Dong Fang, seorang anak muda yang penuh penyesalan, memulai perjalanannya dengan tujuan yang buruk: membalaskan dendam. Didalam perjalanannya membalaskan dendam, dirinya belajar mengenai banyak hal, termasuk kebijaksanaan. Tanpa dia sadari, perjalanannya untuk bertambah kuat, menuntunnya kejalan Keabadian.
Namun, di tengah perjalanan yang panjang dan penuh rintangan, Dong Fang menyadari bahwa perjuangan sejati bukan hanya tentang mengalahkan musuh-musuhnya di medan perang, melainkan juga tentang mengalahkan diri sendiri dan menemukan kedamaian dalam hati.
Dalam novel ini, Dong Fang belajar tentang nilai-nilai kebijaksanaan dan kesabaran, dan tentang pentingnya menghargai semua makhluk hidup, bahkan musuh-musuhnya sekalipun.
Melalui perjalanan Dong Fang, novel ini mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan yang panjang dan penuh warna, dengan tantangan dan kegagalan yang tak terhindarkan. Namun, dengan tekad yang kuat, kesabaran, dan kerja keras, kita dapat menghadapi semua rintangan dan mencapai tujuan kita.
Perjalanan Pendekar Pedang Abadi juga mengajarkan kita tentang keindahan dan kekuatan alam semesta, dan betapa kita harus merenung dan belajar dari alam ini. Dong Fang menyadari bahwa setiap benda hidup di dunia ini memiliki perannya masing-masing, dan keberadaannya sangat penting untuk menjaga keseimbangan alam.
Dalam keseluruhan novel, kita melihat bahwa keberanian, tekad, kebijaksanaan, dan kesabaran adalah kunci untuk mencapai keabadian sejati. Perjalanan Pendekar Pedang Abadi mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan yang tak terbatas, dan meskipun kita mungkin tak pernah mencapai tujuan kita, prosesnya lah yang memberikan arti sejati dalam hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taufik Ichsan Aditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 23 - Membebaskan
Dong Fang sampai di ruangan bawah tanah, disana para budak terlihat tak memiliki semangat hidup, pandangan mereka suram dan sedih. Bahkan setelah Dong Fang terlihat oleh para budak, mereka tak mempedulikan keberadaan Dong Fang.
Dong Fang menggeleng melihat itu semua, "Kalian pasti sudah melewati hal yang sangat berat." gumam Dong Fang pelan.
Dia melihat ada tiga jenis kurungan disana, kurungan untuk para pemuda, untuk anak-anak, dan terakhir untuk para wanita. Terlihat, kurungan wanita yang ukurannya lebih besar, memiliki isi yang lebih banyak dari dua kurungan lain jika disatukan.
Dong Fang mendekat kearah kurungan anak-anak yang jaraknya paling dekat dengannya, "Kalian akan bebas hari ini." Dong Fang kemudian menghancurkan kurungan kayu itu dengan mudahnya.
Aksi Dong Fang membuat para budak menjadi antusias, mereka melihat secercah harapan.
"Tuan! Tolong selamatkan aku!"
"Dia dewa penolong!! Dia dewa penolong!!.. Dewa, tolong aku!"
Puluhan seruan meminta tolong terdengar oleh Dong Fang. Dong Fang menjawabnya dengan mengangguk, kemudian membebaskan yang lainnya.
Sebagian dari mereka, senang bisa keluar dari kurungan yang telah mengekang mereka, namun sebagian lagi masih dengan wajah suramnya —mereka sepertinya telah mengalami hal yang sangat buruk dan tak mengetahui tujuan mereka setelah bebas.
"Terimakasih dewa, aku tahu kau akan datang." salah seorang wanita bersujud.
Sebagian orang-orang disekitar mereka melakukan hal yang sama. Sedangkan yang lainnya terlihat berterimakasih sambil menangis.
"Hentikan ucapan terimakasih kalian." Dong Fang menggeleng, kemudian menambahkan, "Aku ingin bertanya pada kalian semua. Apa disini ada anak dari paman Lei? Dia berasal dari Desa Batu Giok."
