Marsya, seorang istri yang selalu di hina oleh suami dan keluarga nya hanya karena dia dianggap karyawan di salah satu toko kue.
Tapi tanpa sepengetahuan keluarga suami nya, bahwa toko kue itu adalah milik nya dan dia adalah seorang sarjana.
Dia sengaja menyembunyikan identitas nya atas permintaan sang ibu, kini Marsya tahu sendiri seperti apa suami nya dan juga keluarga nya.
Selain di berikan nafkah yang jauh dari kata cukup, Marsya juga di duakan oleh suami nyam dengan seorang wanita yang merupakan rekan kerja suami nya di kantor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Bu Nani kembali lagi ke belakang dengan kesal, kedatangan mereka membuat dia punya pekerjaan tambahan yaitu memasak untuk makan siang mereka semua. Mau menolak juga tidak mungkin, sebab memang itu sudah tugas nya.
"Ngapain juga mereka pake acara datang ke sini segala? Bikin repot saja!" Omel bu Nani dengan wajah cemberut.
Di tambah lagi dengan pertanyan mereka tentang siapa yang datang ke tempat ini akhir - akhir ini membuat bu Nani semakin kesal, dia dan Mela sudah mengakui pada Dani dan keluarga nya bahwa Vila dan perkebunan ini milik mereka.
"Mela juga, ngapain mau nunda lagi pernikahan nya dengan Dani? Di percepat aja biar bisa membungkam mulut mereka semua!" Omel bu Nani lagi.
Dengan sangat terpaksa dia memasak untuk makan siang mereka semua, pak Abian memang selalu memberikan uang yang cukup banyak paa mereka agar stok bahan makanan di kulkas tidak pernah kehabisan. Karena biasanya dia sering datang ke sini secara mendadak tanpa waktu pasti.
Bu Nani menghubungi putri nya, dia ingin mendesak Mela agar segera menikah dengan Dani.
"Hallo Mela, kamu di mana sih lama banget angkat telepon nya!" Omel bu Nani ketika panggilan nya baru di jawab oleh Mela.
"Hallo bu, ada apa sih bu? Mela lagi kerja ni!" Jawab Mela dengan suara kesal di seberang sana.
"Mel, kapan sih kau dan Dani akan segera menikah?" Tanya Bu Nani pada putri nya.
"Bu, ngapain ibu nanya - nanya segala!" Omel Mela dari seberang sana.
"Mel, ibu udah gak mau lagi tinggal di sini jadi kacung seumur hidup. Ibu ingin kau segera membawa ibu pergi dari sini!" Ujar bu Nani lagi.
"Bu, Mela akan bujuk mas Dani segera menikahi Mela, ibu sabar dulu dong!" Mela berkata pada ibu nya.
"Kamu enak ngomong nya doang, lah ibu di sini di perintah - perintah terus sama yang punya Vila. Tuh mereka dateng ke sini dan minta ibu melayani mereka, kan kesel jadi nya!" Omel bu Nani melalui sambungan telepon.
"Ya udah deh bu, Mela akan segera paksa mas Dani agar segera nikahin Mela, udah ya bu Mela mau kerja lagi!" Mela pun segera memutuskan sambungan telepon dari ibu nya sebelum ibu nya bicara lagi.
"Ni anak kurang ajar banget, main di matiin segala padahal aku kan belum selesai ngomong nya!" Bu Nani menjadi kesal sendiri.
Bu Nani akhir nya mau tidak mau memasak untuk makan siang bu Lili dan yang lain nya, dia masak sambil terus menggerutu menyesali kehadiran bu Lili di Vila ini.
Sementara itu di kantor tempat nya bekerja, Mela tampak termenung. Dia memikirkan apa yang di katakan oleh ibu nya barusan.
"Benar juga apa yang di katakan ibu, lebih baik jika aku dan Mas Dani segera menikah. Untuk apa menunda lagi!" Mela berguman sendirian.
Mela melihat jam di pergelangan tangan nya, sudah waktu nya istirahat dan makan siang. Dia bergegas menyusul Dani ke ruangan nya, dia ingin membahas masalah pernikahan nya dengan Dani. Mela ingin agar Dani segera menikahi nya.
