NovelToon NovelToon
Logika Diatas Cinta

Logika Diatas Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seeula

Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Memo Denda Lima Belas Miliar dan Biaya Operasional Akting Akhir Pekan

​Aroma mendung yang kian pekat di langit Menteng menembus masuk melalui celah gorden kamar tidur utama lantai dua yang terbuka sedikit. Di luar jendela, langit abu-abu pekat menggelayut rendah, membawa hawa dingin sisa hujan semalam yang menguap dari aspal basah. Di dalam kamar, ketegangan antara Kyle Ernest dan Nadine Lavena terasa bagai benang layangan yang ditarik kencang, begitu tipis, tajam, dan siap melukai siapa saja yang berani menyentuhnya.

​Langkah kaki Kyle yang kokoh masih bergeming di atas karpet bulu abu-abu milik Nadine. Pria itu berdiri tegak, menantang batas kesabaran wanita berparas unik itu dengan keangkuhan maskulin yang mutlak.

​Nadine tidak mundur satu senti pun. Ia melipat kedua tangannya di dada, melayangkan tatapan mata yang lurus mengunci manik mata kelabu Kyle dengan kedataran yang mematikan.

​"Kontrak tetaplah kontrak, Tuan Ernest. Jika Anda merasa kekuasaan Anda di Ernest Group bisa membeli validitas hukum hitam di atas putih yang Anda tanda tangani sendiri, maka Anda salah besar. Sikap Anda sore ini bukan menunjukkan otoritas, melainkan ketidakmampuan mengendalikan ego seorang pria tsundere yang frustrasi karena tidak mendapatkan perhatian."

​Kyle mengepalkan tinjunya perlahan di balik saku celana. Rahang tegasnya mengeras hingga otot-otot di lehernya terlihat menegang kasar di bawah temaram lampu kamar. Sebuah kekehan sinis yang sangat rendah lolos dari bibirnya yang kokoh.

​"Frustrasi? Kamu terlalu percaya diri, Nadine Lavena. Aku hanya sedang menegaskan hak milikku. Rumah ini milikku. Seprai yang kamu tiduri, lantai yang kamu pijak, semuanya dibeli dengan uangku. Termasuk waktu dan statusmu selama tiga tahun ini."

​"Dan saya sudah membayar ruang ini dengan reputasi saya sebagai istri sah Anda di hadapan media dan keluarga besar Anda, Pak Kyle."

​Nadine maju satu langkah tanpa ragu. Ia memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma parfum amberwood berkayu yang maskulin milik Kyle dan wangi teh melati yang menenangkan dari tubuh Nadine berbenturan langsung di udara.

​"Status saya bisa Anda sewa, tapi privasi kamar ini adalah hak mutlak pihak kedua yang dilindungi pasal ketiga. Jika Anda menolak keluar sekarang, saya pastikan besok pagi memo denda wanprestasi sebesar lima belas miliar rupiah akan mendarat di meja kerja komisaris utama ayah Anda sendiri."

​Kyle terdiam seketika. Sepasang matanya menatap tajam ke dalam manik mata Nadine yang bersih dari segala bentuk rasa takut. Keberanian yang kalkulatif dan ketegasan pragmatis wanita di hadapannya ini selalu berhasil memukul mundur keangkuhannya di saat yang paling tidak terduga.

​Pria es itu menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai kembali emosinya yang sempat tersulut oleh rasa posesif yang asing dan liar di dalam dadanya.

​"Kamu benar-benar wanita yang sangat materialistis dan tidak punya perasaan, Nadine."

​"Uang tidak pernah berbohong, Pak Kyle. Berbeda dengan hati manusia yang bisa berubah menjadi parasit seperti Kinara, atau penipu seperti Heyden."

​Nadine berjalan dengan langkah anggun melewati tubuh Kyle, menjangkau gagang pintu kamarnya lalu membukanya lebar-lebar dengan gerakan mengusir yang sangat elegan.

​"Silakan kembali ke sayap timur rumah ini. Kamar Anda merindukan tuannya yang angkuh."

