Riana Nina Zara adalah seorang wanita yang baik dan punya pembawaan yang ceria. Ia memiliki seorang sahabat baik bernama Alina Raya Wijaya. Mereka sangat dekat karena berteman baik sejak duduk di bangku SMP. Bahkan Riana sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Orangtuanya juga selalu baik kepadanya.
Alina sendiri adalah seorang gadis piatu yang hanya tumbuh besar di bawah pengasuhan ayahnya. Ibunya meninggal dunia setelah setahun melahirkan dirinya. Sejak itu ayahnya tidak pernah menikah kembali karena fokus untuk merawat dan membesarkan dirinya.
Namun suatu hari ayahnya secara tiba-tiba memperkenalkan seorang wanita cantik kepadanya. Dan kedepannya wanita itu akan menjadi ibu sambungnya. Sayangnya ia tak menyukai wanita itu.
Apakah pernikahan itu akan terjadi atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang panas.
Di saat Yasmin berusaha untuk membuka kemeja Ervin, pria itu tampak membuka mata dan menepis tangan Yasmin ketika mengenalinya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya dengan nafas berat.
Ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, tetapi ia tak tahu kenapa. Ia berusaha untuk tetap terjaga semampunya.
"Ervin! Maafkan aku! Aku terpaksa melakukan ini. Aku sedang mengandung. Aku tidak punya pilihan lain. Ini tidak akan lama. Aku akan memuaskan mu!" Ia menyentuh wajah Ervin.
Lagi-lagi pria itu menepis tangannya, tetapi ia malah semakin merasa aneh. Tubuhnya semakin terasa panas. Padahal ruangan itu dilengkapi dengan AC.
Ia tak bisa lagi berpikir. Dan Yasmin melanjutkan membuka kemejanya dan tidak membuang-buang waktu lagi. Obatnya pasti sudah benar-benar bekerja saat ini.
Namun ketika dia sedang berusaha membuka kemejanya, seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Room service!"
...****************...
"Room service!" Riana berseru sambil mengetuk pintu kamar tersebut.
Harap-harap Yasmin akan terpancing dan membuka pintu kamar.
Terdengar suara pintu yang terbuka. Wanita itu keluar dengan raut wajah kaget melihatnya berdiri di depan pintu.
"Dimana om Ervin?" Riana menerobos masuk tanpa izin.
Ia melihat Ervin terduduk di atas ranjang dengan kemeja yang sudah terbuka. Namun pria itu tampak dalam keadaan setengah sadar. Ia menggeliat seperti sedang kepanasan.
"Kamu temannya Alina, 'kan?" tanya Yasmin ketika mengenalinya.
Riana hendak mendekati Ervin , namun Yasmin tentu saja segera mencegahnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Cepat pergi! Jangan ikut campur urusan ku!" Yasmin menggeram marah hingga mendorongnya.
Riana nyaris terjatuh. Namun ia tidak menyerah begitu saja.
"Seharusnya saya yang bertanya, apa yang sudah tante lakukan pada om Ervin? Kenapa om Ervin jadi seperti itu?" tanyanya balik setengah berteriak.
"Ini bukan urusan kamu. Cepat pergi dari sini!" usirnya.
"Tidak. Saya akan membawa om Ervin pergi dari sini. Tante yang seharusnya pergi dari sini. Atau saya akan laporkan tante ke polisi. Pasti ada banyak rekaman CCTV di sini yang bisa dijadikan bukti. Dan klub malam ini adalah milik temannya om Ervin. Sudah pasti dia akan membantu dengan sukarela, 'kan?" gertak Riana menyuarakan isi pikirannya yang muncul dengan tiba-tiba.
Ia berharap jika Yasmin ketakutan dengan gertakannya itu.
Sesuai dengan harapannya, Yasmin tampak berpikir kembali. Walaupun ia berhasil mengusirnya, Riana pasti akan menceritakan segalanya pada Ervin ketika dia sadar nanti. Dan Ervin tidak akan tinggal diam ketika mengetahui segalanya.
"Kali ini aku akan membiarkan mu. Awas saja kamu nanti!" ancamnya.
Yasmin akhirnya pergi dari sana.
Riana segera menghampiri Ervin yang tampak gelisah. Nafasnya tersengal-sengal dan tubuhnya basah karena berkeringat.
"Om Ervin! Om! Sadar om! Ini Riana! Om Ervin!" Riana berusaha memanggilnya dengan menepuk pipinya.
Tetapi Ervin tidak menyahut panggilannya. Ia hanya mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Apa yang sebenarnya sudah diberikan oleh Yasmin? Kenapa om Ervin sampai seperti ini?"
Riana berusaha untuk terus memanggilnya.
"Om! Lihat Riana, om!" ia menyentuh wajahnya dan memaksanya untuk melihat kearahnya.
Wajahnya terasa sangat panas.
Ervin menatapnya, namun sepertinya ia tak bisa melihat Riana dengan jelas karena ia tampak memicingkan matanya. Nafasnya tampak berat.
"Aku tidak bisa membawanya sendirian. Aku harus menelepon Reyhan untuk membantu ku." Ayana lalu beranjak dari tempat tidur. Namun, Ervin menarik tangannya.
"J-jangan pergi!" cegahnya terbata-bata.
"Tidak, om! Aku tidak pergi, aku cu..... Akhh!" pekiknya ketika Ervin menariknya ke dalam pelukannya secara tiba-tiba.
