Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Malam itu, Xerra tampil menawan dalam balutan gaun merah yang begitu berani. Potongannya terlalu terbuka untuk gadis berusia 20 tahun, namun ia tak peduli sudah 151 kali bibi dan kedua sepupunya mencoba menyingkirkannya. Tak satu pun berhasil.
Ia bukan hanya cantik, tapi juga cerdik. Setiap jebakan selalu berbalik arah, membuat bibinya sendiri menanggung malu. Tapi malam ini berbeda. Xerra dikirim ke sebuah rumah hiburan di pinggiran kota dan dari cara para wanita menatapnya, ia tahu bahwa ini bukan tempat biasa.
Seorang pria tua berperut buncit datang menghampiri. Wajahnya penuh keserakahan.
“Jadi kau gadis barunya?” tanyanya dengan senyum licik.
Xerra menatapnya tanpa gentar, lalu melangkah perlahan mendekat, menahan rasa jijik yang mendesak di dadanya.
“Om yakin mau bersenang-senang denganku malam ini?” tanyanya dengan nada lembut tapi penuh teka-teki.
Pria itu terkekeh. “Tentu saja. Aku sudah membayar mahal untukmu, Sayang.”
Senyum samar muncul di bibir Xerra. Ia mencondongkan tubuh, berbisik lirih di telinganya.
“Kalau begitu, sebaiknya Om tahu dulu... aku tidak sepenuhnya sehat. Ada penyakit yang mungkin bisa menular pada siapa pun yang terlalu dekat denganku.”
Sekejap wajah pria itu berubah tegang, napasnya tercekat.
Xerra tersenyum lebih lebar dingin dan penuh kemenangan.
“Masih mau melanjutkan, Om?”
Pria itu mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi, sampai akhirnya keluar dari ruangan dengan wajah pucat pasi.
Xerra menegakkan tubuhnya, memandang pintu yang tertutup, lalu tersenyum puas.
“Sekali lagi, aku menang,” gumamnya pelan.
Pria gendut itu keluar dari kamar dengan wajah merah padam.
“Dia menipuku! Gadis itu bilang punya penyakit menular! Aku menuntut ganti rugi!” serunya dengan nada marah pada pemilik rumah hiburan.
Pemilik tempat itu, seorang wanita setengah baya dengan tatapan tajam dan ambisi yang besar, langsung memucat. Ia tahu reputasinya bisa hancur jika pelanggan kaya itu mengadu ke orang yang salah.
Dengan rahang mengeras, ia menatap salah satu anak buahnya yang berdiri di dekat pintu.
“Bawa gadis itu ke ruangan nomor tujuh,” ucapnya dingin. “Biar dia tahu akibatnya berani mempermainkan tamu.”
Anak buahnya hanya mengangguk. Ia tahu ruangan nomor tujuh bukan sembarang tempat di sanalah Evans Pattinson, sang mafia kejam, biasa menghabiskan malamnya. Pria itu jarang tersenyum, dan ketika melakukannya… biasanya ada seseorang yang berakhir tidak bernyawa.
Di sisi lain, Xerra sedang berdiri di depan cermin besar, memperbaiki letak tali gaunnya dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Saat dua pria berbadan besar datang dan menarik lengannya dengan kasar, ia tidak melawan.
“Ke mana kita?” tanyanya datar.
“Bos memanggilmu,” jawab salah satu dari mereka.
Langkah kaki mereka menggema di koridor sempit yang dipenuhi aroma alkohol dan parfum murahan. Hingga akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah pintu hitam dengan logo naga perak di tengahnya.
Tanpa banyak bicara, pintu itu dibuka dan di baliknya duduk seorang pria dewasa berumur sekitar 30 tahun dengan tatapan dingin yang mematikan.
Tattoonya menjalar dari leher hingga pergelangan tangan, dan di antara kepulan asap rokok, sorot matanya menatap Xerra… tajam, berbahaya, dan anehnya, juga penasaran.
Untuk pertama kalinya malam itu, jantung Xerra berdetak lebih cepat dari biasanya.
Bukan karena takut. Tapi karena firasat nya bahwa malam ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Xerra melangkah perlahan ke dalam ruangan, tumit sepatunya menimbulkan bunyi pelan di lantai marmer yang dingin. Aroma asap rokok bercampur alkohol memenuhi udara, membuat napasnya terasa berat.
Di sudut ruangan, seorang pria duduk santai di sofa kulit hitam Evans Pattinson.
Sorot matanya tajam, dingin, tapi tidak berusaha mengintimidasi. Ia hanya menatap. Diam. Seolah kehadiran Xerra tak lebih dari sekadar gangguan kecil di tengah malamnya yang panjang.
