Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Pertama di Rumah Kami
Langit mulai berubah jingga keemasan ketika seluruh tumpukan barang akhirnya selesai dirapikan. Meski masih banyak kardus besar yang belum dibongkar, rumah minimalis itu perlahan mulai terasa hidup. Beberapa peralatan dapur telah tersusun manis di tempatnya, sementara ruang tamu kini tak lagi terlihat kosong melompong.
Satria baru saja selesai memasang gorden berwarna krem di ruang tengah ketika aroma gurih bawang putih yang ditumis mulai merayap, memenuhi seluruh ruangan. Pria itu menurunkan kedua lengannya, lalu menoleh ke arah dapur bersih di bagian belakang.
Di sana, Naira terlihat sedang sibuk. Ia mengenakan celemek kain berwarna krem pemberian ibunya, dengan lengan gamis yang digulung sedikit hingga sebatas siku agar lebih leluasa bergerak. Di atas konter dapur, hanya tersedia beberapa bahan makanan yang sangat bersahaja; beberapa butir telur, seikat sayuran hijau, dan sepotong tempe.
Naira tersenyum kecil menatap isi kulkas dan bumbu dapur kiriman Ibu Siska. "Untung Ibu sudah menyiapkan semuanya dari subuh," gumamnya lega.
Satria melangkah perlahan menghampiri area dapur. "Ada yang bisa kubantu?" tanyanya, mengejutkan Naira sedikit.
Naira menoleh, lalu mengetukkan sudip kayu ke pinggiran wajan. "Eh, Mas. Kalau tidak merepotkan, Mas bisa tolong ambilkan piring di dalam kardus yang bertuliskan 'Peralatan Dapur'?"
"Baik, tunggu sebentar," sahut Satria dengan anggukan mantap.
Tanpa banyak bertanya lagi, Satria langsung berjongkok di dekat meja makan, memilah tumpukan kardus dan mencari tulisan yang dimaksud. Beberapa menit kemudian, ia kembali ke dapur sambil membawa dua piring keramik putih.
"Kardus yang ini, kan?" tanya Satria memastikan.
"Iya, betul sekali, Mas. Terima kasih ya," ucap Naira, menerima piring tersebut lalu meletakkannya di atas meja.
Satria bersandar di dekat kulkas, memperhatikan gerakan tangan istrinya yang cekatan. "Kamu masak apa malam ini?"
"Menu sederhana saja dulu ya, Mas. Nasi putih hangat, tumis sayur campur, tempe goreng krispi, sama telur dadar bawang," jawab Naira agak ragu, takut suaminya bosan.
Satria mengangguk pelan, senyum tipis terukir di wajahnya. "Tidak apa-apa. Yang paling penting itu kita makan bersama di rumah baru kita."
Kalimat ringan itu sukses membuat sudut bibir Naira terangkat. Dadanya mendadak terasa hangat.
Tak sampai satu jam, dua piring makanan telah tersaji rapi di atas meja makan kecil berkapasitas empat orang tersebut. Tidak ada lauk mewah ala restoran bintang lima, hanya menu rumahan yang sangat bersahaja. Namun bagi keduanya, atmosfer di ruangan itu membuat makan malam pertama ini terasa begitu istimewa.
Satria duduk tepat berhadapan dengan Naira.
"Silakan dimakan, Mas," ujar Naira, mempersilakan suaminya terlebih dahulu.
"Terima kasih, Naira," balas Satria. Ia menyendok nasi dan lauk pauk ke piringnya, lalu menyuap suapan pertama.
Naira mendadak menahan napas. Jemarinya saling meremas di bawah meja, diam-diam memperhatikan perubahan ekspresi di wajah suaminya dengan saksama. "Bagaimana, Mas? Rasanya pas?" tanya Naira cemas.
Satria mengunyah makanannya perlahan, menikmati perpaduan rasa bumbu tumis yang meresap sebelum akhirnya menelan. "Enak," jawabnya singkat namun tegas.
"Serius, Mas? Jangan hanya menghiburku, lho," seloroh Naira, menyipitkan matanya curiga.
Satria menggeleng pelan, lalu kembali menyendok nasi goreng buatannya. "Aku tidak sedang menghiburmu, Naira. Ini memang beneran enak. Gurihnya pas."
