Setelah kehilangan adik perempuannya dan hancur di dunia fana, Han Yu terbangun di tubuh sesosok makhluk dari Sekte Iblis yang terdampar di wilayah suci Lembah Lingshu, ras suci yang sedang berperang melawan umat manusia karena perbudakan asmara. Bukannya mati dieksekusi, Han Yu justru membangkitkan warisan langka yang tabu: Jalur Kaisar Pesona.
Berbekal ketampanan surgawi yang mutlak, stamina tiada tanding, dan teknik manipulasi sukma, Han Yu mengubah musuh-musuhnya menjadi pelayan yang patuh. Dari murid klan yang dingin, janda kultivator yang kesepian, hingga para tetua bijaksana dan Ratu Lembah, semuanya bertekuk lutut di bawah pesonanya. Di dunia kultivasi yang kejam ini, Han Yu tidak bertarung dengan pedang yang menghancurkan langit, melainkan menaklukkan dunia dari atas ranjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 - Misi ke Garis Depan
Ratu Lin Xian mengembuskan napas perlahan. Ketegangan di Aula Agung Istana Giok semakin memuncak seiring redupnya cahaya lampion luar. Sepasang mata hijaunya yang jernih terus menatap lurus ke arah postur tegap Han Yu yang berdiri kokoh tanpa riak ketakutan sedikit pun.
"Invasi Kekaisaran Shenzhou kali ini tidak bisa dianggap remeh," lanjut Ratu Lin Xian dengan nada suara yang teramat merdu namun berbobot. "Mereka bergerak dengan formasi teratur, membakar desa-desa klan bawah di perbatasan tanpa ampun."
Tetua Feng Mian melangkah maju satu tindak ke depan. Jubah zirah peraknya berdenting nyaring, mengalirkan getaran energi batin ranah Jalan Atas Puncak yang sangat menekan udara di sekitarnya.
"Yang Mulia Ratu! Izinkan aku memimpin seluruh pasukan Divisi Perang malam ini juga!" seru Tetua Feng Mian dengan sepasang mata hijau yang menyala penuh amarah. "Aku akan memenggal kepala Putri Zhao Ling'er dan menghancurkan benteng manusia itu hingga menjadi debu!"
Ratu Lin Xian menggelengkan kepalanya perlahan, menolak usulan gegabah tersebut. "Tidak, Feng Mian. Jika kamu bergerak secara massal, sekte ortodoks manusia akan mengira kita mengobarkan perang total dan mengirim leluhur ranah Transendensi mereka. Kita butuh unit kecil yang mampu bergerak menyusup."
Pandangan mata sang Ratu kembali mengunci wujud rupawan Han Yu. Karisma bawaan dari ranah Pengikat Sukma tingkat dua milik Han Yu yang menguar tipis rupanya mulai membuai alam bawah sadar penguasa tertinggi benua tersebut.
"Han Yu, struktur meridian iblis menengah milikmu memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh ras suci kami," ucap Ratu Lin Xian dengan seulas senyuman misterius yang sangat menawan di bibir merah cerinya. "Energi kegelapanmu mampu menyatu dengan malam, menjadikannya umpan terhebat untuk mengecoh indra penciuman formasi pedang manusia."
Tetua Ling Er yang berdiri di samping Han Yu seketika tersentak kaget. Jantungnya berdebar kencang menahan rasa cemas yang luar biasa besar demi keselamatan pria yang telah mengunci seluruh sukmanya itu.
"Yang Mulia Ratu, mohon pertimbangkan kembali!" Tetua Ling Er menyela dengan nada suara yang bergetar halus. "Han Yu masih sangat baru dalam memahami ilmu formasi klan. Mengirimnya ke garis depan perbatasan sama saja dengan mendorongnya ke dalam jurang kematian!"
Han Yu hanya menyeringai tampan di dalam lubuk hatinya. Niat protektif dari gurunya yang telah menjadi budak cintanya itu terasa sangat manis, namun dia tidak akan melewatkan kesempatan emas ini untuk keluar dari lingkungan istana yang mengikat pergerakannya.
Han Yu melangkah maju satu tindak, memotong kekhawatiran gurunya dengan keanggunan mutlak. Dia membungkukkan tubuh tegapnya dengan gerakan yang teramat memikat hati.
"Yang Mulia Ratu yang agung dan menawan, aku bersedia menerima perintah suci ini dengan segenap jiwa dan ragaku," ucap Han Yu dengan nada suara yang sangat dalam, lembut, dan penuh penekanan batin yang merdu.
Sepasang mata birunya berkilat cerah saat dia mengaktifkan kombinasi dari teknik Seni Pemikat Jiwa dan Paras Sempurna langsung ke arah singgasana. Pancaran karisma surgawinya seketika menciptakan riak getaran asmara yang samar di dalam dada Ratu Lin Xian.
