Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Darah di Atas Altar dan Raungan Sang Monster
Aula katakombe purba itu terasa seperti perut seekor monster raksasa yang menelan seluruh cahaya dan harapan. Udara di dalam ruangan berkubah melengkung itu sangat dingin, membekukan keringat yang membasahi pelipis Dara Kirana.
Dara terbatuk, berusaha menopang tubuhnya dengan kedua tangan di atas permukaan altar batu yang sedingin es. Napasnya tersengal. Rasa sakit di pergelangan kakinya akibat jeratan rantai besi Willem berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Rambutnya yang kini memiliki beberapa helai berwarna putih keperakan jatuh menutupi sebagian wajahnya. Ia telah kehabisan energi. Napas Akar-nya tidak merespons; dasar bumi seolah menutup pintunya karena Dara telah melanggar hukum alam dengan membangkitkan Gendis.
Di hadapannya, Willem van Deventer berdiri menjulang layaknya dewa kematian.
Vampir bangsawan itu tidak memancarkan hawa panas seperti Indra atau hawa liar seperti Bumi. Willem memancarkan kekosongan. Sebuah lubang hitam absolut yang menyedot segala bentuk kehidupan di sekitarnya. Seragam jenderal kolonialnya yang berwarna gelap tampak sempurna, tanpa sebutir debu pun yang berani menempel padanya.
"Kau terlihat sangat menyedihkan, Ratu Penengah," suara Willem mengalun lembut, bergema memantul ke dinding-dinding katakombe. Ia memiringkan kepalanya, menatap Dara dengan mata hitam pekatnya yang tanpa pupil. "Leluhurmu, Nyai Ratih, adalah wanita yang sombong namun brilian. Dia tahu cara menggunakan kami, monster-monster ini, sebagai bidaknya. Tapi kau? Kau justru mengorbankan nyawamu sendiri demi seekor anjing peliharaan. Kau memalukan garis keturunanmu."
Dara mendongak, menatap langsung ke dalam mata gelap sang Jenderal. Gadis fana itu menolak untuk memalingkan wajah, menolak untuk menunjukkan ketakutan yang sedang meremukkan paru-parunya.
"Aku mengorbankan nyawaku untuk saudariku," desis Dara, suaranya parau namun dipenuhi racun kebencian. "Sesuatu yang tidak akan pernah dimengerti oleh mayat hidup sepertimu. Berapa banyak prajuritmu yang kau korbankan hanya agar kau bisa hidup abadi di lubang tikus ini, Willem?"
Senyum di wajah Willem perlahan memudar. Rahangnya yang tegas mengeras. Ucapa Dara tepat mengenai sasaran pada ego kebangsawanannya.
"Aku tidak mengorbankan mereka. Aku memberikan mereka keabadian," balas Willem dingin. Ia melangkah maju, sepatu bot militernya berderap pelan di atas altar batu.
Willem merogoh balik seragamnya dan menarik keluar sebilah belati. Bukan bayonet berkarat, melainkan sebuah belati perak berukir rumit yang memancarkan aura kutukan yang sangat pekat.
"Kau mungkin telah menghancurkan sebagian kecil pasukan perintis yang kubangkitkan di permukaan," Willem mengarahkan ujung belati itu ke arah parit-parit kecil yang melingkari altar batu tersebut. "Namun, di balik dinding ini, ratusan Marsose Darah terbaikku masih tertidur dalam kepompong hibernasi mereka. Mereka membutuhkan katalisator untuk bangun sepenuhnya. Mereka membutuhkan resonansi dari darah Pawang Rimba."
Willem menunduk, mencengkeram rahang Dara dengan tangan kirinya yang terasa seperti bongkahan es, memaksa gadis itu mendongak menatapnya.
"Malam ini, aku tidak akan mengubahmu menjadi pasukanku, Dara Kirana," bisik Willem tepat di depan wajah Dara. "Aku akan memeras darahmu hingga tetes terakhir untuk menyiram altar ini. Kematianmu akan menjadi gerbang kebangkitan bagi kekaisaranku yang baru."