Naira akhirnya bisa mengembuskan napas lega yang panjang, ketegangan di bahunya seketika menguap. "Alhamdulillah... itu berarti aku lulus ujian pertama memasak untuk suami."
"Lulus dengan nilai bagus," timpal Satria, terkekeh tipis.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu makan bersama sambil berbincang ringan. Mereka mengobrol tentang ritme pekerjaan Satria di kantor kecamatan besok, persiapan toko kue Naira yang akan mulai buka lusa, hingga daftar perabotan rumah yang harus mereka lengkapi sedikit demi sedikit. Percakapan mengalir begitu saja, perlahan mengubah suasana rumah yang semula terasa asing menjadi begitu hangat dan akrab.
Begitu makanan di piringnya tandas, Naira langsung berdiri untuk membereskan piring-piring kotor di atas meja. Namun, Satria dengan cepat ikut bangkit dari kursinya.
"Biar aku saja yang cuci piringnya," cetus Satria, mengulurkan tangan hendak mengambil alih mangkuk kosong.
Naira menggeleng cepat, menjauhkan piring-piring itu dari jangkauan suaminya. "Jangan, Mas. Biar aku saja."
"Kenapa memangnya?" tanya Satria, menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Ini kan sudah menjadi pekerjaanku sebagai istri di rumah," kilah Naira defensif.
Satria tersenyum hangat, lalu merebut pelan piring kotor dari genggaman Naira. "Mulai hari ini, rumah ini milik kita berdua, Naira. Kalau semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan bersama-sama, pasti akan selesai jauh lebih cepat."
Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya lagi, Satria langsung melangkah tegap membawa piring-piring kotor itu menuju wastafel dapur.
Naira yang ditinggalkan di dekat meja makan hanya bisa berdiri terpaku, lalu tersenyum geli menatap punggung tegap suaminya. "Ternyata Mas Satria keras kepala juga, ya," godanya sedikit mengeraskan suara.
Satria menghidupkan keran air, lalu menoleh sekilas sambil tertawa pelan. "Sedikit."
Untuk pertama kalinya sejak mereka menapakkan kaki di sana, suara tawa kecil yang renyah terdengar menggema, memenuhi setiap sudut rumah mungil tersebut.
✨✨✨✨
Malam semakin larut, hingga jarum jam dinding di ruang tengah telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana luar komplek sudah sunyi senyap.
Satria melangkah menuju pintu kamar kedua yang posisinya berada di seberang kamar utama. Ruangan itu masih tampak sangat polos; dindingnya belum dicat ulang, belum ada lemari pakaian, apalagi ranjang tidur yang empuk. Hanya ada lantai keramik putih bersih yang dingin.
Satria mengapit sebuah tikar anyaman, satu bantal, guling seadanya, serta selimut kain tipis di lengannya.
Melihat pemandangan itu dari lorong, Naira langsung berjalan menghampiri dengan raut wajah cemas. "Mas Satria..." panggilnya lirih.
"Iya? Ada apa, Naira?" Satria memutar tubuh, menatap istrinya yang berdiri di ambang pintu kamar kosong.
"Mas benar-benar berniat tidur di dalam ruangan ini?" tanya Naira, matanya menatap lantai keramik yang tampak membeku.
"Iya, tentu saja," jawab Satria santai.
"Tapi lantai rumah baru ini dingin sekali kalau malam, Mas. Mas bisa sakit," protes Naira, nada suaranya terdengar sangat bersalah.
Satria tersenyum menenangkan. "Tidak apa-apa, aku sudah biasa. Besok atau lusa kalau ada waktu luang selepas kantor, kita beli kasur lipat untuk di sini."
Naira menggigit bibir bawahnya erat, meremas ujung celemek yang belum sempat ia lepas. Perasaan tidak enak hati kembali mendera dadanya dengan hebat. "Mas... bagaimana kalau Mas tidur di kamar utama saja?" cetusnya tiba-tiba.
Satria menaikkan alisnya, menunggu kelanjutan kalimat istrinya.
