Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Badai di Balik Surat Wasiat
Tiga bulan telah berlalu sejak pemakaman megah Pak Davit Jacob yang dihadiri oleh ribuan pelayat dari berbagai penjuru negeri. Namun, bagi kediaman Jacob, waktu tiga bulan itu bukanlah masa berkabung, melainkan masa peperangan dingin yang merayap di setiap sudut mansion. Suasana rumah yang dulunya berwibawa kini benar-benar di luar kendali.
Tanpa figur kepemimpinan Pak Davit yang bertangan besi, rumah itu berubah menjadi arena pacuan keserakahan. Olivia Jacob sudah mulai bertindak seolah-olah ia adalah penguasa tunggal, sementara Karlo dan Rose sibuk melobi para direktur untuk memastikan kursi Direktur Utama jatuh ke tangan mereka. Mereka semua berlomba-lomba menonjolkan diri, mengklaim jasa, dan diam-diam mulai memindahkan aset perusahaan ke akun-akun pribadi.
Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu orang yang tetap menjadi "si bodoh" yang matanya tertutup rapat. Devan Jacob. Pria itu seolah tidak peduli bahwa takhta keluarganya sedang digerogoti oleh ibu dan kakaknya sendiri. Devan justru semakin tenggelam dalam dunianya bersama Viona. Ia lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah, mengurus kenyamanan wanita itu, membelikannya apartemen baru, dan melindunginya dari gosip miring media. Baginya, kepergian sang ayah hanyalah akhir dari sebuah tekanan, bukan awal dari tanggung jawab.
Sore itu, suasana mansion mendadak mencekam saat sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan lobi. Dari dalamnya keluar seorang pria paruh baya dengan koper kulit tua yang tampak sangat formal. Dia adalah Pak Andrew, pengacara kepercayaan Pak Davit yang selama tiga bulan ini menghilang secara misterius setelah mengurus kepulangan jenazah dari Amerika.
Pak Andrew melangkah masuk ke ruang tamu utama. Di sana, seluruh keluarga Jacob sudah berkumpul, seolah mereka sudah mencium aroma harta yang akan segera dibagikan.
"Selamat sore, Nyonya Olivia, Tuan Devan, Tuan Karlo," sapa Pak Andrew dengan nada suara yang datar dan profesional.
"Akhirnya kau datang juga, Andrew," ketus Olivia sambil menyesap tehnya dari cangkir porselen mahal. Ia menyilangkan kakinya dengan angkuh. "Sudah terlalu lama wasiat ini ditahan. Bukankah sudah jelas siapa ahli waris tunggal Davit?"
Pak Andrew tidak terpancing. Ia meletakkan kopernya di atas meja marmer. "Mohon maaf atas keterlambatannya, Nyonya. Ada beberapa prosedur hukum internasional yang harus saya selesaikan di Amerika sesuai instruksi terakhir almarhum Pak Davit sebelum beliau wafat."
Karlo menyandarkan punggungnya dengan senyum sombong. "Langsung saja, Pak Andrew. Apa instruksi Papa?"
"Saya datang ke sini hanya untuk menyampaikan undangan resmi," ujar Pak Andrew sambil mengeluarkan beberapa amplop tersegel. "Besok pagi, tepat pukul sepuluh, saya meminta seluruh keluarga inti—termasuk para menantu—untuk hadir di rumah ini. Saya akan membacakan surat wasiat resmi yang ditandatangani Pak Davit di hadapan notaris di Amerika."
Olivia tertawa kecil, tawa yang penuh dengan rasa percaya diri yang berlebihan. "Tentu saja kami akan hadir. Aku sudah tahu isinya. Davit pasti meninggalkan mayoritas saham dan mansion ini untukku, dan sisanya untuk Karlo sebagai anak tertua yang paling mengerti bisnis."
