NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: TARING MACAN VS MATA DEWA

Hening.

Gedung Aurora yang tadinya riuh oleh gemerincing gelas kristal dan tawa palsu para miliarder, mendadak berubah menjadi kuburan mewah. Bau sisa pemotongan batu giok yang segar tertutup oleh aroma lain yang jauh lebih purba: aroma predator.

Arka berdiri di tengah aula, bayangannya memanjang di atas lantai marmer yang mulai retak. Di depannya, Ying—wanita dengan pakaian merah darah itu—bukan lagi sekadar tamu tak diundang. Dia adalah manifestasi dari dunia yang selama ini hanya dianggap mitos oleh orang awam. Dunia di mana kekuatan tidak diukur dari angka di saldo bank, melainkan dari seberapa besar Essence yang mengalir di pembuluh darah.

"Mundur, Clarissa. Jangan menoleh, jangan berhenti sampai kamu berada di dalam mobil," perintah Arka. Suaranya tidak keras, tapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

Clarissa merasakan jemari Arka yang dingin sempat menyentuh bahunya sebelum mendorongnya pelan ke arah Hendra Wijaya yang sudah pucat pasi. Clarissa ingin protes, ingin meneriakkan nama Arka, tapi saat dia menatap mata pria itu, dia melihat sesuatu yang membuatnya merinding. Mata Arka bukan lagi mata pemuda yang dia kenal; ada kekosongan yang sangat dalam di sana, seolah-olah Arka sedang melihat ke dimensi lain.

"Arka, hati-hati..." bisik Clarissa lirih, sebelum akhirnya terseret oleh ayahnya menuju pintu darurat.

Kini, hanya tersisa Arka, Ying, dan empat pengawal Macan Putih yang masih berdiri dengan posisi mengepung.

"Kamu punya nyali, aku akui itu," Ying membuka payung kertasnya kembali. Tapi kali ini, payung itu berputar lambat, menciptakan desingan udara yang tajam seperti baling-baling mesin jet. "Tapi nyali tanpa pengetahuan adalah resep menuju peti mati. Kamu baru saja membunuh Abraham Sanjaya, pion berharga kami. Kamu pikir kami akan membiarkanmu pulang dan tidur nyenyak setelah mengambil 10 Miliar dari kantong kami?"

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Dia justru melepaskan jam tangan Rolex barunya, memasukkannya ke saku celana, dan mulai melonggarkan ikatan dasinya.

"Sepuluh miliar itu terlalu murah untuk nyawaku," sahut Arka datar. "Dan jujur saja, aku sedang bosan menghadapi sampah seperti Surya. Semoga kalian sedikit lebih menghibur."

"Sombong!"

Ying memberi isyarat kecil dengan dagunya. Empat pria berotot di sekeliling Arka bergerak secara bersamaan. Mereka bukan petarung jalanan; mereka adalah mesin pembunuh yang terlatih. Gerakan mereka sinkron, menutup setiap sudut pelarian Arka.

Dua dari mereka menerjang dari depan dengan pukulan kombinasi yang sanggup menghancurkan dinding bata, sementara dua lainnya meluncur di lantai, mencoba mematahkan kaki Arka.

‘Aktivasi: Mode Tempur.’

Dunia di mata Arka berubah menjadi spektrum biru neon. Gerakan keempat pria itu melambat drastis. Dia bisa melihat aliran listrik di syaraf mereka, kontraksi otot sebelum pukulan dilepaskan, bahkan titik-titik lemah yang bercahaya merah di tubuh mereka.

Arka sedikit merendahkan tubuhnya. Saat pukulan pertama datang, dia hanya menggeser bahunya, membiarkan tinju lawan lewat hanya seujung rambut dari kulitnya. Tanpa membuang momentum, Arka menghantamkan telapak tangannya ke ulu hati lawan pertama.

DUAK!

Pria seberat seratus kilogram itu terangkat dari lantai, matanya membelalak keluar sebelum jatuh tersungkur dan muntah darah. Belum sempat lawan kedua bereaksi, Arka sudah memutar tubuhnya 180 derajat. Tendangan tumitnya menghantam rahang lawan dengan bunyi krak yang sangat renyah.

Hanya dalam tiga detik, dua pengawal elit itu sudah lumpuh permanen.

Dua pengawal yang mencoba menyerang kaki Arka tertegun. Mereka ragu sejenak, dan itu adalah kesalahan fatal. Arka melesat—bukan berlari, tapi seperti berpindah tempat secara instan. Dia mencengkeram kepala kedua pria itu dan membenturkannya satu sama lain dengan kekuatan yang sanggup meremukkan batok kelapa.

BRAK!

Lantai marmer itu kini dihiasi oleh tubuh-tubuh yang tak lagi bergerak. Arka berdiri di tengah reruntuhan itu, bahkan kemeja putihnya tidak ternoda setetes darah pun.

"Giliranmu, Nona Payung Merah," tantang Arka.

Wajah Ying yang semula tenang kini menunjukkan retakan. Dia menutup payungnya dengan hentakan keras. "Baik. Jangan menyesal jika aku tidak meninggalkan jasad yang utuh untuk pemakamanmu."

Ying melesat. Kecepatannya berada di level yang berbeda. Dia bukan lagi manusia, melainkan kilatan warna merah yang membelah aula. Payung kertasnya berubah menjadi senjata mematikan; ujungnya yang tajam mengincar titik-titik syaraf di leher dan jantung Arka.

Sring! Sring! Sring!

