NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Klan Shen

Pagi hari di Kota Kuno Bintang Jatuh selalu diawali dengan dentang lonceng dari Paviliun Pertukaran Bintang, menandakan dimulainya perputaran roda kekayaan di wilayah tersebut.

Jalanan utama kota yang berlapis batu giok putih telah dipenuhi oleh para pedagang, kultivator pengembara, dan kereta-kereta binatang buas. Semuanya tampak berjalan sewajarnya, tertib, dan tunduk pada hukum bayangan yang ditetapkan oleh Tiga Klan Besar.

Namun, keteraturan itu akan segera dihancurkan oleh langkah kaki tiga orang yang berjalan melawan arus.

Chu Chen berjalan di depan, jubah abu-abunya berkibar pelan diterpa angin pagi. Wajahnya setenang danau beku. Di belakangnya, Meng Fan berjalan dengan lutut yang masih sedikit bergetar, sementara Bai menyembunyikan wajah pucatnya di balik kerudung.

"Chu Chen, kau benar-benar tidak ingin memikirkannya lagi?" bisik Bai dengan nada mendesak, setengah berlari untuk menyamai langkah Chu Chen. "Ini bukan sekte kecil di benua bawah. Markas Klan Shen dijaga oleh Susunan Pembunuh tingkat tinggi dan ribuan ahli Istana Jiwa. Menyerang mereka dari depan di siang bolong sama saja dengan memaklumkan perang terhadap seluruh tatanan kota ini!"

"Tatanan?" Chu Chen bahkan tidak menoleh. Matanya yang gelap menatap lurus ke arah sebuah gugusan bangunan megah yang menjulang di ujung jalan raya utama. "Sebuah tatanan hanya berlaku jika kau tidak memiliki kekuatan untuk menghancurkannya. Di mataku, klan itu hanyalah lumbung makanan yang pintunya lupa dikunci."

Mereka tiba di depan gerbang utama Markas Klan Shen.

Kemegahan tempat itu memang dirancang untuk meruntuhkan nyali siapa pun yang melihatnya. Gerbangnya terbuat dari perunggu spiritual setinggi lima belas tombak, dihiasi ukiran dua naga bersilang yang memancarkan pendaran susunan pelindung. Di depan gerbang, berdiri dua puluh penjaga berzirah emas, semuanya memancarkan aura Alam Istana Jiwa Tahap Awal.

Melihat tiga sosok berpakaian kumal mendekati gerbang suci mereka, kepala penjaga yang bertugas langsung melangkah maju dengan wajah garang.

"Berhenti di sana, Pengungsi Lumpur! Ini adalah wilayah suci Klan Shen. Menjauhlah sejauh tiga ratus langkah, atau kami akan memotong kaki kalian!" bentak kepala penjaga itu sambil menghunus pedangnya.

Para pejalan kaki di sekitar gerbang langsung berhenti dan menyingkir, menatap Chu Chen dan kelompoknya dengan pandangan mengasihani. Mencari masalah di depan gerbang Klan Shen adalah cara paling cepat untuk bunuh diri di kota ini.

Namun, Chu Chen tidak berhenti. Ia terus melangkah maju.

"Kau tuli?! Penjaga, bunuh anjing gila ini!" raung sang kepala penjaga.

Dua penjaga Istana Jiwa melesat maju, pedang mereka menebas lurus ke arah leher Chu Chen.

Chu Chen tidak menghindar. Ia tidak menggunakan Pusaran Ketiadaan maupun Niat Pedang. Ia hanya terus melangkah.

TRANG! KRAK!

Saat kedua pedang spiritual itu menebas leher Chu Chen, pedang-pedang itu hancur berkeping-keping seolah menebas gunung berlian abadi. Daya tolak dari Zirah Tulang Naga Hitam di balik kulitnya memantulkan tenaga pukulan itu kembali ke tubuh para penjaga.

Kedua penjaga itu memuntahkan darah, lengan mereka patah menjadi beberapa bagian, dan tubuh mereka terlempar ke belakang hingga menghantam gerbang perunggu.

"A-Apa?!" Kepala penjaga terbelalak ngeri. Ia bahkan tidak melihat pemuda itu menggunakan Qi!

Chu Chen akhirnya berhenti tepat di depan gerbang perunggu raksasa seberat ratusan ribu kati tersebut. Ia mengangkat wajahnya, menatap ke arah pelataran dalam klan yang megah.

