Xu Ming adalah pemuda biasa dari Bumi yang sangat menggemari novel dan komik kultivasi. Suatu hari, keinginannya untuk menjadi tokoh utama benar-benar terkabul. Ia tiba-tiba terbangun di Dunia Tianxuan dan memperoleh Sistem Pembimbing Kultivasi. Namun, alih-alih menjalani petualangan besar, ia justru dipaksa berlatih pedang, berkebun, memasak, melukis, memainkan qin, menulis kaligrafi, hingga melakukan berbagai pekerjaan sederhana selama sepuluh tahun.
Saat Xu Ming mengira perjalanan sebagai seorang kultivator baru akan dimulai, sistem justru menghilang setelah menyatakan bahwa tutorial telah selesai.
Menganggap dirinya masih seorang mortal yang lemah, Xu Ming memilih tinggal di Desa Qinghe dan menjalani hidup tenang. Tanpa ia sadari, seluruh latihan itu telah membuatnya melampaui semua tingkatan kultivasi. Sementara Xu Ming terus meragukan kekuatannya, seluruh dunia justru memanggilnya Senior, menganggapnya sebagai pertapa agung yang menyembunyikan identitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Tiga Orang dari Sekte Awan Hijau
Pagi hari di Desa Qinghe selalu terasa damai.
Kabut tipis menyelimuti ladang.
Embun masih menempel di daun-daun tanaman.
Suara ayam dan burung terdengar bersahutan, menciptakan suasana yang tenang.
Seperti biasa...
Xu Ming sudah bangun sejak fajar.
Setelah menyapu halaman, menyiram kebun, memberi makan ayam dan bebek, ia duduk di bawah pohon persik sambil memegang sebuah balok kayu.
Di tangannya terdapat pisau ukir kecil.
Gerakannya sangat santai.
Potongan kayu jatuh satu per satu.
Perlahan, bentuk seekor burung mulai terlihat.
"Hmm..."
"Bagian sayapnya masih kurang bagus."
Xu Ming memiringkan kepala.
Ia melihat patung kayu kecil di tangannya.
"Kalau dibandingkan dengan yang kubuat dulu, ini masih jauh."
Ia menghela napas.
Selama sepuluh tahun bersama sistem, ia telah membuat ribuan kerajinan.
Namun hingga sekarang...
Ia masih merasa banyak hal yang belum ia kuasai.
Menurutnya, kemampuan yang dimilikinya masih belum cukup.
Padahal...
Jika seorang ahli ukir melihat patung kecil itu, mereka mungkin akan langsung kehilangan kata-kata.
Setiap lekukan.
Setiap goresan.
Semuanya mengandung pemahaman tentang kehidupan.
Bahkan burung kayu itu tampak seperti bisa mengepakkan sayap kapan saja.
Di jalan menuju Desa Qinghe.
Tiga sosok berjalan perlahan.
Mereka adalah Tetua Mu, Tetua Liu, dan Li Qingxue dari Sekte Awan Hijau.
Kali ini Tetua Liu ikut bersama mereka.
Setelah mendengar cerita Tetua Mu tentang kunjungannya sebelumnya, ia juga ingin melihat sendiri kediaman Xu Ming.
Walaupun sebelumnya ia pernah bertemu Xu Ming...
Tetap saja, semakin ia memikirkan pemuda itu, semakin banyak pertanyaan muncul di pikirannya.
"Tempat ini..."
Tetua Liu melihat desa sederhana di depan mereka.
"Benar-benar hanya desa biasa."
Tetua Mu tersenyum.
"Itulah yang membuat Senior Xu berbeda."
"Beliau memiliki kekuatan yang tidak bisa kita bayangkan, tetapi memilih tinggal di tempat seperti ini."
Tetua Liu mengangguk pelan.
"Dari awal aku sudah merasa ada yang aneh."
"Namun setelah melihat sendiri..."
Ia menghela napas.
"Aku semakin tidak mampu memahami beliau."