Percikan api tercipta setiap kali ujung payung Ying menghantam lantai atau pilar yang coba dijadikan Arka sebagai tameng. Arka terus mundur, menangkis serangan Ying hanya dengan tangan kosong. Kulit Arka yang diperkuat oleh energi Mata Sakti terasa sekeras baja.

"Kenapa hanya menghindar? Mana kesombonganmu tadi?" Ying berteriak, frustrasi karena serangannya yang mematikan tidak satu pun yang mendarat telak.

Ying melompat mundur, memberi jarak. Dia menggigit ibu jarinya sampai berdarah, lalu mengoleskan darah itu ke sepanjang rusuk payungnya.

"Teknik Rahasia Macan Putih: Cakar Darah Penembus Jiwa!"

Sekejap, aura merah yang pekat meledak dari tubuh Ying. Udara di sekitar aula berputar hebat, membentuk pusaran angin yang berbau amis darah. Bayangan macan raksasa muncul di belakangnya, mengaum tanpa suara yang membuat lampu-lampu kristal di langit-langit pecah serentak.

Ying menerjang lagi, tapi kali ini serangannya membawa tekanan udara yang sanggup membelah beton dari jarak jauh.

Arka menyadari bahwa main-mainnya sudah cukup. Dia berhenti mundur. Dia memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya lebar-lebar. Pupil matanya tidak lagi hitam, melainkan berubah menjadi emas murni dengan pola geometris yang rumit yang berputar di dalamnya.

‘Evaluasi Teknik Lawan: Manifestasi Energi Tingkat Rendah.’

‘Prosedur: Penghancuran Mutlak.’

Arka merentangkan tangan kanannya. Udara di sekitarnya seolah tersedot ke telapak tangannya, menciptakan kekosongan tekanan yang menyakitkan telinga bagi siapa pun yang mendengarnya.

Saat serangan Ying yang berupa cakar energi merah itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, Arka berbisik pelan, "Hancur."

BOOOOOOMMMMM!!!

Ledakan energi terjadi tepat di tengah aula. Gelombang kejutnya melempar kursi-kursi berat, menghancurkan kaca pameran giok, dan membuat seluruh Gedung Aurora bergoyang seolah diguncang gempa skala besar. Debu dan serpihan batu menutupi pandangan.

Beberapa saat kemudian, debu perlahan turun.

Ying berdiri mematung di tengah aula. Payung merahnya hancur berkeping-keping, hanya menyisa gagang bambu yang patah. Bajunya sobek di beberapa bagian, memperlihatkan kulit putihnya yang kini dipenuhi luka sayatan kecil akibat tekanannya sendiri yang berbalik arah.

Arka berdiri tepat di depannya. Satu tangannya mencengkeram leher Ying, mengangkat wanita itu hingga kakinya menendang-nendang udara.

"Kamu bilang kamu dari Klan Macan Putih?" Arka menatap Ying dengan tatapan dingin yang tak berperasaan. "Klan legendaris yang menguasai perdagangan gelap di Asia Tenggara? Kalau ini adalah standar terbaik kalian, maka aku sangat kecewa."

"L-lepaskan..." Ying tercekik, wajahnya mulai membiru.

"Pulanglah ke lubangmu," Arka menghempaskan Ying ke lantai dengan kasar. "Bilang pada tuanmu, atau siapa pun yang memberimu perintah. Aku tidak peduli siapa mereka. Macan putih, naga hitam, atau dewa sekalipun. Jika mereka mengusikku lagi... aku tidak akan menghancurkan payung mereka, aku akan menghancurkan klan mereka sampai ke akarnya."

Arka berbalik, mengambil jas hitamnya yang tersampir di meja giok yang masih utuh. Dia berjalan keluar dengan langkah santai, meninggalkan kekacauan yang nilainya mungkin mencapai ratusan miliar rupiah.

Di ambang pintu, Arka berhenti. Dia tidak menoleh, tapi suaranya bergema di seluruh ruangan yang hancur itu.

"Dan Ying... terima kasih untuk hiburannya. Kamu punya teknik yang menarik, tapi sayangnya, kamu melayani orang yang salah."

Arka menghilang di kegelapan malam Jakarta yang mulai diguyur hujan.

Di dalam sebuah limusin hitam yang parkir tak jauh dari Gedung Aurora, seorang pria tua dengan rambut putih panjang menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV pertarungan tadi. Tangannya yang keriput gemetar, bukan karena takut, tapi karena kegembiraan yang luar biasa.

"Mata itu... akhirnya muncul kembali setelah seratus tahun," bisik pria tua itu. Dia menekan sebuah tombol di panel kontrol. "Aktifkan Protokol Perburuan. Jangan bunuh dia. Bawa dia padaku hidup-hidup. Dia adalah kunci untuk membuka gerbang dunia bawah yang selama ini kita cari."

Sementara itu, di saku celana Arka, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal:

[Arka, jangan merasa menang dulu. Apa yang kamu lihat di Gedung Aurora hanyalah kuku dari Macan Putih. Kami sudah memegang ibumu. Jika ingin dia tetap bernapas, datanglah ke Pelabuhan Sunda Kelapa besok malam jam 12. Sendirian.]

Langkah Arka terhenti di bawah rintik hujan. Matanya kembali berpendar emas, kali ini dengan intensitas yang sanggup membakar kegelapan.

"Kalian benar-benar bosan hidup," gumam Arka, dan seketika itu juga, trotoar di bawah kakinya hancur berkeping-keping karena tekanan amarahnya.

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
asik juga nih
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!