Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri yang keras kepala
Angin musim semi sore menyapu lembut pekarangan Istana, membawa aroma samar bunga plum yang bermekaran di jalur utama menuju Aula Utama. Lentera-lentera merah keemasan tergantung rapi di sepanjang lorong batu, memantulkan cahaya hangat yang menari di permukaan air kolam.
Sejak fajar semua pelayan serta pengawal di istana tanpa kecuali sibuk untuk mensukseskan acara ulang tahun Kaisar Long Moxuan yang ke empat puluh lima yaitu.
Long Ruoling salah satu Putri Kaisar Long yang sejak tadi berdiri menyaksikan pelayan berderet seperti barisan semut di depan semua meja yang sedang di bersihkan pelayan, yang bekerja tanpa suara dan tanpa cela, dengan bosan. Mereka tidak lelah untuk berkali-kali memastikan sudah menata ruangan dengan benar dan baik.
"Sudah dua kali," kata Ruoling pada seorang pelayan yang mendekatinya. "Kau sudah dua kali datang ke meja ini untuk memastikan kerapian dan segala macam hingga membuatku lelah."
"Benarkah? Oh, astaga... Maaf atas ketidak kesopanan saya tuan putri."
Ruoling mengangguk dengan ekspresi muak sambil menatap pelayan itu menjauh dari mejanya dan sibuk dengan meja-meja lainnya.
Aula Utama saat ini seperti bersinar dalam kemegahan keemasan—tirai sutra hijau giok terjulur dari langit-langit, lantai batu dipoles hingga memantulkan siluet siapa pun yang lewat karna sangat bersihnya serta lukisan-lukisan di buat dengan tinta bergaya klasik menghiasi dinding menjadi menggambarkan kejayaan dinasti.
Di antara semua kemegahan itu, ada seorang gadis bergaun biru muda, Ruoling, sengaja datang lebih cepat dari pada tamu undangan bahkan dari ibunya sendiri agar menjadi orang pertama mengagumi keindahan aula.
Gaunnya terbuat dari brokat tipis yang bergerak anggun tiap kali ia bergerak, seolah menari mengikuti tubuhnya. Rambut hitam panjangnya disanggul sederhana dengan sisir perak berbentuk awan. Wajahnya lembut, matanya bulat hidup, dan geraknya penuh energi, berbeda dari putri kebanyakan yang selalu menjaga sikap.
“Ruoling... benar saja kau ada di sini!" Kata seorang wanita tiba-tiba saja mengejutkan Ruoling.
Selir Hua, ibunya, berjalan dengan mengunakan gaun biru muda sambil menatapnya lega. Tapi walau begitu tak bisa menyembunyikan rasa khawatir karna kehilangan putrinya saat mendekati acara penting.
Sebenarnya ini sudah sering terjadi setiap kali Istana mengadakan acara, tapi tetap saja sebagai seorang ibu hatinya selalu tidak tenang setelah mendengar laporan dari pelayan.
Wanita itu berwajah halus bak batu giok, lemah lembut namun menyembunyikan ketabahan seorang ibu serta salah satu istri Kaisar yang hidup di antara ratusan aturan dan persaingan istana. Gaun birunya tampak anggun ketika ia menghampiri Ruoling.
“Kenapa kau tidak izin dulu ke Ibu atau pelayan sebelum pergi ke sini?" Tanya Selir.
“Aku tidak sabar melihat dekorasinya,” gumamnya antusias.
Selir Hua menggeleng heran. “Oh astaga, kenapa kau selalu membuat Ibu khawatir? Kita bisa pergi bersama jika kau–"
"Kalau menunggu ibu pasti lama. Selain itu aku selalu ingin jadi yang pertama dari semua adik-adik atau teman di pendidikan untuk melihat dekorasi di bandingkan yang lain!" Ruoling tetap kukuh dengan keputusannya lalu tiba-tiba saja tersenyum angkuh. "Ah, aku semakin tidak sabar ingin memamerkan pencapaian ini pada mereka semua."
"Astaga, dari semua anak, hanya kau yang menganggap siapa yang melihat dekorasi pertama kali lebih penting dari pada orang-orang berpengaruh yang hadir di jamuan seperti ini.”
“Dekorasi itu sangat penting!” balas Ruoling dengan mata berbinar. “Jika suasananya indah, semua orang bisa makan lebih enak. Lagipula… aku ingin tahu apakah mereka memasang lentera emas dengan model yang sama atau beda di langit-langit.”
"Kau..." Selir Hua tidak bisa berkata-kata lalu menggelengkan kepalanya. Tidak mengerti dengan jalan pikiran putrinya sampai akhirnya ia menyadari kesalahan. "Tapi kenapa kau malah duduk di sini? Ayo, pindah, kita–"
"Aku tidak mau, aku mau duduk di sini di samping putra mahkota!"
"Tidak bisa! Saat ini adalah acara resmi jadi kau tidak boleh bersikap seenaknya!" Kata Selir Hua tegas lalu menatap sekitarnya yang sudah ramai oleh tamu.
Sebagian besar dari mereka mengajak keluarganya sama seperti perayaaan tahun lalu, baik perempuan atau laki-laki yang bekerja di istana wajib mengunakan jubah resmi mengikuti seorang pelayan menuju meja khusus.
Di tempat lain para wanita atau pria yang di undang saling memuji penampilan satu sama lain serta anak-anak sudah duduk diam di kursinya sambil menikmati dekorasi aula.
Deretan keluarga kekaisaran duduk di tempat yang telah ditentukan. Di tengah ruangan, meja memanjang sudah dipenuhi berbagai makanan yang tidak boleh di makan lebih dulu.
Di ujung meja, tepat di samping Kaisar, di sana tempat khusus putra mahkota yang belum datang. Di sampingnya Ruoling yang masih kukuh untuk duduk di sana tanpa memperdulikan bujukan dari ibunya.
Tak lama seorang pemuda dengan jubah putra mahkota berwarna putih kombinasi warna yang hanya dipakai oleh pewaris sah dinasti Long, memasuki aula membuat semua orang membungkuk hormat.