Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Petunjuk yang Ditemukan
Nathaniel tidak tidur malam itu.
Di depan Kirana, ia masih menjadi Leon, suami baru yang bekerja sebagai sopir dan kadang menerima tugas dari Pak Nathaniel. Namun begitu pintu kamar Kirana tertutup, ia kembali menjadi orang yang bisa menggerakkan banyak pintu tanpa perlu mengetuk dua kali.
Leo berdiri di ruang kerja kecil apartemen dengan tablet di tangan.
"Kami cek panti lansia, klinik kecil, tempat rehabilitasi, dan rumah singgah di radius yang mungkin dari rumah Sylvia Leng," katanya. "Stiker daun hijau cocok dengan satu klinik swasta kecil yang dulu kerja sama dengan yayasan sosial. Namanya sudah berganti dua kali."
Nathaniel membaca laporan itu cepat. "Nio?"
"Ada perempuan lansia tanpa dokumen lengkap yang pernah dititipkan sekitar tiga tahun lalu. Nama di catatan bukan Lau Ing Nio. Mereka menulisnya sebagai Nyonya Lau. Setelah klinik tutup, beberapa pasien dipindahkan ke penampungan sementara di pinggir kota."
Udara di ruangan terasa lebih berat.
"Siapa yang menitipkan?"
Leo menggeser layar. "Tidak ada nama jelas. Hanya tanda tangan penerima pembayaran dan nomor telepon prabayar yang sudah tidak aktif. Tapi waktu pembayaran pertama masuk, rekening penariknya pernah terhubung dengan sopir lama keluarga Leng."
Nama itu membuat mata Nathaniel menajam.
Ia tidak membutuhkan kesimpulan yang terlalu cepat. Namun satu garis tipis mulai terlihat: seseorang membawa Nio pergi pada masa Kirana paling tidak berdaya, lalu membiarkannya hilang ketika tidak lagi berguna. Tiga tahun bukan waktu singkat. Tiga tahun cukup untuk menghapus alamat, memecah ingatan, dan membuat orang yang seharusnya dilindungi menjadi nama kabur di catatan sosial.
"Kenapa tidak ada laporan resmi?"
"Biayanya dibayar tunai beberapa bulan, lalu berhenti. Setelah itu, pihak klinik menyerahkan ke relawan jalanan. Administrasinya berantakan."
Nathaniel menutup mata sebentar. Ia membayangkan Kirana duduk di kamar, memegang foto lama neneknya, tidak tahu bahwa orang yang ia cari mungkin pernah dipindahkan seperti barang tanpa alamat.
"Kita berangkat sekarang."
"Bos, ini hampir tengah malam."
"Justru karena itu."
Mereka meninggalkan apartemen tanpa suara. Nathaniel mengganti kemeja rapi dengan jaket gelap, tetap memakai mobil sederhana yang biasa ia pakai sebagai Leon. Namun di belakang mereka, satu mobil lain mengikuti dari jarak aman.
Tempat yang mereka datangi berada di tepi kawasan padat, dekat sungai kecil yang airnya gelap. Lampu jalan tidak semuanya menyala. Beberapa warung sudah tutup, tetapi masih ada orang duduk di bangku plastik, merokok sambil memperhatikan mobil yang jelas tidak biasa masuk terlalu dalam ke gang itu.
Nathaniel terbiasa masuk ruang rapat yang membuat orang lain menahan napas. Ia terbiasa melihat angka proyek, akuisisi, sengketa, dan wajah para pesaing yang pura-pura tenang. Namun gang sempit malam itu memunculkan kemarahan yang berbeda. Bukan karena tempat itu miskin, melainkan karena seseorang pernah menganggap seorang nenek tua pantas berakhir di sana tanpa keluarga, tanpa obat, tanpa nama yang benar.
Ia mengingat suara Kirana ketika bertanya soal Nio. Suara itu tidak tinggi, tidak dramatis. Justru karena terlalu terkendali, ia tahu perempuan itu sudah mengubur terlalu banyak harapan sebelum berani meminta bantuan.
Seorang relawan yang dihubungi Leo menunggu di depan bangunan sederhana.
"Perempuan itu sering pindah," katanya. "Kadang tidur di pos ronda, kadang ikut rombongan lansia di rumah singgah. Dia tidak selalu mau disebut namanya."
"Bawa kami ke sana," kata Nathaniel.
Mereka berjalan melewati gang sempit. Bau air got, makanan sisa, dan pakaian lembap bercampur menjadi satu. Nathaniel tidak menunjukkan rasa jijik, tetapi rahangnya mengeras saat melihat beberapa lansia tidur beralaskan tikar di teras bangunan kosong.
Di sudut paling dalam, seorang perempuan tua duduk memeluk kantong kain lusuh. Rambut putihnya berantakan, tubuhnya kurus, dan matanya menatap kosong ke arah jalan. Ia menggumamkan sesuatu berulang-ulang.
"Jangan hujan... Kira pakai gaun putih... nanti sakit..."
Nathaniel berhenti.
Nama itu cukup.