Rose ikut menimpali dengan nada bangga. "Iya, Pak Andrew. Karlo sudah bekerja sangat keras tiga bulan ini untuk menutupi kekacauan yang ditinggalkan Devan. Sudah sewajarnya ayah mertua memberikan kepercayaan penuh pada kami."
Di sisi lain ruangan, Devan hanya duduk sambil sibuk dengan ponselnya, sesekali membalas pesan dari Viona dengan senyum tipis, seolah pembicaraan tentang masa depan Jacob Group ini hanyalah gangguan kecil bagi waktunya.
Sedangkan Vanya, ia duduk di sofa tunggal di sudut ruangan. Ia tidak memakai perhiasan keluarga Jacob yang biasa dipaksakan oleh Olivia. Sore itu, ia mengenakan dress sutra berwarna biru gelap yang sangat sederhana namun memberikan aura keanggunan yang luar biasa. Punggungnya tegak, tangannya melipat di atas pangkuan dengan tenang. Ia sama sekali tidak ikut bicara dalam perdebatan harta itu.
Mata Pak Andrew sempat bersinggungan dengan mata Vanya selama beberapa detik. Ada sebuah kilatan rahasia di mata pengacara tua itu—sebuah sinyal yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di Amerika.
"Besok jam sepuluh," ulang Pak Andrew sekali lagi. "Saya harap tidak ada yang terlambat. Karena wasiat ini memiliki informasi yang sangat khusus."
Setelah Pak Andrew pergi, suasana ruang tamu menjadi gaduh. Olivia mulai membayangkan perombakan mansion, Rose mulai merencanakan liburan mewah ke Eropa, dan Karlo sudah merasa dirinya adalah raja baru.
"Lihat itu, Vanya," sindir Olivia sambil menatap menantunya dengan jijik. "Besok, setelah wasiat ini dibacakan, Bersiaplah angkat kaki dari rumah ini. Aku akan memastikan kau tahu tempatmu."
Vanya hanya tersenyum tipis—senyuman yang sangat elegan, namun di dalamnya tersimpan ketajaman yang bisa memotong pembicaraan siapa pun. "Tentu, Bu.
Vanya bangkit dan melangkah menuju kamarnya tanpa menoleh lagi. Di dalam saku gaunnya, ia meremas ponsel baru yang ia beli secara rahasia—ponsel yang ia gunakan untuk berkomunikasi dengan Pak Hans selama tiga bulan terakhir.
Ia tahu apa yang tidak diketahui oleh Olivia. Ia tahu apa yang disembunyikan oleh Pak Andrew. Dan ia tahu bahwa besok pagi, mansion megah ini tidak akan lagi menjadi neraka bagi mereka.
Pagi itu, suasana di kediaman Jacob terasa sangat berat, seolah dinding-dinding marmer mansion itu pun tahu bahwa badai besar akan segera datang. Jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan, namun ketegangan sudah mencapai puncaknya.
Devan melangkah menuruni tangga dengan kunci mobil di tangannya. Ia tampak rapi, namun wajahnya memancarkan rasa muak. Saat ia melewati lobi, Vanya berdiri di sana, menghalangi jalannya dengan tenang.
"Mau ke mana, Devan?" tanya Vanya pelan.
"Pergi mencari udara segar. Di rumah ini udaranya terlalu bau keserakahan," jawab Devan ketus.
"Pak Andrew sebentar lagi sampai. Ini tentang wasiat Papa, Devan. Setidaknya hargailah hari ini," ucap Vanya mencoba mengingatkan.
Mendengar itu, Devan tiba-tiba berhenti. Ia berbalik dan melangkah maju hingga memojokkan Vanya ke tembok lobi yang dingin. Wajahnya mendekat, hanya beberapa senti dari wajah Vanya. Ada senyum meledek yang sangat menyakitkan di bibirnya.
