Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kopi Pagi yang Dingin
Pukul 05.30 WIB.
Udara pagi di Jakarta biasanya mulai memanas dengan bising kendaraan, namun di dalam rumah bergaya minimalis di kawasan Jakarta Selatan ini, suasananya justru terasa seperti puncak musim dingin.
Tania sudah terbangun sejak fajar menyapa. Baginya, pagi bukan lagi waktu untuk menyambut harapan baru, melainkan awal dari sandiwara panjang yang harus ia perankan setiap hari sebagai "istri yang baik".
Tania berdiri di depan kompor, memandangi air yang mulai bergejolak di dalam panci kecil. Ia melakukan gerakan yang sama setiap hari—gerakan yang sudah ia hafal di luar kepala. Menakar bubuk kopi, memastikan suhu air tidak terlalu mendidih agar rasa kopinya tidak rusak, dan menyiapkan cangkir keramik putih favorit Rey.
Dulu, tiga tahun yang lalu, kegiatan ini adalah favoritnya. Tania sering membayangkan bahwa melalui secangkir kopi, ia mengirimkan seluruh cintanya agar Rey memiliki energi untuk bekerja.
Namun sekarang, saat ia menuangkan air panas itu, ia merasa seperti sedang menuangkan sia-sia ke dalam gelas hampa.
Kling.
Bunyi sendok yang beradu dengan dinding cangkir terasa begitu nyaring di dapur yang sunyi.
Tania terdiam sejenak. Ia teringat masa-masa awal pernikahan mereka. Dulu, Rey akan memeluknya dari belakang saat ia sedang menyeduh kopi. Rey akan membisikkan kata-kata manis di ceruk lehernya, membuat pagi hari Tania terasa begitu sempurna.
"Ke mana perginya pria itu?" batin Tania sembari mengaduk kopi perlahan.
Langkah kaki terdengar menuruni tangga kayu. Berat, teratur, dan kaku. Itu adalah irama yang selalu membuat jantung Tania berdebar, namun bukan lagi karena jatuh cinta, melainkan karena rasa cemas. Ia segera menata piring berisi roti panggang dengan selai kacang—kesukaan Rey, atau setidaknya itu yang Tania ingat sejak awal mereka menikah.
Rey muncul dengan kemeja navy yang pas di tubuh tegapnya. Kemeja itu tampak sempurna, tanpa satu kerutan pun, karena Tania menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk menyetrikanya semalam sambil menahan kantuk.
Pria itu langsung duduk di kursi kebesarannya, tidak melirik sedikit pun ke arah meja yang sudah tertata rapi, apalagi ke arah istrinya.
Ponsel di tangan Rey seolah menjadi pusat dunianya. Jempol pria itu bergerak lincah, menggulir layar dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.
"Kopinya sengaja dikasih sedikit gula, biar nggak terlalu manis. Kamu bilang kemarin kopi di kantor terlalu banyak sirup," suara Tania memecah keheningan. Ia mencoba menyisipkan perhatian kecil, berharap ada respon yang lebih dari sekadar anggapan keberadaan.
Rey hanya bergumam pelan, "Hm," tanpa mengalihkan pandangan.
Tania menarik kursi di seberang Rey, mencoba untuk duduk dan menikmati sarapan bersama. Ia meraih sepotong roti, namun tenggorokannya terasa menyempit. Sulit sekali untuk menelan bahkan hanya sepotong roti kecil saat suasana di depannya begitu menyesakkan.
Tatapan Tania terjatuh pada layar ponsel suaminya yang diletakkan agak miring. Karena meja makan mereka menggunakan kaca bening, Tania bisa melihat pantulan layar itu di permukaan gelas air putihnya. Di sana, di aplikasi Instagram, Rey sedang terpaku pada sebuah foto.
Foto seorang wanita dengan gaun putih bersih di sebuah galeri seni. Wanita itu tersenyum lebar, sangat cantik dengan rambut yang dibiarkan terurai. Di bawah foto itu tertera nama: Bianca.
