NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.1k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22 - Dinda Dan Mahar Yang Ditawar

Dinda datang ke ruko sore itu dengan mata bengkak dan dua gelas es kopi.

Safira sedang merapikan sampel kain Bu Laras ketika sahabatnya mendorong pintu kaca tanpa salam yang benar. Dinda sudah menjadi teman Safira sejak kursus menjahit singkat lima tahun lalu. Ia bekerja sebagai admin klinik kecantikan, cerewet, cepat tertawa, dan biasanya datang seperti radio menyala.

Hari ini radionya rusak.

"Aku boleh nangis di sini?" tanya Dinda.

Safira langsung meletakkan kain. "Boleh. Tapi jangan dekat tenun Bu Laras. Mahal."

Dinda menangis sambil tertawa. "Kamu jahat."

"Aku realistis."

Arga yang sedang memasang rak sementara menoleh. "Saya keluar beli makan."

Dinda mengusap mata. "Mas Arga, jangan. Aku tidak mau mengusir suami orang."

"Kamu tidak mengusir. Saya lapar."

Safira tahu Arga memberi ruang. Ia mengangguk kecil. Setelah Arga keluar, Dinda langsung duduk di lantai karena kursi belum datang.

"Reza minta mahar dan seserahan dikurangi lagi."

Safira duduk di depannya. "Lagi?"

Dinda mengangguk. "Awalnya aku minta mahar seperangkat alat salat dan emas lima gram. Seserahan sederhana. Baju, sepatu, skincare, kain. Bukan yang aneh-aneh. Terus ibunya bilang emas lima gram terlalu berat, nanti orang mengira aku matre."

"Lalu?"

"Aku turunkan jadi tiga gram. Sekarang Reza bilang ibunya keberatan karena biaya resepsi dari pihak mereka sudah besar. Padahal resepsi itu mereka yang mau, di gedung pilihan mereka, dengan tamu kantor bapaknya."

Safira menghela napas.

"Dia bilang apa?"

"Katanya, kalau aku benar-benar cinta, aku tidak akan mempermasalahkan angka. Dia bilang lihat kamu. Kamu menikah sederhana, cincin sederhana, tidak banyak menuntut."

Safira menutup mata.

Namanya lagi.

Selalu namanya dipakai untuk membuat perempuan lain mengecilkan diri.

"Din, pernikahanku tidak bisa dijadikan ukuran."

"Aku tahu. Makanya aku marah. Tapi dia bilang kamu bahagia."

"Aku bahagia karena Arga menghormatiku. Bukan karena cincinku murah."

Dinda mengangguk cepat, air matanya jatuh lagi. "Aku juga bilang begitu. Terus dia diam. Ibunya kirim voice note panjang. Katanya perempuan sekarang kebanyakan nonton konten wedding, maunya disanjung, padahal setelah menikah uang suami juga uang istri."

"Dan uang istri?"

"Katanya harus bantu suami."

Safira tertawa tanpa humor. "Klasik."

Dinda membuka es kopi, minum seteguk, lalu menangis lagi. "Aku capek. Aku bukan mau jual diri. Aku cuma ingin masuk pernikahan dengan dihargai. Reza baik, Saf. Tapi setiap ibunya bicara, dia berubah jadi anak kecil."

Safira memegang tangan Dinda.

"Kamu sudah bicara empat mata dengan Reza?"

"Sudah. Dia bilang jangan memperbesar masalah. Katanya setelah menikah juga aku tinggal di rumah ibunya dulu supaya hemat."

"Kamu mau?"

Dinda langsung menggeleng. "Tidak. Aku kerja di klinik sampai malam. Aku tidak mau pulang ke rumah mertua yang dari sebelum menikah sudah menghitung sabunku."

"Kalau begitu bilang."

"Aku bilang. Reza bilang aku tidak mau berjuang dari nol."

Safira diam.

Kalimat itu sering dipakai untuk membuat perempuan menerima keadaan yang tidak adil. Berjuang dari nol, tetapi yang menanggung malu, kerja domestik, adaptasi, dan tuduhan biasanya perempuan.

Dinda mengambil tisu. "Aku iri padamu."

"Jangan."

"Bukan iri uang. Aku tahu Mas Arga masih misterius dan kamu sering pusing karena itu. Tapi dia berdiri di sampingmu. Reza selalu berdiri di belakang ibunya."

Safira tidak langsung menjawab.

Ia ingat Arga di mal, di hotel, di rumah sakit, di ruko. Lelaki itu memang menyimpan rahasia. Tapi ketika dunia mendorong Safira, ia tidak pernah pura-pura tidak melihat.

"Din, kalau kamu merasa sendirian sebelum akad, jangan berharap akad otomatis membuatmu ditemani."

Dinda menatapnya.

Kalimat itu keras, tetapi Safira tidak menariknya.

Pintu kaca terbuka. Arga kembali membawa nasi ayam bakar, batagor, dan air mineral. Di belakangnya ada Bima.

"Saya ketemu orang lapar di parkiran," kata Arga.

Bima menunjuk dirinya sendiri. "Saya orang lapar itu."

Dinda cepat menghapus air mata. "Mas Bima, jangan lihat aku jelek."

Bima menatapnya serius. "Mbak Dinda, saya sering lihat Mas Arga bangun pagi tanpa ekspresi. Standar jelek saya sudah rusak."

