Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Menarik kembali ke pelukannya
Lampu-lampu jalanan ibu kota membias di kaca jendela mobil Rolls-Royce hitam yang melaju tenang membelah malam. Di dalam ruang kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu pekat dan menekan. Tuan Danuel duduk di kursi belakang sebelah kanan, sesekali memejamkan mata dengan napas yang terdengar berat dan lelah. Di sampingnya, Zevanna duduk membisu, menatap keluar jendela ke arah deretan gedung pencakar langit.
Pikirannya masih tertinggal di ruang penyimpanan linen yang redup tadi. Sentuhan kasar namun hangat dari tangan Areksa seolah masih membekas di kulit dagunya, meninggalkan rasa panas yang menjalar hingga ke dada.
“Kau justru masuk ke dalam neraka yang jauh lebih dingin bersamaku.”
Kata-kata Areksa terus bergaung di kepala Zevanna, berputar-putar seperti kutukan. Ia merapatkan jemarinya, mengepal kuat di atas pangkuan untuk menyembunyikan getaran halus yang enggan hilang. Bajingan itu sama sekali tidak berubah dalam hal satu ini: dia selalu tahu bagaimana cara mengintimidasi dan mengacaukan kewarasan Zevanna.
"Zevanna," suara parau Tuan Danuel memecah kesunyian di dalam mobil.
Zevanna tersentak kecil, lalu segera menoleh ke arah sang kakek. Ia memaksakan sebuah senyuman lembut di wajahnya, menyembunyikan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Iya, Kakek? Ada yang Kakek butuhkan? Dada Kakek sesak lagi?" tanya Zevanna panik, cepat-cepat memeriksa botol obat di tasnya.
Danuel menggeleng perlahan, menyisip tawa kecil melihat kerepotan cucunya. Tangan tuanya yang gemetar meraih jemari Zevanna, menggenggamnya hangat. "Kakek baik-baik saja, Sayang. Jangan panik begitu. Kakek cuma... mau minta maaf."
Zevanna mengernyitkan kening. "Minta maaf untuk apa, Kakek? Kakek kan nggak buat salah apa-apa sama Zevanna."
"Kakek malah bikin kamu terseret ke urusan keruh begini," helaian napas Danuel terdengar berat. "Keluarga Vareksa itu rumit. Abraham memang pebisnis hebat, tapi anaknya, Areksa... persis seperti ayahnya. Dingin, irit bicara, dan susah ditebak. Kakek tahu pernikahan ini cuma transaksi bisnis. Kakek agak egois pakai cara ini demi amankan posisi keluarga kita. Belum lagi, kau harus berhadapan sama kakeknya Areksa. Orang tua itu jauh lebih keras kepala dari kita semua."
Zevanna terdiam sejenak. Ia menatap wajah kakeknya yang tampak sangat renta di bawah temaram lampu kabin mobil. Rasa bersalah yang jujur terpancar jelas dari mata tua itu.
"Kakek nggak usah merasa bersalah gitu," sahut Zevanna santai, mencoba mencairkan suasana. "Aku yang setuju dari awal, kan? Aku lakukan ini demi Kakek, dan ya... demi ketenanganku sendiri. Berada di sekitar Areksa Vareksa mungkin bakal bikin naik darah, tapi aku bisa atasi kok. Aku bukan cewek manja yang gampang tumbang cuma gara-gara cowok dingin kayak dia."
Danuel menatap cucunya dengan binar bangga yang tak tertutupi. "Kamu benar-benar mirip ibumu. Sama-sama keras kepala dan nggak mau kalah. Tapi ingat pesan Kakek... kalau bajingan kecil itu berani macam-macam atau bikin kamu menangis, langsung adukan ke Kakek. Biar tua begini, Kakek masih sanggup jewer telinganya."
Zevanna tertawa pelan, lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang kakek. "Siap, Kakek. Nanti aku suruh Kakek jewer dia sampai merah."
