Riski seorang Fans Sepak bola fanatic saat pulang nonton pertandingan di tabrak mobil dan akhirnya terlempar Ke Dunia Lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Ujian Mental di Panggung Benua
September 2019 menjadi saksi sejarah baru bagi dunia sepak bola Gibraltar. Victoria Stadium bersolek habis-habisan demi memenuhi standar tinggi UEFA. Spanduk-spanduk Liga Europa berkibar di setiap sudut, dan untuk pertama kalinya, lagu resmi kompetisi tersebut berkumandang di bawah bayang-bayang The Rock. Riski berdiri di lorong pemain, merasakan getaran atmosfer yang jauh berbeda dari babak kualifikasi. Di hadapannya, FC Porto—sang Naga dari Portugal—menunggu dengan reputasi sebagai mantan juara Eropa.
Saat Riski menyentuh rumput lapangan, antarmuka sistem muncul dengan pendaran cahaya emas yang tenang namun terasa sangat berbobot.
[Ding! Misi Marathon Fase Grup: Tahap I!]
[Tujuan: Cetak akumulasi 2 Gol dan 2 Assist dalam 3 pertandingan pertama Fase Grup!]
[Hadiah Misi:]
Pundi-Pundi Sultan: €1.000.000 (Sekitar Rp 16.000.000.000).
Emotional Bond: Rasa Suka Erika mencapai tingkat maksimal (100%).
Riski menarik napas dalam. Hadiah satu juta Euro adalah lonjakan finansial yang luar biasa, namun status hubungan dengan Erika yang mencapai 100% adalah hal yang paling ia nantikan. Di Bandung, Erika kini telah resmi naik pangkat menjadi Ajun Komisaris Polisi (AKP), ditandai dengan tiga balok emas yang berkilau di pundaknya.
Matchday 1: Menahan Sang Naga (19 September 2019)
FC Porto datang dengan kekuatan penuh. Pepe, bek legendaris mantan pemain Real Madrid, menjadi lawan langsung Riski di lapangan. Pertandingan berjalan sangat intens. Porto unggul lebih dulu, namun Riski menunjukkan kelasnya. Di menit ke-40, ia melakukan nutmeg pada gelandang Porto dan melepaskan umpan terobosan melengkung yang dikonversi menjadi gol oleh Liam Walker. Assist 1. Memasuki babak kedua, Riski sendiri yang mencetak gol melalui tendangan bebas yang membuat kiper Porto hanya terpaku. Gol 1. Laga berakhir dramatis dengan skor 2-2. Gibraltar berpesta; menahan imbang raksasa Portugal adalah keajaiban bagi klub sekecil Europa FC.
Guncangan dari Tanah Air: Pengkhianatan Federasi
Di tengah performa gila Riski di Eropa, sebuah berita mengejutkan datang dari Jakarta pada awal Oktober. PSSI merilis daftar pemain untuk Kualifikasi Piala Dunia 2022, dan nama Riski tidak ada di sana. Media sosial Indonesia meledak. Publik bertanya-tanya bagaimana mungkin pemain yang sedang bertarung di Liga Europa justru diabaikan.
"Ada kepentingan politik di dalam sana, Ki," lapor Marco Valez dengan nada geram melalui telepon. "Mereka lebih memilih pemain yang bermain di liga domestik demi koneksi tertentu."
Riski hanya terdiam di apartemennya, menatap langit malam Gibraltar. "Baguslah. Jika mereka tidak butuh aku, aku punya lebih banyak waktu untuk menghancurkan tim-tim Eropa. Mereka akan memohon padaku nanti," gumamnya dingin.
Matchday 2: Pertempuran di De Kuip (3 Oktober 2019)
Kekecewaan terhadap Timnas diluapkan Riski di markas Feyenoord, Belanda. Erika, yang sedang lembur di kantor Polres Bandung dengan tiga balok emas di pundaknya, menonton dengan bangga bersama rekan-rekan kepolisiannya.
Di menit ke-60, Riski memberikan umpan backheel cerdik kepada Tjay De Barr untuk gol pertama (Assist 2), dan sepuluh menit kemudian ia mencetak gol sundulan tajam (Gol 2). Target misi individu sistem terpenuhi hanya dalam dua laga! Namun, kualitas tim Feyenoord terlalu tangguh di kandang sendiri. Europa FC harus mengakui keunggulan lawan dengan skor tipis 3-2.
Pelampiasan di Liga: Quintrik Sang Jenderal
Karena laga Derby melawan Lincoln masih jauh di bulan Desember, Riski meluapkan kemarahannya pada lawan di liga domestik pertengahan Oktober untuk menjaga moral tim. Menghadapi tim papan tengah Gibraltar, Riski bermain layaknya kerasukan seolah ingin menunjukkan pada PSSI bahwa mereka telah membuat kesalahan fatal.
Menit 10: Tendangan voli keras.
Menit 25: Solo run membelah pertahanan.
Menit 40: Sundulan maut (Hattrick).
Menit 65: Eksekusi penalti dingin.
Menit 80: Tendangan melengkung dari sudut sempit (QUINTRIK!).
Skor akhir 5-0. Nama Riski bergema di stadion, membungkam segala keraguan.
Matchday 3: Mimpi Buruk di Swiss (24 Oktober 2019)
Petaka sesungguhnya terjadi di Swiss saat bertandang ke markas Young Boys. Cuaca dingin ekstrem dan rumput sintetis membuat rekan-rekan Riski kehilangan arah. Europa FC dibantai habis dengan skor telak 6-1. Riski tertunduk lesu di tengah hujan salju tipis, sementara di Indonesia, para pembencinya menggunakan skor ini untuk meremehkan kualitasnya. Erika yang menonton di Bandung sampai harus menutup mata, merasakan kepedihan yang dirasakan Riski melalui layar kaca.
Sinkronisasi Hadiah: Hati Sang AKP
[Ding! Misi Fase Grup Tahap I BERHASIL!]
Bonus Finansial: €1.000.000 (Rp 16.000.000.000) ditambahkan ke saldo.
Status Hubungan: Erika (100% - Devoted Love).
Malam itu, Riski menelepon Erika. Erika tampak anggun dengan seragam AKP-nya meski gurat kelelahan terlihat di wajahnya.
"Selamat atas kenaikan pangkatmu, Erika," ucap Riski parau.
"Jangan pikirkan kekalahan di Swiss itu, Ki. Dan abaikan soal Timnas. Di sini, di kantorku, semua orang tahu siapa Jenderal yang sesungguhnya. Aku mencintaimu, tetaplah berjuang," balas Erika dengan suara lembut yang penuh kasih sayang tulus.
Update Keuangan Riski (Akhir Oktober 2019):
Total Saldo: Sekitar Rp 42.000.000.000.
Aset: Jet Bombardier, Porsche, Resto, dan Minimarket Riski-Mart.
Riski menatap klasemen Grup L di mana Europa FC masih terpuruk di dasar dengan 1 poin. Namun, dengan dukungan Erika yang kini 100% dan kekuatan sistem yang terus meningkat, ia bersumpah akan membalas dendam di putaran kedua.
Klasemen Grup L Europa League:
FC Porto - 7 Poin
Young Boys - 6 Poin
Feyenoord - 3 Poin
Europa FC - 1 Poin