"Kalian mengirim dua belas tikus ke kamarku semalam," suara Chu Chen tidak berteriak, namun entah bagaimana, Niat Pedang yang terkandung dalam suaranya membelah udara dan terdengar hingga ke relung terdalam Markas Klan Shen. "Aku datang untuk mengembalikan abunya."

Chu Chen mengepalkan tangan kanannya. Di dalam Dantiannya, Lautan Qi Lapis Menengah Puncak bergolak. Ia menarik lengan kanannya ke belakang, lalu meninju lurus ke arah gerbang perunggu yang dilindungi susunan tingkat tinggi tersebut.

BUMMMMMMM!!!

Ledakan yang terjadi membuat seluruh jalanan kota bergetar hebat layaknya dilanda gempa bumi.

Gerbang perunggu spiritual yang disebut-sebut mampu menahan serangan Raja Fana itu... meledak ke dalam! Potongan-potongan perunggu raksasa terlempar ke udara bagaikan daun kering, merobohkan tembok-tembok di sekitarnya dan menghancurkan belasan paviliun di pelataran depan Klan Shen.

Sisa delapan belas penjaga Istana Jiwa di depan gerbang langsung menguap menjadi kabut darah akibat gelombang kejut dari tinju fisik mutlak tersebut.

Kerumunan warga kota di belakang Chu Chen jatuh terduduk, rahang mereka nyaris lepas. Seseorang baru saja menghancurkan gerbang utama Klan Shen dengan satu pukulan tangan kosong?!

Di dalam markas, genta bahaya meraung histeris. Ribuan bayangan melesat ke udara. Para ahli Klan Shen bagaikan sarang lebah yang ditendang, berhamburan keluar dengan senjata terhunus dan mata merah menyala.

"SIAPA YANG BERANI MENGHANCURKAN GERBANG KLAN SHEN?!"

Sebuah raungan yang membawa penindasan hukum alam menyapu pelataran dari udara. Langit di atas markas mendadak menjadi gelap. Sesosok pria paruh baya dengan jubah biru kehitaman melayang turun, memancarkan aura Alam Raja Fana Tahap Awal yang luar biasa pekat.

Itu adalah Penatua Hukuman Klan Shen.

Di belakangnya, ratusan ahli Istana Jiwa Tahap Menengah dan Puncak membentuk kepungan di udara, menyegel setiap jalan keluar dari pelataran depan yang hancur tersebut.

Penatua Hukuman menatap debu yang perlahan menipis di kawasan gerbang. Saat matanya menangkap sosok pemuda berjubah abu-abu yang berdiri santai di sana, pupilnya menyempit tajam.

"Jubah abu-abu... Kau adalah pemuda yang menghancurkan Dantian Komandan Shen Tu di gerbang kota kemarin!" Penatua Hukuman mengertakkan giginya hingga berdarah. Niat Membunuhnya membuat udara di sekitarnya menjadi seberat timah. "Tadi malam aku mengirim dua belas Pembunuh Bayangan untuk memenggal kepalaku. Bagaimana kau bisa berada di sini?!"

Chu Chen menyingkirkan debu dari lengan jubahnya, lalu menatap Penatua itu dengan senyum kejam yang merendahkan.

"Dua belas anjingmu itu sangat renyah. Sayang, mereka terlalu sedikit untuk membuatku kenyang," jawab Chu Chen pelan. Ia mengangkat tangannya dan memberi isyarat memanggil. "Karena sang majikan sudah keluar, mari kita lihat apakah daging seorang Raja Fana di kota ini lebih lezat dari Raja Fana di benua bawah."

"SOMBONG!"

Penatua Hukuman kehilangan akal sehatnya. Ia belum pernah dihina sedemikian rupa seumur hidupnya. Pemuda di bawah sana jelas hanya memancarkan aura Inti Emas Tahap Menengah Puncak! Bagaimana mungkin seekor semut berani menantang seekor gajah raksasa di siang bolong?!

"Bunuh dia! Cincang dia menjadi sepuluh ribu bagian!" perintah Penatua Hukuman.

Ratusan ahli Istana Jiwa dari Klan Shen melepaskan serangan jarak jauh secara serempak. Bilah angin, tombak es, bola api, dan panah petir melesat dari udara bagaikan hujan bintang jatuh berwarna-warni yang ditujukan untuk meratakan Chu Chen beserta tanah pijakannya.

Meng Fan dan Bai yang masih berada di jalanan luar gerbang menahan napas. Badai serangan dari ratusan ahli Istana Jiwa itu cukup untuk meratakan setengah kawasan kota ini!

Namun, di tengah hujan kematian itu, Chu Chen hanya memiringkan kepalanya.