Tania merasa seolah-olah ada oksigen yang mendadak hilang dari paru-parunya. Dadanya sesak, nyeri yang tajam menusuk tepat di ulu hati. Ia tahu siapa Bianca. Wanita yang namanya selalu ada di antara mereka, meski raga wanita itu tidak pernah hadir di rumah ini. Bianca adalah alasan kenapa Rey sering melamun. Bianca adalah alasan kenapa Rey tidak pernah benar-benar "pulang" ke pelukan Tania.
"Sampai kapan, Rey? Sampai kapan kamu mau menjaga hati yang sudah pergi itu?" teriak Tania dalam hati. Tapi di dunia nyata, ia hanya bisa menunduk, meremas celemeknya dengan jari-jari yang memucat.
"Aku pulang agak malam hari ini. Ada meeting luar kantor," suara Rey tiba-tiba memecah lamunan Tania. Rey menyesap kopinya satu kali—hanya satu kali—lalu bangkit berdiri dengan gerakan cepat.
Kopi yang dibuat Tania dengan penuh perasaan itu masih tersisa banyak. Uapnya masih mengepul, namun bagi Tania, kopi itu sudah membeku.
"Meeting di mana? Perlu aku siapkan baju ganti kalau pulangnya terlalu larut?" Tania mencoba menawarkan diri. Ia berdiri, ingin membantu merapikan kerah kemeja Rey yang sedikit miring, tapi pria itu justru mundur satu langkah, menghindari sentuhan Tania secara halus tapi telak.
"Nggak usah. Repot," jawab Rey singkat. Ia menyambar tas kerjanya dan kunci mobil di atas meja.
Saat Rey berjalan melewati Tania menuju pintu depan, wangi parfum sandalwood yang maskulin menyapa indra penciuman Tania. Wangi yang sangat ia kenal, yang dulu selalu memberikan rasa aman. Kini, wangi itu terasa seperti pengingat bahwa Rey adalah milik orang lain dalam pikirannya sendiri.
Tania mengikuti dari belakang, layaknya seorang asisten yang memastikan tuannya pergi dengan aman. Di ambang pintu, Rey berhenti sebentar untuk memakai sepatu. Tania berdiri di sana, menunggu. Biasanya, dalam drama atau novel romantis, sang suami akan berbalik dan memberikan kecupan di dahi sebagai tanda pamit.
Tapi Rey tidak melakukannya. Ia langsung berjalan menuju mobil tanpa menoleh lagi ke belakang. Pagar rumah otomatis terbuka, dan mobil hitam mengkilap itu perlahan menghilang dari pandangan Tania.
Tania tetap berdiri di sana, bahkan setelah suara mesin mobil tidak lagi terdengar. Sinar matahari pagi mulai menyengat kulitnya, tapi ia merasa menggigil. Ia menyentuh dadanya yang berdenyut sakit.
"Artinya menghargai seseorang yang selalu di sampingmu..." lirih Tania mengingat sepotong kalimat yang pernah ia baca entah di mana.
Ia kembali masuk ke dalam rumah. Rumah yang besar, mewah, namun terasa seperti museum yang dingin. Tania kembali ke meja makan, duduk di kursi yang tadi ditempati Rey. Ia meraih cangkir kopi Rey yang masih hangat-hangat kuku, lalu menyesapnya. Pahit. Sangat pahit. Padahal ia sudah menaruh gula.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Satu tetes, dua tetes, lalu menjadi tangisan tanpa suara yang sangat menyedihkan.
Ia menangisi tiga tahun pernikahannya. Ia menangisi dirinya sendiri yang tetap bertahan meski hatinya sudah berdarah-darah.
"Jika kau cinta, kenapa kau tak menahan ku, Rey? Kenapa kau justru membiarkan aku mati pelan-pelan di rumah ini?"
Ponsel Tania di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Maya, sahabatnya.
“Tan, aku lihat Bianca posting dia lagi di Jakarta. Kamu baik-baik saja, kan?”
Tania mematikan layar ponselnya dengan tangan gemetar. Kehancuran yang sesungguhnya baru saja dimulai.
lgian ngpain dia ngurus harta orang🙄
aris juga ngpain ikutan juga🫣
tunjuka. kamu bisa lebih sukses
padahal udh dihukum 3tahun penjara msh ajaa kurang kayanya