NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / Ruang Ajaib
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.

Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.

Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.

Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasar

Pagi itu, atmosfer di pasar pusat ibu kota Kekaisaran Naga Langit begitu hidup dan penuh warna. Suara riuh rendah dari para pedagang yang menjajakan kain sutra, rempah-rempah eksotis, hingga daging segar saling bersahutan, beradu dengan derap langkah kaki ratusan pengunjung dan kasak-kusuk gosip yang memenuhi udara pagi yang masih berkabut tipis.

Di antara lautan manusia itu, Lin Jia berjalan dengan anggun, langkah kakinya tenang dan berpakaian serba elegan, ditemani oleh pelayan setianya, Mei Mei, yang berjalan setengah langkah di belakangnya sambil membawa keranjang kecil.

Mei Mei memandangi sekeliling dengan antusias sebelum akhirnya memberanikan diri menatap sang majikan. "Nona, pasar hari ini sangat ramai dibandingkan biasanya. Apakah Anda sedang mencari sesuatu atau ingin membeli barang tertentu untuk keperluan di kediaman?" tanya Mei Mei dengan nada suara yang penuh rasa ingin tahu.

Lin Jia tidak langsung menoleh. Sepasang matanya yang jernih namun tajam terus menelisik setiap sudut area pasar, membaca situasi lingkungan sekitar dengan saksama. "Tidak, Mei Mei. Aku tidak sedang mencari apapun. Aku hanya ingin berjalan-jalan dan melihat-lihat saja," jawab Lin Jia dengan nada suara yang teredam namun terdengar penuh wibawa.

Langkah kaki Lin Jia mendadak terhenti tepat di depan sebuah meja kayu milik seorang pedagang aksesori kuno.

Pandangannya langsung terkunci pada sebuah benda yang memancarkan aura tidak biasa—sebuah tusuk konde perak berbentuk rembulan sabit yang melengkung indah dengan ukiran awan pembawa keberuntungan yang sangat detail.

Jemari lentik Lin Jia bergerak perlahan, menyentuh permukaan dingin logam konde tersebut, merasakan teksturnya yang halus.

Melihat ketertarikan sang gadis bangsawan, pedagang paruh baya di balik meja itu langsung menyunggingkan senyum lebar yang ramah.

"Pilihan yang luar biasa cerdas, Nona muda. Tusuk konde rembulan ini dibuat oleh pengrajin terbaik di wilayah selatan. Apakah Anda tertarik untuk membelinya dan menghiasi sanggul indah Anda?" tanya pedagang itu dengan suara yang sengaja dibuat selembut dan sepersuasif mungkin.

"Berapa harganya?" tanya Lin Jia singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari tusuk konde tersebut.

Pedagang itu mengusap janggut tipisnya sejenak sebelum menjawab, "Hanya... lima koin perak, Nona. Harga yang sangat murah untuk sebuah karya seni yang begitu menawan."

Tanpa membuang waktu untuk menawar atau melempar banyak bicara, Lin Jia merogoh kantong sutra di balik lipatan baju hanfu miliknya yang longgar. Ia mengambil lima koin perak yang berkilau dan meletakkannya langsung ke atas telapak tangan pedagang itu. Setelah menerima barangnya, ia segera berbalik dan melanjutkan langkah.

Bruk!

Tiba - tiba...

Seorang anak kecil bertubuh kurus dengan pakaian lusuh yang dipenuhi tambalan jatuh tersungkur di atas tanah berdebu. Tubuhnya kaku, lalu perlahan melemas hingga tak sadarkan diri. Beberapa orang di sekitar tempat kejadian menghentikan langkah mereka, menoleh dengan tatapan dingin, namun tak satu pun dari mereka yang berniat mengulurkan tangan.

Di detik berikutnya, sebuah jeritan histeris membelah keheningan pasar yang sempat mencekam.

"Putraku!" jerit seorang wanita paruh baya, berlari tertatih-tatih mendekati tubuh anaknya yang terbujur kaku. Air matanya langsung tumpah membasahi pipinya yang kotor oleh debu jalanan. "Tolong, siapapun... aku mohon, selamatkan putraku!" teriak wanita itu dengan suara serak, bersujud di hadapan orang-orang yang melintas.

Sayangnya, permohonan pilu itu hanya dibalas dengan tatapan abai. Di zaman ini, kasta adalah segalanya. Pakaian kumal yang melekat pada tubuh ibu dan anak itu menjadi penanda jelas bahwa mereka hanyalah rakyat jelata kasta terendah. Bagi mayoritas orang di pasar, menyentuh atau menolong mereka hanya akan mengotori pakaian bagus mereka sendiri.

Melihat pemandangan egois di depannya, sepasang mata Lin Jia menajam. Amarah dan rasa geram bergejolak di dalam dadanya melihat ketidakpedulian manusia di sekitarnya. Tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang, Lin Jia langsung melangkah lebar, mendekat, lalu berjongkok tepat di hadapan tubuh ringkih anak kecil tersebut.

"Biar aku periksa," kata Lin Jia dengan nada suara yang tenang namun tegas, menenangkan kepanikan sang ibu.

