Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Harga Sebuah Perubahan
Pagi harinya, Yana berjalan menuju ke area tengah pemukiman.
Rasa cemas akibat mimpi bertemu Dewa Binatang semalam masih tersisa di benaknya.
Pesan untuk tidak mengubah terlalu banyak hal membuatnya harus ekstra hati-hati dalam melangkah.
Di area perapian utama, beberapa prajurit sedang berkumpul sambil menikmati daging rebus. Namun, tidak seperti suasana kemarin sore yang gembira karena keselamatan rombongan Kepala Suku, pagi ini wajah para prajurit tampak tegang.
Yana mempercepat langkahnya mendekati kerumunan. Di sana, Aron sedang berbincang dengan Paman Barek dan beberapa pemburu dari kelompok lain.
"Ada apa, Ayah?" tanya Yana langsung.
Aron menoleh ke arah putrinya. Raut wajah Kepala Suku itu terlihat muram.
"Rombongan pemburu dari Suku Beruang yang mendiami wilayah timur baru saja mengirimkan utusan," jawab Aron. "Kemarin sore, puluhan Babi Hutan Berduri yang keluar dari Hutan Hitam masuk ke wilayah perburuan mereka."
Jantung Yana berdetak lebih cepat. "Lalu apa yang terjadi?"
"Suku Beruang tidak tahu kalau kawanan babi hutan itu sedang mengamuk," pangkas Paman Barek dengan suara kaku. "Tiga pemburu mereka tewas di tempat karena ditanduk dan terkena duri beracun. Empat orang lainnya luka parah. Suku Beruang sekarang menuduh suku kita sengaja memancing kawanan binatang berbahaya itu keluar dari Hutan Hitam ke arah wilayah mereka."
Yana terpaku di tempatnya.
Di kehidupan sebelumnya, Babi Hutan Berduri itu menyerang rombongan ayahnya di dalam celah tebing. Karena kelompok ayahnya bertarung dan mati di sana, kawanan babi hutan itu tidak pernah keluar menembus batas utara menuju wilayah Suku Beruang.
Tetapi kemarin, karena Yana menyayat tangannya dan memancing ayahnya memutar rute, kawanan babi hutan itu keluar dari celah tebing tanpa ada yang menahan. Mereka berlari liar hingga masuk ke wilayah Suku Beruang dan membunuh orang-orang di sana.
'Jadi ini maksud ucapan Dewa Binatang?' batin Yana.
Satu keputusan yang ia ambil untuk menyelamatkan ayahnya ternyata langsung mengubah alur kejadian dan mengorbankan nyawa orang lain.
"Suku Beruang menuntut ganti rugi daging dan tanaman obat dalam jumlah besar dari kita," lanjut Aron sambil memijat dahinya yang tegang. "Jika kita tidak menyerahkannya sebelum pekan depan, mereka mengancam akan menutup akses sungai timur untuk suku kita."
"Tapi itu tidak adil, Paman!" potong Luka yang baru saja tiba di area perapian. "Kita tidak sengaja menggiring binatang-binatang itu ke sana. Mengapa kita harus menyerahkan persediaan makanan kita kepada Suku Beruang?"
"Mereka kehilangan tiga nyawa prajurit, Luka," sahut Aron tegas. "Bagi suku manusia binatang, darah yang tumpah di tanah perburuan selalu membutuhkan pertanggungjawaban. Aku akan memimpin rombongan utusan ke Suku Beruang besok untuk menyelesaikan masalah ini secara damai."
Yana mengepalkan tangannya rapat-rapat. Persediaan daging dan tanaman obat Suku Serigala sudah sangat terbatas menjelang musim dingin. Jika mereka harus menyerahkan sebagian besar persediaan itu kepada Suku Beruang, maka warga Suku Serigala akan mengalami kelaparan dua pekan lebih cepat dari jadwal di kehidupan sebelumnya.
Masalah baru telah tercipta karena ulahnya.
"Ayah, biarkan aku ikut membantu menyiapkan tanaman obat untuk dibawa ke Suku Beruang," kata Yana melangkah mendekat.
Aron menatap putrinya lalu mengangguk pelan. "Baiklah, Yana. Bantu Nenek Greta menyiapkan racikan penawar racun duri. Itu hal paling penting yang dibutuhkan Suku Beruang saat ini."
Tanpa membuang waktu, Yana segera berbalik dan berjalan cepat menuju gua penyimpanan obat.
Luka mengikuti langkah Yana dari belakang. "Yana, tunggu!"
Yana menghentikan langkahnya dan membalikkan badan dengan raut wajah datar. "Ada apa lagi, Luka?"