Di saat yang sama, hanya berjarak belasan meter dari altar tersebut, sebuah pertempuran brutal yang tidak seimbang sedang berlangsung.
Indra Bagaskara dan Bumi Arka terkunci dalam pertarungan jarak dekat melawan sepuluh pengawal pribadi Willem. Kesepuluh mayat hidup itu mengenakan pakaian bangsawan Jawa kuno—beskap yang telah lapuk dan kain jarik yang robek-robek. Mereka adalah pengkhianat masa lalu, manusia-manusia sakti yang menukar jiwa mereka demi keabadian dari Willem van Deventer.
Mereka bukan Marsose biasa. Mereka memiliki ilmu bela diri yang sempurna dan kecepatan yang nyaris mengimbangi para predator puncak. Kuku-kuku hitam mereka panjang dan melengkung, meneteskan cairan bisa berwarna hijau pekat yang berbau seperti bangkai tikus.
"Mati kau, bangsat!" raung Bumi.
Sang Alpha Serigala menghindar dari sabetan kuku beracun, melenting ke bawah, lalu menendang lutut salah satu pengawal hingga patah terbalik. Saat mayat hidup itu jatuh, Bumi menerkamnya dan merobek tenggorokannya dengan cakar serigalanya. Namun, mayat itu tidak hancur menjadi abu seperti Marsose. Ia hanya tertawa kaku, lehernya yang robek tidak mengeluarkan darah, dan tangannya tetap bergerak menancapkan kuku beracunnya ke bahu Bumi.
Bumi mengerang keras, menendang mayat itu menjauh. Rasa sakit akibat racun itu membakar sarafnya.
"Kucing, mereka tidak mati dicabik! Mereka harus dibakar!" teriak Bumi, menahan rasa kebas di bahunya.
Indra tidak menjawab. Pangeran Cindaku itu sedang dikepung oleh empat pengawal sekaligus.
Uap panas mendidih terus menyembur dari tubuh Indra, membakar setiap kuku beracun yang mencoba menggores kulitnya. Namun, fokus Indra sama sekali tidak berada pada pertarungannya. Matanya yang menyala emas terus melirik ke arah altar di tengah ruangan. Ia melihat Willem mencengkeram rahang Dara. Ia melihat belati perak di tangan sang Jenderal.
Kepanikan primal, sebuah teror yang belum pernah dirasakan oleh Indra seumur hidupnya, mulai mencekik lehernya.
“Lepaskan dia... lepaskan penawarku!” harimau di dalam kepalanya meraung dengan keputusasaan yang gila.
Indra mengayunkan cakarnya yang bersuhu ratusan derajat, membelah dada dua pengawal di hadapannya secara horizontal. Api Nafsu Rimba membakar organ dalam mayat hidup itu hingga mereka tumbang menjadi arang.
Namun, sisa pengawal lainnya melihat celah kepanikan Indra. Mereka tidak menyerang tubuh pemuda itu; mereka menyerang kakinya. Dua pengawal melemparkan semacam rantai berbandul (bolas) yang terbuat dari tulang manusia berlapis sihir es, melilit kedua kaki Indra dengan sangat kencang.
Suhu dingin dari rantai tulang itu meredam hawa panas Indra, memaksa pemuda itu jatuh berlutut dengan keras ke lantai batu bata. Tiga pengawal lainnya langsung menubruknya dari atas, menekan bahu dan leher Indra ke lantai dengan kekuatan gaib yang luar biasa masif.
"Minggir!" Indra meronta membabi buta. Ia menggunakan seluruh tenaga ototnya, lantai bata di bawahnya retak dan hancur, namun rantai tulang yang menahan kakinya dan tekanan dari tiga mayat hidup level tinggi itu membuatnya tertahan.
Bumi mencoba menolong, namun Alpha Serigala itu juga tersudut oleh empat pengawal lainnya. Luka racun di bahunya memperlambat regenerasinya. Ia hanya bisa menahan serangan tanpa bisa memberikan bantuan balasan.
