NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

suasana asing

Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah gorden kamar yang besar, membawa kehangatan yang kontras dengan dinginnya malam lalu.

Aleta perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan penglihatannya yang masih sedikit buram. Perlahan, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan mewah yang asing namun mengerikan ini. Untungnya, tubuhnya tidak selemas semalam; tenaganya sudah sedikit pulih berkat istirahat yang panjang.

Dengan bertumpu pada kedua tangannya, Aleta bangkit untuk duduk. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa-siapa di kamar itu. Alden tidak ada, begitu pula pelayan yang semalam menolongnya. Kamar itu begitu luas, sepi, dan hanya menyisakan dirinya sendiri di atas ranjang king size.

ketenangan sesaat itu langsung pecah ketika pandangan Aleta tertuju pada jam dinding yang terpasang di ruangan tersebut.

Betapa terkejutnya Aleta saat menyadari jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 siang.

Dada Aleta langsung berdegup kencang, disergap rasa panik yang luar biasa. Berarti semalaman penuh ia tidur di rumah ini. Otaknya langsung berputar liar memikirkan satu nama yang paling berharga dalam hidupnya.

Ibu...

Bagaimana dengan ibunya di rumah? Semalaman ia tidak pulang, tidak memberi kabar, dan ponselnya entah ada di mana. Ibunya pasti sangat cemas mencari keberadaannya, atau lebih buruk lagi, kondisi kesehatan ibunya bisa drop karena memikirkannya. Tanpa memedulikan rasa nyeri yang masih tersisa di leher dan tubuhnya, Aleta langsung menyibak selimut, berniat untuk segera keluar dari tempat terkutuk itu.

🌍🌍🌍

Aleta mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Dengan kaki yang masih terasa sedikit gemetar, ia menyeret langkah menuju pintu kayu besar itu. Begitu sampai di depan pintu, ia segera memutar kenop pintunya dengan tergesa-gesa.

Klik. Klik.

Pintu itu tidak bergerak sedikit pun. Aleta mengerutkan kening, lalu mencobanya lagi dengan tenaga yang lebih kuat, memutar kenopnya berkali-kali ke arah kanan dan kiri. Pintu itu tetap terkunci rapat.

"Buka! Tolong buka pintunya!" Aleta berseru, suaranya terdengar serak karena ia baru saja terbangun dan karena trauma yang masih membekas.

Ia memukul pintu itu dengan telapak tangannya, berharap ada seseorang di luar sana yang mendengar. Namun, yang ia dapatkan hanyalah keheningan yang mencekam.

Seketika, realitas pahit menghantamnya; ia tidak hanya terjebak di rumah ini, ia benar-benar dikunci di dalam kamar ini. Panik yang tadi hanya berupa kecemasan akan ibunya, kini berubah menjadi ketakutan akan terkurungannya.

"ka Alden! Keluar! Buka pintunya!" teriaknya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi, sarat akan kemarahan sekaligus rasa putus asa. Ia tahu, selama pintu ini terkunci, ia hanyalah tawanan yang tidak bisa melakukan apa pun untuk pulang ke pelukan ibunya.

Aleta menghentikan pukulannya pada pintu. Napasnya terengah-engah, memburu karena rasa panik yang bercampur aduk. Ia melirik kembali ke arah jam dinding yang terus berdetak.

Pukul sepuluh siang.

Kesadaran itu menamparnya. Di jam seperti ini, pasti sekarang Alden sedang berada di sekolah. Cowok itu pasti menjalani harinya dengan normal di kelas, sementara dirinya dikurung di kamar ini bagai seorang tahanan.

Menyadari usahanya menggedor pintu sia-sia, Aleta akhirnya menyerah. Dengan bahu yang merosot lesu, ia membalikkan badan dan berjalan lunglai kembali ke arah kasur.

Baru saat itulah ia menyadari ada beberapa hal yang terlewat oleh pandangannya tadi. Di atas meja nakas tepat di samping tempat tidur, sudah tersedia satu nampan berisi sarapan yang tampak lengkap dengan segelas susu hangat yang permukaannya sudah tidak lagi berasap. Di samping nampan itu, terdapat lipatan pakaian ganti yang bersih dan rapi.

Aleta menatap makanan itu dengan tatapan kosong. Perutnya memang terasa perih karena lapar, tetapi tenggorokannya mendadak terasa sangat sempit. Semua fasilitas ini—sarapan yang disiapkan, pakaian ganti—tidak terasa seperti sebuah perhatian, melainkan seperti sangkar emas yang sengaja dibuat untuk menahannya lebih lama.

Ia duduk di tepi kasur, menatap pakaian ganti itu dengan batin yang berkecamuk. Air matanya kembali menggenang di pelupuk mata saat bayangan wajah ibunya yang cemas di rumah kembali terlintas di pikirannya.

🌍🌍🌍

Duduk terkurung di kamar yang sunyi itu membuat pikiran Aleta bergerak liar tanpa bisa dikendalikan. Di tengah keheningan, kilasan-kilasan kejadian semalam tiba-tiba berputar kembali di benaknya seperti film dokumenter yang mengerikan.

Bayangan saat Alden menariknya paksa, sorot mata cowok itu yang dipenuhi amarah gelap, hingga ciuman paksa yang merenggut napas dan kebebasannya kembali menyerang pikiran Aleta dengan begitu hantaman yang dahsyat.

Ia bisa merasakan kembali sentuhan kasar di lehernya, rasa sesak yang membuatnya hampir kehabisan napas, dan bagaimana ia tidak berdaya di bawah kendali Alden selama lebih dari dua jam.