Xerra menegakkan tubuhnya, menampilkan senyum tipis yang selalu berhasil menipu banyak pria sebelumnya. Ia mendekat perlahan, sengaja membuat langkahnya menggoda.
“Om tidak ingin tahu dulu siapa aku sebelum kita mulai?” katanya lembut, mencoba memancing reaksi.
Evans tidak menjawab. Tatapannya tetap dingin, mengamati setiap gerak Xerra tanpa sepatah kata pun.
Xerra melanjutkan, nada suaranya semakin manis topeng yang sudah ia kenakan seratus kali sebelumnya.
“Sebelum Om menyesal, aku ingin jujur… aku ini punya penyakit kelamin, parah sekali malah. Kalau Om tetap mau lanjut, yah... itu risiko Om sendiri.”
Ia tersenyum kecil, berharap pria itu bereaksi seperti para lelaki lainnya takut, jijik, atau pergi begitu saja.
Tapi Evans tetap diam. Hanya tatapan itu, yang semakin sulit dibaca, seolah sedang menelanjangi isi pikirannya tanpa suara.
Xerra mulai gelisah. Tangannya meremas ujung gaunnya.
“Om? Tidak takut? Biasanya mereka langsung kabur saat aku bilang begitu,” ujarnya, mencoba bercanda.
Tetap tidak ada jawaban.
Yang terdengar hanya hembusan napas berat dari Evans, lalu jemarinya yang perlahan mengetuk meja pelan, berirama, membuat suasana makin mencekam.
Dalam diam itu, Xerra baru menyadari sesuatu
Pria ini bukan seperti tamu lainnya.
Dan kali ini, mungkin… tipu dayanya tidak akan berhasil.
Ketegangan di ruangan itu masih terasa.
Evans duduk tenang, menatap gadis di depannya yang kini mulai kehilangan kepercayaan diri. Ia tak bicara, hanya memperhatikan.
Setiap gerak Xerra dari senyum tipisnya yang dipaksakan hingga caranya memainkan jari di ujung gaun semuanya terlihat jelas di mata Evans.
Namun, ada satu hal lain yang menarik perhatiannya.
Tatapan Xerra, yang sesekali tanpa sadar melirik ke meja di sampingnya.
Di sana tersaji berbagai hidangan,daging panggang,pasta, pizza,buah segar, segelas anggur merah, semuanya masih utuh.
Evans memperhatikan bagaimana gadis itu menelan ludah pelan.
Ia mungkin berusaha tampak anggun, tapi rasa lapar sulit disembunyikan.
Tanpa berkata apa-apa, Evans mengambil sendok peraknya, menyendok sedikit daging, lalu mendorong piring itu ke arah Xerra.
“Makan,” katanya singkat, suaranya rendah tapi tegas.
Xerra sempat terkejut, matanya membesar sesaat.
“Ma… makan?” tanyanya, nyaris tak percaya.
Evans hanya menatapnya, lalu mengisyaratkan dengan dagu agar ia mengambilnya.
Tak ada ancaman. Tak ada senyum. Hanya ketenangan yang aneh membuat Xerra, entah mengapa, merasa aman untuk pertama kalinya malam itu.
Perlahan ia duduk, mengambil sendok, dan mulai makan. Awalnya hati-hati, lalu semakin lahap.
Evans tidak menegur, tidak mengalihkan pandangannya, hanya menatapnya diam-diam seolah menikmati pemandangan langka itu.
Ketika Xerra menyadari pria itu masih memandanginya, ia berhenti sejenak.
“Kenapa lihat aku begitu? Takut aku habiskan semua makanannya?” katanya dengan nada ringan, mencoba menutupi rasa malunya.
Sudut bibir Evans terangkat sedikit nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu berubah.
“Tidak,” katanya datar. “Kau terlihat seperti orang yang sudah lama tidak makan dengan tenang.”
Xerra menatapnya, bibirnya masih sedikit berlumur saus, dan untuk sesaat, ia kehilangan kata-kata.
Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa lebih lembut daripada apa pun yang pernah ia dengar sebelumnya.
Xerra menaruh sendoknya perlahan. Piring di depannya kini bersih, hanya tersisa sisa saus di tepiannya. Ia menyeka bibir dengan tisu, lalu menegakkan tubuhnya kembali, mencoba mengembalikan wibawa yang sempat hilang karena lapar.
“Terima kasih, Om,” ucapnya dengan senyum kecil.
“Sudah memberiku makan, padahal aku gadis yang menukarkan pentakit"
Evans tidak langsung menjawab. Ia menatapnya, dalam, tenang tapi pandangan itu entah mengapa membuat dada Xerra terasa sesak.