Mereka tertahan. Dua raja hutan yang ditakuti itu dipaksa menyaksikan eksekusi sang Ratu Penengah tanpa bisa melangkah maju sedetik pun.
Di atas altar, Willem menatap Indra yang meronta di lantai dengan tatapan meremehkan.
"Kau selalu memiliki kelemahan yang sama sejak dua abad lalu, keturunan Bagaskara," ejek Willem, suaranya menggema memantul. "Kalian terlalu bergantung pada emosi yang menjijikkan. Cinta? Rasa protektif? Itu hanyalah rantai yang membuat kalian lemah."
Willem kembali menatap Dara. Ia menggenggam tangan kiri gadis itu dengan paksa, merentangkan telapak tangan Dara di atas batu altar.
"Dan sekarang, saksikanlah bagaimana kelemahan kalian mengalir untuk memberiku kekuatan."
Willem mengangkat belatinya tinggi-tinggi.
Dara meronta, ia menendang lutut Willem, mencoba membebaskan tangannya, namun cengkeraman vampir itu seperti ragum baja. Tidak ada Napas Akar yang datang menyelamatkannya. Tidak ada mukjizat kedua.
Dengan satu gerakan tanpa ampun, Willem menyayatkan belati perak itu melintang di telapak tangan Dara.
Sebuah jeritan tertahan lolos dari bibir Dara. Sayatan itu sangat dalam, merobek kulit dan daging, menyentuh hingga ke batas otot. Darah merah segar langsung menyembur keluar.
Darah itu tidak jatuh ke lantai; ia menetes tepat ke atas ukiran kuno di tengah altar batu.
Seketika itu juga, altar tersebut bereaksi. Darah sang Ratu Penengah berpendar dengan cahaya merah keemasan yang sangat terang. Cairan itu mengalir cepat layaknya air raksa, mengisi jalur-jalur parit kecil yang melingkari altar, membangkitkan pola geometris sihir kuno yang telah tertidur selama ratusan tahun.
Seiring dengan mengalirnya darah Dara, katakombe itu mulai bergetar.
Dari balik dinding tebal di ujung ruangan, terdengar suara ratusan peti mati yang bergeser. Suara batu yang bergesekan, suara rantai yang terputus, dan suara helaan napas dari ratusan paru-paru mati yang baru saja dialiri esensi kehidupan.
Willem tertawa terbahak-bahak, tawa kemenangan yang menggema menembus kegelapan. Darah sang Pawang bekerja jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Namun, tawa Willem menutupi sebuah suara lain yang jauh lebih mengerikan.
Di lantai batu bata, Indra Bagaskara berhenti meronta.
Pemuda itu mematung. Matanya yang ditekan ke lantai melihat dengan sangat jelas bagaimana darah merah segar mengalir dari tangan Dara. Indra mendengar jeritan kesakitan gadis itu, dan hidungnya... hidungnya mencium aroma tembaga manis dari darah sang Ratu Penengah yang bercampur dengan bau busuk sihir Willem.
Bagi seorang Cindaku, melihat pasangan (mate) atau penawarnya dilukai adalah pemicu insting yang paling tabu. Namun, melihat darah penawarnya ditumpahkan oleh musuh abadi klannya, di depan matanya sendiri, sementara ia tidak berdaya melindunginya... itu menghancurkan sesuatu di dalam jiwa Indra.
Sesuatu yang selama delapan belas tahun ia jaga dengan sangat hati-hati.
Sebuah benang imajiner yang menahan kewarasan manusiawinya... putus berbunyi SNAP di dalam kepalanya.
Dug-dug.
Dug-dug.
Detak jantung Indra mendadak berubah ritmenya. Jantung pemuda itu berdetak dengan sangat pelan, namun setiap detakannya menghasilkan gelombang kejut yang membuat debu-debu di lantai melompat ke udara.
