Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.
Sialnya, itulah nasib Vivienne.
Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.
Persetan dengan alur asli!
Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.
"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."
Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transmigrasi & Kaget Budaya
Hal pertama yang kusadari bukan cahaya, melainkan rasa sakit.
Rasanya seolah-olah ada tukang bangunan yang sedang mengadakan konser heavy metal di dalam tengkorakku, lengkap dengan gebukan drum di pelipis kiri dan kanan. Aku mengerang panjang, mencoba membuka mata yang rasanya lengket seperti dilem super.
"Aduh... gila," gumamku, suaraku terdengar serak dan aneh. "Semalam gue minum apaan sih? Oplosan minyak rem?"
Dengan susah payah, aku memaksakan kelopak mataku terbuka. Ekspektasiku sederhana: aku akan melihat langit-langit kamar kosku yang familiar—langit-langit rendah berbahan gypsum murah dengan noda jamur lembap di pojok kiri yang entah kenapa bentuknya mirip peta Kalimantan. Aku juga mengharapkan suara bising knalpot motor dari jalan raya atau teriakan ibu kos menagih uang listrik.
Namun, realita menamparku lebih keras daripada tagihan paylater.
Yang menyambut penglihatanku bukanlah noda jamur, melainkan kanopi tempat tidur dari kain sutra putih gading yang menjuntai dramatis. Di atas sana, jauh—dan maksudku benar-benar jauh—di ketinggian langit-langit yang mungkin setinggi dua lantai ruko, tergantung sebuah lampu gantung kristal yang terlihat berat dan mahal. Cahaya matahari pagi menembus celah tirai beludru tebal, membuat debu-debu halus terlihat menari-nari di udara.
Aku berkedip sekali. Dua kali. Tiga kali.
Lampu gantung itu tidak berubah menjadi lampu neon 5 watt.
"Oke," bisikku pada kesunyian yang mencekam itu. "Positif. Gue udah mati. Ini pasti surga. Atau lobi hotel bintang lima di neraka?"
Aku mencoba bangun, menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku. Seketika, rasa dingin menusuk kulit. Bukan dingin yang sejuk karena AC sentral mall, tapi dingin yang menggigit, jenis dingin yang merayap dari dinding batu tua yang tidak pernah menyerap hangat matahari.
Tanganku meraba permukaan kasur. Halus. Licin. Sutra asli, otakku menyimpulkan. Tapi tunggu dulu, kalau ini surga, kenapa dingin banget? Apa malaikat lupa bayar token listrik buat nyalain pemanas ruangan?
Aku duduk tegak, mengabaikan pusing yang kembali menghantam. Aku melihat sekeliling. Kamar ini luasnya tidak ngotak. Ada perapian marmer yang mati di ujung sana, sebuah lemari kayu mahoni yang sepertinya cukup besar untuk menyembunyikan satu keluarga berang-berang, dan meja rias dengan cermin oval raksasa.
Tidak ada kipas angin. Tidak ada AC. Tidak ada colokan listrik. Bahkan tidak ada suara dengungan kulkas. Sunyi senyap. Hanya ada suara detak jam dinding antik yang tik-tok-tik-tok-nya terdengar seperti hitung mundur bom waktu.
Kakiku turun dari ranjang, menapak ke lantai kayu yang dilapisi karpet tebal. Aku berjalan terseok-seok menuju cermin besar itu. Ada firasat buruk yang mengganjal di ulu hati, firasat klise yang sering kubaca di novel-novel webtoon bajakan.
Saat bayanganku muncul di cermin, aku menahan napas.
Gadis di cermin itu balas menatapku dengan mata lebar yang ketakutan.
Dia cantik, harus kuakui. Kulitnya putih pucat—jenis pucat bangsawan yang tidak pernah kena matahari dan mungkin kekurangan zat besi. Rambutnya hitam legam, panjang bergelombang sampai pinggang, yang kalau di dunia nyataku pasti butuh waktu tiga jam buat dikeringkan pakai hairdryer 2000 watt. Hidungnya mancung, bibirnya tipis kemerahan, dan tulang selangkanya menonjol rapuh di balik gaun tidur tipis yang penuh renda.
Aku mengangkat tangan. Gadis di cermin itu mengangkat tangan. Aku menepuk pipi. Gadis itu menepuk pipi. Aku mencubit lengan sampai sakit. Gadis itu meringis.
"Sialan," umpatku. "Gue masuk isekai."
Otakku berputar cepat, memproses data visual ini seperti supercomputer yang kepanasan. Wajah ini... aku kenal wajah ini. Bukan, bukan kenal secara personal. Aku pernah melihat ilustrasi wajah ini di sebuah forum diskusi novel fantasi. Wajah yang cantik tapi mudah dilupakan. Wajah karakter figuran yang fungsinya cuma sebagai pemanis latar belakang.
Namanya... siapa ya? Veronica? Valak?
"Vivienne," desisku saat ingatan itu muncul. "Vivienne de Valois. Sepupu jauh Bianca von Rouge."
Lututku lemas. Aku merosot duduk di kursi meja rias yang bantalannya empuk tapi bau apek bunga lavender tua.
Dari sekian banyak novel, kenapa harus Tears of the Caged Bird? Novel dark romance di mana cowoknya sosiopat ganteng, ceweknya menderita lahir batin, dan semua orang di sekitarnya hidup dalam ketakutan atau kepalsuan.
Dan dari sekian banyak karakter, kenapa aku harus jadi Vivienne?
Aku menatap pantulan wajah baruku lagi dengan tatapan nanar. Vivienne. Di novel aslinya, dia cuma disebut dua atau tiga kali. Peran terbesarnya adalah di Bab 5, di mana dia tersedak teh saat melihat Damian masuk ruangan, lalu dia dikirim pulang ke kampung halamannya karena dianggap "membuat keributan kecil". Setelah itu? Namanya hilang ditelan bumi. Mungkin dia menikah dengan juragan tanah tua, atau mati kena wabah flu, penulisnya bahkan tidak peduli.
"Kenapa gue gak jadi burungnya Damian aja?" keluhku pada cermin. "Setidaknya kalau jadi burung, gue bisa boker di kepalanya Damian tiap pagi tanpa masuk penjara. Hidup terjamin, makan biji-bijian impor, mati pun diawetkan jadi pajangan mahal."
Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kamar yang tinggi itu lagi. Rasa pusing di kepalaku perlahan berganti menjadi rasa lapar.
Perutku berbunyi. Suaranya nyaring, bergema di kamar yang sunyi dan dingin ini.
"Oke, Viv," kataku pada diri sendiri, mencoba berdamai dengan nasib. "Sisi positifnya: lo cantik, lo bangsawan walau miskin, dan kulit lo mulus kayak pake filter Instagram Paris 24 jam. Sisi negatifnya: lo satu rumah sama Damian von Hart, si Duke gila itu."
Aku berdiri, menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Di balik pintu itu ada dunia yang penuh intrik, manipulasi, dan drama menye-menye yang bikin darah tinggi. Tapi di balik pintu itu juga, harusnya ada dapur. Dan di dapur bangsawan, pasti ada makanan enak.
Prioritas ditetapkan. Persetan dengan plot novel. Persetan dengan Damian. Gue butuh sarapan.