Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.
Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.
Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.
Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.
Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA
FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Perjalanan menuju Rumah Utama keluarga Alexander memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. Rumah Utama tersebut terletak di sebuah kawasan elite bersejarah di mana harga tanahnya tidak masuk akal.
Rumah itu berdiri di atas lahan seluas satu hektar, sebuah bangunan kolonial megah dengan pilar-pilar putih raksasa yang diterangi lampu-lampu taman berwarna kuning keemasan, memancarkan aura kekuasaan lama yang absolut.
Begitu mobil berhenti di lobby depan, dua pelayan berseragam langsung membukakan pintu. Leon turun terlebih dahulu, lalu dengan jantan mengulurkan tangannya untuk membantu Alina keluar. Alina menyambut tangan itu, merasakan kehangatan yang kontras dengan sikap dingin sang pemilik.
Mereka dipandu melintasi koridor luas berlantai marmer kuno yang mengkilap, menuju ruang makan utama. Di sana, di ujung meja makan kayu panjang yang terbuat dari kayu mahoni utuh, telah duduk dua orang tua dengan pakaian yang sangat elegan.
Bramantyo Alexander, sang kakek, duduk dengan punggung tegak meskipun rambutnya telah memutih sepenuhnya. Tatapan matanya tajam, menyelidiki setiap gerak-gerik Alina.
Namun, reaksi berbeda datang dari sang nenek, Kartika Alexander. Begitu melihat cucu tunggalnya datang menggandeng seorang wanita, Nyonya Besar itu langsung berdiri dari kursinya.
"Leon! Akhirnya kamu membawa menantuku pulang!" suara Nyonya Kartika terdengar antusias, memecahkan ketegangan di ruangan itu.
Leon membawa Alina mendekat, lalu membungkuk hormat mencium tangan kedua kakek-neneknya. Alina mengikuti gerakan Leon dengan anggun, persis seperti yang diajarkan Jefri siang tadi.
"Nenek, Kakek, perkenalkan... ini Alina, istriku." ucap Leon, suaranya melembut dengan sangat natural, lengkap dengan tatapan penuh kasih tiruan yang dia arahkan pada Alina.
Nyonya Kartika memegang kedua pundak Alina, menatap wajah cantik menantunya dengan saksama. Senyum hangat terukir di wajah keriputnya yang terawat.
"Cantik sekali. Latar belakang keluargamu memang sedang jatuh, Sayang, tapi binar matamu jujur. Nenek tidak peduli kamu bukan dari keluarga kaya raya terkini. Yang terpenting bagi Nenek... apakah kamu bisa setia dan menjaga cucuku yang keras kepala ini?" tanyanya dengan serius dan penuh permohonan.
Alina tersentuh oleh kehangatan yang tak terduga dari sang nenek. Dia membalas senyuman itu dengan tulus.
"Terima kasih, Nenek. Saya... saya akan melakukan yang terbaik untuk mendampingi Leon." jawab Alina dengan lembut.
"Bagus, bagus. Mari duduk, makanan sudah siap." ajak Nyonya Kartika, menuntun Alina untuk duduk di samping Leon.
Namun, atmosfer hangat itu mendadak kembali mendingin ketika suara dehaman berat terdengar dari ujung meja. Kakek Bramantyo menatap Alina dengan mata menyipit, melipat kedua tangannya di atas meja.
"Jangan terlalu cepat bersemangat, Kartika." ujar Kakek Bramantyo, suaranya berat dan mengintimidasi.
"Menjadi seorang Alexander tidak cukup hanya dengan wajah cantik dan kesetiaan di atas kertas. Pernikahan yang mendadak ini tetap mencurigakan bagi ku. Aku masih kurang setuju dengan caramu mengambil keputusan, Leon. Kamu melompati aturan keluarga." tegas Kakek Bramantyo dengan tegas.
Leon mengetatkan rahangnya, namun dia tetap mempertahankan senyum tenangnya di depan sang kakek.
"Aku tidak melompati aturan, Kek. Aku hanya mempersingkat birokrasi yang tidak perlu. Aku mencintai Alina, dan aku tidak ingin dia menjadi konsumsi publik atau perjodohan bisnis yang melelahkan." seru Leon dengan wajah menahan emosinya.
Alina menatap Leon dari samping. Akting pria ini benar-benar luar biasa. Jika dia tidak tahu tentang kontrak di atas kertas hitam itu, dia mungkin akan benar-benar percaya bahwa Leon sedang memperjuangkan cintanya di hadapan sang kakek.
