Menceritakan Kayla Eleody Seorang gadis kaya raya dengan kehidupan glamour sempurna, gadis pemberani ini tiba tiba saja bertukar jiwa dengan Zara seorang gadis miskin yang menjadi korban bully di sekolah, mampukan Kayla hidup dalam raga Zara dengan segala kesulitannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Leon
"Ini kayla" Zara memeluk Harris kuat.
"Zara!" Sita menarik tangan putrinya dan menjauhkan tubuh gadis itu dari Harris.
Harris pun hanya diam, ia tak tau bagaimana harus bereaksi ketika seorang anak tiba tiba memeluknya secara sepihak.
"Maafkan anak Saya pak maaf" Sita menunduk meminta maaf.
Zara yang berada di pelukannya terus menatap harris dengan mata yang berharap, ia ingin sekali ayahnya menyadari bahwa seseorang yang didepannya ini adalah putrinya, walaupun itu terdengar mustahil, keadaan mereka tak sama.
"Saya ingin melihat tau apa yang terjadi pada kayla?" Tanya Harris
"Zara putri Saya tidak mungkin sengaja mencelakai siapapun, dia anak yang baik Pak" Sita membela.
"Saya gak bermaksud menunduh Zara, tapi kenapa Kayla berlari keluar dari sekolah, mungkin hanya kamu yang tau alasannya zara?" Tanya Harris.
"Zara? jelaskan nak?"
"Gue gak tau, dia sendiri yang nyari mati" Jawab Zara sarkas.
"Zara kamu gak boleh ngomong gitu nak" peringat Sita.
"Bukan salah gue!" Teriaknya.
Harris merasa sangat familiar dengan cara marah Zara, ia seperti melihat Kayla dalam benaknya.
"Ini salah dia sendiri! bukan gue!" sangkalnya lagi.
Harris menarik napasnya pelan, "Tidak perlu memaksa, saya akan cari tau sendiri apa yang terjadi dengan putri saya, ibu tenang saja" Harris menimpal.
Sita meraih tangan Harris dan menunduk berkali kali sebagai rasa terimakasih nya.
"Terimakasih banyak pak, terimakasih!"
Ceklek...
Seorang dokter yang menangani Kayla keluar setelah melakukan operasinya.
"Bagaimana keadaan putri saya?" Tanya Harris.
"Kayla menjalani operasinya dengan lancar, tapi saya bisa memastikan dia akan mengalami koma sementara waktu" Kata sang dokter.
"Koma? terus gue gimana?!" Kayla membatin sendu.
"T-terimakasih dokter" Balas harris.
"Bapak, sabar ya pak semoga Kayla segera siuman, saya meminta maaf karena tidak bisa membantu apapun" Sesal Sita.
Harris membalas dengan anggukan.
...****************...
"Zara?" Sita memanggil gadis yang berjalan didepannya tersebut, Zara berjalan tanpa menoleh kesana kemari, gadis itu seperti tak memiliki tenanga walau hanya sekedar bersuara.
"Kamu dengerin ibu" Kata Sita sembari memegang tangan Zara.
"Gak ada yang bisa ibu lakuin selain memohon demi pendidikan kamu Zara, ibu hanya mau kamu sekolah yang bener, ibu gak mau berurusan sama orang orang kaya itu" Katanya.
"Ibu udah berurusan sama orang kaya sejak awal, lagian bukan aku yang mau ini semua! kenapa semua orang seolah nyalahin?! aku juga gak mau jadi miskin!" Ucapnya dengan nada tinggi.
Sita berlinang air mata, wanita berusia 40 tahun itu menangkup kedua tangan Zara dengan kedua tangannya.
"Ibu mohon, jadi anak yang baik Zara, jangan buat ibu melawan orang orang di sana, ibu gak mampu" Mohonnya.
"Sial" Batin Kayla.
Sebagai seorang gadis yang sudah lama merindukan kasih sayang ibunya ini sangat menyakitkan, melihat Sita menangis dan memohon membuatnya sakit, padahal wanita ini seharusnya bukanlah siapa siapa baginya.
"Ibu sayang sama kamu nak, ibu bertahan sejauh ini buat kamu" Ungkapnya.
Hatinya tersentuh, egonya melayang jauh, Kayla merasa ia bukanlah Kayla yang dulu, sejak tinggal dengan Sita beberapa hari ini ia bukan hanya merasa sengsara, tapi juga mendapatkan kasih sayang dengan cara yang berbeda.
