusir mereka semua."
Tiba-tiba, suara ledakan paling dahsyat yang pernah Alicia dengar mengguncang benteng. Langit-langit bunker di luar ruang pelindung retak. Debu jatuh dari sela-sela baja.
Dan kemudian, sunyi.
Alicia menunggu. Satu jam. Dua jam. Pintu baja tidak terbuka.
"Dante?" Alicia memanggil pelan. Tidak ada jawaban.
Ia mencoba mendorong pintu kecil ruang pelindung, namun tampaknya ada reruntuhan yang mengganjal di luar. Alicia mulai panik. Ia meraih ponsel satelit yang ditinggalkan Dante, mencoba menghubungi Marcello atau Bambang.
Hanya ada statis.
Hingga sebuah suara muncul dari frekuensi radio cadangan. Bukan suara Dante, melainkan suara Bambang yang terengah-engah.
"Alicia... kau bisa mendengarku? Benteng bagian atas hancur. Dante... dia masih di ruang pusat komando saat bom itu jatuh. Kami sedang mencoba menggali, tapi Moretti melakukan serangan darat terakhir."
Alicia terpaku. Air mata jatuh tanpa bisa dibendung. Sisi manjanya runtuh sepenuhnya, menyisakan seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa mahkota kemewahannya telah dibayar dengan nyawa pria yang ia cintai.
"Bambang... jemput aku," ucap Alicia, suaranya kini dingin dan tegas, sangat mirip dengan nada bicara Dante. "Bawa senjata padaku. Aku tidak akan menunggu di sini sampai mereka menangkapku."
Kegelapan di dalam ruang pelindung baja itu terasa menyesakkan. Bau debu semen dan sisa mesiu merembes masuk melalui celah ventilasi. Alicia, yang biasanya akan berteriak histeris jika melihat debu di atas meja riasnya, kini justru merangkak di lantai yang kotor. Tangannya yang halus kini dipenuhi luka gores saat ia mencoba mendorong reruntuhan yang mengganjal pintu kecil itu.
"Dante tidak mati," bisik Alicia pada dirinya sendiri, suaranya parau. "Pria sombong itu tidak akan membiarkanku mengurus bayi ini sendirian. Dia terlalu posesif untuk mati dengan mudah."
Dengan dorongan terakhir yang menguras seluruh tenaganya, pintu itu terbuka sedikit. Alicia menyelinap keluar ke ruang utama bunker yang kini berantakan. Lampu-lampu kristal yang ia minta pasang telah hancur berkeping-keping.
Ia menyambar ponsel satelit dan pistol otomatis yang ditinggalkan Dante. Alicia menatap senjata itu dengan ragu. Ia benci kekerasan, ia benci suara ledakan, tapi saat ia menatap perutnya, rasa takut itu berubah menjadi amarah yang murni.
"Bambang! Di mana kau?!" Alicia berteriak ke arah radio.
"Alicia! Tetap di posisimu! Aku hampir mencapai lift darurat, tapi lorong ini runtuh!" suara Bambang terdengar di sela rentetan tembakan. "Moretti sudah masuk ke aula utama. Mereka mencari akses ke bunker!"
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