"Kamu tidak merasa bersalah?" tanya Luka dengan dahi berkerut. "Kemarin kamu yang melarang Paman Aron pergi ke celah tebing itu. Memang Ayahmu selamat, tapi sekarang suku kita yang kena masalah gara-gara kawanan babi hutan itu berkeliaran!"
Mendengar kata-kata Luka, rasa dingin terpancar dari mata Yana.
"Jadi maksudmu, lebih baik Ayahku dan sepuluh prajurit kita yang tewas di dalam celah tebing itu kemarin?" gertak Yana dengan nada suara rendah namun sangat menekan.
Luka terkejut dan mundur satu langkah. Ia tidak menyangka Yana akan menjawab dengan begitu tajam. "B-bukan begitu maksudku! Aku hanya bilang... gara-gara kejadian kemarin, situasi suku kita jadi rumit!"
"Jaga bicaramu, Luka," pangkas Yana dingin. "Aku lebih memilih menghadapi tuntutan Suku Beruang daripada harus mengubur jasad Ayahku hari ini."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Yana langsung berbalik dan masuk ke dalam gua obat, meninggalkan Luka yang berdiri mematung di luar dengan wajah merah padam karena kesal.
Di dalam gua obat yang redup, Nenek Greta sedang sibuk menumbuk dedaunan kering di atas lumpang batu. Yana mendekat dan langsung mengambil alih alu kayu dari tangan wanita tua itu.
"Aku mendengar kabar tentang Suku Beruang dari prajurit di luar," kata Nenek Greta pelan sambil memperhatikan Yana yang mulai menumbuk obat dengan gerakan cepat. "Masa depan yang kamu khawatirkan kemarin... sepertinya mulai menunjukkan bayangannya, Yana."
Gerakan tangan Yana terhenti sejenak. Ia menatap Nenek Greta dengan mata abu-abu kehijauannya.
"Apakah aku melakukan kesalahan, Nenek?" tanya Yana jujur. "Aku hanya ingin menyelamatkan orang-orang yang kucintai."
Nenek Greta menghela napas panjang. Ia mengelus kepala Yana dengan tangannya yang keriput dan hangat.
"Niat menyelamatkan nyawa tidak pernah salah, Nak," kata Nenek Greta lembut. "Tetapi dunia ini memiliki timbangannya sendiri. Saat kamu mengangkat beban di satu sisi, sisi lainnya akan naik atau jatuh. Kamu harus siap menanggung akibat dari setiap pilihan yang kamu buat."
Yana menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kata-kata Nenek Greta sangat sejalan dengan peringatan Dewa Binatang dalam mimpinya semalam.
Masa depan bukanlah sesuatu yang mudah diubah tanpa ada korban. Jika ia menyelamatkan seseorang di sini, maka bahaya akan berpindah ke tempat lain.
'Aku tidak boleh goyah,' tekad Yana dalam hati. Ia kembali menumbuk bahan obat dengan cengkeraman tangan yang makin kuat. 'Kalau perubahan ini membawa masalah baru, maka aku juga yang harus menyelesaikan masalah baru itu!'
Hari itu, Yana menghabiskan waktu hingga sore hari di dalam gua obat. Ia meracik penawar racun duri dalam jumlah ganda dari racikan biasa, memanfaatkan pengetahuannya dari kehidupan lalu tentang cara mengolah akar obat agar khasiatnya menjadi lebih kuat.
Ketika matahari mulai terbenam di ufuk barat, Yana keluar dari gua membawa dua kantong kulit penuh berisi bubuk penawar racun.
Saat ia berjalan melewati lapangan desa, ia melihat ayahnya sedang memeriksa kesiapan barang-barang yang akan dibawa ke Suku Beruang esok hari. Wajah ayahnya terlihat sangat lelah.
Yana menyadarkan dirinya bahwa dua bulan waktu yang ia miliki sebelum kedatangan gadis transmigrator itu akan berjalan jauh lebih sulit dari perkiraannya.
Sejarah tidak lagi berjalan sesuai ingatan murninya.
Setiap tindakan kecil yang ia lakukan mulai menciptakan masa depan baru yang tidak menentu.
"Kali ini Suku Beruang yang menuntut..." gumam Yana sambil menatap ke arah hutan utara yang kian gelap. "Besok... apa lagi yang akan berubah?"
Rasa takut sempat menyelinap di benaknya, tetapi Yana mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia tidak boleh menyerah sebelum pertarungan yang sesungguhnya dimulai.
***
Bersambung ....