NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJIAN DARI SEORANG KAKAK LELAKI (2)

Saat tiba di parkiran motor, Reksa sudah berdiri bersandar pada sepeda motornya. Ia mengenakan jaket hitam dengan tas basket tersampir di bahu. Begitu melihat Naya berjalan bersama Nara, sorot matanya langsung berubah penuh penilaian.

“Kamu lama sekali,” kata Reksa kepada Naya.

“Aku sedang belajar.”

Reksa melirik Nara. “Belajar? Tapi seperti terlihat sedang habis kencan.”

Nara mengangkat buku yang dibawanya. “Ada masalah?”

“Tidak.” Reksa tersenyum tipis. “Aku hanya tidak menyangka kau tahu cara membaca.”

Naya menutup mata sesaat. Ia sudah bisa merasakan pertengkaran akan dimulai.

Nara membalas senyum Reksa. “Aku juga tidak menyangka kau tahu cara menunggu tanpa membuat keributan.”

“Aku sedang menjaga adikku.”

“Dia tidak membutuhkan penjagaan.”

“Itu bukan keputusanmu.”

“Dia juga bukan anak kecil.”

“Setidaknya dia tidak memiliki kebiasaan mengambil keputusan bodoh karena cemburu.”

Nara menarik napas karena merasa tertohok dan kalah berdebat dengan Reksa. Ia segera berdiri di antara keduanya. “Kak Reksa, ayo pulang.”

Reksa tidak langsung bergerak. Tatapannya masih tertuju kepada Nara. “Aku ingin bicara sebentar dengannya.”

Naya memandang kakaknya dengan curiga. “Bicara tentang apa?”

“Urusan basket.”

Nara tertawa kecil. “Kau bahkan tidak pandai berbohong.”

Reksa mengabaikannya. “Tunggu di dekat motor.”

“Kak Reksa.”

“Nay.” Nada suara Reksa terdengar tegas. Naya mengenal kakaknya dengan baik. Jika Reksa sudah menggunakan nada tersebut, berarti ia tidak akan mengubah keputusan. Dengan enggan, Naya berjalan menuju sepeda motor, meskipun tetap berdiri cukup dekat agar dapat melihat mereka khawatir jika keduanya berakhir dengan pertengkaran seperti pada pertandingan persahabatan minggu lalu.

Reksa menunggu sampai Naya menjauh beberapa langkah.

Kemudian ia berdiri tegak di hadapan Nara. “Kau menyukai adikku?”

Pertanyaan itu disampaikan tanpa basa-basi. Nara tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak mengetahui jawabannya, melainkan karena ia tidak menyangka Reksa akan bertanya seblak-blakan itu.

“Apa urusanmu?” balas Nara.

“Aku kakaknya.”

“Itu tidak membuatmu berhak mengatur perasaannya.”

“Benar. Tapi itu membuatku berhak memastikan orang yang mendekatinya tidak akan mempermainkannya.”

Nara menatap Reksa dengan lebih serius. Untuk pertama kalinya, tidak ada ejekan dalam tatapan mereka. Bukan lagi dua rival basket yang saling berusaha menjatuhkan, melainkan dua orang yang sama-sama memikirkan Naya dengan cara berbeda.

“Aku tidak pernah berniat mempermainkannya,” kata Nara.

“Semua orang bisa mengatakan begitu.”

“Aku tidak peduli apakah kau percaya atau tidak.”

“Aku justru peduli.” Reksa melangkah lebih dekat. “Adikku bukan salah satu penggemarmu. Dia bukan seseorang yang bisa kau dekati saat bosan, lalu kau tinggalkan ketika perhatianmu berpindah.”

Rahang Nara mengeras. “Aku tahu.”

“Benarkah? Karena dari yang kulihat, kau sangat menikmati perhatian orang-orang. Kau tersenyum kepada semua penggemar, membiarkan mereka menunggu di luar ruang ganti, lalu bersikap seolah itu hal biasa.”

“Aku tidak pernah menjanjikan apa pun kepada mereka.”

“Itu bukan jawaban.”

