NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Perempuan di Lantai Kantor

Pintu lift terbuka tepat ketika suara benda jatuh terdengar dari balik kantor utama.

Seorang sekretaris pria berdiri di depan pintu kaca dengan wajah pucat. Jasnya rapi, tetapi dasinya miring seperti baru ditarik seseorang.

“Bu Vivian?”

Tatapannya berpindah kepada kartu akses emas di tangan Vivi, lalu ke pintu kantor Sebastian yang tertutup.

“Ada apa di dalam?” tanya Vivi.

“Nona Celine meminta pembicaraan privat tentang kontrak Wijaya Group. Saya hanya keluar untuk mengambil dokumen, lalu pintunya dikunci dari dalam.”

Jocelyn mendekati pintu dan mencoba gagangnya. “Kalau ini rapat bisnis, kenapa ada suara hak sepatu dilempar?”

Seolah menjawab, sesuatu berwarna merah meluncur dari celah bawah pintu.

Sehelai tali tipis.

Vivi mengenal pola renda itu.

Ingatan kehidupan pertama menghantam tanpa urutan. Pintu yang sama. Gaun merah di lantai. Celine membungkuk di atas Sebastian. Vivi yang datang membawa makan siang menjatuhkan kotak makanan, lalu berlari sebelum mendengar satu penjelasan pun.

Salah satu simpul yang pernah mendorongnya semakin dekat pada kata cerai.

Namun, yang Vivi ingat bukan rahasia hati Sebastian. Ia hanya mengingat akibatnya, serta bagaimana Celine memakai situasi itu berulang kali untuk memecah mereka. Kini, dengan tali renda merah di dekat sepatunya, Vivi tahu jebakan yang sama sedang berlangsung.

Kali ini ia tidak akan lari.

“Buka pintunya,” kata Vivi.

Sekretaris mengeluarkan kartu utama, tetapi lampu pemindai berkedip merah.

Jocelyn mengambil hiasan rambut logam dari tas. “Minggir.”

“Joce, kamu mau apa?”

“Menyelamatkan perusahaan besar dari sehelai pakaian dalam.”

“Jangan merusak pintu kantor suamiku.”

“Jadi kamu masih mengakuinya sebagai suami. Bagus.”

Sebelum Vivi sempat membalas, terdengar bunyi benturan dari dalam. Kunci elektronik berbunyi. Pintu terbuka dari sisi interior dengan keras.

Sebastian muncul.

Wajahnya tak menunjukkan emosi, tetapi seluruh tubuhnya tampak seperti kawat yang ditarik terlalu tegang. Jasnya sudah terlepas. Kemeja putihnya kusut di bagian dada, satu kancing terlepas dan menggantung dengan benang.

Ia berhenti ketika melihat Vivi.

Untuk sepersekian detik, sesuatu yang menyerupai kepanikan melewati matanya.

“Vivi.”

Dari belakangnya, suara perempuan terdengar manja.

“Sebastian, kenapa kamu keluar? Kita belum selesai.”

Celine Wijaya berjalan mendekat tanpa rasa malu. Blus sutranya terbuka hingga melewati bahu, menyisakan pakaian dalam merah yang serasi dengan tali di lantai. Roknya tergeletak di dekat meja rapat. Ia tersenyum ketika melihat Vivi, seakan pemandangan itu memang sudah ia tunggu.

“Oh,” katanya. “Istri kontrakmu datang.”

Jocelyn bersiul pendek. “Aku pernah melihat strategi akuisisi agresif, tapi baru kali ini targetnya melepas rok.”

Senyum Celine menegang. “Ini urusan lama antara aku dan Sebastian.”

“Urusan lama macam apa yang membutuhkan pakaian dalam kantor?”

“Joce.” Vivi menyentuh lengannya, bukan untuk menghentikan, melainkan agar dirinya sendiri tetap berdiri tegak.

Sebastian tak mendekati Celine. Ia justru bergerak menyamping, menjaga jarak hampir tiga meter seperti ada api di antara mereka.

“Panggil keamanan,” perintahnya kepada sekretaris.

Celine tertawa kecil. “Jangan berpura-pura. Kamu sendiri yang menerima pertemuan ini.”

“Aku menerima proposal Wijaya Group.” Tatapan Sebastian jatuh pada pakaian di lantai, penuh jijik. “Bukan ini.”

“Kamu dulu tidak sedingin ini kepadaku.”

“Dulu aku belum tahu kamu tidak memahami kata tidak.”

Celine bergerak cepat. Ia mencoba menangkap lengan Sebastian, mungkin untuk memperkuat sandiwaranya di depan Vivi.

Sebastian mundur sebelum ujung jarinya menyentuh kain. Tumit Celine tersangkut rok sendiri. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di karpet.

“Sebastian!”

