Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Nasehat
"Mamas... Mamas..." Panggil Bima yang berlari ke arah Aka.
"Kenapa, Bim?" Tanya Aka yang sedang menyapu halaman.
Bocah empat tahun itu memang terbiasa menyapu halaman rumah setiap pagi. Ia selalu mengerjakan tugasnya tanpa di perintah oleh Mbun atau Romonya.
"Mamas lagi nyapu halaman?" Tanya Bima saat melihat Aka sedang menyapu.
"Enggak, Bim. Garukin rumput ini lho, kata rumputnya dia gatel, makanya minta di usuk - usuk." Jawab Aka sambil terus menyapu. Sementara, Bima hanya bisa tertawa mendengar jawaban dari Mamasnya itu.
"Aku bantuin ya, Mas." Ujar Bima yang kemudian menghampiri Aka.
"Bantuin kok gak bawa sapu?" Tanya Aka sambil melihat ke arah Adiknya.
"Ini aku bantuin pegangin cikrak (pengki)." Kata Bima dengan wajah tanpa dosa.
"Sekalian bantuin doa, Bim. Biar cepet selesai." Kata Aka.
Berbeda dengan Aka yang sedikit pendiam, Bima adalah orang yang lebih aktif dan cerewet. Ia akan selalu bertanya pada Mamas tersayangnya itu tentang banyak hal, meskipun Mamasnya juga belum tau jawaban dari pertanyaan Bima.
Bahuraska, meskipun baru berusia empat tahun, namun kewibawaannya sangat terlihat. Ia tampak selalu tenang dan bisa mengontrol emosi.
Sikap tenang Aka sudah terlihat sejak ia masih kecil. Disaat anak seusianya kerap kali menangis tantrum, namun hal itu hampir tak pernah terjadi pada Aka.
Tetapi, seperti Arjuna kecil, Aka kecil pun selalu membuat gebrakan yang kerap kali membuat keluarganya mengelus dada.
"Mamas... Mamas..." Panggil Bima setelah membuang sampah dedaunan yang sudah di sapu oleh Aka.
"Dalem." Jawab Aka.
"Aku mau buah sirsak itu, Mas." Kata Bima sambil menunjuk ke arah pohon sirsak.
"Belum mateng itu buahnya, Dek." Jawab Aka.
"Emangnya Mamas gak bisa bikin buahnya mateng?" Tanya Bima.
"Gak bisa lah, Bim. Aneh - aneh aja kamu ini." Jawab Aka sambil geleng - geleng kepala.
"Tapi aku pingin buah sirsak, Mamas gak bisa cariin yang mateng?" Tanya Bima sambil merebahkan diri di paha Aka yang duduk di lincak (kursi panjang yang terbuat dari bambu) sembari menikmati hangatnya matahari pagi.
Aka menghela nafas. Meski ia merasa jengah dengan permintaan Bima yang macam - macam, namun ia tak tega jika harus menolak keinginan Adiknya itu.
Aka mulai memejamkan mata. Tangannya bergerak ke kanan dan ke kiri beberapa kali sebelum berhenti dan kembali membuka mata.
Bima yang tidur di pangkuan Aka, hanya bisa berkedip - kedip sembari menatap ke arah Aka dengan wajah polosnya.
"Mamas ngapain?" Tanya Bima.
"Gak ngapa - ngapain." Jawab Aka.
"Kita kapan sekolah ya, Mas? Nty Ncim sama Mbak Ara aja udah sekolah." Kata Bima yang mengalihkan pembicaraan.
"Emangnya kalo kita ke sekolah, nanti gak di terima dan di suruh pulang karena masih kecil, Mas?" Tanya Bima kemudian.
"Kamu kata siapa?" Aka justru balik bertanya.
"Kata Opa!" Jawab Bima.
"Mungkin iya, makanya kita masih belum sekolah." Jawab Aka.
Keduanya kembali terdiam. Pagi - pagi seperti ini, terasa sepi bagi mereka berdua karena Shima dan Ara sudah berangkat ke sekolah.
Tuk!
"Adooohh!" Seru Bima yang langsung terduduk sambil mengusap dahinya.
"Ngapa, Bim?" Tanya Aka.
"Bathuk (dahi) ku kejatuhan apa ini..." Kata Bima sambil mencari benda yang mengenai dahinya.
"Ini lho, Dek." Kekeh Aka sambil menunjukkan satu buah jambu air kecil yang tadi jatuh mengenai dahi Bima.