Nara terdiam. Perkataan Reksa mengenai dirinya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Naya sendiri pernah kehilangan respek kepadanya karena cara Nara menanggapi para penggemarnya. Saat itu, Nara menganggap semuanya berlebihan. Ia merasa tidak melakukan kesalahan selama tidak memberikan harapan secara terang-terangan. Namun, sejak mengenal Naya, ia mulai memahami bahwa sikap tanpa batas juga dapat menimbulkan salah pengertian. Naya tidak menyukai cara Nara menikmati sorotan. Dan untuk pertama kalinya, penilaian seseorang mengenai dirinya terasa penting.

“Aku sedang memperbaikinya,” kata Nara akhirnya.

Reksa mengangkat alis. “Memperbaiki apa?”

“Sikapku.”

“Kau?”

“Aku tahu itu terdengar mustahil.”

“Setidaknya kau sadar.”

Nara mengabaikan sindiran tersebut. “Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi aku bisa memastikan Naya tidak perlu meragukan keseriusanku.”

Reksa memperhatikan wajahnya beberapa saat. “Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku.”

Nara mengembuskan napas pelan. Tatapannya tanpa sadar berpindah ke arah Naya. Gadis itu berdiri dekat sepeda motor sambil berpura-pura memeriksa ponsel, meskipun sesekali melirik mereka. Melihatnya saja membuat ekspresi Nara melunak.

“Aku menyukainya,” katanya.

Reksa mengikuti arah pandang Nara. “Seberapa serius?”

“Cukup serius sampai aku rajin datang ke perpustakaan dan membaca buku tiga ratus halaman.”

“Itu tidak terdengar meyakinkan.”

Nara tersenyum tipis. “Aku juga hampir kehilangan kendali saat melihatnya bersamamu yang kupikir adalah kekasihnya.”

“Itu hanya membuktikan bahwa kau bodoh.”

“Aku tidak membantahnya.”

Reksa terlihat sedikit terkejut mendengar pengakuan tersebut. Nara bukan tipe orang yang mudah mengakui kesalahan. Selama mereka menjadi rival di lapangan, lelaki itu selalu menemukan alasan untuk membenarkan tindakannya. Namun, sekarang Nara berdiri di hadapannya tanpa berusaha menyembunyikan perasaannya.

“Aku tidak meminta izinmu untuk menyukai Naya,” lanjut Nara. “Tapi aku akan menghormati dia. Aku tidak akan membuatnya menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang menungguku memberikan perhatian.”

Reksa tidak segera menjawab. Angin sore bergerak melewati gerbang, membuat daun-daun kering bergeser di atas aspal.

“Aku tetap tidak menyukaimu,” kata Reksa akhirnya.

“Perasaan kita sama.”

“Tapi aku akan memberimu kesempatan.”

Nara mengangkat alis. “Aku tidak membutuhkan kesempatan darimu.”

“Jangan terlalu senang. Ini bukan persetujuan.”

“Lalu apa?”

“Sebuah ujian.”

Nara tertawa pendek. “Aku tidak takut.”

“Seharusnya kau takut.”

“Apa ujiannya?”

Reksa melirik Naya, kemudian kembali menatap Nara. “Turnamen antar-SMA dimulai tiga minggu lagi.”

“Aku tahu.”

“Tim kita kemungkinan bertemu di semifinal.”

“Dan aku akan mengalahkanmu.” Jawab Nara penuh percaya diri.

“Itu belum pasti.” Reksa berdecih menanggapi Nara yang terlalu percaya didi.

“Sudah pasti melihat track record-ku mengalahkanmu lebih banyak dibandingkan kau mengalahkanku.”

Reksa mengabaikan kesombongan tersebut. “Kalau kau bisa bermain melawanku tanpa membawa urusan pribadi ke lapangan, aku akan percaya bahwa kau cukup dewasa untuk mendekati adikku.”

Nara memandangnya tidak percaya. “Itu ujiannya?”

“Jangan melakukan pelanggaran bodoh hanya karena melihat Naya berbicara denganku. Jangan mencari keributan. Jangan membuat timmu kalah karena tidak mampu mengendalikan emosi.”

Nara tersenyum tipis. “Kau akan menyesal memberiku tantangan di lapangan.”

“Aku berharap begitu.”

“Dan kalau timku menang?”

“Aku tidak akan menghalangimu mendekati Naya.”