"Mas, makan siang yuk!" Ajak Mela yang menyembul kan kepala nya di balik pintu.
"Ayuk!" Dani pun segera berdiri dari tempat duduk nya, kedua sejoli itu berjalan bergandengan tangan menuju ke kantin.
"Mas, ibu barusan telepon dan dia bertanya kapan kau akan nikahin aku?" Mela memulai pembicaraan nya dengan Dani.
"Mas lagi ngumpulin uang nya duku sayang, kan kamu mau nya pesta yang mewah!" Dani memberikan alasan pada Mela.
"Tapi mau nunggu sampai kapan mas?" Desak Mela lagi.
Dani terdiam sejenak, dia juga berfikir jika dia sudah menikahi Mela maka akan lebih cepat dia menguasai seluruh harta keluarga nya Mela.
"Mas, kamu bisa kan pinjam uang dulu sama siapa gitu buat biaya pernikahan kita!" Mela memberi usul pada Dani.
"Kamu benar sayang, mas akan coba cari pi jaman dulu agar kita bisa langsung menikah!" Dani mengangguk kan kepala nya.
"Mas, aku mau kita menikah nya lebih dulu sebelum bu Arum dan pak Galih menikah. Karena aku tidak mau kejadian memalukan seperti di acara pertunangan bu Arum dan pak Galih terulang lagi!" Mela berkata dengan wajah cemberut.
Mela merasa sangat malu di acara itu, karena semua orang di sana menyebut nya sebagai pelakor di karena kan kehadiran Marsya yang mengaku sebagai istri sah nya Dani.
"Iya sayang, mas akan usahakan untuk cari pinjaman secepat nya agar kita bisa segera menikah!" Dani menyetujui apa yang di katakan oleh Marsya.
Dani sangat yakin, wanita bodoh dan miskin seperti Marsya tidak akan pernah melapor kan pernikahan nya dan Mela pada Arum. Menurut Dani, Marsya tidak akan bisa hidup tanpa diri nya.
Dani berencana tidak akan mengizin kan Marsya untuk bekerja lagi setelah dia menikah dengan Mela, dengan begitu Marsya tidak akan pernah bertemu dengan Arum untuk melapor kan diri nya.
"Mas, pernikahan kita di adakan di Vila saja ya, dengan konsep out door biar lebih menarik!" Mela memberikan usul pada Dani.
"Iya sayang, mas setuju kok. Ini acara sakral bagi kita berdua, jadi mas ingin acara ini terkesan bagi kita dan juga bagi semua tamu undangan yang datang!" Dani membayangkan saat dia dan Mela bersanding di pelaminan yang megah dan mewah.
Pada saat menikah dengan Marsya tidak ada pesta pernikahan sama sekali, hanya acara akad nikah di masjid yang berada tidak jauh dari rumah nya. Bu Ana malu karena Dani menikah dengan wanita miskin dan kampung seperti Marsya. Bahkan dulu saat Dani dan Marsya menikah, tidak ada satupun dari keluarga Marsya yang hadir. Alasan nya karena kampung mereka jauh dan mereka tidak memiliki biaya untuk pergi ke kota.
Bu Ana setuju Dani dan Marsya menikah dulu, karena dia mengira bahwa Marsya adalah pemilik toko roti tempat dia bekerja. Mengingat pakaian yang di gunakan Marsya selalu modis dan kekinian, tapi satu minggu menjelang akad nikah Marsya mengakui pada mereka semua bahwa diri nya hanya lah pelayan di toko roti itu.
Dani dan keluarga nya akhir nya tetap menyetujui pernikahan Marsya dan Dani, tapi dengan tujuan yang berbeda karena ingin mendapat kan pembantu yang gratisan.
"Sayang, aku kasih kamu waktu 2 minggu ya buat siapin uang nya, setelah itu kita akan segera menikah!" Ucapan Mela seketika membuyar kan lamunan Dani tentang pernikahan nya dengan Marsya beberapa tahun yang lalu.
"Iya sayang, mas akan usahakan secepat nya uang nya akan mas transfer ke rekening kamu!" Dani pun tidak ingin menunda lagi pernikahan nya dan Mela.