Suhu panas yang tadinya meredup akibat rantai es kini meledak kembali, namun tidak lagi berwarna merah uap. Udara di sekitar Indra berubah menjadi putih, mendidih hingga menciptakan distorsi ruang yang membuat pandangan mata kabur. Rantai tulang berlapis es yang melilit kakinya langsung mencair dan meleleh menjadi genangan air kotor.
"Apa..." salah satu mayat hidup yang menindih Indra bergumam bingung saat merasakan tangannya mulai melepuh hingga ke tulang.
Bumi Arka, yang sedang bertarung beberapa meter dari sana, mendadak berhenti. Insting serigala Alpha-nya melolong ngeri. Bumi menoleh ke arah Indra dengan mata membelalak.
"Tidak mungkin..." bisik Bumi, bulu kuduknya berdiri tegang. "Dia belum cukup umur... dia tidak mungkin bisa menahannya..."
Dari bawah tumpukan tiga mayat hidup itu, terdengar sebuah suara. Bukan suara bariton Indra. Itu adalah suara raungan yang menggetarkan fondasi katakombe, suara yang begitu purba dan absolut hingga membuat nyali makhluk abadi sekalipun menciut.
Sebuah ledakan Nafsu Rimba berbentuk pilar api putih menyembur ke langit-langit katakombe.
Ketiga mayat hidup elit yang menindih Indra langsung hangus terbakar menjadi arang seketika, terhempas ke segala arah.
Di tengah pilar uap putih yang mendidih itu, siluet Indra perlahan-lahan bangkit berdiri. Namun, itu bukan lagi siluet seorang pemuda remaja.
Tulang belulang Indra berderak mengerikan, memanjang dan membesar secara paksa menembus batas anatomis manusia. Sweter turtleneck hitamnya robek berkeping-keping tak kuat menahan ekspansi otot punggung dan dadanya yang menggembung dua kali lipat dari ukuran normal. Kemeja putihnya hancur menyisakan kain compang-camping.
Bulu-bulu tebal berwarna putih salju, dihiasi oleh loreng-loreng hitam legam yang melambangkan kebangsawanan darah murni, merobek keluar dari pori-pori kulitnya. Wajah tampan Indra memanjang ke depan, rahangnya menebal menakutkan, mengekspos deretan taring tajam sepanjang belati yang meneteskan liur panas. Sepuluh jari tangannya telah berubah sepenuhnya menjadi cakar obsidian hitam legam yang ukurannya sebesar celurit tajam.
Indra Bagaskara tidak lagi berwujud manusia.
Digerakkan oleh amarah buta, trauma, dan insting pelindung yang telah melewati batas logika, pewaris takhta itu telah menembus kutukannya. Tanpa bantuan sinar bulan purnama atau bulan baru, Indra memaksakan dirinya masuk ke dalam wujud Half-Shift (Setengah Transformasi) tertinggi—sebuah wujud hibrida antara manusia raksasa dan harimau putih purba yang tingginya mencapai dua setengah meter.
Mata sang monster menyala benderang layaknya sepasang matahari emas di tengah kegelapan katakombe.
Semua pertarungan di ruangan itu terhenti. Para mayat hidup pengawal Willem mundur selangkah secara otomatis, terintimidasi oleh hierarki predator yang jauh melampaui kutukan mereka.
Di atas altar, senyum Willem van Deventer membeku. Mata hitamnya melebar. Rencana perhitungannya yang sempurna baru saja dihancurkan oleh sebuah anomali alam.
"Tidak mungkin..." desis Willem tak percaya. "Seorang Cindaku muda tidak bisa memaksakan Half-Shift tanpa menghancurkan kewarasannya sendiri! Dia seharusnya mati karena tekanan itu!"
Willem benar. Tubuh Indra menolak transformasi paksa itu. Darah menetes dari sela-sela bulu putihnya karena kapiler kulitnya pecah menahan pembesaran otot yang terlalu cepat. Pemuda itu sedang menyiksa dirinya sendiri. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa sakit melihat Dara berdarah.