"Kamu benar-benar sangat inginkan harta itu, Vanya?" bisik Devan dengan nada menghina. "Oke, ambillah. Kuasai semua saham itu kalau itu yang membuatmu merasa menang. Aku hanya akan hidup seperti ini, tanpa beban dari siapa pun. Aku tidak butuh uang yang harus dibayar dengan kebebasanku."
Setelah mengatakan itu, Devan menjauh dan pergi begitu saja. Deru mesin mobilnya terdengar menjauh, meninggalkan Vanya yang tetap berdiri tegak, meski hatinya terasa seperti diremas. Devan tidak tahu bahwa bukan harta yang sedang Vanya perjuangkan, melainkan amanat terakhir dari pria yang paling mencintainya.
Jam sepuluh tepat, Pak Andrew tiba dengan pengawalan ketat dan tas kulit hitamnya yang legendaris. Di ruang tamu utama, Olivia, Karlo, dan Rose sudah duduk dengan posisi paling depan, wajah mereka memancarkan antusiasme yang mengerikan.
Pak Andrew mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia menghitung jumlah orang yang hadir, lalu mengerutkan kening.
"Sepertinya ada satu orang yang tidak hadir," ucap Pak Andrew datar.
"Udah, biarin aja! Gak penting itu anak mah. Paling juga lagi tidur atau keluyuran," sahut Olivia dengan nada meremehkan. Baginya, ketidakhadiran Devan justru menguntungkan agar Karlo bisa mendominasi pembicaraan.
Pak Andrew menutup kembali map yang baru saja ia buka. "Mohon maaf, Nyonya Olivia. Instruksi almarhum Pak Davit sangat spesifik. Wasiat ini hanya boleh dibacakan jika seluruh keluarga inti, tanpa kecuali, hadir di ruangan yang sama. Jika satu orang tidak ada, maka wasiat ini dianggap batal dibacakan hari ini."
"Apa?!" Karlo berdiri dari kursinya. "Jangan bercanda, Pak Andrew! Kami sudah menunggu tiga bulan untuk hari ini!"
"Saya tidak bercanda, Tuan Karlo. Saya pamit." Pak Andrew berdiri dan menyambar tasnya.
"Tunggu! Pak Andrew!" Rose mencoba mencegah, bahkan hampir menarik lengan jas sang pengacara. Olivia juga ikut memohon agar peraturan itu dilonggarkan, namun Pak Andrew adalah pria yang integritasnya tidak bisa dibeli. Ia melangkah keluar mansion dengan tegas.
Suasana ruang tamu seketika berubah menjadi neraka. Olivia berbalik arah, matanya merah karena amarah, dan sasarannya adalah Vanya yang baru saja akan berbalik menuju kamar.
"VANYA!" teriak Olivia. "Di mana si bodoh itu? Di mana suamimu yang tidak berguna itu?!"
"Di mana lagi? Pasti di rumah kekasihnya," celetuk Rose sambil melipat tangan di dada, tampak sangat gusar. "Gara-gara dia, kita semua harus menunda ini lagi!"
Olivia berjalan mendekati Vanya, jarinya menunjuk tepat ke wajah menantunya. "Vanya, kamu jemput dia sekarang! Besok pagi surat itu harus dibacakan dan Devan harus ada di sini. Tidak ada alasan lagi!"
"Tapi Bu, Devan—"
"Mohon bantuannya, Adik Ipar," potong Rose dengan nada menyindir yang tajam. "Kamu kan istrinya. Masa menjemput suami sendiri dari rumah selingkuhannya saja tidak bisa? Tunjukkan sedikit gunamu di keluarga ini."
Vanya menatap mereka satu per satu. Ia melihat ketakutan di mata Olivia—takut jika harta itu melayang, dan ia melihat keserakahan di mata Karlo. Vanya menarik napas panjang. Ia tahu, menjemput Devan di apartemen Viona adalah cara terbaik untuk melihat seberapa jauh Devan telah jatuh.
"Baik," jawab Vanya singkat. "Besok pagi, dia akan ada di sini.