​Kyle menatap Nadine dengan tatapan yang sulit diartikan perpaduan antara kemarahan yang tertahan karena harga dirinya diusik, dan ketertarikan yang semakin mengakar kuat karena melihat ketangguhan sang wanita. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia melangkah keluar dari kamar Nadine dengan hentakan kaki yang berat, membawa kembali hawa dinginnya menyusuri koridor lantai dua.

​Nadine langsung menutup pintu kayu jati itu, memutar anak kunci rapat-rapat dari dalam dengan bunyi klik yang nyaring. Ia menyandarkan punggung anggunnya pada permukaan pintu, menghela napas panjang sembari menatap tempat tidurnya yang sedikit berantakan akibat gesekan tubuh Kyle tadi.

​{Pria es itu benar-benar mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dia pikir dia bisa mengintimidasi diriku dengan status kepemilikan rumah? Lucu sekali. Mari kita lihat seberapa jauh dia bisa bertahan sebelum dinding keangkuhannya runtuh total oleh pasal-pasal yang dia buat sendiri.}

​Nadine melangkah menuju meja riasnya, merapikan kembali beberapa berkas laporan keuangan pribadinya dengan jemari yang stabil. Ketegangan sore itu tidak membuatnya gentar sedikit pun. Bagi seorang Nadine Lavena, tantangan dari seorang pria berkuasa seperti Kyle Ernest justru menjadi bahan bakar terbaik untuk membuktikan bahwa kecerdikannya berada beberapa tingkat di atas ego maskulin yang rapuh.

​Pagi berikutnya, aroma kopi hitam espresso yang pekat dan harum panggangan roti mentega gurih memenuhi seluruh udara dapur bersih di lantai satu. Sinar matahari pagi yang cerah menembus kaca-kaca jendela besar, memantulkan kilau bersih pada peralatan dapur baja antikarat yang berkilau mewah.

​Nadine Lavena sedang berdiri di depan meja konter marmer, mengenakan blus kerja berwarna biru dongker yang elegan dengan celemek putih yang terikat rapi di pinggangnya. Tangannya dengan sangat cekatan membalikkan telur mata sapi di atas teflon panas dengan gerakan yang teratur dan tenang.

​Kyle Ernest turun dari lantai dua dengan setelan jas hitam formal yang sangat sempurna tanpa cela, memancarkan kembali aura CEO-nya yang dingin, berwibawa, dan tak tersentuh. Pria itu melangkah langsung menuju meja konter, duduk di atas salah satu kursi bar tinggi di seberang Nadine. Sepasang matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan tangan Nadine tanpa ekspresi.

​Nadine meletakkan sepiring roti panggang yang masih mengepulkan uap mentega, telur mata sapi dengan kuning telur setengah matang yang cantik, dan secangkir espresso panas di hadapan Kyle dengan ketukan piring porselen yang terdengar formal.

​"Sarapan Anda, Tuan Ernest. Sesuai dengan draf menu mingguan yang Anda setujui."

​Kyle tidak langsung menyentuh garpu peraknya. Ia menatap permukaan hitam espresso miliknya, lalu mendongak menatap wajah unik Nadine yang kini sedang menyiapkan piring sarapannya sendiri di ujung konter.

​"Mengenai kejadian sore kemarin di kamarmu."

​"Saya menganggap masalah itu sudah selesai begitu Anda melangkah keluar dari pintu kamar saya, Pak Kyle. Kecuali jika Anda ingin menambahkan draf amandemen baru pada pasal ketiga dengan kompensasi biaya tambahan sebesar lima puluh juta per kunjungan."

​Nadine memotong kalimat Kyle dengan nada suara yang teramat datar dan profesional, sembari tangannya bergerak mengoleskan selai stroberi pada permukaan rotinya yang renyah.

​Kyle mendengus pelan. Seulas senyuman smirk yang tipis muncul di sudut bibirnya yang kaku, melunakkan sejenak ketegangan di wajah esnya.

