Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.
Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.
Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Michelle benci harus keluar malam, tapi sekarang ia malah berada di sebuah tempat yang bisa dibilang pasar tapi hanya aktif saat malam hari, entah namanya apa.
Michelle berjalan menyusuri jalanan setapak yang diapit tenda-tenda pedagang kaki lima, ada banyak jenis makanan dan barang-barang yang dijual, tapi Michelle belum menemukan apa yang ia cari.
Tadi Michelle bertanya pada Meyra di mana bisa menemukan penjual sup iga yang enak malam-malam seperti ini, dan kata Meyra di tempat ini ada.
Rita dan Jordan tidak di rumah, Alvin ada di kamarnya dan Michelle tidak berani mengganggu cowok itu. Michelle tahu Alvin belum makan sejak pulang sekolah, bahkan cowok itu tidak ikut makan malam bersamanya tadi, karenanya Michelle berniat membelikan makanan kesukaan cowok itu.
"Ini pedagangnya yang mana sih? Kata Meyra ada yang jual," gerutu Michelle saat tidak menemukan penjual sup iga yang ia cari.
Michelle mendengus kesal, sepertinya Meyra membohonginya. Awas saja, besok Meyra tidak akan bisa tenang selama di sekolah.
"Sendirian aja?"
"Astaga!" Michelle terlonjak saat seseorang tiba-tiba bertanya di samping telinganya. "Raffa?"
"Hai," cowok berhoodie hijau army itu melambaikan tangannya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Michelle, lalu celingukan. "Sendirian aja nih?"
"Sama lo,"
"Ha?"
Raffa tertawa melihat Michelle tampak cengo, mereka jalan beriringan menyusuri jalan yang semakin malam semakin sesak.
"Lo ngapain di sini? Nyari penjual apa?" tanya Raffa yang melihat Michelle celingukan.
"Nyari penjual sup iga, tapi di mana ya, Raf?" Michelle masih celingukan.
"Banyak, tapi gue tau yang enak. Ayo ikut gue."
Michelle tersentak saat Raffa meraih lengannya dan langsung menariknya ke deretan tenda pinggir jalan, ia tidak punya pilihan selain mengikuti langkah cowok itu walau sempat terseret.
"Nah, ini, gue pernah beli iga di sini dan rasanya duh mantap banget," kata Raffa. "Ayo sekalian gue juga mau beli, pesen dua nih?"
"Michel?"
Michelle mengerjap. "Iya? Apa?"
Raffa menarik kedua ujung bibirnya membetuk seulas senyum. "Jangan kebiasaan ngelamun Michel, nggak baik."
Michelle meringis, bagaimana ia tidak melamun jika beberapa saat yang lalu mendapat terlalu banyak kejutan. Bahkan rasanya hari ini adalah hari penuh kejutan dalam sejarah hidup Michelle.
"Pesen dua nih?"
"Eh, gue dibungkus aja, mau makan di rumah."
"Oh, yaudah gue juga dibungkus aja." Cowok itu menghampiri pedagang sup iga, sementara Michelle hanya memerhatikan.
Dari sudut ini, wajah Raffa tersorot lampu penerangan dengan sempurna, membuat lekuk wajah cowok itu terlihat. Raffa adalah cowok yang terlahir dengan wajah tersenyum, setiap mengobrol pasti tampak lengkungan pada bibirnya.
Tidak salah jika Meyra bilang pernah tertarik dengan cowok itu, Raffa termasuk salah satu siswa pandai di kelas, dia ramah, dan poin plus di mata cewek adalah dia tampan, dengan postur tubuh tinggi dan merupakan atlet renang sekolah.
Mendekati sempurna.
"Baru beberapa saat lalu gue bilang jangan ngelamun."
Michelle mengerjap, Raffa sudah berdiri di sebelahnya. Cowok itu tampak melepas hoodie yang sedang ia pakai, membuat Michelle langsung membuang muka.
"Lo kayaknya suka banget pakek lengan pendek ya, Chel?" tanya Raffa, lalu menyodorkan hoodienya. "Tapi kalau malem dan cuaca dingin begini, biasain pakek jaket, atau kalau nggak ya lengan panjang. Nggak baik kenak angin malam begini, entar bisa sakit."
Michelle memerhatikan hoodie Raffa, lalu menggeleng. "Jaket lo aja masih di gue Raf, berasa gue nimbun barang-barang lo aja," jawab Michelle, lalu terkekeh. "Pakek aja, lo juga pakek lengan pendek, entar lo sakit."
"Lo tau nggak, Chel?" tanya Raffa, membuat Michelle menatap cowok itu. "Cowok bisa jadi lebih kuat waktu dia di posisi harus melindungi."
Kening Michelle berkerut. "Maksudnya gimana?"
Raffa tersenyum. "Gue bisa nahan dingin, karena sekarang posisi gue harus ngelindungi. Ada orang lain yang butuh hoodie ini."
"Pakek hoodie gue ya, biar lo nggak kedinginan. Karena sekarang lo sama gue, jadi gue ngerasa punya tanggung jawab ngelindungin lo."
Jawaban Raffa membuat Michelle tertegun, lalu mengerjap. Michelle menatap random menghindari mata Raffa yang menatapnya teduh.
"Apaan sih, kok jadi aneh begini," ujar Michelle, lalu tertawa garing.
Raffa tetap menarik ujung bibirnya. "Lo kalau salting lucu ya?" Cowok itu terkekeh. "Jadi pengen gue milikin."