Nara menatap Reksa tajam. “Bukan kau yang menentukan apakah aku boleh mendekatinya.”

“Tentu saja. Keputusan tetap ada pada Naya.” Reksa mengangkat bahu. “Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak akan membuat hidupmu semakin sulit.”

“Jadi selama ini kau memang berniat membuat hidupku sulit?”

“Aku kakaknya. Itu pekerjaanku.”

Nara hendak membalas, tetapi Naya sudah berjalan mendekati mereka.

“Kalian membicarakan apa?” tanyanya.

“Basket,” jawab Reksa dan Nara bersamaan.

Naya menyipitkan mata menyadari sesuatu yang ditutupi secara sengaja oleh mereka berdua. “Benar-benar basket?”

“Benar,” kata Reksa.

Naya menatap Nara. “Kak?”

Nara tersenyum seperti biasa. “Kakakmu hanya takut kalah di turnamen berikutnya.”

Reksa mendengus. “Kau masih terlalu banyak bicara.”

“Dan kau masih terlalu percaya diri.”

“Kalian tidak akan bertengkar lagi, kan?” tanya Naya.

“Tidak,” jawab Reksa.

“Untuk sekarang,” tambah Nara.

Naya menghela napas panjang. “Aku menyesal mengenalkan kalian sebagai kakak dan rival.”

“Kau tidak pernah mengenalkan kami,” kata Nara. “Aku menemukannya sendiri dengan cara yang memalukan.”

Naya tersenyum kecil. “Setidaknya Kakak mengakuinya.”

Reksa menyerahkan helm kepada Naya. “Ayo pulang.”

Naya menerima helm itu, kemudian menoleh kepada Nara. “Besok Kakak datang lagi ke perpustakaan?”

Nara sengaja melirik Reksa sebelum menjawab, “Tentu.”

“Kak Nara harus menyelesaikan setidaknya tiga puluh halaman.”

“Tiga puluh?”

“Kalau tidak, aku tidak akan membantu menjelaskan.”

Nara mengangguk. “Baik.”

Naya tersenyum puas, lalu berjalan menuju motor. Sebelum mengenakan helm, ia kembali menoleh.

“Kak Nara.”

“Ya?”

“Terima kasih sudah datang lebih awal.”

Nara tidak sempat menjawab karena Naya segera mengenakan helm, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Reksa naik ke sepeda motor dan menyalakan mesin. Sebelum pergi, ia memandang Nara sekali lagi. Tatapan itu mengandung peringatan yang jelas.

Nara membalasnya dengan senyum penuh tantangan.

Sepeda motor Reksa perlahan meninggalkan gerbang sekolah. Nara tetap berdiri di tempatnya sampai kendaraan itu menghilang di ujung jalan. Perasaan aneh memenuhi dadanya. Ia baru saja mengakui kepada rival terbesarnya bahwa ia menyukai Naya. Anehnya, mengucapkan kalimat tersebut tidak terasa menakutkan. Justru terasa seperti sesuatu yang sudah seharusnya ia lakukan sejak lama. Nara membuka buku yang masih dibawanya. Tiga puluh halaman. Ia menghela napas, kemudian berjalan kembali menuju gedung sekolah. Latihan basketnya sebenarnya sudah selesai, tetapi ia masih membutuhkan tempat tenang untuk membaca. Jika biasanya Nara hanya ingin memenangkan pertandingan demi membuktikan dirinya sebagai pemain terbaik, kali ini alasannya berbeda.

Ia ingin membuktikan bahwa Reksa salah menilainya. Lebih dari itu, ia ingin membuktikan kepada Naya bahwa perasaannya bukan sekadar rasa penasaran karena gadis itu berbeda dari para penggemarnya. Naya bukan tantangan yang ingin ia taklukkan. Naya adalah seseorang yang ingin ia pertahankan untuk tetap berada di sampingnya.

Ngomong-ngomong, akh sialan, ia lupa meminta nomor ponsel Naya! Rutuk Nara tersadar bahwa niatnya meminta nomor ponsel di perpustakaan tadi terlupakan karena adanya Reksa. Besok ia harus memastikan tidak lupa dengan hal penting itu lagi.

