NovelToon NovelToon
Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
​Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
​Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Lelang Musim Gugur dan Benturan Kesombongan

​Di dalam ruang meditasi VIP yang tertutup rapat, udara tidak lagi mengalir secara alami. Atmosfer di ruangan itu telah berubah menjadi medan energi yang sangat tajam, dipenuhi oleh benang-benang Qi tak kasat mata yang bisa memotong besi seolah itu adalah selembar kertas basah.

​Lin Tian duduk bersila di tengah formasi pengumpul Qi, matanya terpejam rapat. Di atas telapak tangannya, seutas Qi abu-abu dari Dantiannya meliuk-liuk seperti ular hidup. Ia sedang mempraktikkan tahap pertama dari Seni Pedang Ilusi Pemutus Bayangan.

​Seni bela diri tingkat Bumi tidak menitikberatkan pada gerakan fisik yang berlebihan, melainkan pada pemahaman mutlak terhadap kompresi energi dan manipulasi ruang. Sesuai dengan instruksi dari gulungan giok kuno tersebut, Lin Tian tidak menggunakan pedang logam. Ia menekan Qi Primordialnya hingga mencapai batas kepadatan ekstrem, mengubahnya menjadi bilah aura setipis sayap jangkrik.

​Zrep!

​Lin Tian menjentikkan jarinya ke arah dinding batu giok yang dilapisi formasi pelindung di ujung ruangan. Tidak ada suara ledakan keras. Hanya ada kilatan abu-abu samar yang melesat dalam sekejap mata.

​Sebuah garis lurus yang sangat halus, tak lebih tebal dari sehelai rambut, muncul membelah dinding batu tersebut hingga sedalam tiga inci. Pertahanan formasi ruangan VIP itu bahkan tidak sempat bereaksi sebelum energi pedang itu menembusnya.

​Mata Lin Tian terbuka, memancarkan cahaya kepuasan yang dingin. "Daya potong yang sangat masuk akal. Tanpa ada pergerakan Qi yang membocorkan niat membunuh, serangan ini nyaris mustahil dihindari oleh indra spiritual kultivator di bawah Tahap Inti Emas. Jika aku menggunakannya dalam jarak dekat, bahkan baja pelindung Lin Kuang pun akan tertembus."

​Lin Tian menarik napas panjang, menstabilkan gejolak Qi di dalam Dantiannya. Menggunakan teknik tingkat Bumi menghabiskan energi spiritual sepuluh kali lipat lebih cepat daripada teknik biasa. Namun, sebagai kartu as rahasia, kemampuannya untuk membalikkan keadaan dalam pertempuran hidup dan mati sangatlah mutlak.

​Waktu berlalu dengan cepat. Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu kayu gaharu.

​"Tuan Besar, Lelang Musim Gugur akan segera dimulai dalam waktu seperempat batang dupa. Jubah penyamar Anda telah kami siapkan di luar pintu," terdengar suara hormat Manajer Sun.

​"Aku mengerti," jawab Lin Tian datar.

​Ia bangkit, mengenakan jubah hitam khusus yang disulam dengan formasi anti-pelacakan kelas menengah. Jubah ini menutupi seluruh tubuhnya, dan topeng logam tanpa wajah yang menyertainya sepenuhnya memblokir segala bentuk penyelidikan indra spiritual. Di Paviliun Beribu Harta, privasi Tamu Kehormatan adalah hukum tertinggi yang tidak bisa diganggu gugat.

​Lin Tian melangkah keluar dan dikawal oleh dua penjaga tingkat Pendirian Yayasan menuju Bilik VIP Nomor 1 di lantai tiga. Bilik ini melayang tepat di atas aula pelelangan utama, memberikan pandangan absolut ke seluruh penjuru ruangan melalui kaca kristal sepihak. Mereka yang di bawah tidak bisa melihat ke atas, namun Lin Tian bisa mengawasi setiap pergerakan mereka.

​Aula lelang malam itu sangat padat. Ratusan kultivator dari berbagai faksi di Kota Daun Gugur dan kota-kota sekitarnya telah berkumpul. Atmosfernya dipenuhi oleh ambisi, keserakahan, dan kalkulasi logis tentang untung-rugi.

