NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Putri asli/palsu / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
​Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
​Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
​"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
​Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: SENTUHAN YANG MENYULUT MURKA

​Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung di halaman kediaman Lynn. Di dalam ruang tamu utama yang berhiaskan pilar-pilar marmer putih, atmosfernya terasa begitu menyesakkan. Nerina duduk di sofa beludru hitam, mengenakan gaun formal berkerah tinggi berwarna biru dongker yang memancarkan keanggunan tertutup.

​Di samping kanannya, berdiri Ergino. Jas hitam yang membalut tubuh tegapnya tampak sangat pas, seolah dirancang khusus untuk menyembunyikan otot-otot pembunuh di balik penampilannya yang rapi. Kedua tangannya tertaut di depan, matanya lurus menatap pintu masuk dengan tatapan sedingin es.

​Pintu ganda ruang tamu terbuka. Julian Cavendish melangkah masuk dengan gaya seorang aristokrat yang merasa menguasai dunia. Mantel abu-abu wol kasualnya sengaja tidak dikancingkan, memperlihatkan jam tangan kronograf mewah yang berkilau di pergelangan tangannya.

​"Ah, Nona Nerina Aralynn," Julian tersenyum, senyuman yang tidak mencapai matanya yang berwarna abu-abu pucat. "Mansion ini cukup mengesankan untuk ukuran pinggiran kota di negara tropis. Namun, tetap saja terasa... sempit jika dibandingkan dengan kastil keluarga Cavendish di London."

​Nerina tidak bergeming. Ia melirik cangkir teh di depannya sebelum menatap Julian dengan tenang. "Jika Anda datang hanya untuk melakukan penilaian arsitektur, Tuan Cavendish, Anda telah membuang-buang waktu penerbangan Anda yang mahal."

​Julian tertawa kecil, suara tawa yang sarat akan nada meremehkan. Ia duduk di sofa di hadapan Nerina, menyilangkan kakinya dengan santai.

​"Aku suka kelancanganmu. Sangat mirip dengan ibumu, Eleanor," ucap Julian, sengaja memancing reaksi Nerina dengan menyebut nama itu. "Dia juga berpikir dia bisa menentang aturan keluarga dan melarikan diri ke ujung dunia. Tapi lihat bagaimana akhirnya? Dia mati kesepian di sebuah kamar rumah sakit yang dingin, sementara anaknya tumbuh seperti rumput liar di panti asuhan."

​Rahang Ergino mengeras di samping Nerina. Buku-buku jarinya memutih, namun ia tetap diam, menunggu perintah dari wanitanya.

​"Eleanor Cavendish memilih jalannya sendiri karena dia tahu kebebasan jauh lebih berharga daripada silsilah keluarga yang penuh dengan kemunafikan," balas Nerina, suaranya jernih dan tajam, tanpa ada setetes pun keraguan. "Dan jika aku adalah rumput liar, maka ingatlah satu hal, Tuan Julian—rumput liar adalah satu-satunya hal yang tetap tumbuh subur bahkan setelah tanahmu terbakar habis."

​Julian sedikit tertegun mendengar jawaban berkelas dari Nerina. Senyumannya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan menilai yang lebih dingin.

​"Menarik," gumam Julian. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagunya dengan tangan. "Kamu merasa sangat aman karena memegang kotak musik kecil itu, bukan? Kamu pikir sekeping microchip usang di dalamnya bisa membukakan pintu gerbang kekayaan Cavendish untukmu?"

​"Bukan hanya membukanya, Tuan Julian," Nerina menyunggingkan senyum tipis yang menawan sekaligus mengintimidasi. "Tetapi juga meruntuhkan siapa saja yang mencoba berdiri di ambang pintunya."

​Julian mendengus sinis. "Kamu terlalu naif, Nerina. Di London, hukum ditulis oleh mereka yang memiliki darah murni. Seorang anak haram seperti dirimu tidak lebih dari sekadar noda yang harus segera dihapus sebelum merusak reputasi keluarga."

​Julian berdiri dari duduknya. Langkah kakinya terdengar perlahan di atas lantai marmer saat ia berjalan memutari meja, mendekati sofa tempat Nerina duduk. Kehadirannya membawa aura ancaman yang kental.