Monster itu menundukkan kepalanya, mengunci tatapan mata emasnya langsung ke arah Willem.
Sebuah auman yang melampaui desibel pendengaran manusia meledak dari tenggorokan sang monster. Auman itu menciptakan gelombang kejut sonic yang meretakkan lantai batu bata dan memecahkan sisa-sisa obor di sekeliling mereka.
Dalam sekejap mata, Harimau Putih itu melesat.
Kecepatannya tidak masuk akal untuk makhluk sebesar itu. Ia menembus ruang sejauh lima belas meter dalam kedipan mata. Dua mayat hidup elit mencoba menghalanginya di tengah jalan. Sang monster tidak berhenti; ia hanya mengayunkan kedua lengannya yang berbulu putih secara serempak.
SRAAAKK! CRAT!
Tubuh kedua mayat hidup pengawal elit itu meledak, terbelah menjadi dua bagian yang tidak simetris oleh tebasan cakar obsidian yang bersuhu ratusan derajat. Darah hijau pekat berceceran, namun menguap seketika sebelum menyentuh bulu sang monster.
Empat pengawal lainnya menerjang dari sisi kiri dan kanan. Monster Indra menangkap kepala dua dari mereka dengan cakar besarnya, menghantamkan tengkorak mereka ke lantai batu bata hingga hancur berkeping-keping. Kemudian, tanpa menoleh, ia menendang dua lainnya dengan kekuatan yang membuat dada mayat hidup itu remuk ke dalam, melontarkan mereka menghantam pilar batu hingga pilar itu retak.
Itu bukanlah sebuah pertarungan bela diri. Itu adalah sebuah pembantaian sepihak dari predator puncak (apex predator). Indra telah kehilangan seluruh teknik bertarungnya; ia kini hanya membunuh menggunakan insting paling murni dan paling brutal.
Bumi Arka yang berdiri di dekat sana hanya bisa menatap dengan ngeri. "Ini gila... dia tidak membedakan kawan dan lawan lagi. Nafsu Rimba-nya telah menelan akal sehatnya sepenuhnya."
Bumi secara perlahan melangkah mundur, menjauh dari jalur amukan sang monster. Jika ia mendekat sekarang, Indra tidak akan ragu untuk memenggal kepalanya juga.
Hanya dalam waktu kurang dari lima belas detik, sisa delapan pengawal elit Willem telah berubah menjadi tumpukan arang dan potongan daging busuk di lantai katakombe.
Tidak ada lagi rintangan.
Monster Harimau Putih itu berdiri di kaki altar. Uap panas mengepul dari moncongnya yang memamerkan taring-taring mengerikan. Darah hitam musuhnya menetes dari cakar obsidiannya. Mata emasnya yang tak berkedip menatap Willem van Deventer dengan kebencian absolut yang melintasi ruang dan waktu.
Willem melepaskan cengkeramannya dari tangan Dara. Sang Jenderal Vampir mundur satu langkah ke belakang, secara instingtif meraba gagang pedang saber kolonial di pinggangnya. Selama dua ratus tahun ia tertidur, belum pernah ia merasakan kembali ancaman kematian yang begitu nyata di depan matanya.
Dara yang terkapar di atas altar, menahan luka di telapak tangannya, mendongak menatap sosok raksasa di hadapannya. Gadis fana itu tidak melihat monster yang mengerikan. Ia melihat seorang pemuda yang rela mengoyak dan menyiksa tubuhnya sendiri, melepaskan sisi kemanusiaannya yang paling berharga, semata-mata karena ia tidak sanggup melihat setetes pun darah gadis itu tumpah ke bumi.
"Indra..." bisik Dara parau, air mata menetes dari sudut matanya, bercampur dengan darah yang mengalir di altar.
Mendengar bisikan lemah itu, raungan panjang kembali menggema. Sang Harimau Putih melompat naik ke atas altar, menerjang sang Jenderal Vampir dalam sebuah benturan kolosal yang akan menentukan nasib Lembah Marapi.