​Tatapan Lin Tian menyapu barisan depan di aula utama, dan seketika terkunci pada sesosok pria paruh baya bertubuh kekar yang mengenakan jubah merah keemasan. Pria itu duduk dengan postur arogan, namun jari-jarinya yang mengetuk sandaran kursi dengan ritme tak beraturan mengkhianati kegelisahan di dalam hatinya.

​Itu adalah Lin Kuang, Kepala Klan Lin.

​"Dia terlihat tertekan," gumam Lin Tian di balik topengnya. "Wajar saja. Hilangnya tabib klan dan gagalnya misi pembunuhan Ayah pasti membuatnya paranoid. Dia datang ke pelelangan ini untuk mencari sesuatu yang bisa memperkuat posisinya secepat mungkin sebelum Sekte Pedang Surgawi menyadari ketidakmampuannya."

​Tepat pada saat itu, lampu kristal di aula utama meredup. Seorang juru lelang tua dengan aura spiritual yang kuat melangkah ke atas panggung batu giok. Pelelangan Musim Gugur secara resmi dimulai.

​Barang demi barang dikeluarkan. Mulai dari pil spiritual tingkat dasar, senjata berukir rune kelas rendah, hingga inti siluman Tingkat 2. Lin Tian tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali. Fokusnya murni untuk tujuan tunggal: Tungku Teratai Merah. Ia tidak akan membuang sumber dayanya untuk hal-hal yang tidak memiliki nilai strategis yang jelas.

​Satu jam berlalu, dan suasana lelang semakin memanas. Juru lelang tua itu akhirnya membuka sebuah kain sutra penutup pada sebuah meja pualam di tengah panggung.

​Seketika, gelombang panas yang murni dan menenangkan menyapu seluruh aula. Sebuah tungku perunggu setinggi setengah meter, dihiasi ukiran bunga teratai merah yang tampak seolah sedang terbakar, dipamerkan di hadapan publik.

​"Hadirin sekalian, inilah salah satu primadona malam ini!" seru sang juru lelang dengan suara lantang yang mengandung Qi. "Tungku Teratai Merah! Artefak kelas Bumi tingkat rendah peninggalan Master Alkemis Yan. Tungku ini memiliki formasi pengumpul api internal dan mampu meningkatkan persentase keberhasilan pembuatan pil hingga tiga puluh persen! Harga awal ditetapkan pada tiga ratus Batu Spiritual tingkat rendah, dengan kelipatan penawaran minimal lima puluh batu!"

​Aula mendadak riuh. Tiga ratus Batu Spiritual tingkat rendah adalah kekayaan yang sangat besar bagi klan kecil, setara dengan pendapatan tahunan sebuah wilayah perdagangan minor. Namun, bagi keluarga yang memiliki alkemis, tungku ini adalah investasi tak ternilai.

​"Tiga ratus lima puluh!" teriak seorang tetua dari Klan Zhao.

​"Empat ratus!" balas seorang saudagar dari kota tetangga.

​"Lima ratus!"

​Suara berat dan arogan memotong persaingan tersebut. Lin Kuang berdiri dari tempat duduknya, melepaskan sedikit tekanan aura Inti Emasnya untuk mengintimidasi para pesaing lain.

​"Tungku ini akan menjadi milik Klan Lin. Kami sedang bersiap menyambut seorang tamu agung dari Sekte Pedang Surgawi, dan tungku ini akan menjadi persembahan yang pantas. Aku harap para rekan Daois di sini bersedia memberikan sedikit wajah kepadaku!" ucap Lin Kuang dengan nada yang setengah meminta, setengah mengancam.

​Keheningan menyelimuti aula. Mengeluarkan lima ratus batu sudah merupakan batas bagi banyak pihak, dan menyinggung Lin Kuang—yang didukung oleh Sekte Pedang Surgawi—jelas bukan langkah yang logis bagi para klan kecil. Juru lelang mengerutkan kening karena Lin Kuang menggunakan intimidasi untuk menekan harga, namun ia tidak bisa membantah.

​"Lima ratus batu dari Kepala Klan Lin! Apakah ada yang lebih tinggi?" tanya juru lelang.

