bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"Sarapan? Sejak kapan kamu peduli makan pagi? Biasanya kamu lebih sibuk
merencanakan cara untuk menjatuhkan keluargaku," kata Arga datar.
Nadira menunduk. Ia menyadari bahwa setiap gerakan harus diukur. Ia tidak bisa
membalas kata-kata Arga dengan amarah Clarissa. Ia harus menemukan celah untuk
membuat Arga percaya bahwa ia bukan lagi ancaman.
"Jangan terlalu serius, Arga. Aku hanya ingin makan dengan tenang hari ini," ucap Nadira. Berusaha mencairkan suasana.
Arga mendengus pelan. Ia melepaskan genggamannya dari bingkai foto itu dan
melemparnya ke atas meja. Suara benturan kayu dan kaca terdengar cukup keras. Nadira
tahu, hari ini akan menjadi perjuangan panjang untuk mengubah persepsi pria itu terhadap dirinya.
"Rasanya aku seperti hendak ditelan bulat-bulat olehnya. Tapi aku tidak akan menyerah!" Nadira membatin.
Ia melangkah pelan menuju meja makan. Kursi kayu itu diseret sedikit, menciptakan suara gesekan yang memekakkan telinga di tengah ketegangan.
Nadira duduk, menunggu reaksi Arga selanjutnya dengan tangan yang sedikit gemetar di atas pahanya.
Sarapan Pertama yang Dingin
Langkah kaki Nadira menyentuh lantai marmer yang dingin saat ia berjalan menuju ruang makan. Pintu kayu berat itu terasa seperti penghalang antara dirinya dan dunia luar. Dibelakangnya, Arga berjalan dengan langkah malas, sepatunya menyeret sedikit di lantai seolah-olah setiap langkah membutuhkan usaha yang sangat berat.
Nadira menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang mulai berpacu karena ketegangan yang tak terucap.
Ia mendorong daun pintu hingga terbuka lebar, memperlihatkan meja makan panjang yang sebagian besar kursinya kosong. Di area ini, udara terasa jauh lebih dingin daripada di
koridor. Pembantu rumah tangga yang sedang menuangkan air putih langsung membeku, tangannya sedikit gemetar hingga airnya sedikit tumpah ke meja. Nadira menatap punggung pembantu itu, menyadari betapa dalam rasa takut yang mereka miliki terhadap Clarissa, tubuh yang sekarang ia tinggali.
Arga menarik kursi di ujung meja dengan suara berisik, duduk tanpa mengucapkan
sepatah kata pun. Ia langsung meraih teko kopi dan menuangkannya ke cangkir dengan
gerakan kasar. Cairan cokelat itu nyaris meluap, tapi Arga tampak tidak peduli. Ia
menyesap kopinya sambil menatap tajam ke arah Nadira yang baru saja duduk diseberangnya.
Tatapan itu bukan sekadar marah, tapi penuh dengan kebencian yang mengendap sejak lama.
Nadira meletakkan tangannya di atas paha, jari-jarinya meremas kain gaun dengan lembut untuk mengalihkan rasa gugup. Ia harus mencairkan suasana ini jika ingin bertahan hidup di rumah ini.
"Selamat pagi," sapa Nadira dengan suara yang sengaja dibuat lebih lembut
dan ramah daripada biasanya. Suaranya bergema di ruangan sunyi itu, namun tidak ada jawaban yang datang. Hanya ada suara denting sendok yang disentuh Arga secara
sengaja.
"Astaga aku malah dianggap angin lalu. Tak ada satupun yang menjawab sapaan manisku," gumam Nadira.
Salah satu pelayan yang lebih tua, Ibu Wati, mendekat untuk menaruh piring berisi roti panggang di depan Nadira. Saat tangan mereka hampir bersentuhan, Ibu Wati menarik tangannya kembali seolah Nadira adalah penyakit menular. Nadira menatap mata wanita itu, mencoba mencari sedikit kehangatan, tapi yang ia temukan hanyalah tatapan kosong penuh ketakutan.
"Ada apa? Apa aku semengerikan itu sampai kau terlihat begitu takut padaku?" tanya Nadira pada Bu Wati.
"Ma-maaf saya telah lancang!" jawab Bu Wati dengan gugup.
"Tidak bukan begitu, hanya saja-"
"Katanya kamu ingin makan dengan tenang. Maka lakukan apa yang seharusnya kamu inginkan!" sindir Arga tanpa sedikitpun menoleh pada Nadira.
Nadira mendesah kesal. Reputasi Clarissa benar-benar hancur, dan Nadira harus membersihkan nama itu dari awal yang sangat sulit.
"Kopi ini pahit," gumam Arga. Ia meletakkan cangkirnya dengan keras hingga dasar piring berdentang. "Seperti kehidupan orang-orang di sini sekarang."
"Kamu saja yang merasa. Aku tidak!" Nadira menanggapi provokasi itu.
"kayanya kamu perlu minum obat untuk memulihkan ingatan kamu tentang ini. Semua berawal darimu!"
Ia tahu jika ia membalas dengan sarkasme khas Clarissa, ia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan siapa pun di rumah besar ini. Ia butuh sekutu, bukan musuh tambahan. Baiklah kali ini diam saja dulu.
Nadira mengambil selembar roti dan mulai memotongnya dengan gerakan yang sangat
terkendali.
"Aku tidak memintamu duduk di sini jika kehadiranku membuatmu tidak
nyaman," kata Nadira pelan, matanya tetap terfokus pada pisau yang digunakannya.
Arga tertawa kering, sebuah suara yang tidak menyenangkan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Clarissa.
Kita semua tahu kamu hanya menunggu saat yang tepat untuk menusuk kami dari
belakang lagi."
Ketegangan di udara semakin menebal. Nadira merasakan otot bahunya menegang, tapi ia memaksakan diri untuk tetap tenang. Ia menatap Arga, menahan keinginan untuk
berdebat.
"Aku hanya ingin sarapan dengan tenang," jawab Nadira datar. Arga mendengus, lalu berdiri dari kursinya sambil merupakan kursi itu kembali dengan suara keras.
"Sarapan dengan tenang adalah kemewahan yang tidak akan pernah kamu miliki di
rumah ini."
Arga berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan tanpa menoleh ke belakang.
"Uh, sulit sekali untuk mengambil hati pria itu," batin Nadira.