"Kok ada jambu?" Tanya Bima dengan bingung.
"Mamas juga gak tau." Jawab Aka sambil melihat kesana dan kemari, seperti sedang mencari sesuatu.
Melihat Aka yang celingukan, Bima pun ikut celingukan sembari menggigit jambu yang tadi jatuh dan mengenai dahinya.
Tak lama kemudian, gerombolan burung yang terbang menghampiri mereka. mereka menjatuhkan berbagai macam jenis buah di atas rumput yang ada di dekat Aka dan Bima sebelum kembali terbang.
"Wuaaahh! Wuaaah! Ada sirsak matang!" Seru Bima saat melihat ada beberapa buah sirsak yang masak.
Bima yang kegirangan itu segera mengumpulkan berbagai jenis buah yang di jatuhkan oleh burung - burung itu.
Sementara, Aka hanya tersenyum saat melihat adiknya yang begitu girang mengumpulkan buah - buahan.
"Mamas hebat! Makasih ya, Mas." Ucap Bima dengan riang.
"Maa Syaa Allah! Pagi - pagi dapet buah dari mana, Le?" Tanya Arjuna saat melihat Bima menyusun banyak buah di atas lincak.
"Di kasih sama burung, Mo! Tadi ada burung banyak yang bawa buah - buahan ini. Mamas Aka yang panggil." Kata Bima sambil tersenyum bangga.
"Iya, Mas?" Tanya Arjuna.
"Adek minta sirsak, Mo. Tapi yang itu kan belum mateng." Kata Aka sambil menunjuk ke arah buah sirsak yang ada di halaman rumah.
"Jadi aku suruh burung cariin buah sirsak. Tapi malah di bawain buah banyak kayak gini." Imbuh Aka yang membuat Arjuna geleng - geleng kepala.
"Mamas, Adek, sini. Romo mau bicara." Kata Arjuna yang memanggil dua putranya.
Bima dan Aka pun segera menghampiri Arjuna yang sedang duduk di teras. Keduanya lalu duduk di sebelah kanan dan kiri Arjuna.
"Mamas, Romo tau kalau Mamas sayang sama Dek Bima. Tapi, gak semua hal harus Mamas turuti." Kata Arjuna yang mulai menasehati putranya.
"Gini lho, Nang. Romo kan sudah pernah bilang kalau kamu jangan selalu nuruti mintanya adekmu. Bukan Romo melarang Mamas nunjukin kasih sayang Mamas ke Dek Bima, tapi, jangan terlalu sering menggunakan kemampuanmu."
"Kemampuanmu itu di gunakan untuk menolong orang yang terdesak dan butuh pertolongan. Bukan untuk menuruti kesenangan atau keinginan sendiri yang tidak penting. Paham, Nang?" Tanya Arjuna.
"Njih, Romo." Jawab Aka.
"Romo... Jangan marahin Mamas, ya. Bima yang minta Mamas cariin buah." Kata Bima dengan wajah khawatir.
"Romo gak marahin Mamas. Romo cuma menasehati Mamas Aka." Jawab Arjuna sambil. Tersenyum.
"Dek Bima juga gak boleh minta macam - macam ke Mamas karena tau kalau Mamas punya kemampuan yang berbeda dengan kita. Semua kemampuan yang di miliki Mas Aka, itu harus di gunakan untuk menolong orang." Ujar Arjuna.
"Kan Mamas nolong Bima, Mo. Bima kan orang." Kata Bima.
"Bima juga terdesak karna pingin makan buah sirsak, Mo." Imbuh Bima lagi.
"Kan bisa bilang sama Romo atau Mbun. Nanti Romo atau Mbun belikan." Kata Arjuna.
"Nanti lama kalau nunggu romo sama Mbun. Romo kan mau ke Balai Desa dulu. Minta sama Mamas Aka aja, lebih cepet." Kata Bima yang masih saja mengeyel.
Mendengar itu, tak ayal langsung membuat Aka menepuk dahinya. Sementara Arjuna hanya bisa memijat pelipisnya.
"Dasar ponakannya Dipta! Mbok ya nurun Papamu gitu lho, Le. Papa mu lebih mending dari pada Pakde Dipta. Lha kok polahmu malah nurun Dipta." Kata Arjuna.
perpaduane Aksa, Arjuna plus Dipta
🤣🤣🤣🤣