​Lin Kuang menyeringai lebar, merasa kemenangan sudah di tangannya. Ia membutuhkan tungku itu untuk menyogok Tetua Lu, memastikan legitimasinya aman meskipun stempel klan tidak berhasil ia temukan.

​Namun, senyum di wajah Lin Kuang membeku ketika sebuah suara mekanis yang disamarkan oleh formasi pengeras suara bergema dari Bilik VIP Nomor 1. Suara itu terdengar datar, lambat, dan memancarkan arogansi absolut yang memandang rendah seluruh isi ruangan.

​"Tujuh ratus Batu Spiritual tingkat rendah."

​Semua mata terbelalak dan serempak menatap ke atas, ke arah kaca hitam Bilik VIP 1. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras. Bilik nomor satu hanya dibuka untuk eksistensi setingkat Tamu Kehormatan Emas, seseorang yang kekuasaannya melampaui batas hukum kota.

​Wajah Lin Kuang memerah padam menahan amarah dan rasa malu. Ia baru saja meminta 'wajah', namun orang di atas sana langsung menginjak-injak wajahnya tanpa ragu. Dengan gigi terkatup, ia mengangkat tangannya.

​"Tujuh ratus... lima puluh batu!" geram Lin Kuang. Ini sudah melampaui batas anggaran klannya, namun egonya tidak mengizinkannya mundur.

​"Seribu."

​Suara datar dari atas membalas dalam waktu kurang dari satu detik, seolah menambahkan dua ratus lima puluh batu hanyalah sekadar membuang debu dari bahunya. Logika pertarungan ekonomi ini sangat jelas: Lin Tian ingin menghancurkan mental Lin Kuang.

​"Kau!" Lin Kuang menunjuk ke arah Bilik VIP 1, auranya meledak. "Siapa pun kau di dalam sana, jangan terlalu menipu orang! Aku adalah Kepala Klan Lin! Apakah kau sengaja mencari masalah dengan Sekte Pedang Surgawi?!"

​Di dalam bilik VIP, Lin Tian hanya bersandar santai di kursinya. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman pembunuh yang paling dingin. Menggunakan nama sekte untuk menggertak di tempat komersial adalah tindakan kebodohan yang hakiki.

​"Di Paviliun Beribu Harta, rasa hormat diukur dari kedalaman kantongmu, bukan dari seberapa keras kau menggonggong," suara Lin Tian menggema tanpa emosi, menusuk tepat di ulu hati harga diri Lin Kuang. "Jika kau tidak memiliki uang, duduklah dan tutup mulutmu."

​Darah Lin Kuang mendidih. Ia nyaris melompat maju, namun dua tetua penjaga dari Paviliun Beribu Harta seketika melepaskan aura puncak Inti Emas mereka, mengunci pergerakan Lin Kuang di tempat. Peringatan diam itu sangat jelas: buat keributan di sini, dan kau akan mati.

​"Seribu Batu Spiritual! Tiga kali! Terjual kepada Tamu Kehormatan di Bilik Nomor Satu!" Juru lelang dengan cepat memukul palunya, tidak memberi Lin Kuang kesempatan untuk mempermalukan dirinya lebih jauh.

​Di kursi barisan depan, Lin Kuang terhempas kembali ke kursinya dengan wajah pucat pasi. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya berdarah. Ia tidak hanya gagal mendapatkan barang suapannya, tapi ia juga dipermalukan di depan seluruh faksi kota.

​Di lantai atas, Lin Tian perlahan berdiri. Senjatanya untuk meracik masa depan telah berhasil ia amankan. Hancurnya ego Lin Kuang malam ini hanyalah hidangan pembuka; badai sesungguhnya yang akan meluluhlantakkan fondasi Klan Lin baru saja ia mulai.

1
yos helmi
💪💪💪👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍😍😍😍💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪🙏
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣3🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪
yos helmi
💪💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍
Fajar Fathur rizky
klan huangpu dan leluhurnya akan musnah hahahaha
Daryus Effendi
terlalu banyak penjelasan jadi nya membosankan
T28J
semangat kak 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!