Kumpulan orang itu menjadi hening, kini hanya terdengar suara tangisan dari orang-orang. Beberapa detik kemudian, seorang wanita terlihat mendekat kearah Dong Fang.
"Itu aku tuan." wanita itu terlihat masih tersedu-sedu.
"Siapa namamu?" tanya Dong Fang.
"Namaku Meng."
Dong Fang memperhatikan ciri-ciri fisik dari wanita itu, kemudian mengangguk pelan. Wanita itu sesuai dengan ciri-ciri yang Lei katakan, meskipun terlihat sebuah luka diwajahnya.
"Apa kau tak mengalami sesuatu yang buruk?"
Meng menggeleng, "Selama seminggu, aku hanya dikurung dikurungan ini, mereka tak melakukan hal-hal aneh kepadaku."
Dong Fang mengangguk. Jika dilihatnya, wajah dari Meng memang biasa-biasa saja, sehingga Meng bisa aman selama dikurung disini.
Dong Fang memejamkan mata, 'Bahkan, hal yang sangat tak diinginkan seorang wanita pun, bisa menyelamatkan nyawa mereka. Setiap hal, bahkan hal yang buruk sekalipun memiliki arti yang baik.' batinnya, Dong Fang lalu membuka kembali matanya. Dia menambahkan, "Baiklah, kalian semua ikuti aku! Aku mohon, bawa anak-anak bersama kalian dan juga bawa orang-orang yang muram itu!"
Dong Fang kemudian berjalan keluar dari ruangan bawah tanah itu, diikuti oleh orang-orang yang kini telah bebas. Dong Fang membawa mereka kearah ruang harta, dia sebisa mungkin menghindari jalan yang terdapat banyak mayat, meskipun dua-tiga mayat masih Dong Fang temukan.
Mereka berjalan beberapa detik, hingga sampai disebuah pintu, yang dimana ada empat mayat didepan pintu itu. Dong Fang menyingkirkan mayat itu dan menendang kepala mereka layaknya bola.
Dong Fang membuka ruangan harta itu.
"Kalian tunggu disini." dia kemudian masuk dan mencari barang yang mungkin akan berharga untuknya, hingga dia menemukan beberapa botol dengan beberapa pil berwarna hijau muda didalamnya. Dong Fang dapat mengenali pil itu sebagai Pil Sungai Bambu, sebuah pil tingkat rendah yang bermanfaat untuk memulihkan sekitar 3 tenaga dalam setiap pilnya dan juga bermanfaat menyembuhkan luka luar.
Dong Fang mengambil botol pil itu dan mencari sesuatu yang lain, namun dirinya tak menemukan sumber daya lain yang berguna untuk pendekar. Dong Fang kemudian keluar dari ruangan itu.
"Ini ruangan harta, kalian boleh masuk dan mengambil sesuai kebutuhan kalian. Pastikan semua orang disini mendapatkan bagian." Dong Fang diam sebentar, "Setelah ini, kalian boleh kembali lagi kerumah kalian atau membuat kehidupan baru di desa ataupun di kota. Semua itu, kalian yang menentukan. Dan untukmu, Meng, kurasa kau harus kembali kerumahmu, ayahmu menunggumu."
Kerumunan orang-orang itu mulai masuk kedalam ruangan harta, hingga hanya tersisa Meng. Meng terlihat menatap Dong Fang dengan mata yang berkaca-kaca, kemudian membungkukan badannya, "Terimakasih, tuan. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan tuan."
Dong Fang menggeleng, "Kau tak perlu membalas kebaikanku. Aku melakukan ini karena keinginanku sendiri." Dong Fang diam sebentar, kemudian melanjutkan, "Aku masih ada urusan lain, aku pergi dulu." Dong Fang kemudian membalikkan badannya, namun, sebelum dirinya jauh, Dong Fang membalikan badannya lagi.
"Ah, ya. Hindari ruangan tengah itu. Kalian juga hanya perlu lurus kesana untuk keluar dari tempat ini, dan berjalan lurus dari gerbang tempat ini untuk sampai di Desa Batu Giok." Dong Fang menunjuk kearah gerbang markas ini, kemudian dia berlari kembali. Dia masih harus menghabisi lebih dari delapan ratus orang.