Mahesa Sura yang telah menunggu puluhan tahun untuk membalas dendam, dengan cepat mengayunkan pedang nya ke leher Kebo Panoleh. Dendam kesumat puluhan tahun yang ia simpan puluhan tahun akhirnya terselesaikan dengan terpenggalnya kepala Kebo Panoleh, kepala gerombolan perampok yang sangat meresahkan wilayah Keling.
Sebagai pendekar yang dibesarkan oleh beberapa dedengkot golongan hitam, Mahesa Sura menguasai kemampuan beladiri tinggi. Karena hal itu pula, perangai Mahesa Sura benar-benar buas dan sadis. Ia tak segan-segan menghabisi musuh yang ia anggap membahayakan keselamatan orang banyak.
Berbekal sepucuk nawala dan secarik kain merah bersulam benang emas, Mahesa Sura berpetualang mencari keberadaan orang tuanya ditemani oleh Tunggak yang setia mengikutinya. Berbagai permasalahan menghadang langkah Mahesa Sura, termasuk masalah cinta Rara Larasati putri dari Bhre Lodaya.
Bagaimana kisah Mahesa Sura menemukan keberadaan orang tuanya sekaligus membalas dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Banjir Darah di Bukit Kemangga
Whhuutt..
Whhhuuttt..
Bllllaaaaaaammmm!!!!
Dua sosok bayangan mencelat mundur berlawanan arah usai ledakan dahsyat yang mengguncang lereng Bukit Kemangga.
Satu dari dua bayangan itu adalah sesosok lelaki paruh baya berperawakan gempal dengan kumis tebal. Sorot matanya tajam seolah mampu menembus isi kepala lawan bicara nya. Bekas luka memanjang di pipi kiri memotong alisnya, membuat siapapun yang menatapnya pasti keder duluan.
Di tangan kanannya sebuah gada besi dengan duri duri tajam pada ujungnya, tergenggam erat. Meskipun beberapa bagian tubuhnya sudah terdapat luka akibat sayatan benda tajam dan mengeluarkan darah, tetapi itu seolah-olah tak berpengaruh sama sekali pada lelaki paruh baya itu.
Dia adalah Kebo Panoleh, kepala gerombolan begal Alas Kemangga yang terkenal kejam dan sadis. Setiap orang yang menjadi korban kebrutalan nya, tak satupun dari mereka ada yang selamat. Namanya menjadi momok menakutkan bagi para pedagang maupun orang yang lalu lalang melintasi kawasan kaki Bukit Kemangga.
Para prajurit Keling, salah satu negeri bawahan Majapahit pun tak berdaya untuk menumpas para begal ini. Selain memiliki beberapa bawahan berilmu tinggi, Kebo Panoleh juga terkenal sakti. Bahkan sekelas Tumenggung Kuda Amerta, punggawa negeri Keling, saja harus tewas bersimbah darah diujung gada besi berduri tajamnya.
Tetapi nama besar Begal Alas Kemangga yang kondang di dunia persilatan Majapahit inipun akhirnya menemui nasib naasnya setelah kedatangan orang yang sedang dihadapi Kebo Panoleh saat ini, Mahesa Sura.
Ya pendekar muda bernama Mahesa Sura ini memang menjadi batu sandungan yang merepotkan. Dia berhasil membuat Kebo Panoleh turun tangan sendiri usai beberapa anak buah andalannya dibuat bertekuk lutut melawan Mahesa Sura. Bahkan anak buah kesayangan nya, Menjangan Kalung harus meregang nyawa di ujung pedang sang pendekar itu.
Sekilas, tak seorangpun akan menyangka jika pemuda berpakaian hitam compang-camping dengan beberapa tambalan ini adalah pendekar yang mumpuni. Tetapi penampilannya lah yang menipu semua orang yang meremehkannya. Kecepatan gerakan pedang pendek nya, jurus jurus maut juga tenaga dalamnya benar-benar mengerikan.
Meskipun dengan wajah kumal seperti gelandangan yang sudah berhari hari tidak mandi, sebenarnya wajah Mahesa Sura memiliki ketampanan di atas rata-rata. Sorot matanya yang setajam elang memburu mangsa, seolah-olah sedang menyimpan banyak sekali dendam atas penghinaan yang ia terima di masa lalu.
Sudah hampir satu kali waktu menanak nasi lamanya pertarungan antara Mahesa Sura dan Kebo Panoleh, tetapi sang kepala begal Alas Kemangga belum juga berhasil mengalahkan si gembel Mahesa Sura. Sambil terengah-engah mengatur nafas, Kebo Panoleh mengumpat murka.