Ia lalu mematikan rokoknya di asbak kristal, bersandar ke sandaran sofa, dan akhirnya bicara untuk pertama kalinya dengan nada rendah tapi berwibawa.
“Siapa yang menyuruhmu datang ke tempat ini?”
Pertanyaan itu terdengar biasa, tapi bagi Xerra, rasanya seperti pisau dingin yang menembus kulitnya.
Ia menelan ludah, mencoba membaca ekspresinya.
“Tidak ada yang menyuruhku,” jawabnya ringan.
“Orang-orang hanya... tidak tahu harus menaruhku di mana.”
Evans menaikkan alis. “Tidak tahu harus menaruhmu di mana?”
Nada suaranya sedikit sinis, tapi tidak kasar.
Xerra menunduk, memainkan jemarinya.
“Bibi dan sepupuku... mereka membenciku. Aku selalu jadi duri di mata mereka. Jadi malam ini, mungkin mereka pikir... menjualku akan membuat hidup mereka lebih tenang.”
Hening.
Hanya suara detik jam di dinding yang terdengar.
Evans menatapnya lama. Ia terbiasa melihat wanita di tempat seperti ini yang rela menjual diri demi uang, atau sekadar bertahan hidup. Tapi gadis di depannya berbeda.
Cara Xerra bicara… cara matanya menatap balik dengan keberanian samar… semuanya terasa tidak biasa.
“Dan kau tidak melawan?” tanya Evans akhirnya.
Xerra tersenyum kecil. “Untuk apa? Aku sudah terlalu sering menang. Sekali-kali biarkan mereka merasa berhasil.”
Evans tidak berkata apa-apa lagi. Tapi dalam diamnya, ada sesuatu yang berubah.
Sorot matanya tidak lagi dingin kini ada sedikit rasa ingin tahu, bahkan... kagum.
Xerra menyadari itu, dan entah kenapa, ia malah tersenyum.
“Kalau sudah selesai menginterogasiku, aku boleh pulang, Om?”
Evans menatapnya datar. “Siapa bilang aku sudah selesai?”
Udara di antara mereka terasa berbeda seperti api yang baru saja menyala pelan.
Xerra menatapnya balik, kali ini tanpa senyum.
“Kalau begitu, mau apa lagi dariku?”
Evans memiringkan kepala, menatapnya tanpa berkedip.
“Entah kenapa, aku belum ingin melepasmu.”
Evans menatap gadis di depannya, yang kini duduk bersila di sofa dengan pipi sedikit memerah setelah kenyang.
“Temani aku sebentar,” katanya pelan sambil menuang anggur ke gelas kristal.
“Aku tidak suka makan malam sendirian.”
Xerra mengangguk pelan. Ia tidak berani menolak, tapi dalam hatinya ia justru merasa tenang,karena pertama kalinya malam ini, tidak ada ancaman, tidak ada rasa takut.
Mereka mengobrol pelan. Evans sesekali menatap wajahnya, mendengarkan suaranya yang lembut bercerita tentang hal-hal kecil tentang taman di belakang rumah mendiang kedua orang tuanya, tentang kucing liar yang dulu ia rawat diam-diam.
Evans hanya mendengarkan. Tidak banyak bicara, tapi ada sesuatu di matanya sesuatu yang jarang muncul pada pria sekeras dia yaitu ketenangan.
Beberapa menit berlalu, suara Xerra semakin pelan, dan tanpa sadar, kepalanya mulai miring ke sisi sofa.
Evans menatapnya.
Gadis itu tertidur. Dengan rambut berantakan menutupi sebagian wajahnya, napasnya teratur dan lembut.
Dan pertama kalinya, Evans tidak ingin melakukan apa pun.
Tidak ingin memerintah, tidak ingin memiliki. Ia hanya duduk di sana, memandanginya diam-diam.
Lalu tanpa banyak berpikir, ia memindahkan tubuh Xerra ke sisi tempat tidurnya.
Tubuh mungil itu tampak tenggelam di antara selimut tebal.
Evans berbaring di sebelahnya jarak mereka hanya beberapa jengkal.
Tangan besarnya, tanpa sadar, terulur dan menarik tubuh Xerra mendekat.
Gadis itu menggeliat kecil, tapi tidak terbangun.
Evans menarik napas panjang, menatap langit-langit kamar yang temaram.
Ia tidak tahu sejak kapan hatinya mulai merasakan sesuatu yang aneh rasa yang tidak seharusnya ada.
Dalam diam, ia memeluk tubuh mungil itu lebih erat, seolah ingin melindunginya dari dunia yang kejam di luar sana.
Dan malam itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Evans Pattinson tidur dengan tenang.