​"Kamu selalu tahu bagaimana cara mengubah ketegangan emosional menjadi transaksi bisnis yang menguntungkan bagi rekeningmu, Nadine."

​"Itu disebut profesionalitas kerja, Pak Kyle. Saya tidak mencampuri urusan pribadi Anda dengan masa lalu Anda yang berantakan, jadi saya harap Anda juga menghormati batasan privasi saya sebagai rekan kerja."

​"Rekan kerja yang berstatus sebagai istri sah di mata hukum dan media."

​Kyle memajukan tubuh tegapnya sedikit ke depan meja konter, menatap Nadine secara intens.

​"Ibuku menelepon lagi pagi ini. Beliau meminta kita untuk menghadiri acara peresmian yayasan panti asuhan keluarga Ernest akhir pekan ini. Dan beliau menekankan... ingin melihat keharmonisan kita yang lebih nyata, bukan sekadar pelukan formal di depan pintu ruang makan."

​Nadine menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang pisau selai. Ia mendongak, menatap Kyle dengan binar mata yang cerdas, tajam, dan penuh dengan perhitungan kalkulasi materi.

​"Acara peresmian yayasan keluarga artinya akan ada banyak kamera wartawan dan relasi bisnis kelas atas. Kategori 'keharmonisan nyata' di depan publik memerlukan peningkatan kualitas akting yang cukup menguras energi emosional saya, Pak Kyle."

​Kyle merogoh saku jas hitamnya, mengeluarkan ponsel pintarnya, dan melakukan beberapa ketukan cepat di atas layar kaca beresolusi tinggi tersebut sebelum meletakkannya kembali di atas meja konter marmer dengan ketukan pelan.

​Bzzzt.

​Notifikasi getar di ponsel Nadine yang tergeletak di dekat wastafel langsung berbunyi nyaring. Layar ponselnya menyala, menampilkan transferan dana masuk sebesar Rp75.000.000 (Tujuh Puluh Lima Juta Rupiah) dari rekening Kyle Ernest dengan sebuah catatan transfer singkat yang tertulis jelas di bagian bawah: 'Biaya operasional peningkatan kualitas akting akhir pekan'.

​"Apakah kompensasi tersebut cukup untuk membuatmu tersenyum manis dan menggandeng lenganku dengan tulus di depan kamera wartawan nanti, Nona Nadine?"

​Kyle menatap langsung ke arah sepasang mata Nadine, menantang ego wanita di hadapannya dengan keangkuhan hartanya yang melimpah.

​Nadine menatap barisan angka nominal baru di layar ponselnya, lalu mengangkat pandangannya menatap wajah tampan Kyle dengan seulas senyuman anggun yang teramat menawan, manis, dan tampak begitu tulus sebuah senyuman bisnis terbaiknya yang seketika membuat Kyle tertegun diam selama beberapa detik.

​"Tentu saja, Suamiku yang terhormat. Pelayanan prima tingkat tinggi dan akting kemesraan yang paling romantis akan saya tampilkan dengan sempurna di hadapan keluarga besar Anda dan media akhir pekan nanti. Pastikan saja koordinasi kurir pakaian saya berjalan lancar hari ini."

​Nadine memakan roti panggangnya dengan gerakan yang sangat riang, melupakan sepenuhnya seluruh ketegangan pasca-insiden kamar tidur kemarin sore seiring dengan bertambahnya digit saldo di rekening tabungannya.

​Kyle menggelengkan kepalanya perlahan. Ada rasa geli bercampur kekaguman yang kian tebal merayap di dalam benaknya melihat betapa pragmatisnya wanita yang kini menjadi istrinya itu. Di balik sikap acuh tak acuhnya terhadap pesona fisik dan kekuasaannya, Nadine memiliki ketegasan prinsip yang tidak bisa digoyahkan oleh apa pun selain kepuasan materi yang nyata. Sebuah permainan kerja sama yang semakin menarik untuk ia jalani di bawah atap rumah Menteng.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!