NovelToon NovelToon
The Death Mirror

The Death Mirror

Status: tamat
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Model / Obsesi / Tamat
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Richest

Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.

Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.

Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.

Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.

Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?

Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Michelle!!" teriak seorang gadis yang baru memasuki ruangan perpustakaan yang merupakan bagian kampusnya sendiri.

Dia menghampiri seseorang yang sedang membaca buku sambil mendengarkan musik dengan earphone terpasang di telinganya.

Gadis itu melepaskan earphone miliknya dan meletakkannya di atas meja tempat ia meletakkan buku-buku yang telah dipilihnya untuk dibaca.

"Kamu kenapa teriak-teriak begitu?" ucapnya dengan sinis. Walaupun ia tadi sedang memakai earphone tapi dia melihat bagaimana gelagat gadis di hadapannya itu.

"Michelle, aku ada kabar baik." ucapnya dengan wajah tersenyum sumringah.

"Ada apa, Kim?" tanya Michelle penasaran namun masih tetap dengan ekspresi wajah datar dan sinisnya.

"Kemarin aku first date sama Edward. Dia romantis banget, Chelle." ujarnya dengan wajah tersenyum bahagia.

Michelle memalingkan wajahnya. Ia melengos kesal. Namun, tak ingin dilihat oleh temannya itu. Jujur, ada rasa sangat tidak suka dan benci dengan kabar dari temannya tersebut.

"Kamu kenapa? Kamu enggak suka, ya?" tanya gadis itu dengan wajah cemberut.

"Kenapa? Aku enggak kenapa-napa. Aku cuma enggak suka aja tadi kamu teriak begitu. Soalnya inituh perpustakaan. Harus sopan. Jangan ganggu orang lain yang lagi baca buku." ucapnya sinis.

"Aduh, maaf kalau ganggu. Kalau gitu, aku pergi lagi ya. Aku mau ketemuan sama Edward. Bye, my bestie." dia tersenyum kepada Michelle dan kemudian pergi meninggalkan gadis itu.

Michelle menggeram kesal selepas kepergian temannya tadi. "Akh! Kenapa juga Edward mau sama dia. Kimberly itu enggak cantik-cantik amat." gerutunya.

Kemudian dia mengumpulkan buku-bukunya yang ada di atas meja tadi. Salah satu novel tema horor yang sangat memikatnya sedari tadi tak lupa juga ia pinjam.

Ia berjalan menuju pintu keluar dari ruang perpustakaan sambil membawa tiga tumpukan buku-buku yang ia pinjam tadi.

Saat ia akan keluar, tanpa sengaja ia tertabrak dengan seseorang. Buku-bukunya pun jatuh dan terbuka. Orang yang menabraknya segera memunguti buku-buku tersebut.

Michelle segera berdiri. Lelaki itu menyerahkan buku-buku itu kepadanya. "Maaf, aku enggak sengaja."

"Enggak apa, tadi aku juga kurang fokus ke jalan."

Lelaki itu bernama James. Dia adalah salah satu dari teman-teman Edward. Dia menatap wajah Michelle dengan lekat.

Namun, gadis itu segera berlalu meninggalkannya. Mungkin dia sudah ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya. Ini juga sudah sore. Perpustakaan sebentar lagi akan tutup.

Malam harinya, Michelle membaca novel yang ia pinjam di perpustakaan siang tadi. Novel itu mengisahkan tentang seseorang yang rela membunuh temannya sendiri atas rasukan dari makhluk jahat.

Tiba-tiba vas bunga di kamar gadis itu terjatuh dan pecah berserakan di lantai. Dia segera menghampirinya dan memunguti pecahan vas tersebut untuk dibuang.

"Kenapa bisa tiba-tiba jatuh, sih?" gumamnya sambil memunguti pecahan vas bunga tadi.

Setelah selesai membersihkan bekas pecahan vas bunga, dia segera kembali ke ranjangnya. Handphone nya berdering. Ternyata itu adalah telepon dari sahabatnya sendiri.

"Halo"

[Halo, Chelle. Kamu lagi ngapain?]

"Aku lagi baca novel, kenapa?"

[Akh, kirain kamu lagi galau karna Kim jadian sama Edward.]

"Enggak lucu tau."

[Daripada kamu berlarut-larut dalam kesedihan gimana kalau liburan nanti kita pulang ke desa sepupu aku? Kamu mau, kan?]

"Oke, boleh-boleh aja kalau kamu enggak keberatan aku ikutan ke sana."

[Yasudah, nanti aku kabarin lagi ya mengenai jadwalnya. Bye, sayang.]

"Bye"

Tanpa terasa, setelah beberapa waktu berlalu, hari ini adalah hari liburan mereka. Michelle sudah menyiapkan barang-barangnya untuk pergi ke desa temannya nanti.