"Kalian terlalu banyak, dan terlalu lemah."

CRAAAT!

Terdengar suara robekan yang mengerikan dari punggung Chu Chen. Jubah bagian belakangnya hancur. Dari balik kedua tulang belikatnya, sepasang Sayap Tulang Naga berwarna hitam legam membentang lebar hingga membelah udara!

Begitu sayap itu terkembang, aura purba yang menentang surga meledak dari tubuh Chu Chen.

Chu Chen tidak menghindar. Ia hanya mengepakkan Sayap Tulangnya satu kali dengan kekuatan penuh.

WUUUUUSSSSH!

Angin yang diciptakan oleh kepakan sayap itu bukan angin biasa, melainkan badai hitam yang dipadatkan dengan Niat Pedang Purba. Badai itu menyapu ke atas, bertabrakan langsung dengan ratusan sihir Istana Jiwa yang sedang turun.

BUMMMMM!

Ratusan serangan energi itu hancur lebur seketika, terpotong-potong oleh Niat Pedang yang terkandung dalam angin sayap Chu Chen.

Namun badai hitam itu tidak berhenti di sana. Angin mematikan itu terus melesat naik, menghantam barisan ratusan ahli Istana Jiwa Klan Shen di udara.

"T-Tidaaaak!"

"Sayap tulang?! Makhluk apa in— AARGHHH!"

Jeritan memilukan memenuhi udara. Ratusan ahli Istana Jiwa itu terpotong-potong menjadi kabut darah di udara. Angin Niat Pedang dari sayap Chu Chen mencabik-cabik zirah spiritual mereka seolah merobek kertas basah. Hujan darah dan potongan tubuh jatuh membasahi pelataran Klan Shen yang megah.

Dalam satu kepakan sayap, separuh dari kekuatan tempur Klan Shen musnah tak bersisa!

Di udara, Penatua Hukuman membeku. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak terkena badai angin itu karena ia berada di posisi yang lebih tinggi, namun pemandangan di bawahnya telah menghancurkan kewarasannya. Ratusan anak buahnya mati dalam sedetik. Dan pemuda di bawah sana... sayap hitam legam itu... itu adalah sayap iblis sejati!

"Sekarang," suara Chu Chen tiba-tiba terdengar bukan dari bawah, melainkan tepat dari arah belakangnya.

Penatua Hukuman tersentak. Kecepatan terbang Chu Chen dengan Sayap Tulang Naga itu telah melampaui kemampuan mata fana.

Chu Chen melayang di udara dengan anggun, sayap hitamnya mengepak pelan. Ia menatap Penatua Hukuman dengan mata emas vertikal yang menyala.

"Hanya tersisa kau dan aku."

Penatua Hukuman meraung ketakutan. Ia membalikkan badannya dan langsung mengaktifkan Hukum Raja Fana miliknya.

Hukum Raja Fana: Rantai Emas Pengekang Dewa!

Ruang di sekitar Chu Chen mendadak memadat. Ratusan rantai emas yang terbuat dari hukum alam muncul dari kehampaan, melilit lengan, kaki, dan sayap Chu Chen, berniat menguncinya di udara dan meremukkan jiwa naganya.

"Terikatlah dan mati!" Penatua Hukuman memuntahkan darah saripatinya untuk memperkuat rantai hukum tersebut, menolak mempercayai bahwa ia bisa kalah dari seorang Inti Emas.

Chu Chen menatap rantai emas yang melilit tubuhnya. Alih-alih meronta, ia tersenyum kejam.

"Mengikat naga dengan rantai fana?" bisik Chu Chen.

Di dalam Dantiannya, Lautan Qi yang mendidih mengalirkan Api Teratai Merah langsung ke sekujur tubuhnya, memanaskan Zirah Tulang Naganya hingga ke suhu inti matahari.

"Hancur."

Chu Chen hanya melebarkan sayapnya sedikit.

KRAAAAK!

Rantai-rantai emas hukum alam itu... meleleh dan hancur berkeping-keping layaknya kaca rapuh.

Sebelum Penatua Hukuman bisa mengeluarkan suara keterkejutan, Chu Chen telah melesat maju, tangan kanannya mencengkeram wajah sang Raja Fana dengan kekuatan yang menghancurkan tulang hidungnya.

"Waktu makan siang," bisik Chu Chen, dan Pusaran Ketiadaan kembali berputar di siang bolong, mengubah langit cerah Kota Bintang Jatuh menjadi saksi bisu dari kiamat yang baru saja dimulai.

1
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!