Namun di dalam hati, Zevanna membisikkan janji yang jauh berbeda. Aku tidak akan lari kepadamu, Kakek. Aku akan hadapi Areksa dengan caraku sendiri. Aku bakal tunjukkan ke dia kalau Zevanna yang sekarang bukan mainan yang bisa dia sepelekan seenaknya.
...
Sementara itu, di dalam mobil Mercedes-Maybach yang melaju ke arah yang berbeda, suasana terasa jauh lebih santai meski tak kalah mewah. Areksa duduk di kursi belakang, menyandarkan kepalanya pada penopang kulit sambil menatap lurus ke depan. Di sampingnya, Helena Vareksa sedang santai memeriksa tabletnya, sesekali menggeser layar melihat desain butik besarnya.
Helena melirik anaknya dari sudut mata. Sejak makan malam selesai, Areksa mendadak jadi patung. Ekspresinya kelewat datar, memancarkan aura suram yang bikin sopir pribadi mereka di depan beberapa kali melirik spion dengan cemas.
"Pikiranmu jalan-jalan ke mana, Ka?" tanya Abraham yang duduk di depan, memecah keheningan. "Mestinya senang dong, akhirnya bisa dekat lagi sama cewek idamanmu itu."
"Aku cuma memikirkan Kakek," jawab Areksa datar. "Gimana kalau Kakek tahu dan mulai campur tangan lagi? Kakek kan dari dulu nggak suka aku sama Zevanna."
Helena terkekeh pelan, melipat tangannya di dada. "Kamu kan sudah gede, Sayang. Sudah bukan bocah yang bisa diatur-atur Kakek lagi. Kalau Kakek rewel, biar Mama yang hadapi. Mama mendukungmu seratus persen!"
Areksa tidak menoleh, tapi helaan napas berat lolos dari bibirnya. "Masalahnya bukan cuma Kakek, Ma. Aku harus putar otak buat luluhkan hatinya lagi. Dia benci banget sama aku sekarang."
"Yah, lagian kamu sih, gengsian banget dulunya," goda Helena sambil menyenggol lengan anaknya. "Kalau butuh tips PDKT atau mau Mama racik rencana kejutan, bilang aja. Mama siap jadi mak comblang nomor satu kalian!"
"Setuju banget. Kita harus pastikan Zevanna resmi jadi menantu di rumah ini," timpal Abraham dari kursi depan. Nada suaranya yang biasa tegas dan kaku kini terdengar jauh lebih santai dan jahil.
Areksa memejamkan matanya rapat-rapat, mengabaikan godaan kedua orang tuanya. Bayangan tamparan keras Zevanna di pipinya tadi kembali berkelebat. Sentuhan tangan gadis itu yang penuh emosi, tatapan matanya yang membara, dan bibirnya yang melontarkan kata-kata pedas... semuanya masih terasa begitu membakar. Tapi anehnya, itu justru makin memicu ambisinya.
Helena menepuk punggung tangan anaknya dengan pelan, mengembalikan fokus Areksa. "Oh ya, besok pagi tim hukum kita bakal kirim draf perjanjian pranikah ke keluarga Valerius. Kakakmu sendiri yang susun poin-poinnya. Kamu mau periksa dulu nggak sebelum dikirim?"
"Langsung kirim saja, Ma. Aku percaya sama Mas Arthur," sahut Areksa pendek.
Saat mobil terus melaju menembus kegelapan malam, Areksa menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. Di balik wajah datarnya, sebuah rencana matang sudah tersusun rapi.
Zevanna mungkin berpikir pernikahan ini cuma sekadar transaksi bisnis atau jalan keluar sementara dari kerumitan keluarganya. Gadis itu tidak sadar, begitu tintanya mengering di atas kertas perjanjian, dia sudah masuk sepenuhnya ke dalam teritori Areksa.
"Kamu bakal tahu siapa sebenarnya 'mantan mesum' yang selalu kamu maki itu, Nana. Just wait, my love," batin Areksa dengan sudut bibir yang terangkat tipis.