​Nerina tetap duduk dengan tegak, menolak untuk menunjukkan rasa takut sedikit pun.

​Julian berhenti tepat di depan Nerina. Ia membungkuk sedikit, memperkecil jarak di antara mereka. Wajahnya yang tampan kini dipenuhi oleh keangkuhan seorang predator yang merasa telah menyudutkan mangsanya.

​"Kamu tahu..." Julian berbisik, suaranya terdengar sangat dekat. "Jika saja kamu menyerahkan kotak musik itu dengan sukarela kepadaku sekarang, aku mungkin bisa membujuk kakekmu untuk memberimu sedikit uang pensiun. Kamu bisa hidup mewah di pulau terpencil mana pun yang kamu inginkan."

​Nerina mendongak, menatap mata Julian dengan dingin. "Tawaran yang sangat murah dari seorang Cavendish."

​Julian menyipitkan matanya. Terbawa oleh rasa kesal karena terus-menerus ditolak, ia mengulurkan tangannya yang dibalut sarung tangan kulit tipis. Jemarinya bergerak naik, berniat untuk mencengkeram dagu Nerina dan memaksanya tunduk pada tatapannya.

​"Jangan keras kepala, Nerina. Kecantikanmu ini..."

​KRAK!

​Sebuah gerakan secepat kilat terjadi sebelum jemari Julian sempat menyentuh sehelai pun rambut di wajah Nerina.

​Tangan besar Ergino telah mencengkeram pergelangan tangan Julian dengan kekuatan yang luar biasa. Suara gesekan sarung tangan kulit dan tulang yang tertekan terdengar begitu nyata di dalam keheningan ruangan.

​Wajah Julian seketika memucat. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari pergelangan tangannya, memaksa tubuhnya yang semula tegak kini membungkuk menahan sakit.

​"Agh! Lepaskan!" teriak Julian, napasnya memburu saat ia mencoba menarik tangannya, namun genggaman Ergino bagaikan catok baja yang tak tergoyahkan.

​Ergino tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia melangkah maju, memposisikan tubuhnya yang tinggi besar tepat di antara Julian dan Nerina, sepenuhnya menghalangi pandangan pria London itu dari wanitanya. Aura pelayan yang sopan telah menguap sepenuhnya dari diri Ergino, menyisakan sosok pembunuh berdarah dingin yang haus akan darah.

​Mata gelap Ergino menatap lurus ke dalam manik mata Julian yang kini dipenuhi oleh ketakutan yang mulai merayap.

​"Tangan kotor sepertimu tidak layak menyentuh apa yang menjadi milikku."

​Suara Ergino terdengar sangat rendah, hampir berupa bisikan yang bergetar oleh amarah yang tertahan. Tekanan pada pergelangan tangan Julian semakin mengencang hingga pria pirang itu terpaksa berlutut dengan satu kaki di atas lantai marmer untuk meredakan rasa sakitnya.

​"Gino... apa yang kau lakukan?!" Julian meringis, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Aku adalah perwakilan Cavendish! Jika kau menyentuhku, keluargaku akan menghancurkanmu!"

​"Keluargamu tidak akan sempat melakukan apa pun jika kepalamu sudah terpisah dari tubuhmu di ruangan ini, Tuan Cavendish," balas Ergino tanpa ada keraguan sedikit pun dalam nadanya.

​Nerina berdiri dari sofanya, berdiri di belakang punggung kokoh Ergino. Ia bisa merasakan kemarahan yang luar biasa dari tubuh pria itu, sebuah kepemilikan yang begitu absolut dan gelap.

​"Gino, lepaskan dia," ucap Nerina lembut, namun tegas. "Kita tidak ingin mengotori marmer baru ini dengan darah orang asing."

​Ergino terdiam sejenak. Ia melirik Nerina dari balik bahunya, memastikan bahwa wanitanya tidak terganggu oleh ketegangan ini. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian bagi Julian, Ergino menyentakkan tangan Julian dengan kasar hingga pria itu tersungkur ke lantai.

