Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Langit di atas SMA Tunas Bangsa mendadak kehilangan warnanya. Awan abu-abu pekat bergulung rendah, seolah ingin menyentuh atap-atap gedung sekolah yang mulai sepi. Arga mempercepat langkahnya melewati koridor yang basah oleh tempias air. Ia baru saja keluar dari kelas setelah memastikan semua buku catatannya tersusun rapi, namun alam sepertinya punya rencana lain untuk sore itu.
Rintik air yang awalnya malu-malu berubah menjadi hantaman keras saat Arga mencapai tepi jalan raya. Ia segera berlari menuju satu-satunya tempat bernaung yang tersisa, yakni sebuah halte bus tua yang dicat warna jingga pudar. Tempat itu berada beberapa puluh meter dari gerbang utama sekolah, cukup tersembunyi di balik barisan pohon angsana yang rimbun.
Di sana, di bawah atap seng yang berisik karena hantaman air, berdiri seorang gadis yang sedang sibuk membersihkan sisa air di sampul bukunya dengan ujung seragam. Arga terpaku sejenak di tepi halte. Napasnya tertahan. Nala berada di sana, hanya berjarak dua meter darinya.
Nala menoleh saat menyadari kehadiran seseorang. Ia memberikan senyum kecil yang sangat formal, jenis senyum yang biasa ia berikan kepada semua orang di kelas. Tidak ada binar pengenalan atau kehangatan yang Arga harapkan. Baginya, Arga hanyalah Arga, teman sekelas yang kebetulan terjebak hujan di tempat yang sama.
"Deras banget, ya," ujar Nala untuk memecah keheningan yang mulai terasa canggung.
Arga hanya mampu mengangguk pelan. Ia melepaskan tas punggungnya dan memeluknya di depan dada, sebuah gestur pertahanan diri yang tidak ia sadari muncul setiap kali ia merasa gugup. Ia ingin mengatakan sesuatu yang berkesan, namun lidahnya terasa kelu seperti tertelan oleh deru angin.
"Kamu nggak bawa payung, Arga?" tanya Nala lagi.
Mendengar namanya disebut oleh suara itu membuat Arga sedikit gemetar. Ini adalah kali pertama setelah delapan tahun Nala menyebut namanya dengan cara yang begitu biasa, tanpa ada jejak kenangan di dalamnya. Suara itu tetap merdu, namun nada bicaranya adalah nada bicara seorang asing yang sedang berbasa-basi.
"Nggak bawa. Tadi pagi perkiraannya cerah," jawab Arga singkat.
Nala tertawa kecil, suara yang dahulu selalu menjadi musik favorit bagi telinga Arga. Gadis itu menyisipkan sehelai rambut di belakang telinganya yang mulai basah karena angin.
"Aku juga tertipu cuaca. Padahal tadi mau langsung pulang biar bisa belajar buat ulangan biologi besok," kata Nala sambil menatap ke arah jalanan yang mulai tertutup kabut tipis akibat curah hujan yang begitu tinggi.
Arga menatap profil samping wajah Nala. Wajah itu masih sama cantiknya, namun sorot matanya telah berubah total. Nala yang ada di depannya sekarang adalah seorang gadis remaja yang sangat mandiri dan fokus pada masa depan. Ia bukan lagi gadis kecil yang pernah berjanji di bawah pohon mangga bahwa mereka tidak akan pernah melupakan satu sama lain.
"Kamu selalu seserius itu kalau soal nilai, ya?" tanya Arga, mencoba memberanikan diri untuk masuk ke dalam dunia Nala yang sekarang.
Nala menoleh sebentar, tampak sedikit terkejut dengan inisiatif Arga untuk memperpanjang percakapan. Ia lalu mengedikkan bahu dengan santai.
"Masa depan nggak akan menunggu kita, kan? Aku cuma mau memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Aku ingin masuk fakultas kedokteran nanti," sahut Nala tenang.
Arga merasakan sedikit nyeri di dadanya. Rencana. Nala hidup dalam rencana-rencana barunya, di mana Arga bahkan tidak ada dalam daftar catatan kaki sekalipun. Ingatan tentang janji masa kecil itu terasa seperti beban yang hanya dipikul oleh Arga sendirian.
"Dulu kamu bilang kamu benci hujan karena nggak bisa main keluar," gumam Arga hampir tidak terdengar.
Nala mengernyitkan dahi. Ia menatap Arga dengan ekspresi bingung yang membuat Arga ingin segera menarik kembali kata-katanya. Ada jeda beberapa detik sebelum Nala merespons.
"Aku pernah bilang gitu? Kapan? Kayaknya aku selalu suka aroma tanah waktu kena air hujan, deh. Segar saja rasanya," ujar Nala sambil tersenyum tipis, menganggap ucapan Arga mungkin hanya salah dengar atau tertukar dengan orang lain.
Arga memaksakan sebuah senyum hambar. Ia lupa bahwa ingatan hanyalah milik mereka yang belum beranjak. Baginya, setiap detail tentang Nala adalah kitab suci yang ia jaga dalam kepalanya, sementara bagi Nala, semua itu hanyalah debu yang sudah lama ditiup angin perpindahan kota.
Hening kembali merayap di antara mereka, hanya menyisakan suara gemuruh air yang jatuh ke aspal. Sebuah mobil melintas cepat, mencipratkan genangan air ke arah halte dengan kekuatan yang cukup besar. Nala refleks melangkah mundur untuk menghindari cipratan itu dan hampir kehilangan keseimbangan karena lantai halte yang licin.
Arga dengan sigap menahan bahu Nala sekejap untuk memastikan gadis itu tidak terjatuh. Sentuhan singkat itu terasa seperti arus listrik yang menjalar ke seluruh saraf tubuh Arga. Nala segera memperbaiki posisi berdirinya dan menarik bahunya dengan sopan.
"Terima kasih," kata Nala singkat.
Ada rona merah tipis di pipinya, namun Arga tahu itu bukan karena perasaan yang sama seperti yang ia rasakan, melainkan hanya karena rasa malu sesaat akibat kejadian tadi.
"Sama-sama," balas Arga dengan suara rendah yang hampir tenggelam oleh suara hujan.
Ia kembali menatap lurus ke arah jalan raya, menyadari sepenuhnya bahwa meski mereka berada di bawah satu atap yang sempit, jarak emosional di antara mereka tetaplah ribuan kilometer. Arga masih berdiri di halte yang sama dengan delapan tahun lalu, sementara Nala sudah menaiki kendaraan yang membawanya jauh ke tempat yang tak lagi bisa Arga jangkau dengan kata-kata sederhana. Hujan sore itu tidak menyatukan mereka, ia justru mempertegas garis batas yang ada.