Li Qingxue yang berjalan di belakang mereka diam.
Dalam pikirannya, wajah Xu Ming yang tersenyum sambil memasak masih teringat.
Seseorang yang begitu kuat...
Namun memperlakukan mereka seperti orang biasa.
Akhirnya mereka sampai di depan pagar bambu.
Tetua Mu berhenti.
Ia tidak langsung masuk.
"Senior Xu."
"Junior Mu Qing bersama Tetua Liu dan Li Qingxue memohon izin berkunjung."
Suara itu terdengar sampai ke halaman.
Xu Ming yang sedang mengukir berhenti.
"Oh?"
"Mereka datang lagi."
Ia tersenyum.
Kali ini ada wajah yang ia kenal.
"Masuk saja."
Mendengar izin itu, ketiganya membuka pagar bambu dengan hati-hati.
Namun sebelum melangkah masuk...
Tetua Liu tiba-tiba berhenti.
Matanya tertuju pada pagar bambu.
"Ini..."
Tetua Mu menoleh.
"Ada apa?"
Tetua Liu tidak menjawab.
Tangannya perlahan mendekati salah satu batang bambu.
Namun ia tidak berani menyentuhnya.
Karena dari pagar sederhana itu...
Ia merasakan sesuatu yang membuat hatinya bergetar.
"Formasi..."
bisiknya.
Li Qingxue terkejut.
"Pagar bambu?"
Tetua Liu mengangguk perlahan.
"Ya."
"Namun bukan formasi yang dibuat dengan sengaja."
"Ini seperti..."
"Ia menjadi seperti ini secara alami."
Tetua Mu menarik napas.
Semakin lama mereka mengenal Xu Ming...
Semakin mereka sadar.
Bukan hanya benda-benda di rumahnya.
Bahkan lingkungan tempat ia tinggal pun telah berubah.
Di dalam halaman.
Xu Ming keluar sambil membawa teko teh.
"Kalian sudah datang."
Ia tersenyum.
"Silakan masuk."
Ketiga orang itu segera memberi hormat.
"Terima kasih, Senior."
Xu Ming menghela napas kecil.
"Kalian masih memanggilku begitu."
Tetua Liu tersenyum.
"Maaf, Senior."
Xu Ming tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Ia akhirnya membiarkan mereka.
"Baiklah, terserah kalian."
Mereka duduk di bawah pohon persik.
Xu Ming menuangkan teh seperti biasa.
Tetua Mu, Tetua Liu, dan Li Qingxue menerima cangkir itu dengan kedua tangan.
Namun kali ini...
Tetua Liu memperhatikan sesuatu.
Di samping meja batu terdapat beberapa benda.
Sebuah pedang kayu.
Beberapa kuas.
Papan catur.
Patung kecil.
Dan beberapa gulungan lukisan.
Semuanya tampak seperti benda biasa.
Tetapi bagi seorang kultivator...
Setiap benda itu terasa seperti harta yang tidak boleh disentuh sembarangan.
Tetua Liu menarik napas.
"Senior..."
"Bolehkah aku bertanya?"
Xu Ming mengangguk.
"Tentu."
"Semua benda di sini..."
"Apakah Senior membuatnya sendiri?"
Xu Ming melihat sekeliling.
"Oh?"
"Benda-benda itu?"
"Iya."
"Aku membuatnya saat bosan."
Tetua Mu dan Tetua Liu langsung terdiam.
Saat bosan...
Dua kata sederhana itu kembali menghantam mereka.
Benda yang bisa membuat sekte besar berebut...
Bagi Xu Ming hanyalah pengisi waktu luang.
Xu Ming tidak menyadari ekspresi mereka.
Ia hanya tersenyum.
"Kalau kalian suka, nanti aku bisa buatkan."
Ketiganya langsung membeku.
Buatkan?
Senior Xu...
Apakah Anda tahu apa yang baru saja Anda tawarkan?
Bersambung...
terbaik/Facepalm/