Mereka menaiki kereta dan kemudian lanjut dengan menaiki bus menuju terminal yang ada di desa tujuan mereka. Setibanya di terminal, mereka harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah temannya tersebut.

Dia adalah Andre, sepupu dari Sisca. Lelaki itu juga mengajak dua orang teman-temannya. Mereka adalah Angga dan Reno.

Mereka berjalan kaki sangat jauh, karena di sana tidak ada angkutan umum. Apalagi rumah kediaman keluarga Andre dulu berada di ujung desa.

Setibanya di rumah, mereka terbaring di sofa sambil meminum air. Perjalanan kaki yang jauh dan membutuhkan waktu kurang lebih sekitar satu jam setengah tadi membuat mereka sangat kelelahan.

Bahkan, setelah makan malam mereka pun langsung beristirahat tanpa adanya kegiatan seperti nonton ataupun main bersama terlebih dahulu.

Reno sekamar dengan Angga. Michelle tidur satu kamar dengan Sisca. Sementara Andre tidur di kamarnya sendirian. Terlalu sempit jika ia harus tidur bertiga bersama teman-teman laki-laki nya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Reno sedang menghirup udara segar yang masih sangat asri dan belum tercemar dengan polusi di sana.

Di desa itu memang belum ada satu orang pun yang menggunakan kendaraan bermotor. Mereka hanya berjalan kaki atau bersepeda untuk pergi kemana-mana.

Sekilas, pandangannya tertuju pada hutan yang sangat menyeramkan yang berada di seberang rumah sahabatnya tersebut.

Reno tertarik untuk memasuki dan menjelajahi isi hutan itu. Namun, ia takut jika ke dalam sana sendirian. Walaupun sudah pagi tetapi hutan itu tetap gelap. Mungkin karena banyak pohon-pohon besar dan tinggi.

Alhasil, ia memilih untuk mengajak teman-temannya yang lainnya untuk turut masuk ke dalam hutan bersama dengannya.

"Kamu kenapa?" tanya Andre. Dirinya sudah berada di sebelah Reno. Beserta yang lainnya juga turut menghampiri mereka berdua.

"Aku mau masuk ke dalam hutan itu. Tapi takut kalau sendirian. Kalian mau kan menemani aku masuk ke sana?" tunjuknya ke arah dalam hutan yang menyeramkan itu.

"Ya ampun seram banget. Aku enggak mau ah. Enggak usah cari masalah." ujar Sisca terang-terangan.

"Kenapa? Bukannya seru, kan?"

"Iya benar itu kata Michelle. Bukannya seru? Ayo temani aku masuk ke sana." ucap Reno memohon.

"Tapi, itu hutan terlarang guys. Kata orang-orang di sini, banyak orang masuk ke dalam sana terus enggak bisa keluar lagi dari sana. Enggak tau kabar mereka sekarang gimana. Tapi intinya kalau enggak mau ambil resiko ya enggak usah masuk ke sana." tutur Andre.

"Enggak bakal hilang kok. Kita jalan lurus aja. Enggak usah belok-belok. Pasti nanti mudah cari jalan keluarnya." Reno ingin meyakinkan teman-temannya.

"Aku setuju sama Reno. Aku mau ikut sama dia. Kalau kalian enggak mau sih terserah." ucap Angga.

"Oke, fine. Aku akan masuk ke dalam hutan sama kalian. Sisca sama Michelle kalian mau ikutan enggak?"

"Iya-iya deh, aku ikutan." ucap Sisca frustasi dengan keinginan teman-temannya.

Mereka segera memasuki hutan tersebut dengan Andre yang berjalan paling depan untuk menuntun teman-temannya. Sementara Michelle berjalan di paling belakang.

Ia tampak melihat-lihat sekeliling hutan yang sangat menyeramkan. Mereka sepertinya sudah masuk cukup dalam. Saat berjalan, Michelle merasakan tali sepatunya lepas.

Dia ingin mengikat tali sepatunya terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah selesai mengikat tali sepatunya, ia pun segera berdiri lagi.

Ia tak melihat dimana keberadaan teman-temannya. Mungkin ia tertinggal cukup jauh dari rombongan yang lainnya.

Michelle mencoba untuk tetap tenang. Ia berjalan lurus saja. Mungkin nanti akan bertemu lagi dengan teman-temannya, pikirnya.

Setelah lama berjalan, ia tak lekas bertemu dengan yang lainnya. Hari sudah mendung, sepertinya akan turun hujan. Michelle menemukan goa untuk berteduh.

Goa itu sangat gelap dan menyeramkan. Ia masuk ke dalamnya. Kemudian duduk di sebuah batu besar yang ada di dalam sana. Seketika ia mendengar sesuatu dan aroma berbeda dari dalam goa tersebut.