Selama beberapa detik, suara di gang seperti menjauh. Orang yang tertawa di warung, sepeda motor yang lewat, air sungai yang berbau, semuanya menjadi latar yang buram. Yang tersisa hanya satu perempuan tua yang duduk sendirian sambil menjaga ingatan terakhirnya tentang cucu perempuan yang hendak menikah.
Kirana tidak pernah menceritakan detail malam itu dengan lengkap. Ia hanya menyebut penjara, pengkhianatan, nenek yang hilang, dan keluarga yang menutup pintu. Nathaniel sempat mengira ada bagian yang sengaja ia tahan karena malu. Sekarang ia menyadari mungkin ada bagian yang bahkan Kirana sendiri belum tahu.
Leo menatapnya.
"Nio," panggil Nathaniel pelan.
Perempuan tua itu menoleh. Matanya melewati wajah Nathaniel tanpa mengenalinya, lalu berhenti pada lampu mobil di belakang mereka. Ia mendadak panik, memeluk kantongnya lebih erat.
"Jangan bawa cucuku," katanya. "Dia mau menikah. Jangan bawa Kira."
Nathaniel merasakan sesuatu menekan dadanya.
Ingatan perempuan itu tersangkut di malam yang sama dengan luka Kirana.
Ia berjongkok agar tidak tampak mengancam. "Kira sedang mencari Nio."
Perempuan itu menggeleng keras. "Kira cantik. Gaunnya putih. Reuben jangan jahat."
Leo menarik napas pelan.
Nathaniel menoleh kepada relawan. "Dia perlu tempat aman malam ini."
"Kantor polisi terdekat bisa mencatat penemuan keluarga dulu. Kalau langsung dibawa, takut nanti ada masalah administrasi."
"Urus."
"Pak, perlu identitas keluarga."
Nathaniel berdiri. Wajahnya kembali dingin. "Akan ada."
Dalam satu jam, Nio dipindahkan ke ruang sementara di kantor polisi kecil. Ia tidak melawan selama kantong lusuhnya tidak diambil. Di dalam kantong itu hanya ada kain lama, sisir patah, dan foto yang hampir hancur terkena air: Kirana muda berdiri di samping seorang perempuan tua, keduanya tersenyum di depan rumah lama.
Nathaniel melihat foto itu lama.
Kirana di foto itu masih sangat muda. Matanya cerah, bahunya ringan, dan senyumnya tidak menyimpan kebiasaan menahan diri. Ia berdiri dekat Nio dengan lengan memeluk pinggang perempuan tua itu, seperti anak yang yakin dunia masih punya tempat pulang.
Nathaniel hampir tidak mengenali gadis di foto itu dari perempuan yang sekarang tidur di kamar sebelahnya. Tiga tahun dan satu tuduhan palsu telah mengubah cara Kirana berdiri, berbicara, bahkan cara ia menerima bantuan. Orang lain mungkin hanya melihat mantan narapidana yang keras kepala. Malam itu, Nathaniel melihat seseorang yang pernah dirampas dari hampir semua hal, lalu masih berusaha menjaga martabat terakhirnya dengan buku catatan utang.
"Besok pagi," katanya kepada Leo, "Kirana harus bertemu dengannya sebagai keluarga. Bukan sebagai orang yang diminta membuktikan diri."
"Saya sudah bicara dengan kepala unit. Nama Pak Nathaniel dipakai sebagai rekomendasi?"
"Pakai seperlunya. Di depan Kirana, aku tetap Leon."
Leo ragu. "Semakin lama, semakin sulit ditutup."
"Aku tahu."
"Nyonya akan marah kalau tahu."
Nathaniel memasukkan foto itu kembali ke kantong Nio. "Biarkan dia marah nanti. Malam ini, biarkan dia punya neneknya dulu."
Menjelang pagi, ia kembali ke apartemen. Kirana belum tidur. Lampu kamarnya masih menyala dari bawah pintu. Nathaniel berdiri di depan pintu itu beberapa detik, lalu mengetuk pelan.
Saat Kirana membuka, matanya langsung mencari jawaban di wajahnya.
"Ada kabar?" tanyanya.
Nathaniel mengangguk.
"Besok pagi kita ke kantor polisi."
Kirana memegang kusen pintu. "Itu Nio?"
"Aku belum mau berjanji sebelum kamu melihat sendiri."
Air mata langsung menggenang di mata Kirana, tetapi ia menahannya mati-matian.
"Terima kasih."
Nathaniel ingin mengatakan bahwa terima kasih itu belum pantas. Ia terlambat tiga tahun. Ia bahkan tidak tahu perempuan tua itu ada sampai Kirana memintanya mencari. Namun ia hanya berkata, "Siapkan tenaga. Dia mungkin tidak dalam keadaan yang kamu bayangkan."
Kirana mengangguk, wajahnya pucat.
Pintu tertutup lagi.
Nathaniel berdiri di lorong, menyadari bahwa setelah malam ini, rasa ingin melindungi Kirana bukan lagi sekadar tanggung jawab.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