"Kakek hanya tidak ingin ada orang luar yang memanfaatkan nama besar Alexander untuk keuntungan pribadi atau keluarga mereka yang bangkrut." lanjut Kakek Bramantyo, kalimatnya langsung menusuk tepat ke arah ulu hati Alina.
Alina mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan rasa sesak. Kalimat sang kakek tidak sepenuhnya salah karena dia memang memanfaatkan uang Leon untuk mengobati Agra, namun mendengarnya diucapkan secara langsung tetap saja terasa seperti tamparan yang menyakitkan pada harga dirinya.
Melihat perubahan raut wajah Alina, Nyonya Kartika segera menepuk tangan Alina dengan lembut di atas meja.
"Sudahlah, Bramantyo. Ini malam pertama cucu menantumu datang. Jangan mulai dengan urusan bisnis dan kecurigaanmu yang berlebihan itu. Biarkan mereka menikmati makan malam." tutur Nenek Kartika mencoba menjadi penengah didalam ketegangan ini.
Nyonya Kartika lalu beralih menatap Alina lagi, matanya memancarkan binar penuh selidiki yang ramah namun tajam.
"Alina, Nenek akan melihat bagaimana caramu memperlakukan Leon ke depan. Ujian seorang istri bukan saat suaminya berada di atas, tapi bagaimana dia menjaga rahasia dan kehormatan suaminya. Nenek berharap kamu tidak mengecewakan pilihan Leon." ujar Nenek Kartika.
"Saya mengerti, Nenek. Saya tidak akan mengecewakan pernikahan ini," jawab Alina dengan ketegasan yang murni.
Dia berjanji dalam hati, selama satu tahun kontrak ini, dia akan menjaga rahasia Leon dengan nyawanya sendiri sebagai bayaran atas keselamatan Agra.
Makan malam pun dimulai dengan denting sendok dan garpu perak yang beradu halus dengan piring porselen.
Di bawah meja, di sela-sela ketegangan interogasi terselubung dari sang kakek, Leon tiba-tiba meraih tangan kiri Alina yang berada di atas pangkuannya, menggenggamnya dengan erat di bawah lipatan kain gaun.
Sentuhan itu mengejutkan Alina. Dia menoleh ke arah Leon, namun Leon tetap fokus menjawab pertanyaan kakeknya dengan tenang. Genggaman tangan Leon terasa hangat dan kokoh, seolah mengirimkan pesan tak bersuara.
'Bertahanlah, kita hampir menyelesaikan babak pertama.'
Makan malam yang menegangkan itu akhirnya usai saat jarum jam dinding antik di ruang tengah Rumah Utama berdenting sebanyak sepuluh kali.
Angin malam ibu kota berembus rendah di balik jendela-jendela tinggi, membawa hawa dingin yang perlahan menembus pori-pori. Alina menghela napas lega dalam hati, mengira bahwa penderitaan sandiwaranya untuk hari ini telah selesai dan dia bisa segera pulang ke griya tawang untuk mengistirahatkan kepalanya yang pening.
Namun, tepat saat Leon berdiri untuk berpamitan, Nyonya Kartika mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar mereka kembali duduk.
"Ini sudah hampir larut malam, Leon. Jalanan ke apartemenmu pasti macet dan melelahkan," ucap Nyonya Kartika dengan nada yang tidak menerima bantahan.
"Kamar lamamu di lantai atas sudah disiapkan oleh pelayan sejak sore tadi. Menginaplah di sini malam ini. Nenek masih ingin melihat cucu menantuku besok pagi di meja sarapan." utas Nenek Kartika.
Leon sempat menegang. Rahangnya mengencang sedetik sebelum dia memaksakan sebuah senyuman tipis khas aktor utamanya.
"Nek, besok pagi-pagi sekali aku ada jadwal pembacaan naskah di studio. Lebih baik kami..." ucapnya terpotong.
"Hanya sarapan satu jam tidak akan membuat filmmu bangkrut, Leon." potong Kakek Bramantyo dari balik koran bisnisnya, suaranya berat dan mutlak.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kuraanggg terus
kelamaan nunggu bsok thor😭😭😭😭
apa lagi perasaan wanita yg lemah lembut kaya lelembut wehhh melot duluan
gak sabar nunggu leon bucin akut 🤣🤣🤣