NovelToon NovelToon
DI ANTARA DUA KHUTBAH

DI ANTARA DUA KHUTBAH

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: HARGA SEBUAH DIAM

Malam itu, musholla Al-Ikhlas tidak tidur. Namun, bukan karena ibadah, melainkan karena hiruk-pikuk yang menyerupai pasar keributan.

Setelah Pak Hendra lolos ke dalam kegelapan, Bu Siti justru menjadi pusat badai. Ia tidak lagi memukul anaknya, Rina. Sekarang, ia duduk di teras musholla yang becek, rambutnya acak-acakan, sambil berteriak pada siapa saja yang mau mendengar.

"Itu fitnah! Fitnah keji!" jerit Bu Siti, air matanya kini berubah menjadi kemarahan yang meledak-ledak. "Anak saya itu gila, Ustadz! Dia sakit jiwa! Sejak kecil dia sering berhalusinasi. Pak Hendra itu orang baik, donatur terbesar kita! Mana mungkin beliau berbuat begitu? Ini pasti rencana anak ini untuk memeras uang!"

Rina, yang masih berselimutkan sarung milik Aris, hanya menunduk. Tubuhnya menggigil hebat, bukan karena dingin, tapi karena shock. Setiap kali ibunya berteriak bahwa ia "gila" atau "pembohong", bahu Rina semakin merosot, seolah tulang-tulangnya hancur satu per satu.

Aris berdiri di ambang pintu, memandangi pemandangan yang menyakitkan itu. Di depannya, seorang ibu sedang membunuh karakter anaknya sendiri demi menyelamatkan ego dan hubungan baiknya dengan si kaya. Di kejauhan, beberapa warga mulai berbisik, mengangguk-angguk setuju dengan Bu Siti. Logika mereka sederhana: Mustahil orang kaya seberani itu, pasti anak miskin ini yang cari perhatian.

"Ustadz, bilang sesuatu!" desak Pak RT, seorang pria gemuk yang selalu berada di pihak angin yang paling kencang berhembus. "Kasih tahu mereka kalau anak ini memang punya riwayat gangguan mental. Biar urusan ini cepat selesai. Pak Hendra sudah telepon saya, beliau marah besar. Kalau urusannya sampai ke polisi, nama kampung kita bisa hancur."

Aris menatap Pak RT. Tatapan itu begitu dingin hingga Pak RT mundur selangkah.

"Gangguan mental?" ulang Aris pelan. "Atau gangguan moral yang kita semua derita?"

"Jangan sok suci, Ustadz!" sahut Bu Siti tiba-tiba, menunjuk Aris. "Kamu ini cuma ustadz gadungan! Gaji kamu dari mana? Dari sumbangan Pak Hendra juga! Jangan makan tuanmu sendiri!"

Kalimat itu menghantam dada Aris lebih keras daripada tinju. Benar. AC baru di musholla, perbaikan atap, bahkan honor mengajinya bulan ini, semuanya berasal dari tangan Pak Hendra.

Namun, Aris tersenyum pahit. Senyum seseorang yang baru saja menyadari bahwa dirinya telah diperdagangkan tanpa sadar.

Ia melangkah turun dari teras, mendekati Rina. Gadis itu mendongak, matanya kosong. Tidak ada harapan lagi di sana. Ibunya telah memilih uang dan status sosial di atas nyawanya.

"Rina," panggil Aris lembut. Suaranya menembus kebisingan, membuat beberapa orang terdiam. "Apakah yang kamu katakan tadi... benar?"

Rina menatap Aris, lalu menatap ibunya yang masih mengumpat. Perlahan, ia mengangguk. Satu tetes air mata jatuh dari pipinya yang lebam. "Dia... dia janji akan menikahi saya, Ustadz. Katanya istri beliau sudah lama sakit. Tapi... sesampainya di kontrakan, beliau..." Rina tidak sanggup melanjutkan, tubuhnya kembali terguncang isak tangis yang tertahan.

Bu Siti langsung menerjang, hendak menarik rambut anaknya. "Dasar anak haram! Kamu mau menghancurkan keluarga orang?! Minta maaf sama Pak Hendra sekarang! Telepon dia, bilang kamu yang goda dia!"

Aris menangkap tangan Bu Siti di udara. Cengkeramannya kuat, membuat wanita itu terbelalak kaget.

"Lepaskan saya!" teriak Bu Siti.

"Tidak," jawab Aris tegas. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya baja. "Malam ini, tidak ada lagi yang boleh menyentuh Rina. Tidak ada lagi yang boleh memfitnahnya. Dan tidak ada lagi yang boleh membela kejahatan hanya karena pelakunya kaya."