***

Dalam perjalanan pulang, Naya duduk di belakang Reksa sambil memegang sisi jaket kakaknya. Angin sore membelai lembut pipinya membuatnya sedikit kemerahan. Suasana jalanan sore hari ini cukup padat bersaing dengan para pencari nafkah bersama kendaraan tempurnya masing-masing.

Beberapa menit berlalu sebelum ia membuka suara.

“Kakak mengatakan apa kepada Kak Nara?”

Reksa tetap memandang jalan. “Urusan laki-laki.”

“Jawaban yang sangat mencurigakan.”

“Aku hanya memastikan niatnya.”

Naya langsung menegakkan tubuh.

“Niat apa?”

“Kau tahu niat apa.”

“Aku tidak tahu.”

“Jangan berpura-pura.”

Naya terdiam. Wajahnya terasa panas meskipun angin sore menerpa cukup kuat.

“Kak Nara mengatakan sesuatu?”

Reksa tersenyum tipis. “Dia mengatakan cukup banyak.”

“Apa?”

“Itu bukan urusanku untuk menyampaikannya.”

“Kak Reksa.”

“Kalau kau ingin tahu, tanyakan sendiri kepadanya.”

Naya mencubit sisi pinggang kakaknya. Reksa tertawa. “Jangan membuatku kehilangan keseimbangan.”

“Berarti Kakak harus menjawab.”

“Tidak.”

Naya mendengus kesal. Namun, di balik kekesalan itu, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia teringat cara Nara memandangnya ketika mereka keluar dari perpustakaan. Tatapan itu terasa berbeda. Lebih jujur, lebih tenang, dan tidak dipenuhi kesombongan seperti biasanya.

Naya tidak tahu apa yang dikatakan Nara kepada Reksa. Namun, ia memiliki perasaan bahwa sesuatu telah berubah. Bukan hanya pada Nara. Melainkan juga pada dirinya sendiri.

Selama ini, ia terus berusaha meyakinkan diri bahwa kedekatannya dengan Nara hanya terjadi karena terlalu banyak kebetulan. Pertemuan di halte, perpustakaan, kolam renang, lorong sekolah, dan pertandingan basket seolah hanyalah rangkaian kejadian yang tidak memiliki arti.

Namun, semakin lama ia mengenal Nara, semakin sulit baginya untuk menyebut semuanya sebagai kebetulan. Ia menunggu Nara datang ke perpustakaan. Ia menyadari ketika Nara menghindarinya. Ia merasa lega ketika lelaki itu kembali mengganggunya. Dan sekarang, hanya dengan membayangkan bahwa Nara mungkin menyukainya, dadanya terasa dipenuhi sesuatu yang hangat. Naya menyandarkan dahinya pada punggung Reksa.

“Kak.”

“Apa?”

“Menurut Kakak, apakah Kak Nara orang yang buruk?”

Reksa terdiam cukup lama.

“Dia menyebalkan,” jawabnya.

“Itu bukan jawabannya.”

“Dia sombong, terlalu percaya diri, dan kadang tidak berpikir sebelum bertindak.”

Naya hampir protes karena ia tahu bahwa Nara banyak melakukan perubahan meskipun belum bisa meyakinkan dirinya 100% bahwa seniornya itu sudah berubah, tetapi Reksa melanjutkan.

“Namun, dia bukan orang yang buruk.”

Naya tersenyum kecil.

“Kakak tidak akan menghalangiku berteman dengannya?”

“Aku tidak punya hak menghalangimu.”

“Hanya berteman.”

“Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Tapi nada suara Kakak aneh.”

Reksa tertawa pelan. “Kamu sudah besar, Nay. Kamu bisa memilih siapa pun yang ingin kamu kenal bahkan berhubungan dalam hal percintaan. Aku hanya ingin memastikan orang itu memperlakukanmu dengan baik.”

Naya mempererat pegangannya pada jaket Reksa. “Terima kasih, Kak.”

“Jangan berterima kasih dulu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau Nara membuatmu menangis, aku akan memastikan dia tidak bisa bermain basket selama sebulan atau mungkin selamanya.”

“Kak Reksa!”

“Aku hanya memberi contoh.”

“Itu ancaman.”

“Contoh ancaman.”

Naya menggelengkan kepala. Namun, senyumnya tidak hilang sampai mereka tiba di rumah.

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!