Lin Jia segera meraih pergelangan tangan anak itu, menempelkan jemarinya dengan lembut pada titik nadinya. Ia memejamkan mata, memusatkan fokusnya. Detak nadi anak itu terasa sangat lemah dan berpacu cepat. Saat jemarinya tidak sengaja menyentuh kulit kening sang anak, hawa panas yang menyengat langsung terasa.

"Sepertinya dia menderita demam yang sangat tinggi," gumam Lin Jia, keningnya berkerut.

Mendengar ucapan itu, sang ibu semakin terisak, bahunya berguncang hebat karena rasa bersalah yang mendalam. "Kami sudah empat hari belum makan, Nona... tubuhnya sudah lemah sejak kemarin, tapi dia memaksakan diri ikut mencari sisa makanan," kata ibu itu di sela sesegukan nya, menyembunyikan wajahnya di atas tanah.

Lin Jia terdiam seketika."Bukankah dua hari yang lalu Kaisar membagikan beberapa koin emas kepada seluruh penjuru Kekaisaran Naga Langit?"

Ibu itu termenung dengan sisa air mata."Kami di rampok, Nona."katanya sendu.

Lin Jia mengangguk pelan. Ia mengerti sekarang. Lin Jia segera menoleh ke arah pelayannya yang berdiri dengan cemas di sampingnya.

"Mei Mei, kau membawa air?" tanya Lin Jia tanggap.

"Bawa, Nona! Ini airnya," jawab Mei Mei dengan sigap.

Ia segera menyerahkan sebuah guci air kecil yang terbuat dari tanah liat kepada majikannya.

Lin Jia menerima guci tersebut. Dengan sangat hati-hati, ia memangku dan sedikit mengangkat kepala anak itu agar posisinya lebih tinggi. Ia mendekatkan bibir guci ke mulut si anak, lalu mengalirkan air jernih itu sedikit demi sedikit ke dalam tenggorokannya. Tubuh anak itu sempat bergetar pelan, matanya masih terpejam erat karena kehilangan kesadaran, namun insting bertahannya membuat mulut kecil itu bergerak, meminum air yang diberikan dengan rakus.

"Benar dugaanku. Mungkin karena kelaparan yang teramat sangat, dia sampai pingsan kehabisan energi," kata Lin Jia sambil menyeka sisa air di sudut bibir anak itu.

Sang ibu hanya bisa menunduk dalam, meratapi kemiskinan yang mencekik hidup mereka hingga hampir merenggut nyawa darah dagingnya sendiri.

Memanfaatkan momen di mana perhatian semua orang tertuju pada anak itu, Lin Jia bergerak dengan cepat. Tanpa sepengetahuan siapapun, ia mengibaskan tangan kanannya secara samar di sisi tubuhnya. Dalam sekejap mata, sebuah kilatan cahaya tipis yang tak kasat mata muncul, dan sebuah tabung kecil berisi pil obat sudah berada di genggaman tangannya.

"Ini obat untuk menurunkan panas di dalam tubuhnya. Berikan padanya setelah dia sadar nanti," kata Lin Jia sambil mengulurkan tabung obat tersebut.

Tidak hanya itu, ia juga menyelipkan beberapa keping uang emas ke dalam genggaman sang ibu. "Dan ini... ambilah. Gunakan uang ini untuk membeli makanan yang layak agar dia bisa memulihkan tenaganya."

Melihat kebaikan yang begitu besar dari sosok asing bercadar di depannya, tangis ibu itu kembali pecah, kali ini karena rasa syukur yang membuncah.

"Terima kasih, Nona... Terima kasih banyak... Di saat banyak orang yang tidak peduli dan memandang rendah rakyat jelata seperti kami, Anda justru mengulurkan tangan. Kebaikan Anda tidak akan pernah saya lupakan, Nona," ujar ibu itu dengan tangan yang gemetar hebat saat menerima obat dan uang tersebut.

Sementara itu, orang-orang di sekitar pasar hanya bisa berbisik-bisik, memandang heran sekaligus kagum pada tindakan berani Lin Jia yang melintasi batas kasta demi menyelamatkan nyawa seorang anak jalanan.

Ting!

Tiba-tiba, sebuah suara berdenting jernih hanya terdengar di dalam kepala Lin Jia, disusul oleh suara mekanis yang sudah sangat akrab di telinganya.

(Selamat, Nona! Tambahan koin berhasil didapatkan. 50 Koin emas telah masuk ke dalam akun sistem Anda,) kata Sistem memberikan notifikasi keberhasilan.

(Perlu diingat kembali, setiap kali Anda berhasil mengobati atau menyelamatkan nyawa seseorang di zaman ini, maka jumlah koin Anda akan terus bertambah secara otomatis,) lanjut Sistem menjelaskan.

Mendengar suara laporan dari sistem, Lin Jia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya menarik sudut bibirnya, menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan arti di balik cadar sutranya.

1
Cty Badria
up lg ni hadiah /Rose/
Mydar Diamond
lanjuutt upnya mungkin calon suami masa depan telah di temukan🤔
Dewiendahsetiowati
apakah ini calon imam Lin Jia
Hendri Wirawan
bagus....lanjutkan
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Anonim
ceritanya bagus, masih awal tapi menarik buat dibaca. lanjut semangat yaaa/Determined//Rose/
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. semangat✍️👈😍☺
Ardella Ardellaarcell
lanjut
Dania
semangat tor di tunggu upnya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak bgus crita'y😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!