NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Di Perpustakaan, Di Tengah Keheningan

Hujan turun sampe pagi. Gue bangun dengan kepala berat, mata perih, dan satu pertanyaan yang gak mau pergi: siapa yang sebenarnya gue bisa percaya sekarang?

Semua yang gue kira udah jelas — terbalik sepenuhnya. Farhan bukan pengecut, dia cuma rela hancur buat orang lain. Dimas bukan pelindung sempurna, dia yang mainkan semuanya dari belakang. Rina bukan penjahat murni, dia cuma putus asa yang salah jalan.

Jalan ke sekolah hari itu terasa beda. Langit masih kelabu, tanah basah, bau hujan nyangkut di udara. Gue jalan pelan, nunduk, topi turun sampe menutupi sebagian mata. Gak mau natap siapa-siapa. Gak mau siapa pun natap gue.

Baru masuk gerbang, gue lihat Dimas berdiri di sana. Sendirian. Bawa tas, tangan di saku, natap lurus ke arah gue.

Jantung gue langsung berdebar kencang, bukan karena senang — karena takut.

"Mir..." Dia maju selangkah, suaranya pelan kayak biasa. Tapi sekarang gue dengar beda. Gak lagi tenang. Lebih dingin. Lebih terukur.

Gue berhenti langkah. Jarak kita sekitar dua meter. Cukup jauh buat gak merasa terjebak.

"Kita bisa ngomong?" tanyanya lembut.

"Tentang apa?" Gue coba jaga suara tetap stabil. "Tentang lo yang nyetir waktu itu? Tentang pesan ancaman dari nomor lo sendiri? Atau tentang lo yang pakai Rina buat bikin kita saling curiga?"

Dia diam. Mulutnya terbuka sedikit, tapi gak ada kata yang keluar.

"Gue kira lo beda, Dim." Gue lanjut pelan, dada sesak. "Gue kira lo datang karena lo mau gue tenang. Ternyata lo datang karena lo mau gue lihat versi lo sendiri."

"Gue lakuin itu karena gue sayang lo!" suaranya naik sedikit, matanya liar. "Gue lihat dia nyakiti lo pelan-pelan setiap hari! Gue gak bisa diam nonton lo nangis sendirian tanpa tau alasannya!"

"Jadi caranya lo bohong juga?" Gue geleng-geleng kepala, mundur selangkah. "Bohong buat nyari kebenaran? Itu gak masuk akal, Dim."

Gue ninggalin dia berdiri di situ. Jalan masuk kelas, rasanya semua mata natap. Padahal mungkin cuma perasaan gue aja — sekarang semuanya terasa berat, seolah semua orang tau apa yang gak seharusnya mereka tau.

Di meja, Farhan udah duduk. Dia natap gue pas gue masuk, berdiri pelan, tapi gue natap ke arah lain. Duduk, buka buku, tapi gak bisa baca satu baris.

Sepanjang pelajaran, suasananya hening. Di sebelah kiri — Farhan yang diam, sesekali natap gue dengan tatapan yang gue gak berani balas. Di belakang — Dimas yang gak pernah lepasin pandangan dari punggung gue. Di tengah — gue, yang merasa sendirian di ruangan penuh orang.

Bel istirahat berbunyi. Semua orang keluar. Gue tetap duduk sampe kelas kosong. Baru berdiri pelan, bawa buku, jalan ke perpustakaan.

Di sana sepi banget. Cuma suara langkah kaki di lantai keramik dan detak jam di dinding. Gue cari meja di pojok paling belakang, di antara rak buku tebal yang jarang disentuh. Naruh tas, duduk, buka buku — tapi pandangan gue kosong di halaman yang sama dari tadi.

"Boleh gue duduk di sini?"

Suara itu pelan, ragu. Bukan Dimas.

Gue nengok. Farhan berdiri di lorong antara rak, bawa dua bungkus makanan di tangan, natap gue takut — takut gue usir.

Gue diam sebentar, lalu angguk pelan. "Boleh."

Dia jalan mendekat, duduk di seberang gue, naruh satu bungkus di meja ke arah gue. "Lo belum makan kan? Gue lihat lo gak keluar kelas tadi."

"Gak laper."

"Tetap makan. Perut kosong bikin kepala makin pusing." Suaranya lembut, kayak biasa. Tapi sekarang gue dengar ada beban di sana. Ada lelah yang gue gak perhatiin sebelumnya.

Gue buka pelan, makan sedikit. Hening di antara kita, tapi bukan yang berat kayak di kelas. Lebih ke... canggung. Sehabis semua terbongkar, kita gak tau harus mulai dari mana.

"Gue mau minta maaf," buka Farhan tiba-tiba, matanya turun ke meja. "Dari awal. Semuanya."

"Kenapa lo gak cerita, Han?" Gue tanya pelan, tapi langsung. "Kita kan temen dari kecil. Lo kira gue bakal pergi cuma karena lo nutupin dia?"