Pria itu bahkan tidak menunduk untuk membantu.

Vivi menatap semuanya. Dalam kehidupan pertama, ia hanya melihat potongan yang paling mudah disalahpahami. Hari ini ia melihat jarak tiga meter, bahu Sebastian yang kaku, dan cara pria itu menghindari Celine seperti menghindari sesuatu yang kotor.

Namun, kulitnya tetap dingin ketika Celine menoleh kepadanya.

“Kamu pikir dia menikahimu karena menginginkanmu?” Celine bangkit sambil menutup blus. “Sebastian dari dulu cuma menyayangiku. Kamu hanya alat untuk kesepakatan satu persen itu.”

Vivi menggenggam tali tas.

“Kalau begitu, kenapa kamu perlu membuka baju untuk meyakinkannya?”

Wajah Celine berubah.

Jocelyn menahan senyum puas.

Vivi melanjutkan, “Kalau Sebastian memang menginginkanmu, kamu tidak perlu mengunci pintu dan mengusir sekretarisnya.”

“Kamu tidak tahu apa-apa.”

“Mungkin.” Vivi memandang pakaian yang berserakan. “Tapi aku tahu orang yang dicintai tidak perlu menjebak pasangannya.”

Celine merapatkan blus dengan gerakan kasar. “Kamu akan menyesal. Lebih baik cerai saja sebelum dia membuangmu.”

Kata itu membuat pintu besi muncul lagi di kepala Vivi.

Cerai.

Kukunya menekan telapak tangan. Udara kantor mendadak terasa sempit.

Sebastian menoleh tajam kepada Celine. Wajahnya yang tadi dingin menjadi sesuatu yang lebih mengerikan karena seluruh ekspresi justru lenyap.

“Jangan ucapkan kata itu kepada istriku.”

Suaranya pelan.

Celine terdiam.

Sebastian berjalan menuju Vivi, lalu berhenti satu langkah di hadapannya. Ia tidak menyentuh. Mungkin takut Vivi akan mundur setelah melihat keadaan kantornya.

“Ada rekaman CCTV,” katanya. “Audio dan video. Dia mengunci pintu setelah sekretarisku keluar. Aku tidak menyentuhnya.”

Tatapannya turun ke tangan Vivi yang terkepal.

“Aku jijik disentuh dia.”

Kalimat itu begitu langsung hingga Jocelyn pun berhenti bercanda.

Sebastian mengangkat wajah. “Percaya aku.”

Bukan pertanyaan. Namun, di balik nada perintah itu, Vivi melihat ketegangan yang tak selaras dengan seorang pria yang katanya tak peduli.

Dalam kehidupan pertama, ia menangis dan pergi. Ia membiarkan satu adegan tanpa awal dan akhir menjadi racun selama berbulan-bulan.

Sekarang ia tetap berdiri.

“Aku percaya,” jawabnya.

Jari Sebastian bergerak kecil di sisi tubuhnya.

Sekretaris kembali bersama tiga petugas keamanan, dua di antaranya perempuan. Sebastian langsung berbalik.

“Amankan seluruh rekaman mulai lima belas menit sebelum tamu Wijaya Group masuk,” perintahnya. “Catat pakaian yang dilepas dan upaya menyentuh tanpa persetujuan. Hubungi tim hukum untuk pelecehan seksual dan pelanggaran akses.”

Celine membelalak. “Kamu mau menuduhku?”

“Bukan menuduh.” Sebastian menatap kamera kecil di sudut langit-langit. “Membuktikan.”

“Wijaya Group tidak akan diam!”

“Bagus. Minta mereka datang bersama pengacara.”

Petugas perempuan memberi Celine jas panjang untuk menutupi tubuh sebelum membawanya keluar. Celine sempat menoleh kepada Vivi dengan mata menyala penuh benci.

“Ini belum selesai.”

Jocelyn tersenyum manis. “Tentu. Rokmu masih tertinggal.”

Pintu lift menutup di depan Celine dan petugas keamanan.

Kantor mendadak sunyi.

Vivi baru menyadari Sebastian berdiri begitu dekat. Aroma bersih bercampur dinginnya pendingin udara mencapai hidungnya.

“Kenapa kamu datang tanpa memberi tahu?” tanyanya.

“Kalau kuberi tahu, aku tidak akan melihat semua ini.”

Rahang Sebastian menegang. “Kamu seharusnya tidak perlu melihatnya.”

“Tapi aku senang aku datang.”

Ia mengucapkannya sebelum sempat berpikir.

Tatapan Sebastian berubah. Tangan yang sejak tadi tergantung di sisi tubuhnya akhirnya bergerak.

Vivi menunduk.

Jemari pria itu telah menyelip di antara jemarinya, dingin dan menggenggam begitu erat seolah baru saja merebut sesuatu kembali dari tepi jurang.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!