"Setan Alas!!!
Darimana kau belajar Ajian Tapak Iblis Neraka itu hah?! Apa hubungan mu dengan Si Iblis Berjari Perak?! "
Mahesa Sura tersenyum sinis mendengar omongan musuh nya. Dia memang sudah lama menunggu kesempatan untuk membuat Kebo Panoleh, orang yang sudah membunuh keluarga Akuwu Mpu Randu yang merupakan orang tua angkat sekaligus penyelamat nya itu, ketakutan setengah mati.
"Maksud mu Ki Kidang Basuki orang tua itu, Kebo Panoleh? Hehehe, ia adalah salah satu guru ku di Lembah Embun Upas.. Kenapa? Takut kau? ", ejek Mahesa Sura.
Phuuuiiiiihhhhhhhh!!!!!
" Sekalipun Si Iblis Berjari Perak masih bisa bertarung di usianya yang sekarang, aku juga tidak akan gentar sedikitpun, bocah brengsek!!
Apalagi cuma bocah ingusan seperti mu, chuuiihhh!! Aku akan membuat mu menyesal karena sudah merusak suasana wilayah kekuasaan ku..! "
Usai menggembor buas, Kebo Panoleh memutar gada besi berduri tajam nya dan melompat tinggi ke udara sebelum melesat turun ke arah Mahesa Sura.
"Pecah kepala mu, bocah sialan..!!! ", maki Kebo Panoleh sambil mengayunkan gada besi berduri tajam nya ke arah kepala Mahesa Sura.
Whhhhhhuuuuuuuggg....
Berbeda dengan sebelumnya, Mahesa Sura hanya menggeser sedikit posisi tubuhnya saat serangan mematikan itu datang. Walhasil, serangan maut Kebo Panoleh hanya menyambar angin kosong sejengkal disamping tubuh sang pendekar muda. Mata Kebo Panoleh melotot lebar melihat itu semua.
Belum hilang rasa kaget Kebo Panoleh, Mahesa Sura membabat pergerakan kaki Kebo Panoleh yang mati langkah dengan pedang pendek di tangan kiri nya.
Shhhrreeeeeetttt...
Tak ingin kaki kanannya putus oleh tebasan pedang pendek Mahesa Sura, Kebo Panoleh cepat tarik gada besinya untuk melindungi kaki kanannya.
Tetapi dengan tindakan ceroboh ini, pertahanan tubuh bagian atas Kebo Panoleh terbuka lebar dan Mahesa Sura tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Cahaya merah kehitam-hitaman dengan hawa panas aneh yang menakutkan, tercipta di telapak tangan kanan Mahesa Sura. Dengan gerakan cepat, ia hantamkan tapak tangan kanannya ke arah dada Kebo Panoleh.
Whhhuuuuuttttt!
Dengan panik, Kebo Panoleh berusaha untuk bertahan dari serangan musuh. Dia mengangkat tangan kiri nya ke depan dada untuk melindungi diri. Dan..
Bllllaaaaaaammmm...!
Aaaaaarrrrrrrggggggghhhh!!!!
Raungan keras seperti suara orang sedang sekarat terdengar dari mulut Kebo Panoleh berbarengan dengan terlempar nya tubuh lelaki yang pernah menjadi momok menakutkan dari Alas Kemangga ini, mengiringi bunyi ledakan keras tadi. Tubuh gempal nya keras menghujam tanah.
Lelaki tua itu berusaha untuk bangkit meskipun mulutnya berulang kali memuntahkan darah segar sebagai tanda luka dalam yang serius. Tetapi dia hanya mampu duduk sembari melihat tangan kiri nya gosong seperti baru dibakar api.
Sedangkan Mahesa Sura berjalan perlahan mendekat sambil terus waspada kalau kalau orang tua itu melemparkan senjata rahasia.
Begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah, Mahesa Sura dapat melihat bahwa lawannya sudah cedera dalam parah. Wajah Kebo Panoleh terlihat pucat karena ia banyak mengeluarkan darah.
"Aku bisa mengampuni nyawa mu, Kebo Panoleh! Tapi dengan satu syarat... ", Mahesa Sura menatap tajam pada musuhnya.
" Ka-katakan, a-apa mau mu uhuk uhuk??!! "
"Katakan siapa orang yang menyuruh mu untuk menghabisi nyawa keluarga Akuwu Mpu Randu dari Pakuwon Janti?", lanjut Mahesa Sura.
" A-apa hubungan mu dengan orang tua itu, heh?! ", Kebo Panoleh ganti menatap ke arah Mahesa Sura dengan rasa tahu.