Sita menarik Zara dalam pelukannya, di tengah angin malam kota jakarta mereka saling beradu emosi, tangisan Sita membuat Kayla merindukan sosok ibunya, apakah ibunya juga akan menangis melihat kesulitan yang ia hadapi sekarang?
...****************...
Keesokan harinya....
"Kenapa gue lupa minta pin hp tuh bocah sebelum koma" Gumam Zara pelan.
Matanya lurus menatap papan putih di depan kelas, ada yang kosong, ini bukan hanya tentang tak merasa hidup dalam diri orang lain, ia merasa Zara terlalu jauh dari semua orang, sangat menyulitkan bagi Kayla yang dulu selalu di segani dan di hormati oleh semua orang di sini.
Brak
"Kerjain tugas gue dong!"
Zara menoleh ke kanan, kepalanya mendongak saat mendapati seorang pemuda dengan mulut yang tengah mengunyah permen karet.
"Kenapa lo ngeliatin gue begitu? kangen udah gak ketemu 5 hari?" Tanyanya mengejek.
"Apa lo bilang barusan?" Zara berdiri berhadapan langsung dengan anak laki laki tersebut.
Tak ada rasa takut sedikit pun walaupun mereka memiliki postur tubuh yang sangat berbeda.
Pemuda itu, Leon namanya, pernah di kandidatkan menjadi ketua OSIS namun sayangnya ia gagal terpilih, lagipula siapa yang akan memilih siswa yang tidak tertib sepertinya.
Leon tertawa, menyeringai kecil saat melihat bagaimana Zara berdiri dan menantangnya dengan tatapan.
"Gue bilang kerjain PR gue" Bisiknya pelan.
"Lo pikir gue babu?!" Bentaknya.
Suara tinggi Zara mengalihkan perhatian beberapa siswa dan siswi yang sudah berada di kelas.
"Loh bukannya semua orang juga udah tau ya?" kata Leon.
Zara menyahut buku Leon yang sempat di letakkan di mejanya dengan kasar, membuka lembarnya lalu melemparnya ke lantai, tak berhenti di situ Zara juga menginjak injak buku tersebut beberapa kali.
Lagi lagi semua orang terkejut dengan keberanian Zara, apa yang sedang gadis itu pikirkan hingga menantang siswa nakal dan populer seperti Leon.
"Brengsek!" Leon menggeram marah, ia menarik kerah baju Zara hingga gadis itu terlihat sedikit menjinjit karenanya
"Apa lo anjing! lo pikir gue takut?!" Tantang Zara.
Leon mengepalkan tangannya membuat gestur akan memukul Zara, namun bukannya takut Zara justru semakin menantangnya.
"Lo mau pukul gue? ayo pukul kalo berani!"
"Leon udah udah! lo bisa masuk BK" ucap salah satu teman Leon yang datang melerai.
Mendengarnya Leon pun melepaskan cengkraman pada kerah Zara, pemuda itu mengambil buku miliknya dan berjalan mundur dengan tatapan yang masih tertuju pada teman sekelasnya tersebut.
"Kok Zara jadi aneh gitu sih?" Bisik salah satunya.
"Lo gak denger waktu itu dia nyiram mata kak Michele pake sambel, terus dia juga nyeret kak Kayla ke belakang sekolah, aneh gak sih?" Balas salah satunya.
"Dia kaya bukan Zara yang biasanya, lagian kok berani banget ya? kan dia miskin?"
"Belum aja kena tuh"
"Sekarang malah nantangin Leon lagi, aneh ih"
"Gue khawatir sama nasibnya"
"Kalian semua ngapain ngeliatin gue?!" Zara membentak pada semua orang.
Entah mengapa suasana kelas menjadi canggung, seharusnya mereka bisa saja membentak balik Zara yang notabene tak memiliki kuasa apapun, namun hari itu Zara terlihat seperti bukan Zara, gadis itu berbeda.
Leon berhenti tepat didepan pintu saat Zara berteriak marah pada semua orang, dari mana Zara mendapat keberanian itu.
Ia tak pikun, Zara yang dulu dikenalnya adalah Zara yang jauh dari kata berani, bahkan sekedar menatapnya saja tak mampu, tapi sekarang? dia berbeda.
Dan Leon, semakin tertarik padanya.
"Cabut yuk! gue takut lo malah kepancing emosi kalo di sini" Ajak temannya.
Leon menengguk ludahnya sekali, memutus tatapannya pada Zara dan berjalan pasti menjauhi kelas.