Gadis itu tertarik untuk melihat ke arah lebih dalam dari goa tersebut. Ia melihat ada seorang wanita dengan rambut yang sangat panjang sebatas lutut dan rada keriting sedang bercermin.

Wanita itu sedang menyisir rambutnya. Di mata Michelle, rambut wanita itu sangatlah kotor. Banyak berjatuhan hewan-hewan menjijikkan dari sana.

Dia sepertinya ingin muntah menyaksikan rambut jelek itu. Namun, wanita itu melihat kehadiran Michelle dari cermin. Dia segera membalikkan tubuhnya.

Kemudian Michelle terperanjat. Seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah terasa kaku dan tidak bisa digerakkan. Nafasnya tersengal-sengal.

Ia menelan ludahnya dengan kasar. Sosok menyeramkan itu mendekatinya dengan tangan yang berwarna hitam dan kuku panjang yang jelek.

Makhluk itu sangat buruk rupa. Dia bukan manusia dan tidak pantas disebut manusia. Dia blank face alias wajahnya datar dan tak memiliki organ apapun seperti hidung, mata, dan sebagainya.

Makhluk jelek itu tak memiliki mulut dan telinga. Michelle pikir percuma berteriak agar ia jangan mendekat karena nyatanya makhluk itu tak memiliki telinga.

Namun, tiba-tiba dia bersuara. "Kamu cantik sekali. Aku ingin sepertimu. Maukah kamu membantuku." ucapnya.

Michelle tambah dibuat pusing dengan suara itu. Dia bersandar dan memegangi dinding goa dengan tangan yang sudah berkeringat dingin.

"Kenapa kamu bisa berbicara? Bukannya kamu tidak punya mulut?" tanyanya penasaran dan penuh dengan ketakutan.

"Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Aku tau kau benci dengan temanmu sendiri karena dia telah menjalin asmara dengan lelaki yang selama ini kamu cintai. Benar begitu, bukan?"

"Dari mana kamu tau? Siapa kamu sosok jelek?!" hinanya.

"Kau tidak boleh menghinaku seperti itu. Kau juga pasti punya kekurangan sampai lelaki itu tak mau denganmu. Tapi, aku bisa membantumu."

"Membantuku?"

"Ya, ambillah cermin ini dan bawa pulang. Ini akan sangat membantumu, teman."

Michelle menerima cermin ukuran sedang tersebut dan mengamatinya. Ada apa dengan cermin itu? Kenapa bisa membantunya? Bukankah hanya cermin tua dan jelek?

Semua pertanyaan terlintas di benaknya. Ia segera menengadahkan kepalanya kembali untuk bertanya dengan makhluk aneh di hadapannya. Namun, ia tak melihat ada siapapun di sana. Termasuk sosok buruk rupa dengan wajah datar tadi.

Michelle segera berlari keluar dari goa sambil membawa cermin itu. Untunglah hujan sudah reda. Di tengah perjalanan dan hampir sampai di tepi hutan, ia kembali bertemu dengan teman-temannya.

"Michelle!!" teriak Sisca.

Gadis itu segera membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah teman-temannya. "Kamu kemana aja? Tadi kok kamu menghilang?" tanya Sisca penasaran. Begitu pula dengan yang lainnya.

"Aku tadi ngikat tali sepatu dulu. Tapi saat aku berdiri aku udah enggak melihat kalian lagi. Aku pikir aku ketinggalan jejak kalian semua."

"Udah-udah. Yang penting sekarang kita udah sama Michelle. Ayo kita langsung pulang aja." ajak Andre.

Beberapa hari kemudian, mereka telah kembali ke kota. Mereka sudah tiba di rumah masing-masing. Michelle segera memasuki rumahnya.

Dia masih membawa cermin dari hutan hingga ke kota dan sekarang juga masuk ke dalam rumahnya. Dia meletakkan cermin tersebut di dalam kamarnya.

Dia mengganti cermin rias miliknya dengan cermin tua yang menyeramkan tersebut. Dia memandangi wajahnya di sana sejenak.

"Aku jauh lebih cantik daripada Kimberly dengan wajah pas-pasan itu. Kenapa Edward justru memilih gadis genit itu?" gerutunya.

"Aku benar-benar membenci Kimberly. Aku benci Kimberly!!! Aku ingin dia mati!!" teriaknya di hadapan cermin itu.

Setelah mengatakan itu, ia segera berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi. Tanpa ia sadari, darah mengalir dari kaca cermin itu.

1
Crazy Girl
Apa yang terjadi dengan Michelle selanjutnya? Semuanya ayo semangat lagi bacanya ☺️✌️
Isabel Hernandez
Sudut pandang baru
Crazy Girl: lanjut baca terus yaa 👍🙏
total 1 replies
Abdul Rahman
Nah, ini baru kualitas cerita yang oke!
Crazy Girl: Terimakasih, baca terus ya:)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!