" Aku Mahesa Sura, anak angkat Akuwu Mpu Randu. Satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian yang kau lakukan, Kebo Panoleh! "
"Jadi kau masih hidup?!
Padahal kau lah yang menjadi incaran sesungguhnya. Hahaha, ini sungguh menarik!", Kebo Panoleh malah tertawa terbahak-bahak mengetahui jati diri Mahesa Sura.
" Apa maksud dari kata kata mu itu, bajingan? Lekas katakan sejujurnya ", teriak Mahesa Sura tidak sabar lagi.
" Orang yang menyuruh kami untuk membantai keluarga Akuwu Mpu Randu sebenarnya hanya ingin melenyapkan mu. Pembunuhan itu untuk menutup masalah sebenarnya hehehe.. ", meskipun dengan kondisi yang sudah sangat parah, nyatanya Kebo Panoleh masih bisa tertawa lepas walaupun sesekali dengan batuk darah.
Kebenaran yang tersembunyi ini langsung membuat Mahesa Sura marah besar. Tak dinyana bahwa pembunuhan keluarga orang tua angkatnya hanyalah akibat sampingan dari rencana sesungguhnya.
"Bajingan kalian semua!!!
Sekarang katakan, siapa orang yang menyuruh mu membunuh ku, Kebo Panoleh?! Jika kau tidak bicara, aku pasti akan membunuh mu!! ", teriak Mahesa Sura murka.
" Hahahaha... Sampai mati pun tak akan ku katakan, Bocah Sialan uhuk uhuk!!!
Orang itu jauh lebih menakutkan daripada Batara Yama dari Neraka. Carilah sendiri orang itu, dan yang akan kau temui hanyalah hantu yang tidak berwujud saja hahaha.. ", tawa Kebo Panoleh menggelegar meskipun Mahesa Sura menatapnya dengan tajam.
" Bangsat!!! Mati saja kau....!! "
Mahesa Sura memutar pedang pendek nya sebelum mengayunkan nya ke leher Kebo Panoleh yang masih terduduk lemah diatas tanah.
Chhhrrraaaasssssshhhh!!!!!
Darah segar langsung muncrat ke tubuh Mahesa Sura saat kepala Kebo Panoleh putus terkena sabetan pedang pendek nya. Potongan kepala milik pimpinan begal Alas Kemangga itu seketika jatuh dan menggelinding ke tanah yang lebih rendah. Tubuhnya luruh sambil kejang-kejang sebelum diam untuk selama-lamanya.
Mahesa Sura langsung mengusap sisa darah segar di bilah pedang pendek nya di badan Kebo Panoleh sebelum menyarungkan nya di pinggang. Segera setelah itu, ia membalikkan mayat Kebo Panoleh dan memeriksa tubuhnya. Sebuah kantong kain berisi beberapa kepeng perak dan emas berhasil ditemukan. Diantara keping kepeng perak dan emas itu, Mahesa Sura menemukan sebuah lencana dari perak bergambar tengkorak manusia.
"Ini bukankah lambang Padepokan Bukit Tengkorak?! Bagaimana bisa si bajingan ini memiliki nya? Apa ini ada hubungannya dengan kata-kata terakhir nya? Aku akan mencari tahu.. ", gumam Mahesa Sura sembari menyimpan barang-barang itu ke dalam bantalan kain hitam nya.
Sesaat setelah berdiri, Mahesa Sura mengedarkan pandangan ke sekitar tempat itu. Puluhan mayat bergelimpangan tak tentu arah. Anggota begal Alas Kemangga itu telah menjadi korban kemurkaan nya atas kematian orang tua angkatnya dengan tubuh nyaris tak berbentuk lagi. Beberapa kehilangan anggota tubuhnya sedangkan kebanyakan tewas dengan tubuh nyaris hancur. Dia membantai mereka tanpa ampun.
Mulai hari itu, begal Alas Kemangga lenyap seutuhnya dari muka bumi.
Sambil berjalan menuruni lereng Bukit Kemangga, Mahesa Sura terkenang saat ia berusia 10 tahun saat ia berlutut di hadapan para lelaki bertampang aneh yang ia temui setelah masuk ke dalam kawasan Lembah Embun Upas.
"Guru sekalian, terima aku sebagai murid mu.. "
Bukan lagi menunggu waktu berbuka 🤭
Mugi urang sadaya dipaparin kasalametan dunya sareng akherat, kabarokahan rizki sareng yuswana.
Aamiin. Yaa Robbal Aalamiin.. 🤲🏽🙏🌹💐
SMG upnya jgn di tunda trs