Kini Riana berada tepat di atas pangkuannya. Menatap wajah tampan itu dari jarak sedekat ini membuat Riana terpana untuk beberapa detik sebelum akhirnya dia sadar jika ini bukanlah sesuatu yang baik.
Ervin mendekap tubuhnya sangat kuat hingga Riana tak mampu bernafas dengan benar.
Ia cukup kesulitan untuk melepaskan tubuh kurusnya dari dekapan pria yang punya ukuran tubuh jauh lebih besar darinya. Apalagi dengan masa otot yang di latih dengan sangat baik selama ini.
"Om, lepaskan aku, om! Tolong sadarlah! Aku Riana, om!" pintanya dengan ketakutan.
"Tolong aku! Aku... Sudah tidak bisa tahan lagi. Ini sangat... panas. Bantu aku sekali saja. Aku akan bertanggung jawab setelah ini." ucapnya sambil menahan diri.
Riana benar-benar tidak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Dia harus menolong apa?
"Apa yang om maksud? Aku tidak mengerti apa yang sedang om bicarakan? Lepaskan aku, om!" Riana tampak meronta-ronta sambil memohon.
Namun Ervin malah mendorongnya hingga ia terbaring di atas ranjang. Sementara tubuh tegap Ervin menindihnya hingga ia tak bisa bergerak.
Ia mencoba untuk mendorong tubuhnya dengan kedua tangannya. Namun usahanya tampak sia-sia. Ervin mengangkat kedua tangan Riana di atas kepalanya, lalu dengan satu tangannya yang kuat menyatukan kedua tangan itu dalam cengkeramannya.
Sementara tangan lainnya, berusaha untuk membuka gaun Riana dengan sikap tak sabar.
Riana memekik keras dan berteriak. Sayangnya mungkin tak ada seorangpun yang mendengar teriakannya.
Penghuni kamar-kamar di klub ini adalah orang-orang mabuk yang tak mungkin lagi sadarkan diri.
"Om ... ku mohon, tolong sadarlah! Jangan melakukan hal ini. Ku mohon....." ia mulai menangis.
"Ssttt.... jangan menangis. Ini tidak akan sakit. Hanya sekali saja." ucapnya sambil menciumi leher jenjangnya dengan penuh nafsu.
Seluruh usahanya untuk memberontak, menghindar dan menolaknya malah membuat Ervin semakin menggila hingga tak lagi bisa mengontrol dirinya sendiri.
Riana hanya mampu menangis dan menahan semua rasa sakit itu sendiri.
Ervin mungkin akan sangat menyesal keesokan harinya, namun semua telah terjadi tanpa di sadarinya.
...****************...
Sementara itu di bawah, Reyhan sedang kebingungan mencari Riana. Sedari tadi ia mencoba untuk menghubunginya, tetapi tidak ada jawaban.
Ia mencari ke setiap sudut ruangan tapi tidak menemukannya.
"Apa mungkin dia ada di lantai 3? Tapi mana mungkin mereka ada di sana. Apa Riana sudah pulang? Mungkin saja dia pulang dengan pria itu. Pria itu tampak sangat protektif terhadapnya." ia menduga-duga.
"Ah! Nggak mungkin Riana pulang tanpa ngabarin aku. CK .. Terus dimana mereka sekarang. Aku akan cari di lantai 3. Siapa tahu mereka ada di sana."
Reyhan lalu berlari ke lantai 3, namun tak jadi karena Kevin memanggilnya.
"Kamu mau kemana?" tanyanya.
"Aku mau ke lantai 3."
"Mau ngapain kamu ke sana? Itu tempat orang dewasa. Banyak pemabuk berat yang tidur di sana. Sebagian juga hmm... Kamu tahulah!" Kevin tampak menjelaskan.
"Aku sedang mencari Riana. Dari tadi aku tidak melihatnya. Aku sangat khawatir padanya. Ini sudah sangat larut. Aku harus membawanya pulang sekarang." jelas Reyhan.
"Kenapa kamu nggak telepon aja." sarannya.
"Sudah. Tapi dia nggak jawab teleponnya. Aku benar-benar khawatir padanya."
"Tapi nggak mungkin juga, kan dia ada di atas. Memangnya dia mau ngapain juga kalau ke sana? Sudahlah! Dia mungkin sudah pulang. Mungkin dia kelamaan nunggu kamu di toilet tadi. Jadi dia pulang sendirian. Oh! Mungkin dia di antar pulang sama om Ervin. Soalnya tadi aku sempat lihat mereka lagi ngobrol bareng." jelas Kevin.
"Oh ya! Hmm... kalau sama om Ervin berarti dia aman. Mungkin mereka memang udah pulang. Lusa nanti aku akan minta penjelasan sama dia." ucap Reyhan.
"Ya, udah! Sekarang kita lanjut pesta lagi. Makin malam makin seru lho." ucap Kevin.
"Ah nggak ah! Aku mau pulang aja. Ini udah malam banget." tolak Reyhan .
"Kamu ini lugu banget sih. Lagian besok kan libur. Jadi sekali-kali gak masalah kan kalo pulang telat. Ayolah!" paksanya.
"Baiklah! Tapi sampai jam 12 aja ya."
"Iya. Aku juga gak mungkin sampai pagi di sini. Bisa-bisa ntar aku di hajar papaku."
"Ok deh!" Reyhan mengikuti sahabatnya itu.
Malam semakin terasa meriah. Suasana terasa semakin panas dan menggelora.
...****************...