Safira tertawa. Dinda juga, meski masih sesenggukan.

Mereka makan di lantai ruko karena kursi belum cukup. Bima duduk bersila, tanpa malu mengambil sambal lebih banyak. Dinda awalnya malu, tetapi Bima terus membuat komentar absurd sampai ia akhirnya makan satu porsi penuh.

Di tengah makan, ponsel Dinda berdering.

Nama Reza.

Dinda menatap layar, ragu.

"Angkat kalau mau," kata Safira. "Speaker kalau kamu ingin kami dengar."

Dinda mengaktifkan speaker.

"Kamu di mana?" suara Reza terdengar kesal.

"Di tempat Safa."

"Ngapain curhat ke orang lain? Masalah kita jadi konsumsi orang?"

Dinda menatap Safira, lalu menjawab, "Aku butuh teman."

"Temanmu itu jangan-jangan yang ngajarin kamu melawan. Sejak dekat sama Safa, kamu jadi hitung-hitungan."

Arga berhenti makan.

Bima mengangkat alis.

Safira tetap diam karena ini pertarungan Dinda.

Dinda menarik napas. "Reza, aku tidak melawan. Aku minta dihargai."

"Dihargai itu tidak harus pakai emas."

"Benar. Tapi kalau dari awal semua yang kuminta dianggap beban, aku perlu bertanya, nanti setelah menikah aku dianggap apa?"

Hening di seberang.

Lalu suara perempuan lebih tua masuk. Ibu Reza.

"Dinda, Tante cuma mau kamu dan Reza hemat. Jangan membuat pernikahan jadi ajang gengsi."

Dinda memejamkan mata.

Bima tiba-tiba mengambil ponselnya sendiri dan mengetik sesuatu. Safira melihat sekilas: `Ini calon mertua model apa?`

Arga menatap Bima. Bima pura-pura minum.

Dinda menjawab, "Tante, kalau hemat, kita bisa mulai dari resepsi gedung. Saya tidak minta gedung besar."

Ibu Reza terdiam.

Reza kembali bicara. "Kamu mempermalukan Ibu."

"Aku tidak mempermalukan. Aku menjawab."

"Kalau begini terus, kita tunda pernikahan."

Dinda membuka mata. Air matanya jatuh lagi, tetapi suaranya stabil.

"Baik. Kita tunda."

Reza seperti tidak menduga. "Din..."

"Aku juga perlu waktu berpikir."

Dinda menutup telepon.

Ruangan hening.

Bima pelan-pelan mengangkat batagor. "Saya boleh bilang sesuatu?"

Arga langsung berkata, "Tidak."

Bima tetap berkata, "Mbak Dinda keren."

Dinda tertawa sambil menangis.

Safira memeluknya.

Di luar ruko, langit Bandung mulai gelap. Lampu jalan menyala satu per satu. Di dalam ruangan yang belum selesai, empat orang duduk di lantai dengan makanan sederhana, menyaksikan satu perempuan memilih dirinya sendiri sebelum terlambat.

Safira menggenggam bahu Dinda.

"Kalau nanti kamu goyah, datang ke sini."

Dinda mengangguk.

Bima menambahkan, "Kalau butuh pura-pura punya pacar lebih tampan dari Reza, saya bisa dipanggil."

Dinda menatapnya di sela air mata.

"Mas Bima, kamu serius atau bercanda?"

Bima tersenyum.

"Tergantung kamu butuh yang mana."

Safira dan Arga saling pandang.

Masalah baru sepertinya baru saja membuka pintu.

Setelah Dinda pulang, Safira membantu Arga merapikan sisa makanan. Bima ikut mengangkat plastik sampah, tetapi ia masih bersiul pelan seperti orang yang baru saja menemukan hiburan baru.

"Mas Bima," kata Safira.

"Iya, Mbak?"

"Dinda sedang rapuh. Jangan jadikan dia bahan bercanda."

Bima berhenti bersiul. Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar serius.

"Saya tahu."

Arga menatapnya, seolah memastikan.

Bima mengangkat kedua tangan. "Saya memang banyak bercanda, tapi saya bukan Reza."

Safira mengangguk. "Bagus kalau kamu tahu bedanya."

Setelah Bima pergi, Safira berdiri di depan pintu ruko yang setengah terbuka. Angin malam masuk membawa bau cat dan debu jalan.

"Aku takut Dinda kembali hanya karena merasa bersalah," katanya.

Arga berdiri di sampingnya. "Itu mungkin."

"Kamu tidak menghibur."

"Kamu tidak butuh kebohongan."

Safira menghela napas. Benar juga. Dinda mungkin harus melewati jalan yang sama: menolak rasa bersalah yang dikemas sebagai cinta.

Ia mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Dinda.

`Apa pun keputusanmu nanti, jangan ambil saat kamu sedang takut. Ambil saat kamu bisa mendengar dirimu sendiri.`

Dinda membalas lama kemudian.

`Aku takut kalau ternyata suara diriku bilang pergi.`

Safira menatap layar itu lama.

Lalu ia menulis:

`Kalau begitu aku temani sampai kamu berani mendengarnya.`

Pesan terkirim, dan Safira tahu perjuangan Dinda baru saja dimulai.

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!