Dia mainin ujung kertas bungkus, jari-jarinya saling meremas. "Karena gue takut. Gue takut kalau lo tau, lo bakal natap dia beda. Natap gue beda. Semua yang biasa kita lakuin... bakal berubah. Gue mau tetap kayak dulu. Gue kira diam itu bisa bikin waktu berhenti."

"Lo kira waktu berhenti, tapi lo yang terjebak di situ." Gue letak sendok pelan. "Dan gue di luar, gak tau apa-apa, nyari jawaban di tempat yang salah."

"Gue tau. Gue bodoh." Dia senyum kecut, matanya berkaca-kaca. "Gue rela nama gue jelek asal dia aman. Tapi gue lupa — orang yang paling penting di hidup gue justru terluka karena diam gue."

"Dimas bilang lo sayang sama gue. Bukan cuma temen." Gue bilang pelan, langsung natap matanya.

Farhan kaku. Napasnya tertahan sebentar. Lalu dia tarik napas panjang, buang pelan-pelan.

"Iya." Gak ada ragu. Gak ada mundur. "Dari lama. Sebelum semua ribet kayak gini. Sebelum dia datang. Gue takut bilang karena gue tau kalau gue ditolak... gue bakal kehilangan lo sepenuhnya. Dan itu ketakutan terbesar gue."

"Jadi lo diam bukan cuma buat Dimas. Tapi juga buat diri lo sendiri."

"Iya. Gue pengecut soal ini, Mir. Gue akui." Dia natap gue lurus, matanya jujur sepenuhnya. "Tapi kalau lo kasih gue kesempatan... gue gak akan sembunyiin apa-apa lagi. Apa pun yang terjadi, apa pun kata orang. Gue janji."

Gue diem. Banyak hal berputar di kepala — kebaikan, kebohongan, ketakutan, perasaan yang ternyata saling nyambung tapi gak pernah diucap.

"Gue butuh waktu, Han." Gue akhirnya bilang. "Bukan karena gue gak percaya. Tapi karena semuanya berubah terlalu cepat. Gue harus kenal lo lagi — yang jujur kali ini."

"Ambil waktu sebanyak yang lo butuh." Dia berdiri pelan, gak nuntut. "Gue di tempat biasa. Kalau lo mau cerita, mau diem, mau marah... gue tetap di sana."

Dia pergi. Langkahnya pelan, tapi tegap. Gak lagi nunduk kayak kemarin.

Gue tetap duduk di situ, buku terbuka di depan, tapi pikiran gue jauh. Hening di perpustakaan tiba-tiba terasa nyaman — kayak ruang yang kasih gue tempat buat napas, buat mikir, buat denger suara hati sendiri tanpa ada yang ganggu.

"Mir..."

Suara lain. Dimas berdiri di ujung rak, gak berani mendekat.

"Lo mau apa lagi, Dim?" Gue gak nengok dulu.

"Gue cuma mau bilang... gue gak menyesal lakuin itu. Tapi gue menyesal nyakiti lo." Dia berhenti sebentar. "Kalau lo mau denger versi gue... gue ada di sini. Kapan pun."

"Gue gak tau siapapun lagi sekarang, Dim. Termasuk gue sendiri." Gue nengok pelan, natap dia. "Kasih gue jarak. Tolong."

Dia mengangguk pelan, pundaknya turun. "Oke. Gue mundur. Tapi kalau lo butuh apa-apa... gue gak kemana-mana."

Dia pergi juga.

Tinggal gue sendiri di meja pojok. Di antara rak buku yang tinggi, di tengah keheningan yang damai. Gue akhirnya paham satu hal: memilih di antara mereka bukan soal siapa yang datang duluan atau siapa yang paling baik. Tapi soal siapa yang bikin gue bisa jadi diri sendiri tanpa takut dihakimi, tanpa penuh rahasia, tanpa harus terus-terusan menebak.

Di luar, matahari mulai muncul pelan dari balik awan. Cahayanya masuk lewat jendela tinggi, jatuh ke halaman buku di depan gue.

Gue tarik napas dalam-dalam. Buang pelan-pelan.

Besok mungkin masih berat. Mungkin ada yang terluka. Mungkin gue masih bingung.

Tapi hari ini... untuk pertama kalinya dalam waktu lama — gue mulai tau ke mana arah gue.

Tiba-tiba HP di saku bergetar. Bukan pesan baru. Pesan dari nomor yang gue kenal sekarang. Terkirim semalam, gak sempat gue baca:

"Gue gak mau jadi alasan lo bingung. Tapi gue mau lo tau — orang yang rela hancur buat orang lain... dia juga butuh diselamatin. Cuma lo yang bisa."

Gue pegang HP erat-erat.

Dan di saat itu...

Langkah kaki cepat terdengar mendekat. Bukan Dimas. Bukan Farhan.

Sari muncul di ujung lorong, napasnya berat, mukanya pucat.

"Mir! Cepat keluar! Orang tua Dimas datang! Mereka minta ketemu kepala sekolah — dan bawa surat laporan soal kecelakaan itu!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!