Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.
Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.
Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.
Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.
Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Malam yang tadinya penuh dengan duka dan air mata, seketika berubah menjadi suasana yang dipenuhi ketegangan manis dan debar jantung yang tak beraturan. Melinda, dengan sisa air mata yang masih mengering di pipinya, menatap Kingsley dengan binar lega yang luar biasa. Baginya, kehadiran pria ini adalah mukjizat yang dikirimkan Tuhan untuk menyelamatkan kewarasan putrinya.
Tanpa memikirkan norma atau pandangan tetangga yang biasanya ia takuti, Melinda justru mendorong bahu Faelynn pelan.
"Bicara saja di dalam bersama kekasihmu, Sayang. Di luar sini dingin, dan kalian pasti butuh privasi setelah semua drama ini," ujar Melinda dengan nada yang tiba-tiba bersemangat.
Faelynn terbelalak. "Ibu? Apa maksud Ibu?"
"Suruh dia menginap malam ini, Fae. Dia baru saja kembali dari... entah apa itu, tapi dia terlihat sangat lelah," lanjut Melinda tanpa ragu. Ia menatap Kingsley dengan tatapan seorang ibu yang sudah memberikan restu penuh. "Nak Kingsley, tidurlah di sini. Kamar Faelynn cukup luas untuk kalian bicara. Ibu akan siapkan selimut tambahan."
"Ibu!!!" Faelynn berseru, wajahnya kini merah padam karena malu. Ia tidak menyangka ibunya akan seberani ini—terutama setelah bertahun-tahun Melinda mengkhawatirkan reputasi Faelynn sebagai wanita baik-baik.
Kingsley hanya memberikan senyum tipis yang sopan kepada Melinda. "Terima kasih, Bu. Saya memang butuh tempat untuk mendarat malam ini."
Dengan canggung, Faelynn menarik lengan jaket Kingsley, menuntun pria tinggi itu masuk ke dalam kamarnya yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya dari dunia. Begitu pintu kayu itu tertutup dan terkunci, kesunyian yang berbeda menyergap mereka.
Kamar Faelynn tidak terlalu besar, namun sangat mencerminkan kepribadiannya. Ada rak buku yang penuh sesak, meja kerja dengan laptop yang masih menyala, dan aroma vanila yang menenangkan. Kingsley berdiri di tengah ruangan, membuat kamar itu seketika terasa sangat sempit karena postur tubuhnya yang menjulang.
Kingsley berbalik, menatap Faelynn yang berdiri kaku di dekat pintu.
"Hay!" sapa Kingsley pendek. Suaranya rendah, bergema di ruangan yang sunyi itu.
Faelynn meremas jemarinya, menunduk karena tidak berani menatap mata tajam pria di depannya. "Hay juga..."
Keheningan kembali melanda selama beberapa detik, hingga Faelynn akhirnya memberanikan diri untuk melangkah maju. Ia meraih tangan Kingsley, menyentuh kulit punggung tangannya yang kasar dan hangat. Ia ingin memastikan sekali lagi.
"Kau... kau memang benar-benar nyata," bisik Faelynn.
"Oh ya? Kau masih meragukannya?" Kingsley menaikkan sebelah alisnya, membiarkan Faelynn menyelidiki keberadaannya.
Faelynn mendongak, matanya menelusuri wajah Kingsley dengan saksama. "Luka di pipimu... dan lihat tinggimu. Kau benar-benar seperti tiang listrik di kamarku. Bagaimana bisa manusia tumbuh setinggi ini?"
Kingsley tertawa kecil, suara tawa yang selama ini hanya Faelynn dengar lewat ponsel kini terdengar sangat dekat, sangat nyata. "Tinggi ini adalah aset, Lyn. Bukankah pria tinggi bisa memperbaiki keturunan anak kita nanti? Kau sendiri tahu kau pendek, bukan?"
Deg.
Jantung Faelynn serasa berhenti berdetak mendengar kata "anak kita". Wajahnya yang tadi sudah merah kini semakin panas, merambat hingga ke telinganya.
"Kau... kau mesum! Kita bahkan baru bertemu sepuluh menit yang lalu secara nyata!" seru Faelynn sambil memukul lengan Kingsley pelan.
Kingsley menangkap tangan Faelynn, menahannya di atas dadanya yang bidang. "Aku hanya realistis, Penulis Mungil. Dan sepuluh menit di dunia nyata ini rasanya lebih berharga daripada dua tahun aku hidup di lapangan."
Suasana yang tadinya penuh candaan tiba-tiba berubah menjadi canggung. Jarak di antara mereka sangat tipis. Faelynn bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Kingsley, dan Kingsley bisa melihat bulu mata Faelynn yang masih basah karena sisa tangis.
Kingsley tidak membiarkan kecanggungan itu bertahan lama. Ia menarik napas panjang, lalu tanpa peringatan, ia merengkuh tubuh Faelynn kembali ke dalam pelukannya. Kali ini, pelukannya tidak se'erat tadi di depan pintu; pelukan ini lebih lembut, lebih posesif, dan penuh dengan emosi yang tertahan.
Ia membenamkan wajahnya di rambut Faelynn, menghirup aroma yang selama ini ia mimpikan di tengah bisingnya desing peluru.
"Aku mencintaimu, Faelynn Yosephine," bisik Kingsley dengan nada yang sangat tulus, tanpa ada jejak candaan atau gombalan. "Aku benar-benar mencintaimu sampai aku merasa takut untuk mati hanya karena aku belum sempat menyentuh tanganmu."
Faelynn mematung. Kata-kata itu lebih kuat daripada ribuan baris kalimat romantis yang pernah ia tulis dalam novel-novelnya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Kingsley, menyandarkan kepalanya di dada pria itu, mendengarkan detak jantung Kingsley yang stabil—detak jantung yang menjadi bukti bahwa pria ini masih menjadi miliknya.
"Aku juga mencintaimu, Ay," balas Faelynn pelan. "Jangan pernah kirim surat biru itu lagi. Aku tidak akan memaafkan mu jika ada surat kedua."
Kingsley tersenyum, mengecup puncak kepala Faelynn dengan lembut. Malam itu, di balik pintu kamar yang terkunci, dua jiwa yang selama ini hanya saling meraba lewat kata-kata, akhirnya menemukan pelabuhan yang sesungguhnya. Tidak ada lagi rahasia negara, tidak ada lagi ketakutan akan kematian; hanya ada mereka berdua, di tengah kota Los Angeles yang kini terasa jauh lebih bersahabat.