.
.
.
.
.
Mungkin yang dikatakan Raffa benar, melamun sudah menjadi kebiasaan Michelle, kebiasaan buruk.
Seperti sekarang, Michelle berdiri di halte bus tidak jauh dari pasar tadi. Ia sengaja langsung pergi setelah membayar sup iga pesanannya untuk menghindari Raffa yang sempat mengajaknya pulang bareng.
Michelle tidak kuat lagi jika harus berlama-lama dengan Raffa, bisa-bisa pingsan overdosis senyum manis cowok itu. Apalagi kata-kata Raffa yang membuatnya semakin tidak fokus. Michelle menggeleng, untung saja ia langsung ingat Alvin sebelum oleng.
Drrt drrt
Michelle menunduk saat merasa ponsel di sling bagnya bergetar, cewek itu mengusap lengannya yang kedinginan sebelum mengambil ponselnya. Harusnya tadi Michelle menerima pinjaman hoodie dari Raffa karena malam ini benar-benar dingin.
Kak Alvin💕
Senyum Michelle seketika mengembang saat melihat nama Alvin tertampil di sana, ini pertama kali cowok itu menelponnya.
"Hall—"
"Lo di mana?!"
Michelle reflek menjauhkan ponselnya dari telinga saat suara berat Alvin terdengar dengan nada tinggi, membuat Michelle terkejut sampai jantungnya berdetak lebih cepat.
"Michelle?"
Michelle menggigit bibir bawahnya, mendekatkan ponselnya dengan ragu, takut kalau Alvin akan berteriak lagi.
"A-aku ada di deket pasar, Kak— hachu!"
Tangan Michelle reflek terangkat menutup mulutnya karena tiba-tiba bersin, pasti Alvin mendengar suara bersinnya, bisa-bisa cowok itu marah.
"Kak, aku—"
"Share lok!"
Beep
Sambungan diputus sepihak, Michelle menepuk bibirnya sendiri sambil menggerutu. Kalau sampai ia pulang dan bersin-bersin terus, lalu Rita mengetahuinya, bisa gawat. Apalagi kalau Jordan tahu, pasti Alvin yang disalahkan.
Bodoh! Michelle bodoh! Ia berniat keluar mencari makan untuk Alvin, tapi malah mendatangkan masalah untuk cowok itu. Kalau Jordan sampai marah pada Alvin, sudah dipastikan jarak antara Michelle dan Alvin akan semakin jauh.
Dengan ragu Michelle segera mengirimkan lokasi di mana ia berada sekarang, pesan langsung dibaca menandakan Alvin menunggu cewek itu segera mengirimnya.
Michelle meringis, tidak bisa membayangkan ekspresi Alvin sekarang. Ia tadi sengaja tidak izin pada Alvin karena ia pikir cowok itu tidur, matilah Michelle akan kena omelan dari cowok itu.
Tidak apa-apa kalau hanya dimarahi, bagaimana kalau didiami sampai berminggu-minggu? Atau bahkan diusir dari rumah? Tidak! Michelle tidak mau!
Sebuah motor berwarna putih terparkir di sisi jalan dekat halte tempat Michelle berteduh, hujan yang belum sepenuhnya reda membuat Michelle masih bisa melihat titik air di jaket cokelat Alvin.
Michelle beranjak saat Alvin melepas helmnya, wajah cowok itu datar seperti biasa, tapi Michelle melihat sorot lain di mata hitam cowok itu.
"Ngapain di sini?" tanya Alvin dengan nada rendahnya.
Michelle menunduk, tubuh yang sejak tadi merinding kedinginan kini semakin merinding mendengar suara Alvin yang mengintimidasi.
"Kalau gue nanya dijawab! Ngapain di sini?"
Michelle tersentak sampai spontan mendongak, menatap Alvin yang tampak tenang-tenang saja namun Michelle masih bisa melihat sorot itu. Alvin marah, pasti.
Kedua mata Michelle memanas, ia kedinginan, tidak mendapat taksi atau pun ojek online karena sedang hujan. Ia sendirian di halte yang remang ini, setitik kebahagiaan datang saat nama Alvin tertampil di layar ponselnya. Michelle berharap Alvin akan datang karena mengkhawatirkannya yang pergi tanpa pamit, tapi apa? Alvin memarahinya.
"Aku mau pulang, Kak, takut," ucap Michelle lirih, air mata yang tidak bisa ditahan langsung luruh tepat saat lampu halte yang menyorot mereka berdua tiba-tiba mati dengan suara letupan kecil.
Michelle menunduk, isakkan putus-putus mulai terdengar. Ia takut, benar-benar takut. Michelle takut karena tadi ia sendirian, Michelle takut dengan nada tingga Alvin, tatapan cowok itu, dan sekarang lampu temaram yang mati. Ketakutan Michelle berada di puncaknya, Michelle hanya ingin pulang dan meringkuk di bawah selimut birunya.
"Michelle."
Isakkan Michelle tertahan saat sebuah tangan menariknya hingga tubuhnya menubruk dada bidang seseorang, ia membeku saat dua lengan besar itu merengkuhnya.
"Jangan pergi tanpa bilang," ujar suara berat itu. "Mama nyariin lo."
Bahkan saat setitik harapan itu ada, Michelle kembali dihempaskan rasa kecewa. Michelle kira Alvin akan bilang kalau cowok itu yang mengkhawatirkannya.