Seketika, rasa mual yang teramat sangat merayap naik ke dadanya.

Aleta mencengkeram kaus longgar yang dipakainya dengan erat, lalu mulai menggosok kulit leher dan bibirnya menggunakan telapak tangan dengan gerakan kasar, seolah-olah ia bisa menghapus jejak sentuhan Alden dari sana. Rasa perih kembali menjalar, namun rasa perih itu kalah telak oleh rasa muak yang membuncah.

Aleta merasa sangat jijik pada tubuhnya sendiri.

Ia merasa kotor, ternoda, dan tak lagi mengenali dirinya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipinya. Aleta merapatkan kedua lututnya ke dada, menyembunyikan wajahnya di sana, dan menangis tergugu dalam kesendirian. Di dalam kamar yang terkunci itu, ia meratapi nasibnya yang malang, merasa begitu tak berdaya menghadapi keegoisan seorang Alden.

Setelah beberapa saat tenggelam dalam isak tangis yang menyesakkan, Aleta menarik napas panjang, berusaha memaksakan diri untuk berdiri. Ia tidak bisa terus-terusan meringkuk dalam keputusasaan sementara rasa kotor itu terus merayap di bawah kulitnya.

Ia menatap tumpukan pakaian bersih yang tergeletak di atas kasur. Tatapannya kini mengeras, dipenuhi keinginan untuk membasuh semua jejak yang ditinggalkan Alden. Aleta segera menggapai pakaian itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu dengan langkah terburu-buru—setengah berlari—ia menuju ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut.

Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, Aleta langsung masuk dan membanting pintu di belakangnya, menguncinya rapat-rapat.

Ia memutar keran shower hingga air dingin mengguyur tubuhnya tanpa ampun. Aleta tidak peduli jika airnya terlalu dingin, ia justru membutuhkannya. Ia segera melepas pakaian yang dikenakannya, menatap cermin sebentar dengan pandangan benci pada pantulan dirinya sendiri yang tampak berantakan, lalu membiarkan air membasahi tubuhnya.

Aleta mulai menggosok kulitnya dengan sabun berkali-kali. Ia menyabun lehernya, bahunya, dan bibirnya dengan kasar, terus-menerus menggosok hingga kulitnya memerah dan perih. Setiap kali air membasuh tubuhnya, ia membayangkan bahwa ia sedang meluruhkan semua ingatan dan rasa jijik akibat perlakuan Alden.

Di bawah guyuran air, Aleta kembali menangis, namun kali ini tangisannya tertutup oleh suara gemericik air yang jatuh ke lantai kamar mandi. Ia harus bersih. Ia harus kuat, setidaknya untuk bisa keluar dari tempat ini dan kembali pada ibunya.

🌍🌍🌍

yooo semangat semuanya jalan cerita masih panjang nih😚

semoga pada suka yah👌🏻

1
Zed Analytical Number Nine
namanya juga lagi MPLS
Arni Arlinawati pratiwi
ha ha ha.. suka gue sha, silaing di jdikeun umpan gelur ku author na mantap.. gelut lah, gelut..
Arni Arlinawati pratiwi
har.. kabayang na ngadon hitut nya, lah.. /Facepalm//Curse/
Arni Arlinawati pratiwi
ah silaing.. ek di jadikeun umpan, 🤣🤣🤣
Arni Arlinawati pratiwi
oh kitu? jeung sayah we yu gelut.. ek gaya naon den, di ladenan ku mak mah..
Arni Arlinawati pratiwi
teman emang kuduna kitu, sekalian we tor jadikeun umpan curut na si alden meh gelut.. Aleta nonton mereka lagi gelut, kan marsha pemberani.. tonjok aja sha, 🤣🤣🤣🤣
Arni Arlinawati pratiwi
nya serem jiga bebegig sawah serem.. /Hey/
Arni Arlinawati pratiwi
keluar dari komik nak gepeng dong.. /Facepalm/
Swan Tiger
Alden😍
Nalara amora: ntar ada ka di depan 😭😭🤭
total 5 replies
Arni Arlinawati pratiwi
Alden sini lu gua jadi in lu musuh gua juga.. jadiin ulekan lu mau!
Nalara amora: kaaaa😭😭🤭
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
wah menta di karungan si alden.. gob***!!! /Drowsy/
Nalara amora: ga bakal cukup ka kalau pake karung 🙏🤣
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
kadieukeun aleta.. uwang di piceun,! /Skull/
Nalara amora: kaa aku ketawaaa😭😭
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
karak poe ka hiji.. ari silaing!!! kumaha mun manggih poe isuk isuk na deui, ku maneh ek di bawa ka imah alden.. urus tunyung silaing!!! /Skull/
Arni Arlinawati pratiwi
macem macem lu alden gua goreng, jiwa psicopat aing bangkit aya nu leuwih gelo mah!
Nalara amora: tenang kaaa😭😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
asdfghjkl Alden... 😭😭
Nalara amora: kaaaa😭🙏
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
yah lanjut.. ku pikir sudah capek loh den
Putri Ayu/PqxxyZ
ku pikir masih lanjut yang kemarin.. sudah capek ya Alden
author_rabbit18✍︎
ayo cepat pergi ke UKS
Nalara amora: ga keburu itu kaa😭
total 1 replies
author_rabbit18✍︎
yah ia lah, kan kau pakai jaket ketua OSIS, jadi mereka iriiiiii
Nalara amora: iri banget pasti 🤭
total 1 replies
author_rabbit18✍︎
jaket buat aku mana, Alden?
Nalara amora: kaaaa😭🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!