"Kamu mau apa, Ustadz? Mau jadi pahlawan kesiangan?" ejek Pak RT sinis. "Besok pagi, kalau Pak Hendra melaporkan kita karena menahan 'tersangka' palsu, siapa yang bakal jamin kamu? Siapa yang bakal bayar listrik musholla ini?"

Pertanyaan itu menusuk tepat di jantung permasalahan. Realitas memang kejam. Kebenaran seringkali kalah oleh tagihan listrik dan kebutuhan perut.

Aris melepaskan tangan Bu Siti, lalu berjalan masuk ke dalam musholla. Ia mengambil mikrofon yang masih terpasang di dekat mimbar. Ia menyalakannya. Suara dengung kecil terdengar, lalu hening.

"Saudara-saudara," suara Aris bergema, kali ini tanpa amarah, hanya ada kesedihan yang mendalam. "Malam ini, kita sedang diuji. Bukan ujian tentang apakah Pak Hendra bersalah atau tidak. Itu urusan polisi dan pengadilan Allah. Tapi kita sedang diuji: Apakah kita masih punya hati?"

Ia menoleh ke arah Bu Siti yang terduduk lemas. "Ibu, Anda takut malu? Takut nama keluarga hancur? Percayalah, Bu. Malu karena anak diperkosa itu wajar. Tapi bangga karena anak dibela? Itu mulia. Namun, membela pemerkosa dan menuduh korban sebagai pembohong... itu bukan malu. Itu dosa besar yang tidak akan tertutupi oleh sumbangan Pak Hendra sebanyak apapun."

Suasana hening. Beberapa ibu-ibu mulai menunduk, rasa bersalah mulai merayap di hati mereka.

"Saya, Aris bin Abdullah, malam ini menyatakan dua hal," lanjut Aris, suaranya bergetar. "Pertama, saya mengembalikan semua fasilitas yang diberikan Pak Hendra kepada musholla ini. Mulai besok, AC ini mati. Atap yang bocor, biarlah hujan yang membasuh kita sebagai pengingat bahwa kita kotor. Saya tidak mau shalat di atas uang yang didapat dari air mata seorang gadis."

Warga terkejut. Pak RT melongo. "Kamu gila, Ustadz! Kita butuh AC itu!"

"Dan kedua," Aris mengangkat tangan, menunjuk ke langit gelap. "Saya akan menjadi saksi. Besok pagi, saya akan mengantarkan Rina ke kepolisian. Saya akan laporkan Pak Hendra atas nama kemanusiaan, meski nanti saya dipecat, difitnah, atau diusir dari kampung ini. Karena jika diam malam ini, berarti saya ikut memperkosa Rina dengan keheningan saya

Tiba-tiba, lampu musholla padam. Gelap gulita. Hanya cahaya kilat dari luar yang sesekali menerangi wajah-wajah pucat para jamaah. Hujan deras kembali turun, seolah langit merestui keputusan Aris.

Dalam kegelapan itu, terdengar suara langkah kaki lari menjauh. Pak RT dan beberapa warga lainnya pergi, takut terseret masalah. Bu Siti menangis meraung-raung di lantai, menyadari bahwa pilihannya malam ini telah membuatnya kehilangan segalanya: anaknya, harga dirinya, dan dukungan komunitasnya.

Aris berdiri dalam gelap, merasakan tangan kecil Rina memegang ujung bajunya erat-erat.

"Ustadz..." bisik Rina lirih. "Takut..."

"Pegang erat-erat, Nak," jawab Aris, suaranya hangat di tengah dinginnya malam. "Kita mungkin sendirian malam ini. Mungkin besok kita akan dihujat satu kampung. Tapi ingat, Allah tidak pernah tidur, dan Dia tidak pernah buta."

Di kejauhan, terdengar suara mobil mewah melaju kencang meninggalkan gang sempit itu. Pak Hendra mungkin pikir dia sudah selamat. Dia pikir uang bisa membeli keadilan, dan ketakutan warga bisa membeli kebenaran.

Tapi dia lupa satu hal: Dia baru saja membangunkan singa yang tertidur. Bukan singa yang ganas, tapi singa yang bernama Hati Nurani.

Esok pagi, badai yang sesungguhnya baru akan dimulai. Dan Aris tahu, pertarungan ini bukan lagi soal hukum manusia, tapi perang antara cahaya dan kegelapan di hati setiap penduduk Tebet.

Bersambung...

1
Jesa Cristian
ayo komen temen temen ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!