​Julian memegangi pergelangan tangannya yang kini memerah dan membengkak hebat. Ia mendongak, menatap Ergino dengan kemarahan yang bercampur dengan ketakutan yang mendalam. Ia baru menyadari bahwa pria bersetelan jas ini bukan sekadar pengawal biasa. Aura yang dipancarkannya adalah aura seseorang yang terbiasa menentukan hidup dan mati orang lain di medan perang.

​"Kamu... kamu gila," desis Julian sambil bangkit berdiri dengan susah payah, merapikan mantelnya yang kini berantakan. "Nerina, kamu memelihara monster di sampingmu."

​"Dia bukan peliharaanku, Julian," sahut Nerina dingin, matanya berkilat penuh kemenangan. "Dia adalah pelindungku. Dan seperti yang kamu lihat, dia sangat tidak ramah pada pencuri."

​Julian menarik napas panjang, mencoba memulihkan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Ia mundur beberapa langkah ke arah pintu keluar. "Kita lihat saja seberapa lama pengawalmu ini bisa melindungimu dari tim yang sudah menunggu di luar. Hari ini adalah peringatan terakhir, Nerina. Kotak musik itu akan kembali ke London, dengan atau tanpa nyawamu."

​Dengan kata-kata ancaman itu, Julian berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dengan terburu-buru, tidak ingin mengambil risiko kehilangan tangannya yang lain jika ia tinggal sedetik lebih lama.

​Setelah pintu tertutup rapat, keheningan kembali menguasai ruangan.

​Ergino berbalik menghadapi Nerina. Matanya masih berkilat oleh sisa kemarahan. Tanpa memedulikan batasan apa pun, ia melangkah mendekat, meraih kedua bahu Nerina dengan erat, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memastikan tidak ada satu pun goresan pada tubuh wanita itu.

​"Dia tidak menyentuhmu, kan?" tanya Ergino, suaranya masih terdengar parau dan posesif.

​"Tidak, Gino. Kamu bertindak tepat waktu," jawab Nerina lembut, meletakkan tangannya di atas dada bidang Ergino untuk meredakan debaran jantung pria itu yang berdetak kencang di balik kain jasnya.

​Ergino menarik Nerina ke dalam dekapannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nerina. Napasnya yang hangat berembus di kulit leher wanita itu, mengirimkan sensasi hangat yang menenangkan.

​"Aku bersumpah..." bisik Ergino, tangannya melingkari pinggang Nerina dengan begitu erat hingga seolah ingin menyatukan tubuh mereka. "Jika dia berani menyentuh kulitmu bahkan satu senti saja tadi, aku akan mengirimkan tangannya kembali ke London di dalam kotak perak."

​Nerina tersenyum tipis di dalam pelukan itu. Sisi posesif Ergino yang ekstrem ini mungkin akan menakuti wanita lain, namun baginya yang pernah mati karena diabaikan, posesifitas ini adalah bukti paling nyata bahwa ia sangat berharga.

1
Ariska Kamisa
/Shhh//Shhh//Shhh//Shhh//Shhh/
aditya rian
burulah dinikahin nerina nya gino
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
anak angkat seakan sengaja dibuang agar bisa hidup
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
wow/Scare/
Ariska Kamisa: 🤔🤔🤔🤔🤔
total 1 replies
aditya rian
mulai babak drak romance
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
rahasia terbaru👍
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
gino tidak mati dulunya? apakah time traveler?
Ariska Kamisa: ikuti terus ya🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
ergino keren amat
Ariska Kamisa: terimakasih🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
cettaass
aditya rian
wow tentara bayaran
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
💪💪💪💪💪💪
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
sepertinya ergino terobsesi 🤭
Ariska Kamisa: yes👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
ini mulai babak baru , misteri ibu kandung nerina.
Ariska Kamisa: betul
total 1 replies
aditya rian
gob**k elysia 🤣
aditya rian
ibu kandung nya hidup???
aditya rian
dibutakan oleh rasa bersalah karena telah terpisah lama ini orang tuanya jadi anak salah geh kaya ga mau salah🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
rame👍
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
siapa gino sebenarnya, begitu kuat kah sehingga di takuti
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!