Sang Ratu tertegun sejenak, merasakan debaran aneh yang belum pernah dia rasakan selama ratusan tahun memimpin klan. Dia buru-buru memperbaiki posisi duduknya demi menyembunyikan rasa salah tingkah yang mendadak menyerang pertahanan batinnya.
"B-bagus... keberanianmu sangat patut dipuji, Han Yu," ucap Ratu Lin Xian dengan nada suara yang sedikit melunak akibat pengaruh pesona sang pemuda. "Aku akan menugaskan Tetua Feng Mian untuk bergerak bersamamu secara rahasia sebagai pelindung sekaligus pengawas misi."
Mendengar keputusan tersebut, Tetua Feng Mian menatap Han Yu dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kilat intens. Hantaman Seni Pemikat Jiwa Han Yu tempo hari rupanya masih menyisakan bekas ketertarikan yang sangat dalam di lubuk sanubarinya.
"Aku akan memastikan bocah iblis ini menjalankan tugasnya dengan sangat sempurna, Yang Mulia," ucap Tetua Feng Mian seraya memalingkan wajah tegasnya yang mendadak merona merah muda tipis setelah menatap lekuk rahang tegas Han Yu.
"Pergilah menuju perbatasan luar distrik barat sebelum fajar menyingsing. Bawa lencana giok darurat ini sebagai penanda otoritas pergerakanmu," perintah Ratu Lin Xian seraya mengibaskan lengan bajunya yang lebar, melempar sebilah lencana giok hijau ke arah tangan Han Yu.
Han Yu menangkap lencana tersebut dengan jentikan jemarinya yang fleksibel, lalu kembali memberikan penghormatan formal sebelum berbalik melangkah lebar meninggalkan Aula Agung bersama Tetua Ling Er dan Tetua Feng Mian.
Di sepanjang koridor luar istana yang sunyi, Tetua Ling Er berjalan mendekat dengan wajah yang dipenuhi oleh gurat kecemburuan yang manja dan cemas. Dia meraih lengan kekar Han Yu secara sembunyi-sembunyi dari balik jubah sutra ungunya.
"Han Yu... mengapa kamu begitu nekat menerima misi berbahaya ini?" bisik Tetua Ling Er dengan nada suara yang teramat patuh namun dipenuhi kekhawatiran tingkat tinggi. "Tetua Feng Mian memiliki watak yang sangat keras kepala, aku takut dia akan menyulitkanmu di sana."
Han Yu tertawa renyah, menghentikan langkah kakinya sejenak di bawah bayangan pilar giok yang gelap. Dia menarik tubuh anggun gurunya ke dalam dekapan hangat dadanya, mengabaikan keberadaan Tetua Feng Mian yang berjalan beberapa tindak di depan mereka.
Menggunakan teknik Sentuhan Lembut Surgawi yang dialirkan halus melalui telapak tangannya, Han Yu mengusap pinggang ramping Tetua Ling Er hingga membuat tubuh matang wanita itu lemas tak berdaya menahan getaran kepuasan instan.
"Tenanglah, Guru yang jelita. Tuanmu ini tahu persis apa yang sedang aku rencanakan," Han Yu berbisik tepat di dekat telinga panjang Tetua Ling Er yang lancip, mengembuskan napas hangatnya di sana. "Perang ini justru akan menjadi jalan bagiku untuk menaklukkan kepala Divisi Perang itu dan membawanya ke atas dipan kita."
Mendengar kalimat berani yang teramat mesum namun memikat tersebut, kedua pipi Tetua Ling Er langsung merona merah padam. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan sangat patuh, menyerahkan seluruh kekhawatirannya pada dominasi mutlak sang murid.
Sementara itu, Tetua Feng Mian yang menyadari pergerakan mereka di belakang, mendadak menghentikan langkah kakinya. Dia berbalik menatap Han Yu dengan sepasang mata hijau yang berkilat tajam namun dipenuhi rasa cemas batin yang membingungkan.
"Han Yu! Cepat percepat langkah kakimu! Kita tidak memiliki banyak waktu untuk bermain-main sebelum fajar menyingsing!" seru Tetua Feng Mian dengan nada suara yang sengaja ditinggikan demi menutupi debaran jantungnya yang kian berpacu kencang setiap kali melihat paras tampan surgawi Han Yu.
Han Yu menyeringai dingin penuh kemenangan di dalam hatinya. Mangsa berikutnya kini telah mulai berjalan masuk ke dalam jaring asmaranya, bersiap untuk disatukan dalam ritual kultivasi ganda yang panas di tengah hamparan medan perang perbatasan yang membara.