"Maksudku... kita tetap berada di satu kamar yang sama," cicit Naira dengan pipi yang mendadak terasa panas. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Satria. "Aku bisa tidur di bawah pakai tikar ini, dan Mas Satria yang tidur di atas kasur. Kamar utama kan jauh lebih hangat."
Satria menggelengkan kepalanya pelan, menolak tawaran itu tanpa ragu. "Naira, lihat aku," pintanya lembut.
Naira perlahan mengangkat wajahnya yang merona merah. "Hm?"
"Kita sudah membuat kesepakatan bersama malam itu, dan sebagai suamimu, aku murni ingin menjaga batasan itu," tutur Satria dengan nada suara yang begitu dalam dan penuh penekanan lembut.
Naira masih terlihat bimbang. "Tapi kalau begini terus, aku jadi merasa bersalah dan tidak enak pada Mas."
Satria tersenyum sangat hangat, meletakkan bantalnya di atas lantai lalu melangkah satu pijakan mendekati Naira. "Kalau kamu merasa tidak enak hati... itu artinya kamu sudah mulai memikirkan dan peduli padaku, kan?" godanya sengaja.
Pertanyaan itu sukses membuat wajah Naira makin memerah sempurna hingga ke leher. "B-bukan begitu maksudku, Mas!" sergahnya gugup, salah tingkah.
Satria tertawa kecil melihat kepanikan istrinya. "Iya, aku tahu," ucapnya, melunak. Ia kembali berbalik untuk membentangkan tikar di atas lantai keramik.
"Justru karena aku sangat menghargai dan menghormatimu sebagai wanita, aku ingin kamu merasa aman dan nyaman setiap kali membuka pintu rumah ini. Jangan sampai rumah yang kita tinggali berdua ini malah menjadi tempat yang membuatmu merasa canggung atau tertekan."
Naira seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sudut matanya mendadak terasa panas, dan setitik air mata haru hampir saja lolos membasahi pipinya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa lelaki kaku yang baru beberapa hari menjadi suaminya ini bisa memiliki hati yang begitu peka, sangat menjaga batas, dan begitu memuliakan perasaannya.
"Terima kasih banyak ya, Mas," bisik Naira, suaranya parau menahan tangis.
Satria menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Naira dengan pandangan mata yang begitu teduh dari posisinya yang sedang berlutut di atas tikar. "Kalau suatu hari nanti... kamu sendiri yang datang kepadaku dan berkata bahwa kamu sudah siap... barulah kita akan menjalani semuanya sebagai suami istri yang seutuhnya. Sebelum hari itu tiba, aku tidak akan pernah memaksamu, Naira."
Untaian janji tulus itu seketika meresap, membuat seluruh sudut hati Naira yang sempat diliputi kecemasan kini terasa begitu hangat dan damai. Ia mengangguk pelan dengan senyuman terbaiknya. "Insyaallah, Mas. Terima kasih banyak karena sudah mau menungguku."
Satria hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang menenangkan. "Selamat malam, Naira. Selamat beristirahat."
"Selamat malam juga, Mas Satria," balas Naira lembut.
Naira melangkah mundur, lalu pintu kamar utama perlahan-lahan tertutup rapat.
Sementara di kamar sebelah, Satria merebahkan tubuh jangkungnya di atas bentangan tikar dengan bantal dan guling seadanya. Permukaan lantai di bawahnya memang terasa sangat keras dan dingin menusuk tulang, namun tidak ada sedikit pun rasa sesal yang tebersit di dalam benak Satria atas keputusannya malam ini. Bagi pria itu, kenyamanan psikologis dan rasa percaya dari sang istri jauh lebih bernilai taruhannya daripada sekadar tidur nyenyak di atas kasur yang empuk.
Sedangkan di balik pintu kamar utama yang hangat, Naira rupanya belum juga bisa memejamkan mata. Ia berbaring miring, menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang temaram sambil memikirkan satu hal penting yang baru saja ia sadari.
Mungkin... sebuah rasa cinta yang sejati memang tidak selalu harus dimulai dari sebuah sentuhan fisik yang intim. Terkadang, cinta justru bisa tumbuh jauh lebih subur dan kokoh dari sebuah rasa hormat, kesabaran yang tulus, serta kesediaan berkorban untuk saling menunggu.
Bersambung