---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Nirmala masih mengingat bau teh pagi itu. Saat usianya tujuh tahun, ia terbiasa menggenggam tangan ibunya, Adelia, menyusuri perkebunan teh yang luas. Ibunya selalu berjalan perlahan sambil menyapa para pekerja satu per satu. Semua orang menghormati Adelia, bukan karena hartanya, tetapi karena kebaikannya.
“Suatu hari kebun ini jadi tanggung jawab kamu,” kata Adelia sambil memegang pundak Nirmala. “Tapi jangan bilang siapa-siapa. Tidak semua orang kuat melihat orang lain punya lebih.”
Nirmala hanya mengangguk walau tidak mengerti sepenuhnya.
Ia hanya tahu satu hal: di samping ibunya, dunia terasa aman.
Tapi keamanannya tidak berlangsung lama.
---
Dia masih ingat hari ibunya pergi ke kota. Adelia mencium keningnya, melambaikan tangan, dan mobil itu menghilang di tikungan. Nirmala menunggu hingga malam, tapi ibu tidak kembali. Besoknya, rumah penuh orang dewasa yang berbisik pelan. Ayahnya terlihat shock, dan tidak ada yang benar-benar menjelaskan apa yang terjadi.
Yang Nirmala tahu hanya satu: ibunya tidak akan pulang lagi.
Sejak hari itu rumah terasa berbeda. Sepi. Dingin.
Dan semakin berubah ketika seorang wanita masuk ke dalam hidup mereka.
Namanya melisa sundari
Awal kedatangannya tampak baik. Melisa sering membawa makanan, sering membelai rambut Nirmala, dan bersikap seolah ia ingin menjadi ibu yang baru. Tapi semua itu hanya berlangsung ketika ayah Nirmala ada di rumah.
Saat ayahnya pergi kerja, wajah Melisa berubah.
Pandangannya dingin, suaranya menusuk.
“Kamu jangan manja. Kamu pikir kamu siapa? Anak manja yang cuma tahu main.”
Nirmala yang saat itu masih kecil hanya diam. Ia tidak mengerti kenapa melisa berubah. Tapi ia bisa merasakan satu hal: wanita itu tidak suka padanya.
Melisa membawa anak nya dari pernikahan sebelumnya usia nya hampir sama dengan nirmala namA nya Aurelia sundari.
Tanpa ada yang tahu, ia kembali melakukan hal-hal yang dulu dilakukan bersama ibunya. Mengunjungi kebun. Mengobrol dengan pekerja. Bahkan diam-diam belajar mengelola usaha. Usia 12, ia sudah tahu bagaimana cara menghitung hasil panen. Usia 14, ia sudah mulai mengelola warisan usaha kecil dari ibunya. Usia 16, ia diam-diam membeli ruko. Usia 18, ia sudah punya beberapa kafe, kos-kosan, dan butik, semuanya atas nama kerja kerasnya sendiri—dan berdasarkan ilmu yang ditanam ibunya sejak kecil.
Ayahnya tidak pernah tahu.
Begitu juga ibu tirinya.
Karena bagi melisa Nirmala hanyalah anak lemah yang hidup numpang.
---
Hingga Nirmala berusia 21 tahun, konflik itu semakin menjadi.
Melisa mulai berani mengambil uang rumah tangga.
Mulai berani menuduh Nirmala boros padahal semua yang ia punya dibeli dengan uangnya sendiri.
Semakin hari, sifat asli melisa semakin terlihat.
Ia mengatur segala hal dalam rumah, bahkan mengatur keputusan ayah Nirmala.
Dan perlahan, ia mulai menunjukkan ambisi terbesar yang selama ini ia sembunyikan:
menguasai harta keluarga.
Ada malam ketika Nirmala mendengar percakapan melisa dengan seseorang melalui telepon.
“Anak itu nggak punya apa-apa. Semua ini harusnya buat Aurelia. Tinggal tunggu waktu.”
Saat itu Nirmala sadar, ibu tirinya tidak hanya membencinya—tapi ingin melenyapkan keberadaannya dari keluarga itu.
---
Hingga akhirnya hari itu datang.
Hari ketika Melisa dan Aurelia menyeret Nirmala ke kota kecil dengan alasan ingin melihat-lihat properti. Nirmala yang tidak curiga ikut saja. Tapi setibanya di kota itu, mereka tidak pergi ke ruko atau tanah, melainkan ke sebuah klub malam.
“Kita main sebentar,” kata aurelia dengan senyum aneh.
Sesuatu tidak beres. Tapi sebelum sempat berpikir, Aurelia memberi minuman yang sudah dicampur sesuatu. Nirmala sempat menolak, tapi melisa memaksanya. Setelah beberapa teguk, kepalanya terasa berat. Langkahnya limbung.
Dia tidak sadar dibawa keluar klub.
Tidak sadar dituntun ke hotel.
Tidak sadar ditinggalkan di kamar bersama pria paruh baya yang sudah membayar.
Yang ia tahu hanya kepalanya berputar, tubuhnya lemah, dan pintu kamar terkunci.
Dan di luar semua itu terjadi… seseorang memperhatikan.
---
Namanya Daren Adrianata, pria kaya raya yang sedang memperluas bisnis keluarganya di kota kecil itu. Hubungan asmaranya baru saja hancur. Kekasihnya selingkuh dengan pilot yang bekerja di rute yang sama. Media geger. Namanya trending lagi. Ia muak, frustasi, lalu memilih mabuk di klub malam.
Saat keluar dari klub dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar, ia melihat pemandangan aneh:
dua wanita, satu tua dan satu muda, menyeret perempuan lain yang kepalanya terkulai.
Awalnya Daren mengabaikan. Kota kecil penuh drama, pikirnya.
Tapi ketika ia melihat wajah gadis itu—wajah yang tampak kebingungan dan tidak berdaya—dia berhenti.
Ada sesuatu yang membuatnya mengikuti mereka ke hotel.
Entah penasaran, entah firasat.
Ia menghubungi asistennya.
“Sekap laki-laki hidung belang itu. Jangan sampai masuk kamar.”
Asistennya patuh.
Daren mengambil alih kamar itu.
Ia masuk pelan, melihat gadis yang hampir pingsan tersandar di ranjang.
Wajahnya kacau. Nafasnya berat. Matanya tidak fokus.
“Hey… kamu sadar?” tanya Daren pelan.
Gadis itu hanya bergumam tidak jelas.
Pada malam itu, dalam keadaan kacau dan saling tidak sadar penuh, hidup dua orang asing berubah.
Daren tidak tahu siapa gadis itu.
Nirmala tidak tahu siapa laki-laki itu.
Yang mereka tahu hanya satu:
malam itu menjadi awal dari sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.
Dan ketika pagi datang,
Nirmala terbangun dengan ingatan kabur, tubuh lemah,
dan hanya satu kalimat yang berputar di kepalanya.
“Ibu… aku harus kuat.”