Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 32
"Janinnya tidak ada masalah, Pak! Rasa sakit itu muncul akibat benturan yang terjadi pada punggung Ibu," ucap dokter menjelaskan hasil pemeriksaan di ruang pemulihan rumah sakit.
"Oh, syukurlah..." ucap Tama mengembuskan napas lega yang teramat sangat. Pria itu lalu menunduk, dengan lembut mengecup pucuk kepala Andini untuk menenangkan istrinya.
Dokter itu kemudian berpamitan, melangkah keluar dan meninggalkan pasangan suami istri tersebut di dalam ruangan.
"Mas, maaf ya... sudah buat kamu khawatir," ucap Andini pelan dengan suara yang sengaja dibuat selemah mungkin.
"Its okay... Sayang! Yang penting anak kita aman," ucap Tama hangat sembari mengusap lembut pipi Andini yang masih tampak agak pucat.
Andini memandang Tama dengan mata berkaca-kaca, mulai melancarkan aksinya. "Mas! Kamu lihat sendiri kan kelakuan Elsa... Dia bar-bar banget... Padahal aku enggak sengaja menyenggol dia, eh dia malah langsung menarik rambutku. Sakit banget tahu, Mas..." adu Andini.
Tama hanya terdiam mendengarkan. Pria itu mengetatkan rahangnya kuat-kuat, menahan amarah yang kembali tersulut di dalam dadanya.
"Pokoknya aku enggak mau tahu, aku mau Elsa pergi dari rumah itu... Aku enggak mau melihat dia lagi di sana, Mas. Aku takut... takut anak kita nanti dia apa-apakan," ucap Andini lagi, mulai menitikkan air matanya agar Tama makin luluh.
"Iya, Sayang...! Elsa memang sebaiknya enggak tinggal satu rumah lagi dengan kita," ucap Tama mutlak. Pria itu sudah teramat marah dengan kelakuan kasar Elsa yang dia saksikan sendiri di halaman tadi.
"Pulang nanti, Mas akan antar dia pulang ke rumah orang tuanya... Kamu tenang saja ya!" kata Tama menenangkan. Pria itu lantas menarik Andini masuk ke dalam pelukannya.
Di balik punggung Tama, di dalam pelukan hangat suaminya itu, Andini menyunggingkan sebuah senyuman licik yang penuh kemenangan. Rencananya berhasil total.
•••••••••••••••
Sementara itu di rumah utama, Elsa tampak berjalan mondar-mandir dengan gelisah di ruang tamu. Dia terus menunggu kedatangan Tama dan Andini dengan perasaan yang berkecamuk. Tak lama kemudian, suara deru mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah, disusul oleh langkah kaki Tama dan Andini yang berjalan masuk melewati pintu depan.
"Mbak...! Gimana dedek bayinya? Enggak apa-apa, kan?" tanya Elsa risau. Gadis itu langsung melangkah mendekat dengan raut wajah penuh kecemasan.
Namun, Andini hanya terdiam. Wanita itu membuang muka, malas menjawab pertanyaan madunya.
Melihat reaksi Andini, Elsa lalu mengalihkan pandangannya pada Tama. Pria besar itu juga ikut terdiam, bahkan sama sekali tidak mau melirik ke arah Elsa.
"Gilang!" panggil Tama dengan suara beratnya.
"Ya, Juragan," sahut Gilang yang langsung melangkah maju mendekat.
"Apa kamu sudah lakukan apa yang kusuruh?" tanya Tama tanpa basa-basi.
"Sudah, Juragan," kata Gilang patuh.
"Bagus! Sekarang kerjakan," ucap Tama dingin.
Gilang mengangguk, lalu memberikan kode dengan lambaian tangannya pada tiga orang pelayan yang sudah bersiap di belakangnya. Ketiga pelayan itu lantas bergerak cepat menuruni tangga menuju area belakang. Elsa dibuat kebingungan dengan atmosfer aneh ini, namun dia tetap memilih terdiam di tempatnya.
Tak butuh waktu lama, ketiga pelayan itu kembali datang ke ruang tamu dengan membawa serta barang-barang milik Elsa. Semua tas serta baju-baju milik Elsa ternyata sudah dikemas rapi di dalam tas besar dan koper.
Melihat pemandangan itu, dahi Elsa mengernyit dalam. "Ini... apa-apaan sih? Juragan! Kenapa barang-barang saya dikasih begini?!" tanya Elsa bingung, menuntut penjelasan.
Namun, Tama tetap tidak bergeming dan tidak menjawab sepatah kata pun.
"Juragan, jawab dong...! Ini maksudnya apa?!" ucap Elsa mendesak, benar-benar tidak paham dengan situasi yang dihadapinya.
Tama membuang napas kasar, lalu menoleh pada asisten kepercayaannya tanpa sudi menatap Elsa. "Gilang, tolong kamu yang jelaskan pada bocah ini. Beri dia kepahaman. Saya mau membawa Andini masuk ke dalam untuk istirahat," ucap Tama dengan nada suara yang teramat dingin.
Elsa seketika mengalihkan tatapannya, menatap Gilang dengan penuh tanya.
"Nona, silakan Anda pergi dari rumah ini. Tuan dan Nyonya tidak ingin melihat Anda lagi di rumah ini," ucap Gilang dengan nada datar dan lugas.
Mendengar kalimat itu, jepitan rambut Elsa seolah runtuh. "Apa...? Gue diusir...? Gila ya kalian!" ucap Elsa tak percaya. Baru tiga hari dia menginjakkan kaki di rumah mewah ini, dan sekarang hanya karena kesalahpahaman ini, dia langsung diusir begitu saja.
Elsa tertawa kecil, tawa hambar yang menyiratkan rasa tak percaya yang teramat sangat. "Juragan...? Ini bohongan, kan? Juragan cuma mau prank saya doang, kan?" tanya Elsa, mencoba mencari celah kebohongan di wajah suaminya.
"Saya tidak bercanda, Elsa. Tolong sekarang kamu angkat kaki dari rumah saya! Saya tidak ingin ada orang jahat yang tinggal di rumah saya," ucap Tama menusuk.
Elsa seketika terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca menahan luapan emosi dan rasa sakit hati yang tiba-tiba menghunjam dadanya.
"Wah! Lihat! Aku dengar kemarin ada yang mengatakan... tidak akan mengusirku dari rumah ini. Tapi lihat, orang itu sendiri yang mengatakannya sekarang," kata Elsa dengan nada menyindir yang tajam, mengingatkan Tama pada janji manisnya di kebun jeruk kemarin.
"Baik! Saya akan pergi dari rumah ini..."
Cuih! Elsa meludah ke samping lantai untuk meluapkan rasa muaknya yang tak tertahankan.
"Dasar Juragan plin-plan! Aku harap kamu enggak bakal menyesal karena sudah mengusirku dari rumahmu ini!" kata Elsa lantang penuh penekanan.
Gadis itu lalu menyambar tasnya dengan kasar, mencengkeram pegangan kopernya, lalu menyeret barang-barangnya berbalik pergi melintasi pintu utama. Dia meninggalkan kediaman Juragan Tama tanpa menoleh lagi ke belakang.